“Maafkan jika hadirmu sesakkan
nafasku. Pergilah, biarkan aku sendiri. Menikmati sepiku. Setiap sentuhan
katamu, bagai bara yang akan membakar jiwa. Jangan acuhkan resahku. Tolong
pahami demi sebuah hati yang ingin ketenangan.”
Nia berlari, menepi diri di tepi
pantai, dia sedang ingin sendiri. Terus menjauh demi menghapus setitik resah
yang kian mengakar. Jiwanya terguncang, entah kemana harus melampiaskan kegundahan
hatinya.
“Kenapa dia belum pulang juga?” Batinnya
kesal saat melihat kekasihnya, Hadi, datang mendekat. Nia berbalik
membelakangi. Wajahnya cemberut menahan amarah.
“Apa salahku?” kejar Hadi
berulang-ulang membuatnya muak dan bosan. Nia lelah terus menerus dijejari
pertanyaan tentang kesalahan.
“Tidakkah kau bisa menjawabnya
sendiri!?!” batinnya menjawab.
“Nia?” sentuhan tangan Hadi yang
gemetar menyadarkan Nia dari kekesalan. Dia akhirnya berdehem, sikap yang
melunak dibanding mendiamkan kekasihnya sejak tadi.
“Pulanglah, mas.” Katanya lalu berdiri
menjauh dari bebatuan tempatnya duduk melepaskan penat. Pandangannya menyapu
pantai yang sedang berdamai dengan alam. Ombak sangat bersahabat menghantarkan
hembusan angin yang terasa dingin menyejukkan.
“Kamu benar-benar ingin sendiri?”
tanya Hadi lagi. Nia berbalik. Kemarahan masih nampak di wajahnya. Dia
menggiyakkan. Sorot mata Hadi penuh kecemasan.
“Apa yang sedang dirimu cemaskan? Masa
depanmu? masa depan kita? atau malah mungkin masa depanmu bersamanya?” batin
Nia kesal.
“Aku mencintaimu, Nia. Percayalah.
Sekarang bukan waktu yang pas untuk kita saling menjauh. Kita justru harus
semakin dekat. Apa kamu lupa sebentar lagi kita akan menikah? Permasalahan
apapun itu, setidaknya jangan kau pendam sendiri.”
Nia terdiam. Bukan karena ucapan Hadi
yang mengingatkan tentang rencana pernikahan mereka. Tapi kalimat cinta itu
yang membuatnya semakin sedih. Setitik demi setitik matanya telah penuh dengan
tetesan bening air mata. Masih jelas dalam pandangannya, jemari Hadi menghapus
bulir-bulir air mata yang mengalir di pipi Naya, perempuan yang di akui Hadi sebagai
adiknya.
Naya, nama gadis yang belakangan ini
sering Hadi temui dengan berbagai macam alasan. Entah Siapa gadis itu, masih
menimbulkan tanya dalam benak Nia.
“Setidaknya jujurlah padaku. Apa
artinya dia bagimu? Mengapa malam itu aku melihat hal yang menurutku diluar
kewajaran? Pantaskah dirimu mengatakan cinta dengan suara penuh kelembutan
padanya? Wajar bukan jika aku menaruh curiga pada sosoknya yang polos dan
keibuan? Apa ketakutanku terlihat lucu?” jerit Nia dalam hati.
“Siapa Naya?” tanya Nia akhirnya
setelah terdiam. Bola mata Hadi membulat
kaget.
“Kenapa menanyakan dia lagi? Bukankah aku sering kali mengatakan kalau dia adalah adikku.”
“Kenapa menanyakan dia lagi? Bukankah aku sering kali mengatakan kalau dia adalah adikku.”
“Adik, adik, adik, itu terus jawaban
mas tiap kali aku menanyakan siapa dia. Aku capek, mas! Apa pada semua adik
mas, mas mengatakan mencintai mereka dengan tatapan penuh sayang dan cinta?
Tolong jangan bohongi aku. Aku bukan anak kecil yang bisa dibodohi. Aku telah
lama bersabar dan sekarang kesabaranku benar-benar telah habis. Aku ingin
kejelasan atau hubungan kita berakhir sampai disini. Lupakan rencana
pernikahan. Percuma kita menyatukan raga jika hati mas mendua.”
Nia berdiri sejenak menanti Hadi
memberi penjelasan. Keduanya nampak sangat tegang.
“Apa aku terlihat seperti
pembohong?penipu? itu yang kamu pikirkan saat ini? Aku hanya minta padamu,
tolong percaya aku. Tidak pernah sedetikpun aku berkhianat padamu. Masalah
Naya, aku hanya bisa mengatakan jika dia adalah adikku. Terserah padamu saja,
mau percaya atau tidak. Aku juga muak terus menerus di curigai. Itu artinya
dirimu belum sepenuhnya percaya kalau aku benar-benar tulus mencintaimu.”
Hadi berbalik lalu berjalan tergesa
meninggalkan Nia. Gadis itu terperangah. Bukan sikap yang dia harapkan. Mengapa
dia merasa seolah pihak yang bersalah? Padahal menurutnya bukan dia yang
menyebabkan hubungan mereka bagai benang kusut. Nia hanya ingin penjelasan
siapa sesungguhnya Naya, itu saja.
“Apa keinginanku terlalu berlebihan?” gumamnya
pedih sambil menyeka bulir-bulir bening yang mengalir dari sudut matanya.
Kekesalan berubah kesedihan. Seharusnya amarahnya menemukan jawaban bukan malah
penolakan dari Hadi. Mengubah keadaan menjadikan kekasihnya yang berbalik marah
kepadanya.
Seminggu berlalu, tak ada kabar dari
Hadi. Lelaki itu seolah menghilang di telan bumi. Awalnya Nia enggan mencari
tahu, harga diri sebagai wanita yang menahannya. Namun lama kelamaan rasa
enggan berubah menjadi cemas. Dia khawatir karena Hadi bukan tipe kekasih yang
suka memendam amarah hingga berhari-hari. Paling lama sejam dia akan
menghubungi Nia tapi kali ini tidak.
“Pak Hadi sedang meeting, bu. Nggak
bisa di ganggu.” Jawab seorang wanita dari kantor Hadi. Nia kemudian menitip pesan agar
Hadi menghubunginya. Namun hingga jam pulang kantor, kekasihnya itu tak juga
menelpon. Nia makin penasaran lalu menelpon kantor Hadi sekali lagi untuk
memastikan, jika pesannya benar-benar telah diterima Hadi.
“Oh, ibu Nia. Pesan ibu sudah saya
sampaikan, cuma tadi bapak sedang sibuk. Selesai meeting, beliau langsung
keluar kantor lagi.”
Tubuh Nia lemas bersandar pada
sandaran kursi. Matanya menatap lesu tumpukan
berkas di atas meja kerjanya. Perasaan gelisah membuatnya tidak konsentrasi
hingga berkas-berkas itu terabaikan. Gadis itu hanya duduk mematung tak
menyadari hari telah beranjak malam. Pikirannya menerawang jauh menghadirkan
penyesalan. Rasa sesal beriringan dengan tetesan air mata yang tak henti-henti
mengalir.
Nia menangis terisak dalam temaram
ruangan kantor. Hanya lampu meja yang menyala redup. Dia malas untuk bangkit
menyalakan lampu ruangan. Pikirannya berkecamuk, sedih dan bingung. Tak
menyangka kemarahan Hadi berlarut-larut hingga hari ini. Terbayang rencana
pernikahannya yang sebentar lagi akan di gelar, apakah akan batal? Nia
bergidik. Dia ingat ucapan Hadi. Gadis itu makin terpuruk dalam penyesalan.
Menyalahkan dirinya yang tidak berpikir jernih.
“Seharusnya aku bisa lebih sabar
bertanya, bukan malah marah mendiamkan mas Hadi dan menuduhnya. Tapi aku harus
bagaimana? Aku juga cemburu pada Naya...” Nia menangis. Wajahnya menelungkup di
atas meja, membenamkan kepalanya di antara tumpukan berkas.
“Kenapa lampunya tidak dinyalakan?”
Nia mendongak kaget. Hadi ternyata
telah berada di dalam ruangan. Kekasihnya itu menekan saklar lampu, seketika
ruangan menjadi terang benderang. Nia masih terpaku ditempatnya, tak menyangka
Hadi akan datang. Dia masih tak percaya dengan penglihatannya.
Namun suara jejak sepatu dan tubuh
lelaki itu yang semakin lama semakin mendekatinya, menyadarkan Nia jika saat
ini dia tidak bermimpi. Hadi benar-benar nyata berada dalam ruangan bersamanya,
merengkuhnya, mendekapnya erat membiarkan Nia terisak dalam pelukannya. Nia tak
tahan lagi. Rasa rindu yang terpendam selama seminggu ini membuat jiwanya
goyah. Dia takut kehilangan Hadi.
“Aku kira mas melupakan aku..” ucapnya
di sela-sela isak tangis. Hadi makin erat mendekapnya.
“Bagaimana mungkin aku melupakan gadis
yang aku cintai, melupakan calon istriku. Apa kamu bisa melupakan aku?” Nia
menggeleng. Hadi melepaskan pelukannya, menatap lekat wajah Nia yang basah
dengan air mata.
“Kalau begitu, sekarang juga kita
pulang. Masih banyak urusan yang harus kita selesaikan.”
“Tapi soal Naya..” Hadi menutup bibir
Nia dengan telunjuknya.
“Naya dan suaminya, menunggu kita di
parkiran.”
“Suaminya?”
“Aku memang mencintainya Nia, dulu,
tapi sekarang aku hanya menganggapnya adik. Kemarin, dia sedang bermasalah
dengan suaminya dan sebagai kakak, aku selalu siap untuk membantunya. Kamu paham
kan sayang? Jadi tidak usah cemburu pada Naya.” Ucap Hadi sambil jemarinya mengusap
lembut pipi gadis itu. Nia mengangguk lalu memeluk calon suaminya itu dengan
segenap perasaan. Batinnya kini tenang, tak ada lagi keraguan selain rasa
bahagia menanti hari pernikahan mereka.
==== End====


0 komentar:
Posting Komentar