Jumat, 07 Juni 2013

[ECR] Misteri Hilangnya Kembang

0



 



Entah mengapa Inin tiba-tiba saja tergerak hatinya untuk mendatangi gunung Naras. Sejak semalam dia terus membayangkan dan mengatur rencana untuk melihat air terjun yang telah lama tak dikunjungi. Hujan lebat semalam menyebabkan air terjun akan berwarna keruh namun itu bukan masalah, Inin cuma ingin melepaskan gundah dalam hatinya karena Vianna tak kunjung memberi jawaban atas cintanya. Meski hari ini bukan hari libur tapi tak mengurungkan niatnya. Dia telah mengirim pesan singkat ke pak kades agar diberi izin cuti sehari saja.

Dengan stelan celana pendek butut dan kaos hitam dia melangkah menyusuri bebatuan dan rerumputan yang basah karena hujan. Kabut yang tebal masih menghalangi pandangan, namun Inin terus berjalan hingga mendekati pinggiran jurang. Dia tersenyum lega melihat derasnya air terjun yang berasal  dari mata air kebanggaan warga Rangkat. Sayang belum ada pengusaha yang berniat untuk memproduksi air mineral yang berasal dari mata air gunung Naras.

Inin merentangkan tangan sambil menghirup dalam-dalam udara dingin yang terasa hingga ke sum-sum tulang. Nyaris dia menutup mata ketika sedetik kemudian matanya melotot, menatap tajam ke arah batu besar persis di bibir jurang. Perlahan Inin mendekat sambil berhati-hati agar tak tergelincir karena tanah disekitar begitu licin.

Sesuatu di atas batu besar membuatnya penasaran. Makin dekat makin jelas jika benda yang tergeletak manis di atas batu adalah kain. Lipatan kain warna pink sementara di atasnya ada kertas yang ditindih batu. Inin menatap heran sambil mengulurkan tangannya meraih kertas dan kain tersebut. Kainnya terbuka lebar dan nampak jelas jika itu adalah jilbab. Inin makin penasaran. Dibukanya lipatan kertas dan membaca tulisan yang membuatnya tercengang,

Wahai Pujaan Hatiku, Kembang tidak butuh janji, Kembang ingin bukti cinta yang nyata. Kembang tidak tahan lagi, Kembang ingin pergi, jilbab ini Kembang kembalikan,Selamat tinggal....

Tangan Inin mendadak gemetar. Jika tadi dia sanggup menahan hawa dingin, sekarang sekujur tubuhnya bergetar ketakutan. Inin takut memalingkan wajahnya melihat air terjun yang berada persis di sampingnya. Kakinya tiba-tiba sulit untuk digerakkan seolah ada yang menahan. Dalam benak Inin sesuatu yang buruk telah terjadi namun dia takut untuk membayangkan. Sambil menahan rasa takut tak terasa air mata Inin menetes.

****

Inin terlonjak kaget tersadar dari pikiran mengerikan yang tiba-tiba hadir. Dengan sigap dia berlari menuruni jalan setapak berbatu. Tak dipedulikannya rerumputan liar yang menyentuh betisnya. Gunung Naras menjadi saksi betapa kepanikan itu sangat menguasai seluruh jiwa dan raga Inin. Kain jilbab warna pink ikut berkibar bersama laju lari Inin yang makin kencang.

Inin lari pontang panting memasuki desa Rangkat. Tujuan utama Inin adalah rumah Kembang. Saat memasuki desa Inin tak menyadari jika beberapa pasang mata memandang heran padanya. Terutama sepasang mata  milik seorang gadis cantik yang selama ini sedang dia dekati. Gadis itu adalah Vianna, putri wakades Rangkat. Dia tengah mengayuh sepeda menuju kantor desa untuk menemui bundanya yang sedang bertugas sebagai wakades.

“Ada apa dengan kang Inin?” gumam Vianna lalu melanjutkan mengayuh sepedanya setelah terhenti beberapa saat karena heran melihat tingkah Inin. Wajar jika Vianna merasakan demikian. Jika lelaki itu orang lain bukan Inin, tentu dia tidak akan bertanya-tanya tapi ini adalah Inin, lelaki yang beberapa  hari ini selalu mengirim puisi indah untuknya. Bagaimana mungkin lelaki itu menjadi tidak peduli ketika mereka berpapasan di jalan? Vianna tak habis pikir.

Vianna tidak tahu jika pemuda kribo itu tengah panik luar biasa. Dia menggedor pintu rumah Kembang sambil memanggil-manggil nama perempuan cantik itu. Teriakannya bahkan mengundang perhatian para tetangga.

“Neng Kembang lagi keluar tuh, kang Inin.” Tegur seorang ibu yang tengah menyapu halaman. Inin menoleh.

“Kemana katanya, bu?” Si ibu menggeleng.

“Ibu nggak tahu, tapi tadi keliatan buru-buru.”



Inin makin cemas. Bergegas dia meninggalkan rumah Kembang lalu berlari kencang menuju kantor desa. Inin berencana memberitahu Pak Kades apa yang baru saja terjadi pada Kembang.

“Assalamu alaikum.”  Sapa Inin ketika tiba di kantor desa.  Beberapa staf nampak heran melihat penampilan Inin tapi pemuda itu acuh saja sambil  berlari menuju ruangan Kades. Terlalu serius hingga tak melihat Vianna yang tengah berbicara dengan bundanya, Asih. Kembali gadis itu dihinggapi rasa heran. Dia beranjak dari kursi lalu berdiri di dekat pintu, menatap ruangan kades dimana tadi sekilas dia sempat melihat Inin memasuki ruangan itu.

“Eh, ibu kades, apa kabar, bu?” suara staf membuat Vianna berpaling. Nampak Jingga, istri pak Kades yang juga adalah tantenya. Jingga membalas dengan senyuman sambil menanyakan keberadaan Pak Kades. Matanya membulat senang ketika bertemu pandang dengan Vianna.

“Anna, lagi ngapain disini?” tegurnya seraya menyentuh bahu keponakannya itu.

“Ketemu bunda, aunty.” Jawab Vianna.

“Oww.  Aunty ke ruangan paman Ibay dulu, ya.”

Vianna mengangguk namun setelahnya dia baru teringat jika saat ini pamannya, Kades Ibay tengah berbincang dengan Inin. Dia lupa memberitahukan hal itu kepada Jingga.

Inin menyerbu masuk tanpa permisi. Pak Kades yang tak menyangka kedatangan Inin hampir saja menumpahkan kopi ditangannya.

“Aduh, kang Inin bikin kaget saja. Ada apa?” Inin berdiri di depan meja pak kades sambil mengatur nafas.

“Anu pak kades, itu..itu Neng Kembang..”

“Kenapa dengan Kembang?”

“Dia terjun ke jurang!”

“Apa?!?!" Pak kades tak sadar berteriak saking kagetnya.

“Ini buktinya, jilbab neng Kembang aku temukan di dekat air terjun dengan sepucuk surat ini.” Inin menyerahkan jilbab dan surat milik Kembang.

Kening pak kades berkerut membaca kertas yang diberikan Inin. Meski masih terlihat ragu tangan pak kades gemetar juga. Dia kenal dengan jilbab yang sekarang berada ditangannya karena dialah yang telah memberikan jilbab itu pada Kembang.

“Kamu yakin ini milik Kembang? trus surat ini, apa benar Kembang yang telah menulisnya?” Inin terdiam. Sejak tadi dia panik hingga tak sempat lagi berpikir jernih.

“Kalau bukan milik Kembang, lalu mengapa ada nama Kembang, Pak kades? Aku juga udah mengecek ke rumah Kembang. Dia nggak ada.”

Pak Kades terdiam sesaat.

“Kumpulkan warga, cari tahu keberadaan Kembang, kalau tidak ditemukan juga, kita ke gunung Naras!”

“Abang ngapain nyari-nyari Kembang!” suara nyaring milik Jingga menggelegar memenuhi ruangan bahkan menembus hingga halaman kantor desa. Vianna dan bundanya terperanjat kaget termasuk para staf. Bahkan warga yang kebetulan lewat langsung berpaling menengok kantor desa.

Inin mundur lalu menunduk memberi salam pada Jingga yang tiba-tiba muncul dengan wajah tak seramah saat pertama kali memasuki kantor desa. Matanya beralih ke jilbab pink yang tergeletak di atas meja. Dia tiba-tiba teringat sesuatu.

“Mengapa jilbab ini ada disini?bukankah jilbab ini yang abang hadiahkan untuk Jingga pakai ramadhan nanti?”

Pak kades tercekat tak bisa berkata-kata saat Jingga dengan lincahnya meraih kertas yang masih ada dalam genggaman pak kades. Matanya mendelik nyaris melompat sementara bibirnya bergetar menahan amarah.

“Jadi jilbab ini abang berikan pada Kembang?!?!?!”

“Bukan, bukan begitu sayang. Ceritanya nggak begitu.” Suara pak kades terdengar putus asa.

Inin makin merapat ke tembok. Serasa ingin terbang dan menghilang. Dia tidak menyangka malah terlibat dalam permasalahan rumah tangga pak Kades.

“Apanya yang bukan? Udah jelas-jelas abang yang megang surat ini dan jilbab ini ada disini. Trus abang juga minta semua warga mencari Kembang. Ada hubungan apa antara abang dan Kembang! Ayo jawab!”

“Begini Jingga sayang, abang khawatir Kembang nekad bunuh diri karena kang Inin menemukan jilbab dan surat ini di dekat air terjun gunung Naras.”

Penjelasan singkat mas Ibay tak membuat raut wajah Jingga berubah ramah. Dia masih memendam amarah.

“Kenapa dia bunuh diri? Jangan-jangan abang buat dia sakit hati!”

Pak Kades makin bingung.

“Bukan, abang tidak tahu apa masalah Kembang. Jilbab ini memang mirip dengan yang abang belikan untuk Jingga tapi sumpah, bukan abang yang berikan jilbab ini.” Wajah pak kades pucat pasi. Dia mendadak ragu, apa benar jilbab ini pemberiannya? Dasar pelupa kelas berat, runtuknya dalam hati.

“Oke. Jingga pegang kata-kata abang untuk urusan jilbab ini. Sekarang juga Jingga mau balik kerumah. Kalau jilbab itu udah nggak ada di lemari, berarti abang udah berikan jilbab itu pada Kembang!”

Jingga lalu keluar ruangan meninggalkan pak kades yang menghela nafas berulang-ulang. Lega karena istrinya telah pergi namun sontak pak kades beranjak dari kursi.

“Waduh, gawat kang Inin! Aku lupa, apa dulu pernah memberi jilbab pink pada Kembang? Perasaan emang dulu aku pernah hadiahkan sesuatu waktu dia ulang tahun tapi aku lupa apa itu jilbab atau hadiah lainnya.”

“Tugas ngumpulin warga gimana pak kades? Sekarang ini Kembang dalam bahaya.”

“Aku juga dalam bahaya kalau istriku tidak menemukan jilbab itu dalam lemari. Begini saja, kang Inin kumpulkan warga sementara aku balik nyusul istriku ke rumah. Bisa perang dunia kalau ternyata jilbab itu tidak dia temukan.”

Pak Kades Ibay lalu bergegas meninggalkan kantor desa disusul Inin dibelakangnya.

“Kang Inin.” Suara lembut menahan langkah Inin. Dia menoleh melihat Vianna yang tersenyum dengan manisnya. Inin tertegun sesaat lalu membalas senyuman itu.

“Maaf neng Vianna, akang buru-buru, ada tugas maha penting. Neng Kembang menghilang.” Ucapnya kemudian berlalu tak melihat wajah Vianna yang cemberut.

***

Mendadak desa dihebohkan dengan berita hilangnya Kembang. Warga hilir mudik membaca pengumuman yang terpajang di pos ronda.


*****

 ====================================================================== 
Untuk melihat postingan lainnya, silahkan klik di http://www.facebook.com/groups/desarangkat/doc/529868297076747/
Desa Rangkat menawarkan kesederhanaan dan cinta untuk anda, silahkan bergabung bersama kami,


 



0 komentar:

Posting Komentar