Rabu, 12 Juni 2013

Impian Dena #16

0




Orang tua mbak ada di kamar ini.” Kata perempuan itu seraya membuka pintu meski tidak seluruhnya.

“Silahkan masuk, aku kebawah dulu.” Dia meninggalkanku. Aku bergegas membuka pintu. Perasaan terharu menyeruak dalam hatiku manakala memandang dua orang yang sedang duduk di sofa. Papa dan mama tengah menonton siaran tivi. Mereka tidak menyadari kehadiranku. Posisi mereka yang membelakangi pintu jelas tidak memungkinkan mereka untuk langsung melihatku.

Aku melangkah pelan, mengendap-endap ingin memberi kejutan. Makin dekat. Aku akhirnya termangu sendiri. Papa dan mama rupanya tertidur di sofa. Terlalu asyik nonton tivi tak sadar mereka tertidur. Kusentuh bahu mama, kukecup keningnya. Kini berganti papa, ku kecup kening papa. Rupanya gerakanku membuat papa terbangun.

“Dena? Benar kamu sayang?”

Papa menyentuh ke dua pipiku dengan jemarinya yang gemetar. Mencium pipiku bergantian, kanan dan kiri. Airmataku menetes saat papa menatapku lekat seolah tak percaya jika aku yang ada dihadapannya. Aku mengangguk dengan derai air mata. Kusentuh tangan papa yang keriput. Tangan papa sangat kurus. Wajahnya juga sangat tirus. Kemana papa yang dulu sangat gagah dengan tubuhnya yang berisi?

“Ini aku pa, Dena.”

Papa langsung memelukku. Tangannya lembut menepuk-nepuk bahuku. Air mataku makin deras mengalir. Kupeluk papa sangat erat. Merasakan hangat tubuhnya yang tak lagi berisi gumpalan daging seperti dulu. Tanganku dengan mudah saling bersentuhan. Padahal dulu, jika memeluk papa, tanganku tak pernah bisa saling menyentuh.

Dulu aku sangat suka memeluk papa. Aku merasa damai jika berada dalam rengkuhannya. Kerinduan masa lalu sekilas seperti mengiris hatiku. Sakit sekali. Tapi aku hanya bisa meredamnya dengan air mata. Masa lalu tentu tak akan pernah kembali seperti harapku. Tapi setidaknya kami bisa merajut kehidupan seperti dulu meski mungkin tak sesempurna masa lalu.

Papa melepaskan pelukannya. Mengelus rambutku.

“ Mamamu kalau udah tidur, walau bunyi petir, tetap aja nggak bangun.”

Kami berdua tertawa pelan karena tak ingin membangunkan mama. Kebiasaan mama memang tidak berubah. Jika tidur tak ada yang bisa membangunkannya kecuali menutup hidungnya. Hal yang kurang ajar menurutku tapi tak ada cara lain karena mama tetap saja akan marah jika mengetahui tak ada yang membangunkannya. Jadi sama saja kan?

Aku dan papa saling pandang lalu terkikik. Pikiran kami sama.

“ Aku atau papa yang membangunkan mama?” tanyaku menggoda papa yang langsung menggeleng.

“Bangunkan mamamu, pasti dia senang melihatmu.”

Aku bergeser, beringsut mendekati mama. Dengkuran halus pertanda tidurnya sangat nyenyak. Kuulurkan tangan perlahan mendekati hidungnya. Aku menoleh lagi melihat papa yang tersenyum. Papa memberi isyarat agar aku segera memegang hidung mama. Aku pun melaksanakan tugas sambil menahan nafas.

Mama bergerak, terbangun dengan nafas tersengal-sengal kemudian terbatuk-batuk. Aku menggeser tubuhku agak menjauh. Rasanya kerinduanku benar-benar terobati melihat kejadian saat ini.

“Siapa sih yang iseng bangunin mama? Papa ya?” mama menggerutu sambil mengucek-ucek matanya. Mama belum melihatku. Aku dan papa hanya menanti sambil sesekali saling pandang. Tubuh mama perlahan berubah tegak dan pandangannya tertuju ke papa lalu beralih padaku. Tak ada reaksi. Lalu seolah sadar dari mimpi panjangnya, tiba-tiba mata mama membulat kaget melihatku.

“Dena!!!” Jerit mama lalu menghambur memelukku. Aku memeluk mama dengan kerinduan yang teramat sangat. Pelukan mama juga sangat erat hingga kurasakan tubuhku menipis dalam dekapannya. Kami berdua berpelukan sambil berurai air mata.

“Jangan pergi lagi ya, sayang. Mama tidak bahagia jika Dena pergi lagi..”

Aku mengangguk.

“Iya, ma. Dena janji tidak akan pergi lagi.” Kataku. Kuusap air mataku.

Mama melepaskan pelukannya, lalu memegang wajahku. Persis seperti yang dilakukan papa tadi. Mama menatapku lekat seperti mencari sesuatu.

“Kamu terlihat kurus, sayang. Kurang tidur, ya?”

“Nggak kok, ma. Perasaan badan Dena begini aja deh.”

“Mata mama itu masih jelas melihat, Dena.” Mama memeluk lagi.

“Anaknya balik udah nggak pedulikan papa..” ujar papa dengan wajah cemberut.

Aku dan mama tertawa melihat tingkah papa.

“Duh, ada yang cemburu sama kamu sayang hehehehehe.....” mama menyentuh betis papa mencoba merayu papa yang pura-pura merajuk.

“Hahahahahaha Dena pergi aja deh, soalnya papa dan mama jadi berantem...” selorohku.

Kami bertiga lalu tertawa bersama. Dalam derai tawa kami, terbersit rasa syukur karena aku masih bisa menikmati kebersamaan dengan kedua orang tuaku. Papa dan mama yang masih lengkap kumiliki. Segala permasalahan yang dulu hadir dan membuat perasaan kami tak nyaman seolah sirna. Semoga kebahagiaan ini akan selamanya menyelimuti kami.

“Kamu udah makan, sayang?” tanya mama kemudian saat kami larut dalam rasa bahagia.

“Belum, ma. Lapernya hilang hehehehe...”

Mama menepuk pundakku lalu beranjak berdiri.

“Kebiasaanmu nggak berubah juga.”

“Mau kemana, ma?” tanyaku saat kulihat mama berjalan ke arah pintu.

“Mengambil makanan untuk kamu...”

Aku berlari menghadang langkah mama di depan pintu.

“Nggak usah, ma. Biar aku saja.”

“Biar mama yang ke bawah. Mama yakin kamu masih merasa sungkan. Tunggu aja di sini bersama papa. Mama sekalian mau ambil makanan untuk kita bertiga. Kamu tenang aja, mama akan minta bantuan Ratna untuk membawanya ke kamar.”

“Ratna? Siapa, ma?”

“Pembantu di rumah ini.”

“Oww jadi yang tadi mengantarku, namanya Ratna ya...” gumamku. Mama kemudian keluar kamar sementara aku mendekati papa, menyandarkan tubuhku di sandaran sofa sambil menyaksikan siaran tivi.

“Viola mau menikah, ya pa?” aku bertanya sambil menoleh melihat papa.

“Bener..” jawab papa sambil mengangguk.

“Dengan siapa?”

“Papa juga belum jelas, cuma masmu bilang, dia rekanan kerja masmu.”

“Viola kan masih sekolah, pa? Kok udah mau dikawinin?”

“Viola juga mau kok, dia nggak di paksa.”

Aku terdiam. Entah mengapa aku meragukan ucapan papa. Benarkah Viola rela untuk menikah? Jangan-jangan nasibnya sama denganku dulu. Usia Viola baru enam belas tahun. Apa mungkin anak seusia dia memikirkan pernikahan?

“Trus sekolah Viola gimana, pa?”

“Mas mu bilang, ntar si Viola sekolah lagi untuk ujian persamaan, agar dapat ijazah SMA. Jadi dia bisa kuliah seandainya dia mau.”

Kesannya seperti memaksa sekali. Mengapa pihak lelaki tidak sabar saja menunggu Viola tamat dulu. Kok malah menikahinya saat anak itu masih tanggung dengan sekolahnya?

“Sepertinya, masmu juga akan mengenalkanmu dengan seseorang..”

Aku menoleh kaget.

“Apa, pa? Mas Damar mau ngenalin aku dengan seseorang?”

Papa mengangguk.

“Beberapa hari yang lalu mas mu cerita. Ada rekanan kerjanya yang melihat fotomu di ruang kerja masmu. Dia bertanya tentang kamu dan mas mu cerita. Eh, sepertinya dia tertarik dan meminta tolong mas mu agar bisa berkenalan. Tapi kamu jangan keburu marah dulu. Namanya juga baru kenalan belum pasti apakah dia akan melamar atau nggak. Kamu juga nggak akan di paksa untuk menerima. Kenalan aja dulu.”

Papa seolah paham perasaanku yang sensitif jika mendengar kalimat perjodohan. Dan memang perasaanku saat ini tiba-tiba tidak nyaman setelah mendengar ucapan papa. Aku hanya heran kok mas Damar tidak bercerita padaku. Apakah dia takut jika aku tahu bakal di kenalkan dengan seseorang, aku tidak akan balik ke rumahnya?

“Papa harap mulai sekarang, apapun yang Dena dengar baik yang disampaikan mas mu atau mbakmu, jangan dulu di tanggapi negatif. Semua hal bisa dibicarakan baik-baik. Kita ini satu keluarga, siapa lagi yang bisa saling menolong kalau bukan kita. Walau kita berdebat, tetaplah itu dalam lingkup keluarga kita. Tak ada orang lain yang akan peduli jika bukan kita sendiri yang menyelesaikan dalam keluarga kita.”

Aku menyimak perkataan papa. Pikiranku mulai menerawang, memikirkan Farhan. Apa yang akan hadir dalam benak pemuda itu sekiranya dia tahu ada orang lain yang akan dikenalkan padaku?

Suara derit pintu membuatku berbalik. Ku lihat Ratna, pembantu mas Damar masuk membawa nampan berisi makanan. Mama menyusul di belakangnya sambil membawa air minum. Aku beranjak mendekati mama lalu mengambil botol air minum yang sedang di pegang mama.

“Letakkan saja di meja, nak.” Ucap mama. Ratna lalu meletakkan nampan itu di atas meja. Setelah itu dia keluar lalu menutup pintu kembali. Aku berdiri menatap hidangan yang sangat menggugah selera makanku. Bukan makanan mewah tapi ini adalah makanan favoritku. Nasi hangat, sayur nangka, ikan kering, sambel, tempe goreng dan ikan teri saus kecap bumbu pedas.

“Apa setiap hari mama dan papa makan di kamar ini?” tanyaku lalu mengambil piring. Satu persatu hidangan yang ada di nampan berpindah ke piringku. Mama mengambil makanan lalu menyerahkan piring yang sudah berisi hidangan lengkap pada papa.

“Papamu iya, tapi mama nggak selalu. Kadang mama makan bareng di bawah. Kasihan papamu kalau setiap waktu makan harus turun ke bawah karena itu terkadang mama atau Ratna yang mengambil makanan untuk papamu.” Mama menyendokkan nasi ke piringnya.

Aku mulai mengunyah makanan, menikmati sensasi rasa yang sangat nikmat. Sayur nangka ini benar-benar enak. Belum lagi ikan kering yang gurih serta sambel yang lumayan pedas. Rasanya lupa sama masalahku hehehehe..

“Oya sayang, mas mu udah cerita mau kenalin seseorang ke kamu?” tanya mama tiba-tiba membuatku tersedak. Aku meraih gelas minuman sementara papa terkekeh sambil mengunyah makanan. Mama melirik sekilas ke papa.

“Papa udah cerita ke Dena ya?” tebak mama.

“Udah, ma. Dena udah tahu kok. Dena harap kali ini jangan lagi ada paksaan seperti waktu itu. Dena bersedia ketemu, kenalan. Seandainya di antara kami tidak ada saling ketertarikan, jangan ada paksaan.”

Mama manggut-manggut.

“Iya, mas mu juga pikirannya sama seperti kamu. Si Viola kan tidak di paksa juga. Semua terserah dia. Mas mu tidak seperti dulu lagi. Mungkin dia udah sadar tidak ada gunanya memaksakan kehendaknya pada kalian.”

Kami bertiga makan dengan lahap hingga hidangan dalam nampan ludes tak bersisa. Sehabis makan rasa kantuk menyerangku dan tak lagi bisa ku tahan. Aku tergeletak di atas pembaringan papa dan mama. Tak lagi sadar posisi tidurku bagaimana bentuknya. Aku baru menyadari ketika  terbangun keesokan subuh. Kulihat papa dan mama sholat berjamaah. Hatiku makin sejuk melihat mereka berdoa. Tak terasa air mataku berderai lagi. Aku berdoa, memohon pada yang kuasa, semoga suamiku kelak seperti papa, beriman dan menjadi imam dalam keluarga.


( Bersambung )
 

0 komentar:

Posting Komentar