
Pagi-pagi aku sudah rapi. Aku berencana mendatangi mas Idham di kantor polisi. Niar yang heran bolak balik menatapku seolah tidak percaya.
“ Tumben kamu sudah rapi…ehm.. mau ketemu Pak Suhendar ya?” tebak Niar. Aku menatap diriku dicermin.
“ Bukan,
nanti kamu juga tahu.Oh,ya jangan lupa kalau ada laporan dari posko
kamu tampung dulu..aku pergi nggak lama kog” kataku lalu meraih tas yang
ada di atas tempat tidur. Kulihat sebentar Jen yang masih membungkus
diri dengan selimut. Biarlah dia tenang dulu. Mental manusia memang
tidak sama, ada yang tahan banting, ada yang mudah jatuh seperti Jen.
Sejak kemarin sore dia sama sekali tidak bergairah, jangankan tersenyum,
makan saja dia tidak berselera.
Kulangkahkan
kakiku dengan cepat meninggalkan halaman. Ada angkot yang sedang
menungguku di pinggir jalan. Pagi-pagi begini tidak enak membuat
penumpang lain menunggu. Dalam angkot aku terus memikirkan mas Idham.
Meskipun begitu kadang melintas juga wajah Pak Suhendar. Tapi dengan
cepat kutepiskan. Aku tidak mau memikirkannya lagi. Sudah cukup aku
terbuai sepanjang hari kemarin. Sekarang aku kembali ke dunia nyata. Ada
hal-hal yang tabu untuk di yakini. Seperti meyakini kalau cintaku bisa
bertaut padahal dia telah menjadi milik orang lain.
Tiba
dikantor polisi suasana terasa berbeda. Namanya juga kantor polisi. Aku
menanyakan tenntang mas Idham ke salah seorang anggota polisi yang
tengah duduk di ruangan. Polisi itu kemudian menunjukkan ruangan yang
harus aku datangi. Lama menunggu, akhirnya aku dipertemukan dengan mas
Idham di sebuah ruangan. Ruangannya tidak luas. Mungkin memang dibuat
khusus untuk para tahanan menerima tamu. Kulihat mas Idham begitu
bersemangat saat menatapku. Dia terlihat senang. Senyum tak pernah
hilang dari wajahnya. Sungguh berbeda dengan yang aku bayangkan.
Dalam pikiranku, pasti saat ini mas Idham tengah muram tak bersemangat
karena sedang dalam masalah. Tapi ternyata dugaanku salah. Aku berdiri
menyambutnya.
“ Saya
senang kamu datang, mbak Hastin. Tadi saat diberitahu kalo kamu yang
datang. Saya gembira sekali” ucap mas Idham sambil duduk disebelahku. Dalam hati aku kagum dengan mas Idham. Meski di dalam tahanan tapi penampilannya tetap saja mempesona.
“ Mas,
aku datang bukan sekedar menjengukmu. Ada yang ingin aku tanyakan.
Terus terang kepalaku penuh dengan beban yang menunggu penjelasan” mas Idham serius menanggapi kata-kataku.
“ Ada
hal yang ingin saya ceritakan juga. Saya yakin ini berhubungan dengan
pertanyaan dalam pikiranmu. Jadi lebih baik saya ceritakan sekarang
biar bebanmu hilang”
“ Benarkah berhubungan?”
“ Saya yakin..yang ingin saya ceritakan adalah tentang saya, perusahaan dan mas Hendar” Aku
berusaha menyimak. Untunglah tadi aku sempat membeli minuman dan snack.
Jadi sambil berbincang kami bisa menikmati minuman dan snack tersebut.
“ Rahasia saya dengan mas Hendar, kami adalah saudara tiri. Lain ibu dan bapak.” Aku terkejut. Jadi mas Idham dengan Pak Suhendar satu keluarga?
“ Saat
menikah dengan papi, mami sudah dua kali menikah. Mbak Florence adalah
anak dari suami pertama, sedangkan aku, anak dari suami ke dua.
Sementara papi juga sudah dua kali menikah. Anak dari perkawinan pertama
adalah Handy dan Wilham, sedangkan dari pernikahan kedua ada mas Hendar
dan mbak Kiran. Dulu kami sekeluarga tinggal dirumah yang kalian
tempati. Tapi karena ada masalah, maka papi membawa kami semua tinggal
di Jakarta. Oh, ya aku lupa aku punya adik lagi namanya Susan. Jadi
kalau ditotal kami bersaudara tujuh orang. Mungkin belum terlalu banyak
tapi itulah yang membuat kami jadi renggang satu sama lain.” Mas Idham
berhenti sejenak. Dia meminum teh botol yang aku bawakan. Aku tetap
diam. Kubiarkan dia bercerita. Sekarang aku tidak dalam posisi
berdiskusi dengannya. Aku datang untuk mendengarkan.
“ Masalah
pertama datang, waktu mami bunuh diri. Kami tidak tahu apa penyebabnya.
Papi sangat terpukul. Hanya kami yang tahu mami bunuh diri. Tetangga
tidak ada yang tahu. Kami beralasan mami meninggal karena serangan
jantung.Saya juga tidak tahu kenapa mami bunuh
diri. Saat tinggal di Jakarta hidup kami aman damai. Tapi itu tidak
berlangsung lama. Papi mulai sakit-sakitan sejak mami meninggal.
Akhirnya perusahaan di serahkan ke mas Wilham untuk di kelola. Sejak
itulah ada persaingan yang saya tidak tahu dari mana asalnya. Saya
bahkan tidak bisa menebak siapa diantara kami yang jadi pelakunya”
“ Persaingan?”
“ Persaingan
untuk menguasai perusahaan. Saya baru tahu saat diajak mas Hendar
bergabung dengannya untuk menghancurkan mas Wilham. Saya menolak dan
berusaha menyadarkan mas Hendar kalau kita satu keluarga. Kalau satu
hancur, maka semua akan hancur. Tapi mas Hendar tidak peduli. Menurutnya
dialah yang berhak atas perusahaan, karena perusahaan papi awalnya
dari bisnis mamanya Hendar. Dia merasa mas Wilham tidak berhak. Padahal
menurut papi justru mas Wilham yang layak karena sudah banyak
pengalaman” mas Idham terdiam lagi. Raut wajahnya seperti berusaha
mengingat kenangan-kenangan masa lalu.
“ Yang saya sesalkan justru mbak Flo membantu mas Hendar, mbak Kiran walau
mulanya tidak setuju tapi lama-lama terbujuk juga. Tapi tindakan mereka
bisa teredam karena papi masih hidup. Makanya sejak saya
mengetahui ada konspirasi seperti ini, saya terus mengawasi tingkah mas
Hendar. Rupanya mas Hendar takut saya memberitahu mas Wilham. Mas Hendar
kemudian mengubah strategi. Dia tidak menjadi musuh mas Wilham tapi
menjadi temannya. Saya yang berusaha menyadarkan mas Wilham malah jadi
bumerang buat saya. Karena justru saya yang dituduh hendak menghancurkan
mas Wilham. Semua ini karena informasi yang diberikan mas Hendar.”
“ Apa mas Wilham tidak mempercayai mas Idham sedikitpun?” Aku menyela saat kulihat mas Idham terdiam.
“ Andai
mbak Hastin di posisi mas Wilham, siapa yang hendak mbak percayai? Mas
Hendar yang saudara satu ayah atau saya yang tidak ada hubungan sama
sekali selain hubungan pernikahan?” Aku tertegun mendengar pertanyaan balik dari mas Idham.
“ Jelas mas Wilham lebih mempercayai mas Hendar, saya hanya jadi sumber ketegangan
diantara mereka. Akhirnya karena sudah tidak tahan, mas Wilham dengan
terpaksa memecat saya. Sejak meninggalkan perusahaan, saya tidak tahu
perkembangan perusahaan. Untunglah masih ada orang-orang yang sepaham
dengan saya. Mereka inilah yang kemudian memberikan informasi ke saya”
“ Bukti rekaman itu, kenapa mas Idham tidak perdengarkan ke mas Wilham?”
“ Sudah
saya katakan tadi, apapun yang saya lakukan justru makin membuat mas
Wilham tidak percaya. Karena dasarnya adalah kami tidak ada hubungan
darah. Saya tidak ingin membawa kaset rekaman itu sebagai bukti. Biarlah
waktu yang akan menjawabnya. Saya hanya berjuang di luar. Tapi kalau
itu juga terus di hambat. Apa boleh buat, saya hanya bisa menantikan
saat-saat dimana mas Idham melihat siapa sebenarnya yang pantas dia
percaya.”
Aku terenyuh mendengar kisah
yang mas Idham ceritakan. Lalu rumah itu, kenapa beberapa waktu yang
lalu mas Idham masuk ke ruang kosong dekat dapur? Tingkah mas Idham
juga mencurigakan? Haruskah aku tanyakan sekarang?
“ Ehm..mas Idham..boleh bertanya hal lain?”
“ Oh..boleh,boleh..mbak Hastin mau tanyakan apa?”
Aku terdiam sejenak.
“ Mungkin
ini persoalan pribadi. Tapi, maaf , aku pernah melihat mas Idham masuk
ke ruangan kosong di dekat dapur di rumah yang sekarang kami tempati.
Waktu itu kami curiga. Tapi entah curiga yang bagaimana, karena itu kami
bingung mencari hubungan dari sikap-sikap mas Idham. Apalagi kami tahu
rumah itu angker. Bahkan beberapa hari sebelumnya, aku mimpi dikamar
kosong itu ada wanita yang bunuh diri”
“ Mbak
Hastin mau tahu kenapa saya masuk ke ruangan kosong itu? Karena disana
mbak Flo menyimpan semua foto-foto mami. Mbak Flo tidak ingin ada
kenangan mami yang terbawa ke Jakarta. Saya tidak tahu apa alasannya
hingga tanpa sepengetahuan kami dia menyembunyikan foto mami. Setelah
saya desak ternyata dalam foto-foto itu ada foto perselingkuhan mami
dengan laki-laki lain. Karena itu Flo tidak ingin papi tahu tentang
perbuatan mami sebelum bunuh diri. Flo ingin merahasiakan ini dari papi”
“ Tapi kemarin pak Suhendar ke sana juga, apa hubungannya dengan dia?”
“ Benar dia ke ruang kosong itu?”
“ Aku
hanya menebaknya, karena kemarin saat Pak Suhendar kerumah kami, dia
katakan habis dari kamar mandi dibelakang. Padahal setelah saya cek
ternyata pintu belakang masih terkunci. Jadi alasan dari buang air
kecil itu, apa hanya alasan untuk menutupi yang sebenarnya kalau Pak
Suhendar dari ruangan itu”
“ Mungkin
mas Hendar sudah tahu kalau mbak Flo menyimpan foto-foto itu. Jadi dia
ingin memanfaatkan itu untuk semakin menjatuhkan saya didepan mas
Wilham. Tidak ada hubungan langsung tapi pasti kebencian itu akan
semakin bertambah kalau tahu mami menghianati papi mereka.”
“ Tapi menurut mas Idham, apa benar rumah itu benar-benar angker”
Mas Idham tersenyum.
“ Tidak.
Karena bunyi yang kalian dengar itu berasal dari seng atau triplek yang
mungkin sudah tidak terpaku sebagian jadi saat terkena angin, akan
menimbulkan bunyi yang menakutkan. Apalagi kalau didengarkan tengah
malam”
“ Begitukah?”
“ Tapi kalau kalian tidak tahan, segera saja pindah. Saya tidak tersinggung kok” kata mas Idham lagi sambil tersenyum.
Aku
tersenyum tipis. Mengapa terlihat mudah dalam pandangan mas Idham?
Apakah memang rumah itu tidak angker? Apa mungkin hanya perasan kami
saja?
“ Handphone
saya mbak simpan saja. Saya tidak tahu siapa yang bisa saya percaya.
Saat kembali ke Jakarta, saya tidak akan membawanya. Biar mbak saja yang
menyimpannya.”
“ Tapi mas” aku masih ragu. Tiba-tiba mas Idham menyentuh tanganku.
“ Saya
tidak akan ikut campur lagi dengan masalah perusahaan. Saya yakin tiba
saatnya, saya pasti kembali kesana. Dan saat itu tiba, saya ingin mbak
ada disamping saya. Jadi mohon simpanlah handphone itu, anggap itu
perasaan yang saya titipkan pada mbak”
Aku
terdiam kaku saat mendengar kata-kata mas Idham. Bahkan tangannya
tetap menyentuh tanganku. Aku tak sanggup menarik tanganku. Benarkah
yang aku dengar? Benarkah kata-kata itu baru saja diucapkan oleh seorang
mas Idham? Kata-kata yang tidak pernah aku duga. Aku mungkin terlihat
lucu di depan mas Idham hingga mas Idham kemudian mengibaskan tangannya
di depan wajahku. Apakah mas Idham baru saja menyatakan perasaannya?
Pertanyaan ini terus terulang dalam benakku.
Saat
aku meninggalkan kantor polisi, aku memang merasa lega karena semua
sudah jelas. Masalah rumah, kecurigaan terhadap mas Idham hingga pak
Suhendar. Semua ternyata bersumber dari masalah keluarga. Biarlah waktu
yang akan menentukan. Seperti juga rasa dalam hatiku. Apakah akan
berubah menjadi suka terhadap mas Idham, karena aku sadar ada sosok lain
yang akan terluka. Tapi saat hari itu tiba,bisakah aku menghindar jika
aku ternyata benar-benar suka padanya. Kembali ke waktu, biarlah waktu
yang akan menjawab semuanya.***
T A M A T
0 komentar:
Posting Komentar