Minggu, 09 Juni 2013

Impian Dena #15

0





Saat jam istrahat, aku memilih makan  di ruang belakang. Ruangan ini penuh dengan dos-dos yang tersusun rapi. Tak ada orang lain, hanya aku duduk bersandar di pintu. Aku sengaja menyendiri. Ucapan Farhan yang meminta kepastian hubungan kami membuatku tak tenang.


Aku bukan tak menyukainya. Bahkan aku merasa mulai hadir benih-benih cinta dalam hatiku. Hanya saja untuk menerimanya menjadi kekasih, menjadi seseorang yang spesial dalam hidupku sepertinya belum saatnya.


Kehidupan yang aku jalani saat ini masih menyisakan beban yang terasa mengganjal dalam hatiku. Posisiku dalam keluarga besarku masih ada bongkahan es yang belum mencair dan membuatku lega sebagai bagian dalam keluarga. Pandangan keluargaku tentang diriku sebagai anak yang suka membantah dan tidak patuh pada orang tua harus aku benahi dulu.


Aku tidak ingin Farhan ikut terjebak dalam masalah keluargaku. Sekarang dia hanya teman, tidak adil jika aku melibatkan dia dalam masalah keluarga yang bahkan tak dia mengerti persoalannya.


“Ternyata kamu disini, aku cari kemana-mana..” Farhan tiba-tiba muncul dari balik pintu. Dorongannya pada pintu membuat tubuhku ikut bergeser agar tubuhnya bisa lolos.


“Farhan..” kataku menepiskan rasa kecewa karena kehadirannya yang kuangap mengusik ketenanganku. Dia hanya tersenyum lalu ikut duduk disebelahku.


“Aku tidak tahan kelamaan jauh darimu..”


“Farhan....”


“Iya, iya. Aku tahu. Baiklah, aku tidak akan mengganggu. Aku balik dulu ya..” ucapnya lalu bangkit berdiri, menghilang di balik pintu.


Aku kembali melanjutkan makan siangku sambil terus merenung. Bukan lagi tentang Farhan tapi tentang keluargaku. Lamunanku mengembara ke masa silam saat semuanya masih baik-baik saja. Hingga kehidupan kami menjadi tak menentu berujung kaburnya aku dari rumah. Aku berdoa semoga semuanya bisa menjadi lebih baik hingga aku tidak perlu meninggalkan papa dan mama.


***


“Aku antar pulang ya.” Farhan memandangku penuh harap tapi harus kubalas dengan gelengan kepala.


“Ada urusan yang mesti aku selesaikan. Lain kali saja ya..”


“Tapi beneran ini nggak ada kaitannya dengan permintaanku kan?”


Aku menggeleng cepat.


“Nggak. Sumpah.”


“Baiklah, aku duluan. Tapi aku mohon jangan tolak aku jadi pacarmu..”


Kali ini aku bingung harus mengangguk atau menggeleng. Keduanya bukan pilihan yang pas untuk saat ini. Sikapku menghadirkan gurat kecewa di wajah Farhan.


“Tuh kan, belum apa-apa kamu udah bingung.” Ujarnya dengan wajah cemberut.


“Kalau gitu kamu cepetan berangkat, kelamaan disini ntar aku malah tambah bingung..”


Ucapanku ternyata manjur juga. Farhan kemudian berlalu dengan senyum manis tersungging di bibirnya.


Aku lalu menahan taksi. Menggunakan angkot saat ini akan memakan waktu yang lama padahal aku masih harus mengambil barang-barangku di rumah Siska kemudian balik ke rumah mas Damar. Membayangkan rumah mas Damar membuat hatiku tidak tenang. Semoga ini hanya perasaaanku saja. Entah mengapa, seperti ada beban yang menumpuk di dadaku yang membuatku tidak nyaman.


Tiba di rumah Siska, gadis itu ternyata telah menantiku. Dia duduk manis di sofa. Aku tertegun melihat di sampingnya tergeletak tas milikku.


“Aku merapikannya sendiri, bukan ingin mengusirmu lebih cepat. Jangan tersinggung ya..” ucapnya seolah paham apa yang aku pikirkan.


“Maaf sudah merepotkanmu, Sis. Terima kasih sudah merapikan barang-barangku....” aku duduk disebelahnya dengan perasaan tidak karuan. Berat mengucapkan kata perpisahan.


“Sis, aku mohon pamit..” Siska langsung memelukku.


Aku tak kuasa membendung airmataku. Kami akhirnya saling memeluk erat tanpa berbicara. Hanya isak Siska yang ku dengar. Beberapa saat kemudian, Siska melepaskan pelukannya sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Hatiku rasanya sakit sekali. Mengapa perpisahan selalu menyisakan rasa sedih? Meski rasanya enggan untuk pergi, aku memaksakan diri beranjak berdiri.


“Hati-hati di jalan ya Dena, jangan lupa jaga diri, jaga kesehatan, jaga sholat, jangan biarkan masalah membuatmu sedih ya. Tetap semangat!” ucapnya saat kami beriringan menuju taksi. Ku peluk dia untuk yang terakhir kali.


“Kamu juga ya Sis, jaga diri, jangan lupa hubungi aku saat kamu menikah.”


Siska mengangguk, tangan kami saling menggenggam erat. Masih terasa berat untuk berpisah. Air mataku menetes kembali. Siska memelukku lagi.


“Ayolah semangat. Kamu kan masih bisa berkunjung ke sini kapan saja. Jangan sedih ya, Dena..” Aku tersenyum sambil melepaskan pelukan Siska. Kuusap air mataku. Siska juga sama denganku. Dia mengusap air matanya. Aku berbalik menghadap ke taksi. Kutarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Aku harus kuat dan tegar.


Tanpa melihat Siska, aku membuka pintu taksi. Duduk lalu menutup pintu taksi kembali.


“ Ke Perumahan Bukit Permata, pak.” Kataku pada pak supir. Saat taksi mulai berjalan, aku menoleh melihat Siska. Kulambaikan tangan tanda perpisahan sambil mengusap airmataku yang menetes tanpa bisa ku tahan. Aku terus menoleh ke belakang melihat Siska yang ternyata masih tetap berdiri menatap taksi.


Saat taksi berbelok dan Siska tak terlihat lagi, aku kemudian berbalik menghadap ke depan. Menatap pinggiran jalan yang penuh dengan pedagang kaki lima. Hari menjelang sore biasanya pedagang mulai ramai menjajakan dagangan mereka. Jalan ini entah kapan akan aku lalui kembali. Sepertinya aku akan merindukan tempat ini sama seperti kerinduanku pada Siska.


Makin dekat rumah mas Damar, irama jantungku makin tak beraturan. Kadang cepat kadang aku mudah menenangkan diri tapi di waktu berikutnya rasa cemas menghadirkan debaran jantung yang semakin cepat. Entah apa yang aku cemaskan, aku sendiri bingung menafsirkan perasaanku saat ini.


Taksi berhenti tepat di depan rumah mas Damar. Aku turun dari taksi lalu memandang rumah mas Damar. Rumahnya terlihat lengang. Pintu gerbang tertutup. Rumah ini, dari luar saja kelihatan tidak bersahabat, keluhku dalam hati.


“Mbak, ini tas nya.” Supir taksi mengangkat tasku hingga ke depan gerbang. Aku menyerahkan bayaran taksi sesuai argo yang aku lihat.


“Makasih, pak.” Kataku.


“Sama-sama, mbak.” Balas pak supir lalu buru-buru masuk ke dalam taksi kemudian melaju pelan meninggalkanku.


Aku masih berdiri melihat sekeliling yang nampak gelap. Sebelah kanan rumah mas Damar adalah tanah kosong yang di penuhi ilalang. Sementara di seberang jalan tanah kosong juga yang dulu merupakan lahan persawahan. Nampak di sebelah lahan kosong itu sepertinya akan di bangun ruko. Sudah terlihat petak-petak bangunan yang mirip ruko.


Setelah menenangkan diri sejenak, aku memencet bel. Aku sengaja tidak menelpon mas Damar karena aku tidak ingin dia menjemputku. Lebih baik aku pulang sendiri.


Lama menunggu terdengar bunyi dari balik pintu gerbang. Aku berbalik menanti seseorang muncul. Seraut wajah perempuan sederhana menyembul dari balik pintu besi. Aku tidak mengenalnya. Mungkin dia pembantu baru di rumah ini. Perempuan itu tidak membuka lebar pintu, hanya seukuran kepalanya saja.


“Selamat malam, benar ini rumah mas Damar?” tanyaku basa-basi padahal aku yakin betul kalau ini adalah rumah mas Damar.


“Benar. Mbak siapa?” wajahnya masih terlihat penuh curiga. Wajar saja sikapnya seperti ini, dia belum pernah melihatku.


“Saya adiknya.” Sengaja kutekan kata adiknya agar dia paham dan segera membuka pintu gerbang. Tapi ternyata perempuan itu tidak ngeh dengan perkataanku.


“Siapa nama mbak?” tanyanya lagi.


“Namaku Dena. Aku benar adiknya mas Damar.”


“Mbak tunggu disini dulu ya, saya beritahu nyonya dulu..” ucapnya lalu menutup pintu dengan cepat. Padahal aku baru saja hendak berbicara. Meski kesal aku menahan diri untuk tetap bersabar.


Dalam pikiranku tentu tidak akan lama aku menunggu. Mas Damar atau mbak Mia akan segera menyuruh pembantu itu membukakan pintu jika mengetahui aku yang ada di depan gerbang. Tapi pikirannku meleset. Hampir setengah jam aku menunggu dengan perasaan nyaris marah. Kesal luar biasa. Aku bahkan berniat menahan taksi, pergi meninggalkan tempat ini kembali ke rumah Siska.


Aku menghitung dalam hati. Jika sampai hitungan yang aku tentukan, pintu gerbang ini tidak juga terbuka, aku akan menahan taksi pertama yang lewat didepanku. Emosiku hampir memuncak ketika nyaris hitungan terakhir, tiba-tiba gerbang terbuka. Nampak wajah yang tidak aku harapkan, wajah perempuan yang tadi hadir kembali. Kali ini dia membuka lebar-lebar pintu gerbang.


“Silahkan masuk, mbak.” Ucapnya terdengar lebih ramah. Aku mengambil tasku dan menentengnya masuk. Kami melewati garasi. Aku tercengang melihat jumlah mobil yang ada di garasi mas Damar. Jumlah mobil mas Damar sekarang empat!. Apa itu artinya masing-masing dari mereka memiliki mobil sendiri? Mas Damar? Mbak Mia dan kedua putrinya?


Rumah mas Damar terlihat lebih mewah dari sebelum aku tinggalkan. Timbul rasa heran dalam hatiku. Jika mas Damar bisa mengubah rumahnya menjadi demikian mewah seperti sekarang ini, bukankah lebih baik di membelikan papa dan mama sebuah rumah atau paling tidak menyewakan kami sebuah rumah mungil daripada harus menumpang dan menjadi beban dirumahnya?


Masuk ke dalam rumah tak ada satupun manusia yang aku lihat. Aneh! Apakah orang-orang di rumah ini sudah terlelap? Baru juga jam tujuh malam. Papa dan mama, dimana mereka? Mengapa rumah ini terasa sepi. Senyap luar biasa.


“Mbak, lewat sini. Nyonya sedang terima telpon.” Perempuan itu menunjukkan jalan, entah kemana dia akan membawaku, aku mengikuti langkahnya naik ke lantai dua. Berada di lantai dua membuatku makin tercengang. Aku makin takjub melihat perabotan yang ada. Mas Damar benar-benar telah menjadi milyuner.

Karena tak tahan, aku menyentuh lengan perempuan itu, memberi isyarat agar dia berhenti.


“Kenapa rumah ini sangat sepi? Kemana orang-orangnya?” tanyaku.


“Semua lagi sibuk, mbak. Neng Viola sebentar lagi akan di lamar.”


“Oya? Pantesan dari tadi seperti berasa di kuburan. Bedanya disini lebih wangi dan lebih sejuk.”


Ucapanku seperti mewakili rasa kecewa yang tiba-tiba hadir dalam hatiku. Entah mengapa, mendengar Viola akan dilamar membuatku tersadar. Meski usiaku tidak terpaut jauh dengan Viola tapi itu seperti tamparan buatku. Ponakanku sendiri mendahuluiku menikah!


(Bersambung)

 

0 komentar:

Posting Komentar