Minggu, 06 Mei 2012

[Tiga Wanita] Pindah Rumah #1#

0

gambar www.google.com

Pak lurah memperhatikan kami bertiga. Dia menanti keputusan kami. Aku masih ragu. Mataku kembali memandangi seluruh ruangan dalam rumah ini. Niar menyentuh lenganku. Kulihat wajahnya. Dia menyembunyikan wajahnya yang cemberut, tak ingin terlihat pak lurah yang menatap kami. Aku tahu arti dari wajahnya. Itu seperti kode kalau dia tidak setuju. Jen terdiam. Aku meliriknya, menanti tanggapan yang keluar dari bibirnya yang mungil. Jen tipe yang tidak suka membuat orang sakit hati. Dengan terpaksa dia tersenyum kepadaku. Walau dia tersenyum aku tahu matanya tak bisa berbohong. Terlihat jelas sinar ketakutan dalam matanya. Aku sudah bisa memutuskan apa yang akan aku sampaikan ke pak lurah. Setelah menenangkan diri sejenak aku akhirnya berbicara.

“ Kami setuju, pak. Kami bersedia tinggal disini” kataku dengan mantap. Aku dapat melihat bayangan kepala kedua temanku yang bergerak melihatku.Pak lurah tersenyum puas. Aku tak melihat ke samping. Aku tahu bagaimana wajah kedua temanku. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kami terpaksa harus tinggal disini. Tidak baik menolak tawaran dari pak lurah. Walaupun tawaran itu tidak memuaskan kami, terpaksa kami harus menerimanya.

“ Kamu gimana sih, Tin? Kenapa kamu terima?” protes Niar saat kami dalam perjalanan pulang ke rumah mbak Vina. Jen juga mengangguk tanda setuju dengan protes Niar.

“ Rumahnya juga mengerikan. Tinggal putar musik serem disana, maka rumah itu sudah seperti rumah hantu” katanya menyambung kata-kata Niar. Aku menghentikan langkahku.

“ Habis bagaimana lagi. Kalau pak lurah sudah menawarkan kita rumah itu, berarti mbak Vina sudah nggak bisa terima kita tinggal di rumahnya lagi. Mbak Vina nggak ngomong, tapi lapor ke pak lurah.Apa kalian tidak merasa aneh, kenapa akhir-akhir ini mbak Vina lebih banyak tinggal di rumah orang tuanya? Itu karena dia sudah eneg dengan kita tapi nggak enak ngomong”. Aku mencoba membuka pikiran teman-temanku. Tentu saja Jen dan Niar tidak bersemangat melihat rumah yang akan kami tempati nanti. Aku sendiri walau tergolong lebih berani dari mereka berdua tetap saja gemetar waktu pertama kali melihat rumah itu. Rumah tua seperti peninggalan jaman belanda saja. Desain rumahnya menarik,hanya kurang terawat setelah pemiliknya pergi merantau. Perabotan di dalam rumah juga semuanya antik-antik. Bahkan saat kami ke dapur dan kamar mandi, lebih mengerikan lagi. Dapur berhadapan dengan kamar kosong yang tidak ada pintunya. Terbayang malam hari pasti mata kami akan terus melirik kamar itu. Kamar mandi terletak di teras belakang berhadapan dengan halaman luas yang dibatasi tembok yang tinggi.Aku sudah bisa menebak kalau kami nanti tinggal di sana, kemana-mana kami pasti bertiga.

****

Esoknya kami membersihkan rumah itu. Ternyata kami tidak perlu bersusah payah untuk membersihkan. Pak lurah meminta warganya membantu kami membersihkan rumah dan halamannya. Setelah dibersihkan dan dirapikan, rumah itu terlihat tidak terlalu menyeramkan. Rencananya kami akan menempati dua kamar dari tiga kamar yang ada. Kamar pertama sebagai tempat kami tidur lalu kamar kedua sebagai tempat menaruh barang-barang kami termasuk pakaian dan semacamnya.

Hari ini rencananya kami akan pindah walau masih ada bagian-bagian dalam rumah yang perlu di benahi. Lebih cepat kami keluar dari rumah mbak Vina akan lebih melegakan. Wajar kalau mbak Vina semakin hari merasa kurang nyaman. Rumahnya tidak terlalu luas. Dia juga pengantin baru. Tentu ada rasa khawatir dalam hatinya manakala mengingat yang datang kerumahnya adalah tiga perempuan yang belum menikah.

“ Kita pamit dulu ke mbak Vina” ajakku ke teman-teman setelah barang terakhir naik ke atas mobil. Mbak Vina tidak ada di rumah. Dia sedang dirumah orang tuanya. Kami kemudian naik ke mobil lalu menuju rumah orang tua mbak Vina.

****

Hari menjelang sore waktu kami selesai menurunkan semua barang-barang dari mobil. Sopir yang mengantar kami ikut membantu meletakkan barang-barang itu di kamar.

“ Makasih, pak” kata Jen saat sopir itu masuk ke dalam mobil. Pak sopir hanya tersenyum lalu menjalankan mobilnya.

“ Akhirnya, kita sekarang tinggal di rumah sendiri walau cuma numpang” kata Niar sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Dia meletakkan tas kecil yang sejak tadi tergantung di bahunya di atas meja. Sekali gerak dia duduk di sofa tua lalu menjulurkan kakinya di atas sofa. Aku dan Jen ikut-ikutan dengan gaya yang sama. Hanya bukan di sofa. Kami memilih dua kursi. Satu untuk badan kami dan satu untuk kaki kami. Rasanya benar-benar melelahkan. Sejak pagi membersihkan rumah ini sampai mengangkut barang-barang kami.

“ Aku lapar, kita beli makanan saja ya di pasar?” usul Jen. Sejak tadi dia mengaku lapar. Aku dan Niar mengangguk lesu. Kami juga merasa haus dan lapar.

“ Coba kamu ke tetangga sebelah. Tadi aku sudah sempat ngomong ke bapaknya, kalau kita bakal minjem motornya sementara buat urus keperluan.” Jen bangkit dari duduknya. Dengan langkah lesu di menuju pintu.

“ Aku beli apa, nih? Beli minyak tanah juga?” tanyanya saat sudah di pintu.

“ Beli juga. Satu liter dulu, soalnya kompornya kecil. Jangan lupa beli aqua yang botol besar. Beli tiga”

“ Apa nggak kebanyakan? Aku nggak bisa bawa nanti?”

“ Aku ikut kamu” kataku lalu melangkah mendekatinya. Mendengar kata-kataku Niar langsung terlonjak kaget. Dia berubah posisi jadi duduk.

“ Kalian mau pergi? Aku ikut..” aku dan Jen tertawa melihat ketakutan di wajahnya.

“ Kamu disini saja. Jaga rumah” aku menggodanya. Tapi dia seperti tidak peduli. Dikalungkannya lagi tas kecilnya lalu memakai sendalnya. Dia berlari mendahului kami keluar dari pintu.

“ Lho, Niar nggak ada yang jaga rumah? Gimana kalo barang-barang kita hilang!” teriakku walau tidak terlalu keras. Tapi dia terus berjalan menuju pohon mangga besar yang ada di depan rumah. Dia berbalik sambil tersenyum.

“ Tidak ada yang berani datang kemari. Rumah kita kan ada penunggunya” katanya riang seolah tak takut dengan perkataannya sendiri. Aku merinding. Buru-buru kukunci pintu dan menyenggol lengan Jen supaya cepat berjalan. *****

Bersambung….

0 komentar:

Posting Komentar