
Desember
hampir berakhir ketika hujan deras mengguyur kotaku. Meski aku tak
pernah punya kenangan bersama hujan, namun derasnya hujan yang tak juga
reda menyadarkan aku akan kehadiranmu. Mendengar gemuruh hujan di luar
jendela kamarku, melihatnya jatuh di genting rumahku. Aku teringat
dirimu.
Kubuka buku harianku lalu kutuliskan pesan untukmu. Aku tak pernah letih
menulis pesan untukmu padahal mustahil kamu membacanya. Dulu pesan
selalu terkirim padamu lewat sms, namun sejak pesanku tak mendapat
balasan darimu. Aku akhirnya letih. Aku sadar pada sepotong kalimat yang
selalu diucapkan kakakku..
“ Jangan mengejar seseorang yang tak peduli lagi pada kita, itu artinya dia tak lagi cinta.”
Kata-kata itu terus mengingatkanku untuk menahan diri tak mengirim pesan
lagi melalui hape. Percuma. Hanya akan menambah luka dalam hati. Aku
akhirnya kembali pada kebiasaan dulu, menulis perasaan rindu padamu
melalui buku. Aku bisa tenang karena tak perlu menantikan balasan yang
tak akan pernah ada.
Kubaca lagi pesan yang baru saja aku tuliskan padamu...
Aku bermimpi beberapa bulan silam. Jika tahun berganti, kita berdua menikmatinya. Ternyata itu hanya mimpiku...
Benar. Ini hanya impianku. Impian yang tak akan pernah menjadi
kenyataan. Sejak dulu aku sendiri hingga kini tetap sendiri menikmati
pergantian tahun. Hanya kamarku yang hangat dan boneka pink yang selalu
menemaniku. Hari-hari terakhir ini, aku selalu menangis mengingatmu.
Namun malam ini aku bertahan tak meneteskan bening embun itu di mataku.
Aku ingin tegar menghadapi tahun baru tanpamu.***
0 komentar:
Posting Komentar