Baru
saja tiba di Buli menemui suaminya si Bocing Rangkat, Asih sudah harus
melihat kenyataan pahit. Dia tidak menyangka si Bocing, suami yang
disusulnya ke Halmahera karena tidak dapat menahan rasa rindu dan cinta
ternyata telah menghianatinya.
“
Mas benar-benar tega ya.” Asih menegur suaminya yang sedang
mempersiapkan barang-barang untuk keperluan ke pulau. Bocing yang tidak
mengerti maksud istrinya hanya melihat sekilas.
“ Tega kenapa sayang? Baru datang kok wajahmu sudah seperti siap perang?”
Asih masih dipenuhi rasa curiga dan amarah.
“
Perempuan yang tinggal di kamar sebelah itu siapa?” tanyanya dengan
pandangan tajam. Bocing masih santai mengatur barang-barangnya.
“ Oh, itu. Dia tetangga kita. Namanya Muna. Memang kenapa nanya-nanya si Muna? Orangnya baik kok.”
Asih
tidak tahan lagi. Dia menghampiri Bocing lalu duduk jongkok berhadapan
dengan suaminya. Matanya berkaca-kaca. Bocing heran melihatnya. Dia
segera menghentikan kegiatannya mengepak barang-barang.
“ Kamu kenapa, sayang? Kenapa nangis?”
“
Muna itu istri mas, kan? Mas baru menikah dengannya tiga minggu yang
lalu. Iya, kan?” tanya Asih sambil berurai air mata. Bocing terlihat
kaget. Beberapa saat dia terdiam.
“ Kenapa mas diam? Itu benar kan?”
“ Siapa yang memberi tahu Ci kabar seperti itu?” tanya Bocing dengan suara pelan.
“
Jadi benar? Mas benar-benar telah menikah dengan Muna? Muna sendiri
yang memberitahu saya, mas. Saya melihat Muna menjemur selimut pink yang
dulu mas minta karena mas sangat menyukainya. Waktu saya tanya, Muna
mengaku diberi sama mas. Dia mengira saya adikmu. Mas sungguh terlalu.
Sekarang juga saya mau balik ke Rangkat!!!
Asih langsung berdiri. Bocing dengan sigap segera menahannya.
“
Dengar dulu Ci sayang. Mas lakukan ini karena terpaksa.” Suara Bocing
bergetar. Asih berbalik memandang Bocing yang menunduk sedih.
“ Terpaksa?terpaksa kenapa?”
Bocing yang masih memegang tangan istrinya menghela nafas sebelum bicara.
“ Mas pernah sakit parah, Muna yang telah merawat mas.”
“
Sakit? Mas sakit parah kok nggak beritahu saya? Kalau mas sakit tentu
saya akan datang merawat mas. Bukannya mas malah mencari wanita lain
lalu menikahinya.” Asih makin marah mendengar penjelasan Bocing.
“ Waktu itu mas ada dipulau yang tidak ada signal. Karena hape mas hilang sementara nomor Ci juga mas tidak ingat.”
Asih
terdiam. Dia teringat pernah kesulitan menghubungi Bocing selama dua
minggu. Dalam pikirannya kala itu, suaminya sedang berada dipulau yang
tidak ada signal. Tapi dia sama sekali tidak pernah membayangkan
suaminya sakit parah dan sekarang malah telah menikah lagi.
“ Mas baru bisa menghubungi Ci waktu pemilik rumah tempat mas menginap, menemukan sim
card punya mas. Mas kaget tapi tetap senang. Biarlah hapenya hilang
asal sim cardnya ada. Karena data-data kerjaan dan nomor telpon
orang-orang ada disitu.”
“ Lalu kenapa mas tidak memberitahu saya kalau sudah menikah? Kalau saya nggak datang, mungkin saya nggak akan tahu kalau mas dah nikah.”
Bocing
terdiam lagi. Dia menunduk sejenak lalu memandang wajah Asih dengan
penuh penyesalan. Asih melepaskan pegangan tangan suaminya lalu masuk ke
dalam kamar. Bocing menyusul dibelakangnya dengan kebingungan. Bocing
tidak tahu bagaimana menjelaskan masalahnya kepada istrinya.
Asih memasang ransel di belakang tubuhnya lalu menatap Bocing.
“ Mas tenang saja, nanti begitu tiba di Rangkat saya akan mengurus perceraian kita. Tapi sebelum balik
ke Rangkat. Tolong kembalikan dulu selimut pink yang sekarang ada sama
Muna.” Suara Asih terdengar tegas. Bocing terlihat makin kebingungan.
“ Kok mau cerai, sayang? Apa Ci sudah nggak cinta lagi sama mas?”
“
Saya cinta mati sama mas, tapi mas yang tidak cinta sama saya. Kalau
mas cinta, sekarang juga kita balik ke Rangkat. Mas meminta kembali
selimut itu sama Muna lalu ceraikan dia. Titik!”
Bocing gelagapan. Dia terduduk lemas ditempat tidur. Asih menunggu Bocing bersuara. Beberapa menit mereka saling diam.
“ Baik. Kalau mas nggak bisa mengambil keputusan, biarlah saya yang mengalah. Saya yang akan mengurus perceraian kita.”
Selesai
berkata, Asih bergegas keluar kamar. Bocing masih mengejarnya tapi
hanya sampai di pintu. Dia hanya memandangi Asih yang berjalan
terburu-buru meninggalkan kamar kontrakan mereka. Bocing ingin menahan
tapi dia bingung bagaimana caranya. Akhirnya dia hanya terduduk disudut
kamar sambil menangis.
Tapi tiba-tiba dia tersentak kaget ketika melihat Asih kembali lagi.
“ Kamu nggak jadi pergi, sayang?” tanyanya dengan wajah senang.
“
Bukan. Saya lupa selimut pink. Saya harus membawa selimut itu balik ke
Rangkat. Itu bukan selimut sembarangan. Selimut yang penuh dengan
sejarah cinta kita. Saya nggak rela di pakai wanita itu. Sekarang tolong
mas ambilkan selimut itu kalau tidak saya sendiri yang akan kesebelah
mengambilnya.”
Mendengar
suara istrinya yang mirip ultimatum, Bocing berlari ke kamar kost
sebelah. Tidak lama kemudian dia muncul dengan selimut pink yang dilipat
seadanya.
“
Nih, sayang selimutnya. Mas nggak akan melarang Ci untuk pulang. Tapi
tolong jangan mengurus perceraian ya? Sekarang kan Ci masih emosi. Nanti
kalau sudah berpikir tenang, baru kita bisa memutuskan apa yang terbaik
untuk kita.”
Asih
tidak membalas ucapan suaminya. Dia mengambil selimut itu lalu
memasukkan ke dalam ranselnya. Matanya berkaca-kaca saat memasang ransel
itu kembali di belakang tubuhnya. Bahkan ketika melangkah keluar dia
tetap tidak berbicara. Sama seperti tadi, Bocing hanya pasrah memandangi
tubuh istrinya yang makin menjauh.
Sementara
itu tanpa Bocing ketahui, Asih berjalan dengan air mata berlinang. Dia
tidak percaya apa yang baru saja dia alami. Jauh dilubuk hatinya dia
berharap Bocing akan mengejarnya lalu ikut dengan dia pulang ke Rangkat.
Ternyata cinta mas Bocing padanya tidak lagi sama seperti dulu. Mungkin
karena terlalu lama berpisah hingga cinta mereka menjadi luntur, makin memudar oleh jarak dan waktu.
Asih
terus berjalan di bawah terik matahari yang menyengat. Semakin lama dia
merasa kepalanya pening. Dia mulai merasa mual dan pusing. Akhirnya
Asih tak kuat lagi. Dia ambruk dan tak ingat lagi apa yang terjadi
selanjutnya. Saat dia sadar dia telah berada diruangan yang berwarna
serba putih. Seorang ibu tersenyum kepadanya.
“ Mbak sudah sadar? Syukurlah. Tadi mbak pingsan, persis di depan rumah saya.” Ucap wanita itu lalu mengambil segelas air.
“
Mbak minum dulu. Kondisi mbak masih lemas. Seharusnya kalau sedang
hamil jangan mengangkat barang yang berat. Untung saya bidan, jadi cepat
bisa menangani mbak.”
Asih yang masih bingung terperanjat kaget mendengar perkataan wanita itu.
“ Ibu..ibu bilang apa tadi? Saya..saya hamil?” wanita itu mengangguk.
“ Iya. Mbak lagi hamil dua bulan. Ini kehamilan pertama ya? kok mbak nggak tahu kalau sedang hamil?”
Asih
bukannya senang mendengar kabar kehamilannya. Dia malah semakin sedih.
Airmatanya menetes perlahan. Dia teringat akan Bocing. Teringat akan
janjinya untuk mengurus perceraian mereka. Tapi sekarang dia sedang
hamil, apa keputusan itu tepat dia lakukan? Apa sebaiknya dia
memberitahu suaminya terlebih dahulu. Mungkin saja jika Bocing mendengar
tentang kehamilannya dia akan berubah pikiran dan memilih pulang ke
Rangkat.
Asih lalu bangun dari pembaringan.
“
Mau kemana, mbak? Jangan bergerak dulu. Kondisi mbak masih lemas.” Ucap
wanita itu cemas. Dia memegang pundak Asih yang begitu bersemangat
turun dari tempat tidur.
“
Saya harus menyelesaikan masalah penting, bu. Tolong titip ransel saya
dulu, ya. Nanti saya kesini lagi mengambilnya.” Ucap Asih sebelum keluar
dari kamar. Dia berjalan cepat meninggalkan rumah bidan itu.
Asih
berdoa semoga kabar kehamilannya membuat Bocing senang dan akhirnya
mereka bisa kembali ke Rangkat. Lebih baik mereka tinggal di Rangkat.
Meski hidup sederhana tapi setidaknya mereka bisa bersama. Banyak usaha
yang bisa dikerjakan di Rangkat. Semoga mas Bocing mau pulang, pinta
Asih sepanjang jalan.
Ternyata
doa Asih tidak terkabul. Saat dia semakin dekat dengan kamar kost
suaminya, dia melihat pemandangan yang membuat hatinya tersayat sembilu.
Nampak Bocing tengah duduk berdua dengan Muna. Bocing terlihat berusaha membujuk Muna yang sedang menangis.
Asih
menutup matanya. Saat dia membuka kedua matanya, pemandangan itu tetap
sama. Masih nampak Bocing dan Muna yang duduk berdua. Ternyata itu
adalah kenyataan bukan halusianasi. Asih lalu berbalik.
Melangkah makin jauh meninggalkan Bocing dan Muna yang tidak
melihatnya. Asih berjalan terseok-seok membawa hatinya yang pedih. Dia
sudah mengambil keputusan. Perceraian merupakan jalan terbaik. Biarlah
kehamilannya tak diketahui Bocing. Toh percuma saja. Cinta dihati Bocing
telah hilang untuknya. Jadi untuk apa mempertahankan rumah tangga
mereka hanya karena alasan anak?
Asih
terus menangis. Dia ingat kenangan bersama Bocing. Saat mereka baru
saja saling mengetahui perasaan masing-masing. Saat dia menyadari
ternyata sangat mencintai si Bocah Ingusan yang selalu membuat keonaran.
Walau kini Bocing telah insyaf tapi sifat isengnya masih sering kambuh. Asih menyukai itu. Mungkin karena sifat itu pula hingga dia teramat mencintai Bocing.
Sekarang haruskah dia kehilangan orang yang sangat dicintainya?
****
“ Ci sayang, ayo bangun. Katanya mau ke pulau.” Suara lembut Bocing membangunkan Asih. Tangannya menyentuh pundak istrinya.
Asih terbangun dengan wajah penuh airmata. Bocing yang melihatnya menjadi heran.
“
Kenapa, sayang? Kok nangis?” tanya Bocing lagi. Asih tidak menjawab,
dia langsung memeluk suaminya. Bocing yang heran hanya bisa membalas
pelukan Asih. Dengan penuh kasih dia mengelus-elus rambut istrinya itu.
“
Mimpi buruk ya, sayang?” Asih mengangguk dalam pelukan Bocing. Dia
menangis lagi. Tapi kali ini bukan menangis sedih. Dia bersyukur semua
yang dialaminya hanya mimpi.
“ Saya mencintaimu mas ku. Sampai kapanpun.” Ucap Asih yang membuat Bocing terlihat bahagia.
“
Sama. Mas juga mencintaimu Ci sayang. Tapi kok jadi manja begini?ntar
ketinggalan speed boat loh.” Bocing menggoda Asih yang terus memeluknya.
“ Biar saja. Biar mereka menunggu kita.” Ucap Asih sambil tersenyum yang disambut Bocing dengan tertawa. ****
ECR#3-60
0 komentar:
Posting Komentar