Selasa, 28 Februari 2012

Playboy

0

1291649180824535646

Siang itu aku masuk ke kamar Sheila. Aku tahu dia ada dalam kamarnya. Kulihat dia sedang tidur. Aku menggerakkan badannya.

Kamu gimana, sih. Aku kan lagi tidur” protes Sheila.

Hei, non. Sekarang sudah jam berapa? Jam setengah empat. Kamu nggak mau kursus?” tanyaku. Sheila berbalik. Dia kembali tidur.

Eh, bangun. Ntar bosmu mas Fandy ngamuk”

Biarin! biarin!” Sheila berteriak. Aku yang dengar jadi kaget. Biasanya Sheila yang paling rajin ke tempat kursus. Malah kalau aku merasa malas dialah yang mendorongku untuk rajin datang. Memberikan semangat. Tapi sekarang?

Sheilla, kamu berantem ya dengan mas Fandy?”

“ Nggak usah tanya-tanya. Gih sana aku mau tidur!”

“ Lho, dulu kamu maksain aku masuk. Sekarang malah kamu yang malas-malasan”

“ Aku nggak mau pergi Mela. Sekalipun kamu memaksa, aku tetap tidak akan pergi”

“ Kamu kenapa, sih? Kenapa tidak mau pergi? Aku nggak enak ke tempat kursus sendirian”

Sheila tidak berkata-kata lagi. Dia memeluk gulingnya lalu menutup mata. Aku keluar dari kamarnya dengan perasaan kesal. Aku tidak bisa membayangkan pergi sendirian ke tempat kursus musik. Andai teman-teman cowok yang sekelas denganku tidak seganteng aktor-aktor korea, mungkin aku tidak akan segugup ini. Tapi aku terpaksa harus pergi. Daya tangkapku yang sangat lemah membuatku harus rajin mengikuti pelajaran. Kalau tidak pasti mas Fandy akan mencecarku dengan kata-kata yang sangat halus namun menikam.

_________

Tiba di tempat kursus aku memarkir motorku. Badanku sudah gemetaran. Sejak mulai kursus di tempat ini belum pernah sekalipun aku datang sendirian. Sheila selalu bersamaku. Senyum mbak Vonny menyambutku begitu aku masuk.

“ Hei Mela. Sheila mana?” tanyanya. Mungkin dia merasa aneh.Kami yang seperti anak kembar karena selalu datang berdua, tiba-tiba datang seorang diri.

Lagi sakit, mbak” jawabku sekenanya. Aku bingung mau memberikan jawaban seperti apa.

Oh, gitu toh. Masuk deh sana. Anak-anak sudah sejak tadi di dalam”

Aku melangkah meniti anak tangga satu persatu. Walau masih kesal dengan Sheila, aku berusaha menenangkan diri. Aku tidak ingin karena Sheila pelajaran kursus ku jadi berantakan.

Tiba dalam ruangan aku langsung duduk di tempatku. Mas Fandy masih memberikan penjelasan di depan ruangan. Karena terlambat aku agak bingung mau memulai dari mana saat Fandy selesai memberikan penjelasan.

Fandy mendekatiku.

“ Sendirian, Mel? Sheila nggak masuk?”

“ Lagi sakit, mas” kataku.

“ Oh, lagi sakit. Oke, karena kamu agak telat datang, ntar kamu pulangnya belakangan”

Aku tercengang. Belakangan? Ada kegiatan apa kenapa aku harus pulang belakangan?. Tapi aku tidak berani bertanya. Sudah resiko siapa suruh aku datang terlambat. Ini semua gara-gara Sheila, aku jadi terlambat.

__________

Waktu terus berlalu hingga pukul enam tepat. Sesuai dengan yang mas Fandy katakan, aku tidak boleh pulang dulu. Sementara teman-teman yang lain sudah pulang, aku masih tetap menunggu dalam ruangan.

Mas Fandy mengajakku ke ruangannya.

“ Lho, kog nggak disini mas?” tanyaku heran. Aku mengira kami akan berlatih tambahan karena aku datang terlambat.

“ Apa bedanya non disini dengan di ruanganku. Ada yang mau aku bicarakan denganmu”

Mas Fandy berkata sambil melangkah menuju ruangannya.

Tiba dalam ruangan, mas Fandy memintaku duduk di sofa yang ada dalam ruangan.

“ Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ini mengenai Sheila”

“ Sheila kenapa, mas?” tanyaku heran. Mas Fandy mendekatiku.

“ Maafkan aku Mela, sebenarnya Sheila itu naksir sama aku” aku tersentak kaget. Benarkah?

Aku memang begitu. Setiap ada murid baru, aku akan memprioritaskan mereka. Kamu boleh tanya sama murid-murid yang lain, karena itu memang sudah tugasku membimbing mereka. Tapi ternyata Sheila salah paham. Dia memilih menanyakan lebih dulu padaku. Aku jawab saja apa adanya. Dia ngambek. Dua kali pertemuan dia nggak masuk. Dan ini untuk ketiga kalinya. Makanya aku mengajakmu bicara supaya kamu bisa memberikan penjelasan ke Sheila. Kamu kan bisa merasakan kalau akhir-akhir ini aku lebih memperhatikan kamu, karena kamu masuk belakangan. Si Sheila rupanya nggak terima. Ya begitulah jadinya..”

Aku termenung. Jadi selama ini Sheila cemburu sama aku? Aku tidak pernah menyangka sama sekali kalau saudara sendiri mencemburui aku. Aku kaget tiba-tiba saja mas Fandy menyentuh tanganku.

“ Andai kamu bukan muridku, pasti aku mau jadi pacarmu. Tapi sayang sekali kamu adalah muridku yang harus aku ajar sampai pintar. Nantilah kalau kamu sudah keluar dari sini. Maukan Mela?”

“ Apa?” tanyaku gugup.

Jadi pacarku kalau kamu sudah kelar kursus”

Sungguh aku tidak tahu perasaan apa yang aku rasakan saat ini. Bencikah, bahagiakah atau malah sedih. Benarkah mas Fandy tidak memberikan harapan pada Sheila. Kalau ingat sifat Sheila yang supel dan ceplas ceplos, aku tidak heran kalau dia berani mengutarakan perasaannya. Tapi apa yang dikatakan mas Fandy barusan membuatku ragu. Benarkah kejadiannya seperti yang mas Fandy ceritakan?

Aku pamit pulang. Tergesa-gesa aku aku keluar dari tempat kursus. Masih kulihat mas Fandy menatapku dari jendela kaca lantai dua. Tapi aku hanya melihatnya sekilas. Kujalankan motorku dan segera meninggalkan tempat kursus. Sepanjang jalan aku terus memikirkan mas Fandy. Aku tiba-tiba jadi benci dengan mas Fandy. Mengucap kata-kata gombal seperti itu apalagi namanya kalau bukan play boy. Wajah seganteng dia tentu saja sudah banyak yang jadi korbannya.

____________

Tiba di rumah Sheila menyambutku dengan wajah muram.

Enak ya, habis pacaran. Pantas aja pulangnya telat”

“ Sheila, siapa yang pacaran? Aku latihan kog” Sheila tersenyum sinis.

“ Bohong! Kamu pacarankan dengan mas Fandy. Ngaku aja”

Kamu kog menuduh aku seperti itu. Aku nggak pacaran dengan mas Fandy sekarang atau sampai kapanpun” Sheila menatapku heran.

“ Dengar, aku menganggap mas Fandy sebagai guru. Terserah dia mau menganggap aku seperti apa. Aku tidak punya perasaan istimewa terhadapnya. Aku bahkan rencana mau keluar saja. Aku mau mencari tempat kursus yang lain. Bagaimana? Kamu puaskan?

“ Benarkah? Lalu aku?”

“ Terserah kamu. Mau tetap atau mau keluar juga”

Aku melangkah ke kamarku. Kutinggalkan Sheila yang masih bengong di depan pintu. Aku tidak peduli lagi. Lebih cepat aku keluar lebih baik.

___________

Beberapa hari kemudian saat pulang dari kampus, kudapati Sheila sedang termenung di teras. Pandangan matanya kosong. Ku sentuh pundaknya.

“ Kamu ngelamunkan apa?”

“ Tadi Vena kemari. Ternyata mas Fandy juga mengatakan hal yang sama padanya. Mas Fandy mengatakan kalau dia juga menyukai Vena dan meminta Vena jadi pacarnya. Dasar playboy brengsek!”

Aku memandangi Sheila. Rasanya keterangan itu sudah cukup untuk membuatnya sadar. Aku tidak perlu  menambahkan kalau mas Fandy juga pernah mengatakan menyukaiku. Aku tidak menyesal keluar dari tempat kursus itu. Tempat itu tidak cocok untuk perempuan. Aku bersyukur tidak masuk ke dalam perangkap mas Fandy.***

0 komentar:

Posting Komentar