Saat jam istrahat, aku memilih makan di ruang belakang. Ruangan ini penuh dengan
dos-dos yang tersusun rapi. Tak ada orang lain, hanya aku duduk bersandar di
pintu. Aku sengaja menyendiri. Ucapan Farhan yang meminta kepastian hubungan
kami membuatku tak tenang.
Aku bukan tak menyukainya. Bahkan aku
merasa mulai hadir benih-benih cinta dalam hatiku. Hanya saja untuk menerimanya
menjadi kekasih, menjadi seseorang yang spesial dalam hidupku sepertinya belum
saatnya.
Kehidupan yang aku jalani saat ini
masih menyisakan beban yang terasa mengganjal dalam hatiku. Posisiku dalam keluarga
besarku masih ada bongkahan es yang belum mencair dan membuatku lega sebagai
bagian dalam keluarga. Pandangan keluargaku tentang diriku sebagai anak yang
suka membantah dan tidak patuh pada orang tua harus aku benahi dulu.
Aku tidak ingin Farhan ikut terjebak
dalam masalah keluargaku. Sekarang dia hanya teman, tidak adil jika aku
melibatkan dia dalam masalah keluarga yang bahkan tak dia mengerti
persoalannya.
“Ternyata kamu disini, aku cari
kemana-mana..” Farhan tiba-tiba muncul dari balik pintu. Dorongannya pada pintu
membuat tubuhku ikut bergeser agar tubuhnya bisa lolos.
“Farhan..” kataku menepiskan rasa
kecewa karena kehadirannya yang kuangap mengusik ketenanganku. Dia hanya
tersenyum lalu ikut duduk disebelahku.
“Aku tidak tahan kelamaan jauh
darimu..”
“Farhan....”
“Iya, iya. Aku tahu. Baiklah, aku
tidak akan mengganggu. Aku balik dulu ya..” ucapnya lalu bangkit berdiri,
menghilang di balik pintu.
Aku kembali melanjutkan makan siangku
sambil terus merenung. Bukan lagi tentang Farhan tapi tentang keluargaku.
Lamunanku mengembara ke masa silam saat semuanya masih baik-baik saja. Hingga
kehidupan kami menjadi tak menentu berujung kaburnya aku dari rumah. Aku berdoa
semoga semuanya bisa menjadi lebih baik hingga aku tidak perlu meninggalkan
papa dan mama.
***
“Aku antar pulang ya.” Farhan
memandangku penuh harap tapi harus kubalas dengan gelengan kepala.
“Ada urusan yang mesti aku selesaikan.
Lain kali saja ya..”
“Tapi beneran ini nggak ada kaitannya
dengan permintaanku kan?”
Aku menggeleng cepat.
“Nggak. Sumpah.”
“Baiklah, aku duluan. Tapi aku mohon
jangan tolak aku jadi pacarmu..”
Kali ini aku bingung harus mengangguk
atau menggeleng. Keduanya bukan pilihan yang pas untuk saat ini. Sikapku
menghadirkan gurat kecewa di wajah Farhan.
“Tuh kan, belum apa-apa kamu udah
bingung.” Ujarnya dengan wajah cemberut.
“Kalau gitu kamu cepetan berangkat,
kelamaan disini ntar aku malah tambah bingung..”
Ucapanku ternyata manjur juga. Farhan
kemudian berlalu dengan senyum manis tersungging di bibirnya.
Aku lalu menahan taksi. Menggunakan
angkot saat ini akan memakan waktu yang lama padahal aku masih harus mengambil
barang-barangku di rumah Siska kemudian balik ke rumah mas Damar. Membayangkan
rumah mas Damar membuat hatiku tidak tenang. Semoga ini hanya perasaaanku saja.
Entah mengapa, seperti ada beban yang menumpuk di dadaku yang membuatku tidak
nyaman.
Tiba di rumah Siska, gadis itu
ternyata telah menantiku. Dia duduk manis di sofa. Aku tertegun melihat di
sampingnya tergeletak tas milikku.
“Aku merapikannya sendiri, bukan ingin
mengusirmu lebih cepat. Jangan tersinggung ya..” ucapnya seolah paham apa yang
aku pikirkan.
“Maaf sudah merepotkanmu, Sis. Terima
kasih sudah merapikan barang-barangku....” aku duduk disebelahnya dengan
perasaan tidak karuan. Berat mengucapkan kata perpisahan.
“Sis, aku mohon pamit..” Siska
langsung memelukku.
Aku tak kuasa membendung airmataku. Kami
akhirnya saling memeluk erat tanpa berbicara. Hanya isak Siska yang ku dengar. Beberapa
saat kemudian, Siska melepaskan pelukannya sambil mengusap air mata yang
mengalir di pipinya. Hatiku rasanya sakit sekali. Mengapa perpisahan selalu
menyisakan rasa sedih? Meski rasanya enggan untuk pergi, aku memaksakan diri beranjak
berdiri.
“Hati-hati di jalan ya Dena, jangan
lupa jaga diri, jaga kesehatan, jaga sholat, jangan biarkan masalah membuatmu
sedih ya. Tetap semangat!” ucapnya saat kami beriringan menuju taksi. Ku peluk
dia untuk yang terakhir kali.
“Kamu juga ya Sis, jaga diri, jangan
lupa hubungi aku saat kamu menikah.”
Siska mengangguk, tangan kami saling
menggenggam erat. Masih terasa berat untuk berpisah. Air mataku menetes
kembali. Siska memelukku lagi.
“Ayolah semangat. Kamu kan masih bisa
berkunjung ke sini kapan saja. Jangan sedih ya, Dena..” Aku tersenyum sambil
melepaskan pelukan Siska. Kuusap air mataku. Siska juga sama denganku. Dia
mengusap air matanya. Aku berbalik menghadap ke taksi. Kutarik nafas panjang
lalu menghembuskannya perlahan. Aku harus kuat dan tegar.
Tanpa melihat Siska, aku membuka pintu
taksi. Duduk lalu menutup pintu taksi kembali.
“ Ke Perumahan Bukit Permata, pak.”
Kataku pada pak supir. Saat taksi mulai berjalan, aku menoleh melihat Siska.
Kulambaikan tangan tanda perpisahan sambil mengusap airmataku yang menetes
tanpa bisa ku tahan. Aku terus menoleh ke belakang melihat Siska yang ternyata
masih tetap berdiri menatap taksi.
Saat taksi berbelok dan Siska tak
terlihat lagi, aku kemudian berbalik menghadap ke depan. Menatap pinggiran
jalan yang penuh dengan pedagang kaki lima. Hari menjelang sore biasanya
pedagang mulai ramai menjajakan dagangan mereka. Jalan ini entah kapan akan aku
lalui kembali. Sepertinya aku akan merindukan tempat ini sama seperti
kerinduanku pada Siska.
Makin dekat rumah mas Damar, irama
jantungku makin tak beraturan. Kadang cepat kadang aku mudah menenangkan diri
tapi di waktu berikutnya rasa cemas menghadirkan debaran jantung yang semakin
cepat. Entah apa yang aku cemaskan, aku sendiri bingung menafsirkan perasaanku
saat ini.
Taksi berhenti tepat di depan rumah
mas Damar. Aku turun dari taksi lalu memandang rumah mas Damar. Rumahnya
terlihat lengang. Pintu gerbang tertutup. Rumah ini, dari luar saja kelihatan
tidak bersahabat, keluhku dalam hati.
“Mbak, ini tas nya.” Supir taksi mengangkat
tasku hingga ke depan gerbang. Aku menyerahkan bayaran taksi sesuai argo yang
aku lihat.
“Makasih, pak.” Kataku.
“Sama-sama, mbak.” Balas pak supir
lalu buru-buru masuk ke dalam taksi kemudian melaju pelan meninggalkanku.
Aku masih berdiri melihat sekeliling
yang nampak gelap. Sebelah kanan rumah mas Damar adalah tanah kosong yang di
penuhi ilalang. Sementara di seberang jalan tanah kosong juga yang dulu
merupakan lahan persawahan. Nampak di sebelah lahan kosong itu sepertinya akan
di bangun ruko. Sudah terlihat petak-petak bangunan yang mirip ruko.
Setelah menenangkan diri sejenak, aku
memencet bel. Aku sengaja tidak menelpon mas Damar karena aku tidak ingin dia
menjemputku. Lebih baik aku pulang sendiri.
Lama menunggu terdengar bunyi dari
balik pintu gerbang. Aku berbalik menanti seseorang muncul. Seraut wajah
perempuan sederhana menyembul dari balik pintu besi. Aku tidak mengenalnya.
Mungkin dia pembantu baru di rumah ini. Perempuan itu tidak membuka lebar
pintu, hanya seukuran kepalanya saja.
“Selamat malam, benar ini rumah mas
Damar?” tanyaku basa-basi padahal aku yakin betul kalau ini adalah rumah mas
Damar.
“Benar. Mbak siapa?” wajahnya masih
terlihat penuh curiga. Wajar saja sikapnya seperti ini, dia belum pernah
melihatku.
“Saya adiknya.” Sengaja kutekan kata adiknya
agar dia paham dan segera membuka pintu gerbang. Tapi ternyata perempuan
itu tidak ngeh dengan perkataanku.
“Siapa nama mbak?” tanyanya lagi.
“Namaku Dena. Aku benar adiknya mas
Damar.”
“Mbak tunggu disini dulu ya, saya
beritahu nyonya dulu..” ucapnya lalu menutup pintu dengan cepat. Padahal aku
baru saja hendak berbicara. Meski kesal aku menahan diri untuk tetap bersabar.
Dalam pikiranku tentu tidak akan lama
aku menunggu. Mas Damar atau mbak Mia akan segera menyuruh pembantu itu
membukakan pintu jika mengetahui aku yang ada di depan gerbang. Tapi pikirannku
meleset. Hampir setengah jam aku menunggu dengan perasaan nyaris marah. Kesal
luar biasa. Aku bahkan berniat menahan taksi, pergi meninggalkan tempat ini
kembali ke rumah Siska.
Aku menghitung dalam hati. Jika sampai
hitungan yang aku tentukan, pintu gerbang ini tidak juga terbuka, aku akan
menahan taksi pertama yang lewat didepanku. Emosiku hampir memuncak ketika
nyaris hitungan terakhir, tiba-tiba gerbang terbuka. Nampak wajah yang tidak
aku harapkan, wajah perempuan yang tadi hadir kembali. Kali ini dia membuka
lebar-lebar pintu gerbang.
“Silahkan masuk, mbak.” Ucapnya
terdengar lebih ramah. Aku mengambil tasku dan menentengnya masuk. Kami
melewati garasi. Aku tercengang melihat jumlah mobil yang ada di garasi mas
Damar. Jumlah mobil mas Damar sekarang empat!. Apa itu artinya masing-masing
dari mereka memiliki mobil sendiri? Mas Damar? Mbak Mia dan kedua putrinya?
Rumah mas Damar terlihat lebih mewah
dari sebelum aku tinggalkan. Timbul rasa heran dalam hatiku. Jika mas Damar bisa
mengubah rumahnya menjadi demikian mewah seperti sekarang ini, bukankah lebih
baik di membelikan papa dan mama sebuah rumah atau paling tidak menyewakan kami
sebuah rumah mungil daripada harus menumpang dan menjadi beban dirumahnya?
Masuk ke dalam rumah tak ada satupun
manusia yang aku lihat. Aneh! Apakah orang-orang di rumah ini sudah terlelap?
Baru juga jam tujuh malam. Papa dan mama, dimana mereka? Mengapa rumah ini
terasa sepi. Senyap luar biasa.
“Mbak, lewat sini. Nyonya sedang
terima telpon.” Perempuan itu menunjukkan jalan, entah kemana dia akan
membawaku, aku mengikuti langkahnya naik ke lantai dua. Berada di lantai dua membuatku
makin tercengang. Aku makin takjub melihat perabotan yang ada. Mas Damar benar-benar
telah menjadi milyuner.
Karena tak tahan, aku menyentuh lengan
perempuan itu, memberi isyarat agar dia berhenti.
“Kenapa rumah ini sangat sepi? Kemana orang-orangnya?”
tanyaku.
“Semua lagi sibuk, mbak. Neng Viola sebentar
lagi akan di lamar.”
“Oya? Pantesan dari tadi seperti
berasa di kuburan. Bedanya disini lebih wangi dan lebih sejuk.”
Ucapanku seperti mewakili rasa kecewa
yang tiba-tiba hadir dalam hatiku. Entah mengapa, mendengar Viola akan dilamar
membuatku tersadar. Meski usiaku tidak terpaut jauh dengan Viola tapi itu
seperti tamparan buatku. Ponakanku sendiri mendahuluiku menikah!
(Bersambung)


0 komentar:
Posting Komentar