Pak
lurah memperhatikan kami bertiga. Dia menanti keputusan kami. Aku masih
ragu. Mataku kembali memandangi seluruh ruangan dalam rumah ini. Niar
menyentuh lenganku. Kulihat wajahnya. Dia menyembunyikan wajahnya yang
cemberut, tak ingin terlihat pak lurah yang menatap kami. Aku tahu arti
dari wajahnya. Itu seperti kode kalau dia tidak setuju. Jen terdiam. Aku
meliriknya, menanti tanggapan yang keluar dari bibirnya yang mungil.
Jen tipe yang tidak suka membuat orang sakit hati. Dengan terpaksa dia
tersenyum kepadaku. Walau dia tersenyum aku tahu matanya tak bisa
berbohong. Terlihat jelas sinar ketakutan dalam matanya. Aku sudah bisa
memutuskan apa yang akan aku sampaikan ke pak lurah. Setelah
menenangkan diri sejenak aku akhirnya berbicara.
“ Kami
setuju, pak. Kami bersedia tinggal disini” kataku dengan mantap. Aku
dapat melihat bayangan kepala kedua temanku yang bergerak melihatku.Pak
lurah tersenyum puas. Aku tak melihat ke samping. Aku tahu bagaimana
wajah kedua temanku. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kami terpaksa
harus tinggal disini. Tidak baik menolak tawaran dari pak lurah.
Walaupun tawaran itu tidak memuaskan kami, terpaksa kami harus
menerimanya.
“ Kamu
gimana sih, Tin? Kenapa kamu terima?” protes Niar saat kami dalam
perjalanan pulang ke rumah mbak Vina. Jen juga mengangguk tanda setuju
dengan protes Niar.
“ Rumahnya
juga mengerikan. Tinggal putar musik serem disana, maka rumah itu sudah
seperti rumah hantu” katanya menyambung kata-kata Niar. Aku
menghentikan langkahku.
“ Habis
bagaimana lagi. Kalau pak lurah sudah menawarkan kita rumah itu,
berarti mbak Vina sudah nggak bisa terima kita tinggal di rumahnya lagi.
Mbak Vina nggak ngomong, tapi lapor ke pak lurah.Apa kalian tidak
merasa aneh, kenapa akhir-akhir ini mbak Vina lebih banyak tinggal di
rumah orang tuanya? Itu karena dia sudah eneg dengan kita tapi nggak
enak ngomong”. Aku mencoba membuka pikiran teman-temanku. Tentu saja Jen
dan Niar tidak bersemangat melihat rumah yang akan kami tempati nanti.
Aku sendiri walau tergolong lebih berani dari mereka berdua tetap saja
gemetar waktu pertama kali melihat rumah itu. Rumah tua seperti
peninggalan jaman belanda saja. Desain rumahnya menarik,hanya kurang
terawat setelah pemiliknya pergi merantau. Perabotan di dalam rumah juga
semuanya antik-antik. Bahkan saat kami ke dapur dan kamar mandi, lebih
mengerikan lagi. Dapur berhadapan dengan kamar kosong yang tidak ada
pintunya. Terbayang malam hari pasti mata kami akan terus melirik kamar
itu. Kamar mandi terletak di teras belakang berhadapan dengan halaman
luas yang dibatasi tembok yang tinggi.Aku sudah bisa menebak kalau kami
nanti tinggal di sana, kemana-mana kami pasti bertiga.
****
Esoknya
kami membersihkan rumah itu. Ternyata kami tidak perlu bersusah payah
untuk membersihkan. Pak lurah meminta warganya membantu kami
membersihkan rumah dan halamannya. Setelah dibersihkan dan dirapikan,
rumah itu terlihat tidak terlalu menyeramkan. Rencananya kami akan
menempati dua kamar dari tiga kamar yang ada. Kamar pertama sebagai
tempat kami tidur lalu kamar kedua sebagai tempat menaruh barang-barang
kami termasuk pakaian dan semacamnya.
Hari
ini rencananya kami akan pindah walau masih ada bagian-bagian dalam
rumah yang perlu di benahi. Lebih cepat kami keluar dari rumah mbak Vina
akan lebih melegakan. Wajar kalau mbak Vina semakin hari merasa kurang
nyaman. Rumahnya tidak terlalu luas. Dia juga pengantin baru. Tentu ada
rasa khawatir dalam hatinya manakala mengingat yang datang kerumahnya
adalah tiga perempuan yang belum menikah.
“ Kita
pamit dulu ke mbak Vina” ajakku ke teman-teman setelah barang terakhir
naik ke atas mobil. Mbak Vina tidak ada di rumah. Dia sedang dirumah
orang tuanya. Kami kemudian naik ke mobil lalu menuju rumah orang tua
mbak Vina.
****
Hari
menjelang sore waktu kami selesai menurunkan semua barang-barang dari
mobil. Sopir yang mengantar kami ikut membantu meletakkan barang-barang
itu di kamar.
“ Makasih, pak” kata Jen saat sopir itu masuk ke dalam mobil. Pak sopir hanya tersenyum lalu menjalankan mobilnya.
“ Akhirnya,
kita sekarang tinggal di rumah sendiri walau cuma numpang” kata Niar
sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Dia meletakkan tas kecil yang
sejak tadi tergantung di bahunya di atas meja. Sekali gerak dia duduk
di sofa tua lalu menjulurkan kakinya di atas sofa. Aku dan Jen
ikut-ikutan dengan gaya yang sama. Hanya bukan di sofa. Kami memilih dua
kursi. Satu untuk badan kami dan satu untuk kaki kami. Rasanya
benar-benar melelahkan. Sejak pagi membersihkan rumah ini sampai
mengangkut barang-barang kami.
“ Aku
lapar, kita beli makanan saja ya di pasar?” usul Jen. Sejak tadi dia
mengaku lapar. Aku dan Niar mengangguk lesu. Kami juga merasa haus dan
lapar.
“ Coba
kamu ke tetangga sebelah. Tadi aku sudah sempat ngomong ke bapaknya,
kalau kita bakal minjem motornya sementara buat urus keperluan.” Jen
bangkit dari duduknya. Dengan langkah lesu di menuju pintu.
“ Aku beli apa, nih? Beli minyak tanah juga?” tanyanya saat sudah di pintu.
“ Beli juga. Satu liter dulu, soalnya kompornya kecil. Jangan lupa beli aqua yang botol besar. Beli tiga”
“ Apa nggak kebanyakan? Aku nggak bisa bawa nanti?”
“ Aku
ikut kamu” kataku lalu melangkah mendekatinya. Mendengar kata-kataku
Niar langsung terlonjak kaget. Dia berubah posisi jadi duduk.
“ Kalian mau pergi? Aku ikut..” aku dan Jen tertawa melihat ketakutan di wajahnya.
“ Kamu
disini saja. Jaga rumah” aku menggodanya. Tapi dia seperti tidak
peduli. Dikalungkannya lagi tas kecilnya lalu memakai sendalnya. Dia
berlari mendahului kami keluar dari pintu.
“ Lho,
Niar nggak ada yang jaga rumah? Gimana kalo barang-barang kita hilang!”
teriakku walau tidak terlalu keras. Tapi dia terus berjalan menuju
pohon mangga besar yang ada di depan rumah. Dia berbalik sambil
tersenyum.
“ Tidak
ada yang berani datang kemari. Rumah kita kan ada penunggunya” katanya
riang seolah tak takut dengan perkataannya sendiri. Aku merinding.
Buru-buru kukunci pintu dan menyenggol lengan Jen supaya cepat berjalan.
*****
Bersambung….
0 komentar:
Posting Komentar