Entah
mengapa Inin tiba-tiba saja tergerak hatinya untuk mendatangi gunung Naras.
Sejak semalam dia terus membayangkan dan mengatur rencana untuk melihat air
terjun yang telah lama tak dikunjungi. Hujan lebat semalam menyebabkan air
terjun akan berwarna keruh namun itu bukan masalah, Inin cuma ingin melepaskan gundah
dalam hatinya karena Vianna tak kunjung memberi jawaban atas cintanya. Meski
hari ini bukan hari libur tapi tak mengurungkan niatnya. Dia telah mengirim pesan
singkat ke pak kades agar diberi izin cuti sehari saja.
Dengan
stelan celana pendek butut dan kaos hitam dia melangkah menyusuri bebatuan dan
rerumputan yang basah karena hujan. Kabut yang tebal masih menghalangi
pandangan, namun Inin terus berjalan hingga mendekati pinggiran jurang. Dia
tersenyum lega melihat derasnya air terjun yang berasal dari mata air kebanggaan warga Rangkat.
Sayang belum ada pengusaha yang berniat untuk memproduksi air mineral yang
berasal dari mata air gunung Naras.
Inin merentangkan
tangan sambil menghirup dalam-dalam udara dingin yang terasa hingga ke sum-sum
tulang. Nyaris dia menutup mata ketika sedetik kemudian matanya melotot,
menatap tajam ke arah batu besar persis di bibir jurang. Perlahan Inin mendekat
sambil berhati-hati agar tak tergelincir karena tanah disekitar begitu licin.
Sesuatu di
atas batu besar membuatnya penasaran. Makin dekat makin jelas jika benda yang
tergeletak manis di atas batu adalah kain. Lipatan kain warna pink sementara di
atasnya ada kertas yang ditindih batu. Inin menatap heran sambil mengulurkan
tangannya meraih kertas dan kain tersebut. Kainnya terbuka lebar dan nampak
jelas jika itu adalah jilbab. Inin makin penasaran. Dibukanya lipatan kertas
dan membaca tulisan yang membuatnya tercengang,
Wahai Pujaan
Hatiku, Kembang tidak butuh janji, Kembang ingin bukti cinta yang nyata. Kembang
tidak tahan lagi, Kembang ingin pergi, jilbab ini Kembang kembalikan,Selamat
tinggal....
Tangan Inin
mendadak gemetar. Jika tadi dia sanggup menahan hawa dingin, sekarang sekujur
tubuhnya bergetar ketakutan. Inin takut memalingkan wajahnya melihat air terjun
yang berada persis di sampingnya. Kakinya tiba-tiba sulit untuk digerakkan
seolah ada yang menahan. Dalam benak Inin sesuatu yang buruk telah terjadi
namun dia takut untuk membayangkan. Sambil menahan rasa takut tak terasa air
mata Inin menetes.
****
Inin
terlonjak kaget tersadar dari pikiran mengerikan yang tiba-tiba hadir. Dengan
sigap dia berlari menuruni jalan setapak berbatu. Tak dipedulikannya rerumputan
liar yang menyentuh betisnya. Gunung Naras menjadi saksi betapa kepanikan itu
sangat menguasai seluruh jiwa dan raga Inin. Kain jilbab warna pink ikut
berkibar bersama laju lari Inin yang makin kencang.
Inin lari
pontang panting memasuki desa Rangkat. Tujuan utama Inin adalah rumah Kembang.
Saat memasuki desa Inin tak menyadari jika beberapa pasang mata memandang heran
padanya. Terutama sepasang mata milik seorang
gadis cantik yang selama ini sedang dia dekati. Gadis itu adalah Vianna, putri
wakades Rangkat. Dia tengah mengayuh sepeda menuju kantor desa untuk menemui
bundanya yang sedang bertugas sebagai wakades.
“Ada apa
dengan kang Inin?” gumam Vianna lalu melanjutkan mengayuh sepedanya setelah
terhenti beberapa saat karena heran melihat tingkah Inin. Wajar jika Vianna
merasakan demikian. Jika lelaki itu orang lain bukan Inin, tentu dia tidak akan
bertanya-tanya tapi ini adalah Inin, lelaki yang beberapa hari ini selalu mengirim puisi indah
untuknya. Bagaimana mungkin lelaki itu menjadi tidak peduli ketika mereka
berpapasan di jalan? Vianna tak habis pikir.
Vianna tidak
tahu jika pemuda kribo itu tengah panik luar biasa. Dia menggedor pintu rumah
Kembang sambil memanggil-manggil nama perempuan cantik itu. Teriakannya bahkan
mengundang perhatian para tetangga.
“Neng
Kembang lagi keluar tuh, kang Inin.” Tegur seorang ibu yang tengah menyapu
halaman. Inin menoleh.
“Kemana
katanya, bu?” Si ibu menggeleng.
“Ibu nggak
tahu, tapi tadi keliatan buru-buru.”
Inin makin
cemas. Bergegas dia meninggalkan rumah Kembang lalu berlari kencang menuju
kantor desa. Inin berencana memberitahu Pak Kades apa yang baru saja terjadi
pada Kembang.
“Assalamu
alaikum.” Sapa Inin ketika tiba di
kantor desa. Beberapa staf nampak heran
melihat penampilan Inin tapi pemuda itu acuh saja sambil berlari menuju ruangan Kades. Terlalu serius
hingga tak melihat Vianna yang tengah berbicara dengan bundanya, Asih. Kembali
gadis itu dihinggapi rasa heran. Dia beranjak dari kursi lalu berdiri di dekat
pintu, menatap ruangan kades dimana tadi sekilas dia sempat melihat Inin
memasuki ruangan itu.
“Eh, ibu
kades, apa kabar, bu?” suara staf membuat Vianna berpaling. Nampak Jingga,
istri pak Kades yang juga adalah tantenya. Jingga membalas dengan senyuman
sambil menanyakan keberadaan Pak Kades. Matanya membulat senang ketika bertemu
pandang dengan Vianna.
“Anna, lagi
ngapain disini?” tegurnya seraya menyentuh bahu keponakannya itu.
“Ketemu
bunda, aunty.” Jawab Vianna.
“Oww. Aunty ke ruangan paman Ibay dulu, ya.”
Vianna
mengangguk namun setelahnya dia baru teringat jika saat ini pamannya, Kades
Ibay tengah berbincang dengan Inin. Dia lupa memberitahukan hal itu kepada
Jingga.
Inin
menyerbu masuk tanpa permisi. Pak Kades yang tak menyangka kedatangan Inin
hampir saja menumpahkan kopi ditangannya.
“Aduh, kang
Inin bikin kaget saja. Ada apa?” Inin berdiri di depan meja pak kades sambil
mengatur nafas.
“Anu pak
kades, itu..itu Neng Kembang..”
“Kenapa
dengan Kembang?”
“Dia terjun ke
jurang!”
“Apa?!?!" Pak
kades tak sadar berteriak saking kagetnya.
“Ini
buktinya, jilbab neng Kembang aku temukan di dekat air terjun dengan sepucuk
surat ini.” Inin menyerahkan jilbab dan surat milik Kembang.
Kening pak
kades berkerut membaca kertas yang diberikan Inin. Meski masih terlihat ragu
tangan pak kades gemetar juga. Dia kenal dengan jilbab yang sekarang berada
ditangannya karena dialah yang telah memberikan jilbab itu pada Kembang.
“Kamu yakin
ini milik Kembang? trus surat ini, apa benar Kembang yang telah menulisnya?”
Inin terdiam. Sejak tadi dia panik hingga tak sempat lagi berpikir jernih.
“Kalau bukan
milik Kembang, lalu mengapa ada nama Kembang, Pak kades? Aku juga udah mengecek
ke rumah Kembang. Dia nggak ada.”
Pak Kades
terdiam sesaat.
“Kumpulkan
warga, cari tahu keberadaan Kembang, kalau tidak ditemukan juga, kita ke gunung
Naras!”
“Abang
ngapain nyari-nyari Kembang!” suara nyaring milik Jingga menggelegar memenuhi
ruangan bahkan menembus hingga halaman kantor desa. Vianna dan bundanya
terperanjat kaget termasuk para staf. Bahkan warga yang kebetulan lewat
langsung berpaling menengok kantor desa.
Inin mundur
lalu menunduk memberi salam pada Jingga yang tiba-tiba muncul dengan wajah tak
seramah saat pertama kali memasuki kantor desa. Matanya beralih ke jilbab pink
yang tergeletak di atas meja. Dia tiba-tiba teringat sesuatu.
“Mengapa
jilbab ini ada disini?bukankah jilbab ini yang abang hadiahkan untuk Jingga
pakai ramadhan nanti?”
Pak kades
tercekat tak bisa berkata-kata saat Jingga dengan lincahnya meraih kertas yang
masih ada dalam genggaman pak kades. Matanya mendelik nyaris melompat sementara
bibirnya bergetar menahan amarah.
“Jadi jilbab
ini abang berikan pada Kembang?!?!?!”
“Bukan,
bukan begitu sayang. Ceritanya nggak begitu.” Suara pak kades terdengar putus
asa.
Inin makin
merapat ke tembok. Serasa ingin terbang dan menghilang. Dia tidak menyangka
malah terlibat dalam permasalahan rumah tangga pak Kades.
“Apanya yang
bukan? Udah jelas-jelas abang yang megang surat ini dan jilbab ini ada disini.
Trus abang juga minta semua warga mencari Kembang. Ada hubungan apa antara
abang dan Kembang! Ayo jawab!”
“Begini
Jingga sayang, abang khawatir Kembang nekad bunuh diri karena kang Inin
menemukan jilbab dan surat ini di dekat air terjun gunung Naras.”
Penjelasan
singkat mas Ibay tak membuat raut wajah Jingga berubah ramah. Dia masih
memendam amarah.
“Kenapa dia
bunuh diri? Jangan-jangan abang buat dia sakit hati!”
Pak Kades
makin bingung.
“Bukan,
abang tidak tahu apa masalah Kembang. Jilbab ini memang mirip dengan yang abang
belikan untuk Jingga tapi sumpah, bukan abang yang berikan jilbab ini.” Wajah
pak kades pucat pasi. Dia mendadak ragu, apa benar jilbab ini pemberiannya?
Dasar pelupa kelas berat, runtuknya dalam hati.
“Oke. Jingga
pegang kata-kata abang untuk urusan jilbab ini. Sekarang juga Jingga mau balik
kerumah. Kalau jilbab itu udah nggak ada di lemari, berarti abang udah berikan
jilbab itu pada Kembang!”
Jingga lalu
keluar ruangan meninggalkan pak kades yang menghela nafas berulang-ulang. Lega
karena istrinya telah pergi namun sontak pak kades beranjak dari kursi.
“Waduh,
gawat kang Inin! Aku lupa, apa dulu pernah memberi jilbab pink pada Kembang?
Perasaan emang dulu aku pernah hadiahkan sesuatu waktu dia ulang tahun tapi aku
lupa apa itu jilbab atau hadiah lainnya.”
“Tugas ngumpulin
warga gimana pak kades? Sekarang ini Kembang dalam bahaya.”
“Aku juga
dalam bahaya kalau istriku tidak menemukan jilbab itu dalam lemari. Begini
saja, kang Inin kumpulkan warga sementara aku balik nyusul istriku ke rumah.
Bisa perang dunia kalau ternyata jilbab itu tidak dia temukan.”
Pak Kades
Ibay lalu bergegas meninggalkan kantor desa disusul Inin dibelakangnya.
“Kang Inin.”
Suara lembut menahan langkah Inin. Dia menoleh melihat Vianna yang tersenyum
dengan manisnya. Inin tertegun sesaat lalu membalas senyuman itu.
“Maaf neng Vianna,
akang buru-buru, ada tugas maha penting. Neng Kembang menghilang.” Ucapnya
kemudian berlalu tak melihat wajah Vianna yang cemberut.
***
Mendadak
desa dihebohkan dengan berita hilangnya Kembang. Warga hilir mudik membaca
pengumuman yang terpajang di pos ronda.
*****
======================================================================
Untuk melihat postingan lainnya, silahkan klik di http://www.facebook.com/groups/desarangkat/doc/529868297076747/
Desa Rangkat menawarkan kesederhanaan dan cinta untuk anda, silahkan bergabung bersama kami,


0 komentar:
Posting Komentar