Sabtu, 07 September 2013

Jangan Acuhkan Resahku

0



 
“Maafkan jika hadirmu sesakkan nafasku. Pergilah, biarkan aku sendiri. Menikmati sepiku. Setiap sentuhan katamu, bagai bara yang akan membakar jiwa. Jangan acuhkan resahku. Tolong pahami demi sebuah hati yang ingin ketenangan.”


Nia berlari, menepi diri di tepi pantai, dia sedang ingin sendiri. Terus menjauh demi menghapus setitik resah yang kian mengakar. Jiwanya terguncang, entah kemana harus melampiaskan kegundahan hatinya.

“Kenapa dia belum pulang juga?” Batinnya kesal saat melihat kekasihnya, Hadi, datang mendekat. Nia berbalik membelakangi. Wajahnya cemberut menahan amarah.

“Apa salahku?” kejar Hadi berulang-ulang membuatnya muak dan bosan. Nia lelah terus menerus dijejari pertanyaan tentang kesalahan.

“Tidakkah kau bisa menjawabnya sendiri!?!” batinnya menjawab.

“Nia?” sentuhan tangan Hadi yang gemetar menyadarkan Nia dari kekesalan. Dia akhirnya berdehem, sikap yang melunak dibanding mendiamkan kekasihnya sejak tadi.

“Pulanglah, mas.” Katanya lalu berdiri menjauh dari bebatuan tempatnya duduk melepaskan penat. Pandangannya menyapu pantai yang sedang berdamai dengan alam. Ombak sangat bersahabat menghantarkan hembusan angin yang terasa dingin menyejukkan.

“Kamu benar-benar ingin sendiri?” tanya Hadi lagi. Nia berbalik. Kemarahan masih nampak di wajahnya. Dia menggiyakkan. Sorot mata Hadi penuh kecemasan.

“Apa yang sedang dirimu cemaskan? Masa depanmu? masa depan kita? atau malah mungkin masa depanmu bersamanya?” batin Nia kesal.

“Aku mencintaimu, Nia. Percayalah. Sekarang bukan waktu yang pas untuk kita saling menjauh. Kita justru harus semakin dekat. Apa kamu lupa sebentar lagi kita akan menikah? Permasalahan apapun itu, setidaknya jangan kau pendam sendiri.”

Nia terdiam. Bukan karena ucapan Hadi yang mengingatkan tentang rencana pernikahan mereka. Tapi kalimat cinta itu yang membuatnya semakin sedih. Setitik demi setitik matanya telah penuh dengan tetesan bening air mata. Masih jelas dalam pandangannya, jemari Hadi menghapus bulir-bulir air mata yang mengalir di pipi Naya, perempuan yang di akui Hadi sebagai adiknya.

Naya, nama gadis yang belakangan ini sering Hadi temui dengan berbagai macam alasan. Entah Siapa gadis itu, masih menimbulkan tanya dalam benak Nia.

“Setidaknya jujurlah padaku. Apa artinya dia bagimu? Mengapa malam itu aku melihat hal yang menurutku diluar kewajaran? Pantaskah dirimu mengatakan cinta dengan suara penuh kelembutan padanya? Wajar bukan jika aku menaruh curiga pada sosoknya yang polos dan keibuan? Apa ketakutanku terlihat lucu?” jerit Nia dalam hati.

“Siapa Naya?” tanya Nia akhirnya setelah terdiam. Bola mata Hadi  membulat kaget. 

“Kenapa menanyakan dia lagi? Bukankah aku sering kali mengatakan kalau dia adalah adikku.”

“Adik, adik, adik, itu terus jawaban mas tiap kali aku menanyakan siapa dia. Aku capek, mas! Apa pada semua adik mas, mas mengatakan mencintai mereka dengan tatapan penuh sayang dan cinta? Tolong jangan bohongi aku. Aku bukan anak kecil yang bisa dibodohi. Aku telah lama bersabar dan sekarang kesabaranku benar-benar telah habis. Aku ingin kejelasan atau hubungan kita berakhir sampai disini. Lupakan rencana pernikahan. Percuma kita menyatukan raga jika hati mas mendua.”

Nia berdiri sejenak menanti Hadi memberi penjelasan. Keduanya nampak sangat tegang.

“Apa aku terlihat seperti pembohong?penipu? itu yang kamu pikirkan saat ini? Aku hanya minta padamu, tolong percaya aku. Tidak pernah sedetikpun aku berkhianat padamu. Masalah Naya, aku hanya bisa mengatakan jika dia adalah adikku. Terserah padamu saja, mau percaya atau tidak. Aku juga muak terus menerus di curigai. Itu artinya dirimu belum sepenuhnya percaya kalau aku benar-benar tulus mencintaimu.”

Hadi berbalik lalu berjalan tergesa meninggalkan Nia. Gadis itu terperangah. Bukan sikap yang dia harapkan. Mengapa dia merasa seolah pihak yang bersalah? Padahal menurutnya bukan dia yang menyebabkan hubungan mereka bagai benang kusut. Nia hanya ingin penjelasan siapa sesungguhnya Naya, itu saja.

“Apa keinginanku terlalu berlebihan?” gumamnya pedih sambil menyeka bulir-bulir bening yang mengalir dari sudut matanya. Kekesalan berubah kesedihan. Seharusnya amarahnya menemukan jawaban bukan malah penolakan dari Hadi. Mengubah keadaan menjadikan kekasihnya yang berbalik marah kepadanya.

Seminggu berlalu, tak ada kabar dari Hadi. Lelaki itu seolah menghilang di telan bumi. Awalnya Nia enggan mencari tahu, harga diri sebagai wanita yang menahannya. Namun lama kelamaan rasa enggan berubah menjadi cemas. Dia khawatir karena Hadi bukan tipe kekasih yang suka memendam amarah hingga berhari-hari. Paling lama sejam dia akan menghubungi Nia tapi kali ini tidak.

“Pak Hadi sedang meeting, bu. Nggak bisa di ganggu.” Jawab seorang wanita dari  kantor Hadi. Nia kemudian menitip pesan agar Hadi menghubunginya. Namun hingga jam pulang kantor, kekasihnya itu tak juga menelpon. Nia makin penasaran lalu menelpon kantor Hadi sekali lagi untuk memastikan, jika pesannya benar-benar telah diterima Hadi.

“Oh, ibu Nia. Pesan ibu sudah saya sampaikan, cuma tadi bapak sedang sibuk. Selesai meeting, beliau langsung keluar kantor lagi.”

Tubuh Nia lemas bersandar pada sandaran kursi.  Matanya menatap lesu tumpukan berkas di atas meja kerjanya. Perasaan gelisah membuatnya tidak konsentrasi hingga berkas-berkas itu terabaikan. Gadis itu hanya duduk mematung tak menyadari hari telah beranjak malam. Pikirannya menerawang jauh menghadirkan penyesalan. Rasa sesal beriringan dengan tetesan air mata yang tak henti-henti mengalir.

Nia menangis terisak dalam temaram ruangan kantor. Hanya lampu meja yang menyala redup. Dia malas untuk bangkit menyalakan lampu ruangan. Pikirannya berkecamuk, sedih dan bingung. Tak menyangka kemarahan Hadi berlarut-larut hingga hari ini. Terbayang rencana pernikahannya yang sebentar lagi akan di gelar, apakah akan batal? Nia bergidik. Dia ingat ucapan Hadi. Gadis itu makin terpuruk dalam penyesalan. Menyalahkan dirinya yang tidak berpikir jernih.

“Seharusnya aku bisa lebih sabar bertanya, bukan malah marah mendiamkan mas Hadi dan menuduhnya. Tapi aku harus bagaimana? Aku juga cemburu pada Naya...” Nia menangis. Wajahnya menelungkup di atas meja, membenamkan kepalanya di antara tumpukan berkas.

“Kenapa lampunya tidak dinyalakan?”

Nia mendongak kaget. Hadi ternyata telah berada di dalam ruangan. Kekasihnya itu menekan saklar lampu, seketika ruangan menjadi terang benderang. Nia masih terpaku ditempatnya, tak menyangka Hadi akan datang. Dia masih tak percaya dengan penglihatannya.

Namun suara jejak sepatu dan tubuh lelaki itu yang semakin lama semakin mendekatinya, menyadarkan Nia jika saat ini dia tidak bermimpi. Hadi benar-benar nyata berada dalam ruangan bersamanya, merengkuhnya, mendekapnya erat membiarkan Nia terisak dalam pelukannya. Nia tak tahan lagi. Rasa rindu yang terpendam selama seminggu ini membuat jiwanya goyah. Dia takut kehilangan Hadi.

“Aku kira mas melupakan aku..” ucapnya di sela-sela isak tangis. Hadi makin erat mendekapnya.

“Bagaimana mungkin aku melupakan gadis yang aku cintai, melupakan calon istriku. Apa kamu bisa melupakan aku?” Nia menggeleng. Hadi melepaskan pelukannya, menatap lekat wajah Nia yang basah dengan air mata.

“Kalau begitu, sekarang juga kita pulang. Masih banyak urusan yang harus kita selesaikan.”

“Tapi soal Naya..” Hadi menutup bibir Nia dengan telunjuknya.

“Naya dan suaminya, menunggu kita di parkiran.”

“Suaminya?”

“Aku memang mencintainya Nia, dulu, tapi sekarang aku hanya menganggapnya adik. Kemarin, dia sedang bermasalah dengan suaminya dan sebagai kakak, aku selalu siap untuk membantunya. Kamu paham kan sayang? Jadi tidak usah cemburu pada Naya.” Ucap Hadi sambil jemarinya mengusap lembut pipi gadis itu. Nia mengangguk lalu memeluk calon suaminya itu dengan segenap perasaan. Batinnya kini tenang, tak ada lagi keraguan selain rasa bahagia menanti hari pernikahan mereka.
 ==== End====




0 komentar:

Posting Komentar