Minggu, 15 April 2012

Bola Kristal

0

Ilustrasi google.com

Siang itu cuaca sangat terik. Elva dan Asih berjalan menyusuri pasar besar yang ada dikota. Jarak pasar dan Desa Rangkat lumayan jauh. Karena jauhnya Asih tidak sempat mengukur. Yang pasti karena terlalu jauh Asih dan Elva tertidur di dalam angkot yang mereka tumpangi.

” Tempatnya dimana sih, mbak? Kok dari tadi kita keliling-keling saja. Elva haus nih!” keluh Elva. Botol aqua yang sejak tadi didalam genggamannya telah kosong. Sementara Asih masih celingak-celinguk mencari tempat seseorang. Dia beberapa kali menengok masuk ke dalam kios-kios yang pemiliknya menyambut mereka dengan senyum manis.


” Ayo mbak..singgah mau beli baju?jilbab? semua lengkap..” tegur seorang ibu penjual yang melihat mereka berdiri mematung menatap kios si ibu.

Elva menyentuh lengan Asih karena dia juga tidak mengerti mengapa kakaknya itu tiba-tiba terdiam.

” Mbak Asih, disini ya tempatnya?” tanya Elva yang ikut-ikutan melihat kedalam. Ibu penjual mendekati mereka.

” Nyari apa mbak berdua?” tanyanya ramah khas penjual.

” Itu bu. Minggu lalu saya pernah liat didekat kios ibu ada tempat meramal. Saya yang salah atau memang tempatnya sudah pindah?” si ibu tersenyum.

” Nggak kog, mbak nggak salah. Tapi tempatnya yang pindah. Tapi nggak jauh, tempatnya pindah kedalam kios saya. Itu punyanya adik saya. Mau saya antar? Tempatnya dilantai dua.”

Asih dengan cepat mengangguk. Mereka kemudian mengikuti si ibu masuk ke dalam kiosnya. Makin kedalam memang tercium aroma kemenyan. Wajah Elva sudah mulai ketakutan.

” Mbak Asih. Kok mbak Asih nggak bilang mau ketempat beginian? Tau begini Elva nggak ikut.”

ucap Elva dengan suara berbisik. Takut terdengar si ibu yang berjalan di depan mereka.

” Lho, kan tadi mbak bilang jangan ikut. Tapi kamu memaksa juga. Jadi sekarang jangan protes. Mbak penasaran dengan peramal itu. Minggu lalu mbak masih enggan, tapi selama seminggu mbak memikirkan terus. Sepertinya bagus juga kalau dicoba.”

” Mau meramal apa sih?”

” Nanti saja kamu lihat.”

Mereka mengikuti si ibu menaiki anak tangga satu persatu. Tangga kayu yang mulai lapuk. Asih dan Elva sampai menahan tubuh mereka agar tangga tersebut tidak ambruk. Si ibu mengetuk pintu sebuah kamar saat tiba di lantai atas. Elva tak melepaskan pegangan pada lengan Asih. Matanya sudah seperti mata anak kucing yang ketakutan terjebak dalam pusaran air. Suasana ruangan yang remang-remang menambah kesan mistik.

Pintu terbuka. Nampak seorang wanita yang memakai tutup kepala. Dia menatap si ibu kemudian pindah ke Asih dan Elva. Senyumnya yang manis menutup kesan angker yang tampak pada riasannya.

” Mereka mencarimu Kaya.” ucap si ibu.

Wanita yang bernama Kaya itu kemudian memberikan isyarat agar si ibu segera berlalu. Tinggallah Elva dan Asih yang masih diselimuti rasa takut.

” Masuklah. Aku sudah tahu kamu pasti akan datang.” matanya menatap tajam ke arah Asih. Walau penasaran dengan kata-kata Kaya, Asih tidak ingin menyambut kata-kata wanita itu. Mereka mengikuti wanita itu kedalam ruangan yang tak kalah remangnya dengan seluruh ruang yang tadi mereka lalui. Mereka duduk di depan wanita itu. Ada sebuah meja kecil yang memisahkan mereka. Diatas meja itu terdapat sebuah bola kristal. Bola kristal yang biasa saja. Asih merasa heran karena minggu lalu dia melihat bola itu mengeluarkan sinar tapi kenapa sekarang seperti bola kristal biasa?

” Aku sudah tahu tujuanmu datang kemari.” kata wanita itu. Dia tidak menatap Elva dan Asih tapi matanya terarah ke bola kristal itu.

” Bagaimana ibu bisa tahu kami akan datang?” tanya Asih dengan suara pelan.

” Bola kristal ini yang memberikan petunjuk.” Katanya sambil mengelus bola kristal itu. Antara percaya dan tidak, Asih hanya terdiam.

” Berikan kertas yang ada dalam tasmu. Itukan tujuan kamu datang kemari?” Asih tersentak kaget. Bagaimana wanita ini bisa tahu dia membawa catatan untuk dia serahkan ke wanita itu? Asih kemudian membuka tasnya lalu mengeluarkan kertas yang masih dalam bentuk lipatan. Asih menyerahkan kertas itu. Wanita itu menerimannya lalu membuka lipatan kertas. Dahinya mengkerut saat membaca tulisan yang ada dalam kertas tersebut.

” Jumlah nama disini ada 101. Apa semua ini yang ingin kamu tanyakan?” Asih mengangguk.

Wanita itu menghela nafas. Agak lama dia terdiam.

” Ini terlalu banyak. Aku hanya bisa memperlihatkan tidak lebih dari sepuluh.” ucapnya pelan.

Asih berpikir keras. Siapa yang akan dia pilih? Diantara 101 warga rangkat dia harus memilih sepuluh untuk diramal.

” Permisi bu, kami mau berunding dulu diluar.” Asih pamit sambil menarik tangan Elva. Elva yang bingung hanya mengikuti kakaknya keluar.

” Mau berunding apa sih,mbak?Kertas yang mbak serahkan, itu isinya apa?”

” Sssst. Suaramu jangan terlalu besar. Kertas itu berisi nama-nama warga Desa Rangkat. Mbak mau melihat gimana warga Rangkat waktu masih kecil…he..he…” Mata Elva membelalak.

” Hah? Yang benar, mbak? Apa benar wanita itu bisa melihat masa lalu?”

” Kita lihat saja nanti. Cuma sekarang kamu bantu mbak menentukan siapa kira-kira yang masuk sepuluh besar untuk kita lihat masa kecilnya. Kamu nggak usah.” Asih seolah tahu keinginan dalam kepala Elva. Wajah Elva berubah cemberut.

” Mbak beri pilihan. Kamu harus memilih antara melihat masa kecilmu atau melihat masa kecil mas Lala?”

” Oke deh. Elva menyerah. Mbak Asih memang paling bisa membuat Elva tak punya pilihan.”

” Nah, jadi siapa menurutmu yang bisa kita liat masa lalunya?”

” Mas Lala.”

“Trus?”

” Pak Kades dan Mommy.”

” Sudah tiga. Siapa lagi?”

” Mas Erwin, mbak Ning wang, Zwan…”

” Tunggu..jangan terlalu cepat. Sudah berapa jumlahnya?”Asih menghitung lagi.

” Mbak Uleng, mas Risal, mas Hikmat..”

” Kurang satu.”

” Mbak Deasy.” Jawab Elva mantap.

” Ok. Sekarang sudah komplit. Kita minta maaf untuk orang - orang yang tidak terpilih. Padahal maunya sih semuanya.”

Asih dan Elva kemudian masuk kembali kedalam ruangan. Wanita itu mengelus-elus bola kristalnya sambil komat-kamit membaca mantra. Asih ragu untuk menyerahkan kertas berisi nama-nama sepuluh orang yang sudah terpilih karena wanita itu menutup matanya.

” Taruh saja disitu. Aku bisa membacanya walau tak memegangnya.”

Asih makin takjub. Wanita ini benar-benar hebat, pujinya dalam hati.

” Sekarang aku akan memperlihatkan nama pertama.” wanita itu lalau mengelus-elus bola kristalnya. Bola kristal itu kemudian berubah menjadi terang. Makin lama makin jelas terlihat sesuatu didalam. Elva tampak bersemangat. Dia tahu nama pertama adalah Lala. Matanya dengan tajam menatap bola kristal itu.

” Lihatlah.” ucap wanita itu. Asih dan Elva menajamkan pandangan mereka. Nampak sekelompok anak TK yang sedang bermain. Tapi terlihat ada yang menonjol diantara mereka.

“Itu pasti mas Lala. Matanya sudah indah sejak kecil..oh mas Lala.” bisik Elva. Asih menyentuh pahanya, menyadarkan Elva agar tak larut dalam perasaan.

Terlihat Lala kecil sudah menjadi idola. Sekelompok anak TK yang perempuan mengelilingi Lala. Tak ada suara hanya gerakan yang terlihat. Tidak lama kemudian gambar itu menghilang. Kemudian berganti dengan sosok anak laki-laki yang lain. Asih dan Elva bingung bagaimana menebaknya.

” Itu nama yang kedua.” ucap wanita itu seolah tahu apa yang Asih dan Elva pikirkan.

” Pak Kades?”

Terlihat pak Kades yang masih kecil sudah jadi pimpinan diantara teman-temannya. Menyusul kemudian Mommy. Sejak kecil Mommy sudah terlihat cantik. Kemudian muncul Erwin kecil. Asih dan Elva nyaris tertawa. Ternyata Erwin sejak kecil sudah menyukai kepiting. Terlihat Erwin tengan bermain dengan kepiting. Elva dan Asih tidak perlu berpikir untuk menebak gambar berikutnya. Seorang perempuan kecil tengah bersolek.

” Mbak Ning!” bisik Elva dan Asih kompak.

” Itu Zwan.” ucap Elva saat diperlihatkan gambar seorang anak perempuan yang tengah memanjat gunungan pasir. Sejak kecil Zwan memang hobi bertualang. Tiba gambar seorang anak perempuan kecil yang lembut. Asih dan Elva jadi terpesona.

” Ini pasti mbak Uleng, ternyata sejak kecil mbak Uleng memang lembut ya..”

Gambar berikutnya Asih dan Elva tertawa kecil. Mereka sudah tidak bisa menahan tawa. Terlihat Risal sang reporter yang masih berwujud anak laki-laki kecil tengah memotret sesuatu menggunakan kotak kayu. Gambar berikutnya diperlihatkan seorang anak kecil tengah memegang tangan ayahnya, mereka berjalan menuju mesjid.

” Mas Hikmat sejak kecil dekat dengan mesjid, ya.” ucap Asih

” Nah ini, pasti mbak Deasy..he..he…lihat..sejak kecil mbak Deasy jutek..liat tuh wajahnya..teman-temannya pada lari ketakutan..hihihi.”

Bola kristal meredup. Elva masih cekikikan mengingat gambar-gambar yang tadi dilihatnya.Selesai mengurus biayanya, Asih dan Elva kemudian meninggalkan peramal itu. Sepanjang jalan Asih dan Elva tertawa membicarakan yang baru saja mereka alami. Tapi keduanya langsung kaget begitu menyadari situasi sekitar mereka telah berubah. Tadi sebelum masuk mereka berada di pasar, mengapa sekarang mereka tiba-tiba berada didalam hutan yang gelap. Suasana sunyi hanya terdengar suara-suara menyeramkan yang memanggil mereka. Dari hanya suara kemudian bermunculan orang-orang yang berwajah menyeramkan. Tiba-tiba wanita yang tadi meramal mereka, muncul dengan giginya yang bertaring.

” Kalian pikir semudah itu meninggalkan kami. Kalian sudah masuk ke dalam kelompok kami. Kalian harus bergabung. Berikan kami darah kalian, lalu kalian akan menjadi seperti kami..hihihihi..”

Suara wanita itu sangat mengerikan. Asih dan Elva sudah pucat pasi.

” Elva lari!!!! Teriak Asih. Tapi dia juga bingung mau berlari kemana. Dia terus saja berlari. Saat berbalik, Asih terperanjat. Elva sudah terkepung makhluk-makhluk itu.

” Elva!!!! Teriak Asih sekuat tenaga. Dia berlari mendekati Elva yang sudah menjerit ketakutan.

” Elva!!! Suara Asih serasa hilang. Dia berteriak tapi tak ada suara yang keluar.

” Elva!!!

” Mbak!mbak Asih. Mbak, bangun mbak. Mbak Asih.”

Elva menyentuh bahu Asih. Asih terbangun. Dia membuka matanya. Peluh bercucuran dari kening dan wajahnya.

” Mbak Asih mimpi ya? Mimpi apa mbak? Menyeramkan?”

Asih menggangguk pelan. Badannya terasa lemah seperti habis berlari berpuluh-puluh kilometer.

” Mbak Asih mimpi apa?kok manggil-manggil nama Elva?”

Asih tersadar kalau dia baru saja bermimpi tentang Elva. Asih bersyukur semua kejadian itu hanya mimpi. Asih membalikkan badan. Nampak bola kristal kecil yang indah ada di dekat bantalnya. Asih teringat. Sebelum tidur siang dia memang tengah memandang bola kristal itu. Ternyata pandangannya itu terbawa hingga ke alam mimpi.***

0 komentar:

Posting Komentar