Rabu, 09 Mei 2012

[Tiga Wanita] Rasa Di Akhir Pertemuan #14#

0

 

Pagi-pagi aku sudah rapi. Aku berencana mendatangi mas Idham di kantor polisi. Niar yang heran bolak balik menatapku seolah tidak percaya.

Tumben kamu sudah rapi…ehm.. mau ketemu Pak Suhendar ya?” tebak Niar. Aku menatap diriku dicermin.

Bukan, nanti kamu juga tahu.Oh,ya jangan lupa kalau ada laporan dari posko kamu tampung dulu..aku pergi nggak lama kog” kataku lalu meraih tas yang ada di atas tempat tidur. Kulihat sebentar Jen yang masih membungkus diri dengan selimut. Biarlah dia tenang dulu. Mental manusia memang tidak sama, ada yang tahan banting, ada yang mudah jatuh seperti Jen. Sejak kemarin sore dia sama sekali tidak bergairah, jangankan tersenyum, makan saja dia tidak berselera.

Kulangkahkan kakiku dengan cepat meninggalkan halaman. Ada angkot yang sedang menungguku di pinggir jalan. Pagi-pagi begini tidak enak membuat penumpang lain menunggu. Dalam angkot aku terus memikirkan mas Idham. Meskipun begitu kadang melintas juga wajah Pak Suhendar. Tapi dengan cepat kutepiskan. Aku tidak mau memikirkannya lagi. Sudah cukup aku terbuai sepanjang hari kemarin. Sekarang aku kembali ke dunia nyata. Ada hal-hal yang tabu untuk di yakini. Seperti meyakini kalau cintaku bisa bertaut padahal dia telah menjadi milik orang lain.

Tiba dikantor polisi suasana terasa berbeda. Namanya juga kantor polisi. Aku menanyakan tenntang mas Idham ke salah seorang anggota polisi yang tengah duduk di ruangan. Polisi itu kemudian menunjukkan ruangan yang harus aku datangi. Lama menunggu, akhirnya aku dipertemukan dengan mas Idham di sebuah ruangan. Ruangannya tidak luas. Mungkin memang dibuat khusus untuk para tahanan menerima tamu. Kulihat mas Idham begitu bersemangat saat menatapku. Dia terlihat senang. Senyum tak pernah hilang dari wajahnya. Sungguh berbeda dengan yang aku bayangkan. Dalam pikiranku, pasti saat ini mas Idham tengah muram tak bersemangat karena sedang dalam masalah. Tapi ternyata dugaanku salah. Aku berdiri menyambutnya.

Saya senang kamu datang, mbak Hastin. Tadi saat diberitahu kalo kamu yang datang. Saya gembira sekali” ucap mas Idham sambil duduk disebelahku. Dalam hati aku kagum dengan mas Idham. Meski di dalam tahanan tapi penampilannya tetap saja mempesona.

Mas, aku datang bukan sekedar menjengukmu. Ada yang ingin aku tanyakan. Terus terang kepalaku penuh dengan beban yang menunggu penjelasan” mas Idham serius menanggapi kata-kataku.

Ada hal yang ingin saya ceritakan juga. Saya yakin ini berhubungan dengan pertanyaan dalam pikiranmu. Jadi lebih baik saya ceritakan sekarang biar bebanmu hilang”

Benarkah berhubungan?”

Saya yakin..yang ingin saya ceritakan adalah tentang saya, perusahaan dan mas Hendar” Aku berusaha menyimak. Untunglah tadi aku sempat membeli minuman dan snack. Jadi sambil berbincang kami bisa menikmati minuman dan snack tersebut.

Rahasia saya dengan mas Hendar, kami adalah saudara tiri. Lain ibu dan bapak.” Aku terkejut. Jadi mas Idham dengan Pak Suhendar satu keluarga?

Saat menikah dengan papi, mami sudah dua kali menikah. Mbak Florence adalah anak dari suami pertama, sedangkan aku, anak dari suami ke dua. Sementara papi juga sudah dua kali menikah. Anak dari perkawinan pertama adalah Handy dan Wilham, sedangkan dari pernikahan kedua ada mas Hendar dan mbak Kiran. Dulu kami sekeluarga tinggal dirumah yang kalian tempati. Tapi karena ada masalah, maka papi membawa kami semua tinggal di Jakarta. Oh, ya aku lupa aku punya adik lagi namanya Susan. Jadi kalau ditotal kami bersaudara tujuh orang. Mungkin belum terlalu banyak tapi itulah yang membuat kami jadi renggang satu sama lain.” Mas Idham berhenti sejenak. Dia meminum teh botol yang aku bawakan. Aku tetap diam. Kubiarkan dia bercerita. Sekarang aku tidak dalam posisi berdiskusi dengannya. Aku datang untuk mendengarkan.

Masalah pertama datang, waktu mami bunuh diri. Kami tidak tahu apa penyebabnya. Papi sangat terpukul. Hanya kami yang tahu mami bunuh diri. Tetangga tidak ada yang tahu. Kami beralasan mami meninggal karena serangan jantung.Saya juga tidak tahu kenapa mami bunuh diri. Saat tinggal di Jakarta hidup kami aman damai. Tapi itu tidak berlangsung lama. Papi mulai sakit-sakitan sejak mami meninggal. Akhirnya perusahaan di serahkan ke mas Wilham untuk di kelola. Sejak itulah ada persaingan yang saya tidak tahu dari mana asalnya. Saya bahkan tidak bisa menebak siapa diantara kami yang jadi pelakunya”

Persaingan?”

Persaingan untuk menguasai perusahaan. Saya baru tahu saat diajak mas Hendar bergabung dengannya untuk menghancurkan mas Wilham. Saya menolak dan berusaha menyadarkan mas Hendar kalau kita satu keluarga. Kalau satu hancur, maka semua akan hancur. Tapi mas Hendar tidak peduli. Menurutnya dialah yang berhak atas perusahaan, karena perusahaan papi  awalnya dari bisnis mamanya Hendar. Dia merasa mas Wilham tidak berhak. Padahal menurut papi justru mas Wilham yang layak karena sudah banyak pengalaman” mas Idham terdiam lagi. Raut wajahnya seperti berusaha mengingat kenangan-kenangan masa lalu.

Yang saya sesalkan justru mbak Flo membantu mas Hendar, mbak Kiran walau mulanya tidak setuju tapi lama-lama terbujuk juga. Tapi tindakan mereka bisa teredam karena papi masih hidup. Makanya sejak saya mengetahui ada konspirasi seperti ini, saya terus mengawasi tingkah mas Hendar. Rupanya mas Hendar takut saya memberitahu mas Wilham. Mas Hendar kemudian mengubah strategi. Dia tidak menjadi musuh mas Wilham tapi menjadi temannya. Saya yang berusaha menyadarkan mas Wilham malah jadi bumerang buat saya. Karena justru saya yang dituduh hendak menghancurkan mas Wilham. Semua ini karena informasi yang diberikan mas Hendar.”

Apa mas Wilham tidak mempercayai mas Idham sedikitpun?” Aku menyela saat kulihat mas Idham terdiam.

Andai mbak Hastin di posisi mas Wilham, siapa yang hendak mbak percayai? Mas Hendar yang saudara satu ayah atau saya yang tidak ada hubungan sama sekali selain hubungan pernikahan?” Aku tertegun mendengar pertanyaan balik dari mas Idham.

Jelas mas Wilham lebih mempercayai mas Hendar, saya hanya jadi sumber ketegangan diantara mereka. Akhirnya karena sudah tidak tahan, mas Wilham dengan terpaksa memecat saya. Sejak meninggalkan perusahaan, saya tidak tahu perkembangan perusahaan. Untunglah masih ada orang-orang yang sepaham dengan saya. Mereka inilah yang kemudian memberikan informasi ke saya”

Bukti rekaman itu, kenapa mas Idham tidak perdengarkan ke mas Wilham?”

Sudah saya katakan tadi, apapun yang saya lakukan justru makin membuat mas Wilham tidak percaya. Karena dasarnya adalah kami tidak ada hubungan darah. Saya tidak ingin membawa kaset rekaman itu sebagai bukti. Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Saya hanya berjuang di luar. Tapi kalau itu juga terus di hambat. Apa boleh buat, saya hanya bisa menantikan saat-saat dimana mas Idham melihat siapa sebenarnya yang pantas dia percaya.”

Aku terenyuh mendengar kisah yang mas Idham ceritakan. Lalu rumah itu, kenapa beberapa waktu yang lalu mas Idham masuk ke ruang kosong dekat dapur? Tingkah mas Idham juga mencurigakan? Haruskah aku tanyakan sekarang?

Ehm..mas Idham..boleh bertanya hal lain?”

Oh..boleh,boleh..mbak Hastin mau tanyakan apa?”

Aku terdiam sejenak.

Mungkin ini persoalan pribadi. Tapi, maaf , aku pernah melihat mas Idham masuk ke ruangan kosong di dekat dapur di rumah yang sekarang kami tempati. Waktu itu kami curiga. Tapi entah curiga yang bagaimana, karena itu kami bingung mencari hubungan dari sikap-sikap mas Idham. Apalagi kami tahu rumah itu angker. Bahkan beberapa hari sebelumnya, aku mimpi dikamar kosong itu ada wanita yang bunuh diri”

Mbak Hastin mau tahu kenapa saya masuk ke ruangan kosong itu? Karena disana mbak Flo menyimpan semua foto-foto mami. Mbak Flo tidak ingin ada kenangan mami yang terbawa ke Jakarta. Saya tidak tahu apa alasannya hingga tanpa sepengetahuan kami dia menyembunyikan foto mami. Setelah saya desak ternyata dalam foto-foto itu ada foto perselingkuhan mami dengan laki-laki lain. Karena itu Flo tidak ingin papi tahu tentang perbuatan mami sebelum bunuh diri. Flo ingin merahasiakan ini dari papi”

Tapi kemarin pak Suhendar ke sana juga, apa hubungannya dengan dia?”

Benar dia ke ruang kosong itu?”

Aku hanya menebaknya, karena kemarin saat Pak Suhendar kerumah kami, dia katakan habis dari kamar mandi dibelakang. Padahal setelah saya cek ternyata pintu belakang masih terkunci. Jadi alasan dari buang air kecil itu, apa hanya alasan untuk menutupi yang sebenarnya kalau Pak Suhendar dari ruangan itu”

Mungkin mas Hendar sudah tahu kalau mbak Flo menyimpan foto-foto itu. Jadi dia ingin memanfaatkan itu untuk semakin menjatuhkan saya didepan mas Wilham. Tidak ada hubungan langsung tapi pasti kebencian itu akan semakin bertambah kalau tahu mami menghianati papi mereka.

Tapi menurut mas Idham, apa benar rumah itu benar-benar angker”

Mas Idham tersenyum.

Tidak. Karena bunyi yang kalian dengar itu berasal dari seng atau triplek yang mungkin sudah tidak terpaku sebagian jadi saat terkena angin, akan menimbulkan bunyi yang menakutkan. Apalagi kalau didengarkan tengah malam”

Begitukah?”

Tapi kalau kalian tidak tahan, segera saja pindah. Saya tidak tersinggung kok” kata mas Idham lagi sambil tersenyum.

Aku tersenyum tipis. Mengapa terlihat mudah dalam pandangan mas Idham? Apakah memang rumah itu tidak angker? Apa mungkin hanya perasan kami saja?

Handphone saya mbak simpan saja. Saya tidak tahu siapa yang bisa saya percaya. Saat kembali ke Jakarta, saya tidak akan membawanya. Biar mbak saja yang menyimpannya.

Tapi mas” aku masih ragu. Tiba-tiba mas Idham menyentuh tanganku.

Saya tidak akan ikut campur lagi dengan masalah perusahaan. Saya yakin tiba saatnya, saya pasti kembali kesana. Dan saat itu tiba, saya ingin mbak ada disamping saya. Jadi mohon simpanlah handphone itu, anggap itu perasaan yang saya titipkan pada mbak”

Aku terdiam kaku saat mendengar kata-kata mas Idham. Bahkan tangannya tetap menyentuh tanganku. Aku tak sanggup menarik tanganku. Benarkah yang aku dengar? Benarkah kata-kata itu baru saja diucapkan oleh seorang mas Idham? Kata-kata yang tidak pernah aku duga. Aku mungkin terlihat lucu di depan mas Idham hingga mas Idham kemudian mengibaskan tangannya di depan wajahku. Apakah mas Idham baru saja menyatakan perasaannya? Pertanyaan ini terus terulang dalam benakku.

Saat aku meninggalkan kantor polisi, aku memang merasa lega karena semua sudah jelas. Masalah rumah, kecurigaan terhadap mas Idham hingga pak Suhendar. Semua ternyata bersumber dari masalah keluarga. Biarlah waktu yang akan menentukan. Seperti juga rasa dalam hatiku. Apakah akan berubah menjadi suka terhadap mas Idham, karena aku sadar ada sosok lain yang akan terluka. Tapi saat hari itu tiba,bisakah aku menghindar jika aku ternyata benar-benar suka padanya. Kembali ke waktu, biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.***

T A M A T

0 komentar:

Posting Komentar