Siang
itu cuaca sangat terik. Elva dan Asih berjalan menyusuri pasar besar
yang ada dikota. Jarak pasar dan Desa Rangkat lumayan jauh. Karena
jauhnya Asih tidak sempat mengukur. Yang pasti karena terlalu jauh Asih
dan Elva tertidur di dalam angkot yang mereka tumpangi.
”
Tempatnya dimana sih, mbak? Kok dari tadi kita keliling-keling saja.
Elva haus nih!” keluh Elva. Botol aqua yang sejak tadi didalam
genggamannya telah kosong. Sementara Asih masih celingak-celinguk
mencari tempat seseorang. Dia beberapa kali menengok masuk ke dalam
kios-kios yang pemiliknya menyambut mereka dengan senyum manis.
”
Ayo mbak..singgah mau beli baju?jilbab? semua lengkap..” tegur seorang
ibu penjual yang melihat mereka berdiri mematung menatap kios si ibu.
Elva menyentuh lengan Asih karena dia juga tidak mengerti mengapa kakaknya itu tiba-tiba terdiam.
” Mbak Asih, disini ya tempatnya?” tanya Elva yang ikut-ikutan melihat kedalam. Ibu penjual mendekati mereka.
” Nyari apa mbak berdua?” tanyanya ramah khas penjual.
”
Itu bu. Minggu lalu saya pernah liat didekat kios ibu ada tempat
meramal. Saya yang salah atau memang tempatnya sudah pindah?” si ibu
tersenyum.
”
Nggak kog, mbak nggak salah. Tapi tempatnya yang pindah. Tapi nggak
jauh, tempatnya pindah kedalam kios saya. Itu punyanya adik saya. Mau
saya antar? Tempatnya dilantai dua.”
Asih
dengan cepat mengangguk. Mereka kemudian mengikuti si ibu masuk ke
dalam kiosnya. Makin kedalam memang tercium aroma kemenyan. Wajah Elva
sudah mulai ketakutan.
” Mbak Asih. Kok mbak Asih nggak bilang mau ketempat beginian? Tau begini Elva nggak ikut.”
ucap Elva dengan suara berbisik. Takut terdengar si ibu yang berjalan di depan mereka.
”
Lho, kan tadi mbak bilang jangan ikut. Tapi kamu memaksa juga. Jadi
sekarang jangan protes. Mbak penasaran dengan peramal itu. Minggu lalu
mbak masih enggan, tapi selama seminggu mbak memikirkan terus.
Sepertinya bagus juga kalau dicoba.”
” Mau meramal apa sih?”
” Nanti saja kamu lihat.”
Mereka
mengikuti si ibu menaiki anak tangga satu persatu. Tangga kayu yang
mulai lapuk. Asih dan Elva sampai menahan tubuh mereka agar tangga
tersebut tidak ambruk. Si ibu mengetuk pintu sebuah kamar saat tiba di
lantai atas. Elva tak melepaskan pegangan pada lengan Asih. Matanya
sudah seperti mata anak kucing yang ketakutan terjebak dalam pusaran
air. Suasana ruangan yang remang-remang menambah kesan mistik.
Pintu
terbuka. Nampak seorang wanita yang memakai tutup kepala. Dia menatap
si ibu kemudian pindah ke Asih dan Elva. Senyumnya yang manis menutup
kesan angker yang tampak pada riasannya.
” Mereka mencarimu Kaya.” ucap si ibu.
Wanita
yang bernama Kaya itu kemudian memberikan isyarat agar si ibu segera
berlalu. Tinggallah Elva dan Asih yang masih diselimuti rasa takut.
”
Masuklah. Aku sudah tahu kamu pasti akan datang.” matanya menatap tajam
ke arah Asih. Walau penasaran dengan kata-kata Kaya, Asih tidak ingin
menyambut kata-kata wanita itu. Mereka mengikuti wanita itu kedalam
ruangan yang tak kalah remangnya dengan seluruh ruang yang tadi mereka
lalui. Mereka duduk di depan wanita itu. Ada sebuah meja kecil yang
memisahkan mereka. Diatas meja itu terdapat sebuah bola kristal. Bola
kristal yang biasa saja. Asih merasa heran karena minggu lalu dia
melihat bola itu mengeluarkan sinar tapi kenapa sekarang seperti bola
kristal biasa?
”
Aku sudah tahu tujuanmu datang kemari.” kata wanita itu. Dia tidak
menatap Elva dan Asih tapi matanya terarah ke bola kristal itu.
” Bagaimana ibu bisa tahu kami akan datang?” tanya Asih dengan suara pelan.
”
Bola kristal ini yang memberikan petunjuk.” Katanya sambil mengelus
bola kristal itu. Antara percaya dan tidak, Asih hanya terdiam.
”
Berikan kertas yang ada dalam tasmu. Itukan tujuan kamu datang kemari?”
Asih tersentak kaget. Bagaimana wanita ini bisa tahu dia membawa
catatan untuk dia serahkan ke wanita itu? Asih kemudian membuka tasnya
lalu mengeluarkan kertas yang masih dalam bentuk lipatan. Asih
menyerahkan kertas itu. Wanita itu menerimannya lalu membuka lipatan
kertas. Dahinya mengkerut saat membaca tulisan yang ada dalam kertas
tersebut.
” Jumlah nama disini ada 101. Apa semua ini yang ingin kamu tanyakan?” Asih mengangguk.
Wanita itu menghela nafas. Agak lama dia terdiam.
” Ini terlalu banyak. Aku hanya bisa memperlihatkan tidak lebih dari sepuluh.” ucapnya pelan.
Asih berpikir keras. Siapa yang akan dia pilih? Diantara 101 warga rangkat dia harus memilih sepuluh untuk diramal.
”
Permisi bu, kami mau berunding dulu diluar.” Asih pamit sambil menarik
tangan Elva. Elva yang bingung hanya mengikuti kakaknya keluar.
” Mau berunding apa sih,mbak?Kertas yang mbak serahkan, itu isinya apa?”
”
Sssst. Suaramu jangan terlalu besar. Kertas itu berisi nama-nama warga
Desa Rangkat. Mbak mau melihat gimana warga Rangkat waktu masih
kecil…he..he…” Mata Elva membelalak.
” Hah? Yang benar, mbak? Apa benar wanita itu bisa melihat masa lalu?”
”
Kita lihat saja nanti. Cuma sekarang kamu bantu mbak menentukan siapa
kira-kira yang masuk sepuluh besar untuk kita lihat masa kecilnya. Kamu
nggak usah.” Asih seolah tahu keinginan dalam kepala Elva. Wajah Elva
berubah cemberut.
” Mbak beri pilihan. Kamu harus memilih antara melihat masa kecilmu atau melihat masa kecil mas Lala?”
” Oke deh. Elva menyerah. Mbak Asih memang paling bisa membuat Elva tak punya pilihan.”
” Nah, jadi siapa menurutmu yang bisa kita liat masa lalunya?”
” Mas Lala.”
“Trus?”
” Pak Kades dan Mommy.”
” Sudah tiga. Siapa lagi?”
” Mas Erwin, mbak Ning wang, Zwan…”
” Tunggu..jangan terlalu cepat. Sudah berapa jumlahnya?”Asih menghitung lagi.
” Mbak Uleng, mas Risal, mas Hikmat..”
” Kurang satu.”
” Mbak Deasy.” Jawab Elva mantap.
” Ok. Sekarang sudah komplit. Kita minta maaf untuk orang - orang yang tidak terpilih. Padahal maunya sih semuanya.”
Asih
dan Elva kemudian masuk kembali kedalam ruangan. Wanita itu
mengelus-elus bola kristalnya sambil komat-kamit membaca mantra. Asih
ragu untuk menyerahkan kertas berisi nama-nama sepuluh orang yang sudah
terpilih karena wanita itu menutup matanya.
” Taruh saja disitu. Aku bisa membacanya walau tak memegangnya.”
Asih makin takjub. Wanita ini benar-benar hebat, pujinya dalam hati.
”
Sekarang aku akan memperlihatkan nama pertama.” wanita itu lalau
mengelus-elus bola kristalnya. Bola kristal itu kemudian berubah menjadi
terang. Makin lama makin jelas terlihat sesuatu didalam. Elva tampak
bersemangat. Dia tahu nama pertama adalah Lala. Matanya dengan tajam
menatap bola kristal itu.
”
Lihatlah.” ucap wanita itu. Asih dan Elva menajamkan pandangan mereka.
Nampak sekelompok anak TK yang sedang bermain. Tapi terlihat ada yang
menonjol diantara mereka.
“Itu
pasti mas Lala. Matanya sudah indah sejak kecil..oh mas Lala.” bisik
Elva. Asih menyentuh pahanya, menyadarkan Elva agar tak larut dalam
perasaan.
Terlihat
Lala kecil sudah menjadi idola. Sekelompok anak TK yang perempuan
mengelilingi Lala. Tak ada suara hanya gerakan yang terlihat. Tidak lama
kemudian gambar itu menghilang. Kemudian berganti dengan sosok anak
laki-laki yang lain. Asih dan Elva bingung bagaimana menebaknya.
” Itu nama yang kedua.” ucap wanita itu seolah tahu apa yang Asih dan Elva pikirkan.
” Pak Kades?”
Terlihat
pak Kades yang masih kecil sudah jadi pimpinan diantara teman-temannya.
Menyusul kemudian Mommy. Sejak kecil Mommy sudah terlihat cantik.
Kemudian muncul Erwin kecil. Asih dan Elva nyaris tertawa. Ternyata
Erwin sejak kecil sudah menyukai kepiting. Terlihat Erwin tengan bermain
dengan kepiting. Elva dan Asih tidak perlu berpikir untuk menebak
gambar berikutnya. Seorang perempuan kecil tengah bersolek.
” Mbak Ning!” bisik Elva dan Asih kompak.
”
Itu Zwan.” ucap Elva saat diperlihatkan gambar seorang anak perempuan
yang tengah memanjat gunungan pasir. Sejak kecil Zwan memang hobi
bertualang. Tiba gambar seorang anak perempuan kecil yang lembut. Asih
dan Elva jadi terpesona.
” Ini pasti mbak Uleng, ternyata sejak kecil mbak Uleng memang lembut ya..”
Gambar
berikutnya Asih dan Elva tertawa kecil. Mereka sudah tidak bisa menahan
tawa. Terlihat Risal sang reporter yang masih berwujud anak laki-laki
kecil tengah memotret sesuatu menggunakan kotak kayu. Gambar berikutnya
diperlihatkan seorang anak kecil tengah memegang tangan ayahnya, mereka
berjalan menuju mesjid.
” Mas Hikmat sejak kecil dekat dengan mesjid, ya.” ucap Asih
”
Nah ini, pasti mbak Deasy..he..he…lihat..sejak kecil mbak Deasy
jutek..liat tuh wajahnya..teman-temannya pada lari ketakutan..hihihi.”
Bola
kristal meredup. Elva masih cekikikan mengingat gambar-gambar yang tadi
dilihatnya.Selesai mengurus biayanya, Asih dan Elva kemudian
meninggalkan peramal itu. Sepanjang jalan Asih dan Elva tertawa
membicarakan yang baru saja mereka alami. Tapi keduanya langsung kaget
begitu menyadari situasi sekitar mereka telah berubah. Tadi sebelum
masuk mereka berada di pasar, mengapa sekarang mereka tiba-tiba berada
didalam hutan yang gelap. Suasana sunyi hanya terdengar suara-suara
menyeramkan yang memanggil mereka. Dari hanya suara kemudian bermunculan
orang-orang yang berwajah menyeramkan. Tiba-tiba wanita yang tadi
meramal mereka, muncul dengan giginya yang bertaring.
”
Kalian pikir semudah itu meninggalkan kami. Kalian sudah masuk ke dalam
kelompok kami. Kalian harus bergabung. Berikan kami darah kalian, lalu
kalian akan menjadi seperti kami..hihihihi..”
Suara wanita itu sangat mengerikan. Asih dan Elva sudah pucat pasi.
”
Elva lari!!!! Teriak Asih. Tapi dia juga bingung mau berlari kemana.
Dia terus saja berlari. Saat berbalik, Asih terperanjat. Elva sudah
terkepung makhluk-makhluk itu.
” Elva!!!! Teriak Asih sekuat tenaga. Dia berlari mendekati Elva yang sudah menjerit ketakutan.
” Elva!!! Suara Asih serasa hilang. Dia berteriak tapi tak ada suara yang keluar.
” Elva!!!
” Mbak!mbak Asih. Mbak, bangun mbak. Mbak Asih.”
Elva menyentuh bahu Asih. Asih terbangun. Dia membuka matanya. Peluh bercucuran dari kening dan wajahnya.
” Mbak Asih mimpi ya? Mimpi apa mbak? Menyeramkan?”
Asih menggangguk pelan. Badannya terasa lemah seperti habis berlari berpuluh-puluh kilometer.
” Mbak Asih mimpi apa?kok manggil-manggil nama Elva?”
Asih
tersadar kalau dia baru saja bermimpi tentang Elva. Asih bersyukur
semua kejadian itu hanya mimpi. Asih membalikkan badan. Nampak bola
kristal kecil yang indah ada di dekat bantalnya. Asih teringat. Sebelum
tidur siang dia memang tengah memandang bola kristal itu. Ternyata
pandangannya itu terbawa hingga ke alam mimpi.***
0 komentar:
Posting Komentar