Apakah terlihat seperti sandiwara ketika
cinta itu hadir bersemayam di hati?
Mengapa aku harus bermuka
dua,menyembunyikan rasa?
Bodohkan aku, pasti pikirmu, memendam
sendiri, merayapi malam sepi
Hanya tunduk pada satu kata yang
memasung diri, penolakan
Ya, aku takut di tolak oleh senyummu
yang sangat manis
Aku takut di tolak oleh tuturmu yang
sangat lembut
Aku takut jiwaku terbang saat lengan
kokohmu rengkuh bahuku, menepuk, sambil berkata
“Kakak kangen sama kamu. Udah punya
pacar?”
Kemana hendak kucari jawabannya, jika
diseberang sana, seseorang tengah menantimu
Aku tak ingin kamu bersikap baik
tapi...menolakku
Aku tak ingin menghitung bintang di
langit, menghitung suara tokke di sela-sela rumah
Aku tak ingin menghitung rintik-rintik
hujan yang menyentuh jemariku
Aku tak ingin mengukir kerinduan pada
embun di dedaunan
Aku tak ingin mengalirkan rinduku pada
sungai yang mengalir jernih
Aku tak ingin hanya menyapa angin,
agar rindu terdengar olehmu
Aku ingin menatap matamu sambil
mengucap kata aku menyukaimu
Tapi kapan?!?!?!
Untaian kataku telah menjelma sutra
yang indah
Terbungkus selendang cinta penuh kerinduan
Hayalanku telah jauh melewati usiaku,
tapi ragaku tetap tegar disini
Menemani karang yang betah menyendiri
sepertiku
Suara ombak terdengar pilu seolah tahu
jiwaku merana
Detik-detik itu hadirkan kerinduan,
Aku rindu perlakuan manismu, seperti
masa lalu
Biarlah cintaku terpasung,biarlah
anganku terhalang penolakanmu


0 komentar:
Posting Komentar