“Orang tua mbak ada di kamar ini.” Kata
perempuan itu seraya membuka pintu meski tidak seluruhnya.
“Silahkan masuk, aku kebawah dulu.”
Dia meninggalkanku. Aku bergegas membuka pintu. Perasaan terharu menyeruak
dalam hatiku manakala memandang dua orang yang sedang duduk di sofa. Papa dan
mama tengah menonton siaran tivi. Mereka tidak menyadari kehadiranku. Posisi
mereka yang membelakangi pintu jelas tidak memungkinkan mereka untuk langsung
melihatku.
Aku melangkah pelan, mengendap-endap
ingin memberi kejutan. Makin dekat. Aku akhirnya termangu sendiri. Papa dan
mama rupanya tertidur di sofa. Terlalu asyik nonton tivi tak sadar mereka
tertidur. Kusentuh bahu mama, kukecup keningnya. Kini berganti papa, ku kecup
kening papa. Rupanya gerakanku membuat papa terbangun.
“Dena? Benar kamu sayang?”
Papa menyentuh ke dua pipiku dengan
jemarinya yang gemetar. Mencium pipiku bergantian, kanan dan kiri. Airmataku
menetes saat papa menatapku lekat seolah tak percaya jika aku yang ada
dihadapannya. Aku mengangguk dengan derai air mata. Kusentuh tangan papa yang
keriput. Tangan papa sangat kurus. Wajahnya juga sangat tirus. Kemana papa yang
dulu sangat gagah dengan tubuhnya yang berisi?
“Ini aku pa, Dena.”
Papa langsung memelukku. Tangannya
lembut menepuk-nepuk bahuku. Air mataku makin deras mengalir. Kupeluk papa
sangat erat. Merasakan hangat tubuhnya yang tak lagi berisi gumpalan daging
seperti dulu. Tanganku dengan mudah saling bersentuhan. Padahal dulu, jika
memeluk papa, tanganku tak pernah bisa saling menyentuh.
Dulu aku sangat suka memeluk papa. Aku
merasa damai jika berada dalam rengkuhannya. Kerinduan masa lalu sekilas seperti
mengiris hatiku. Sakit sekali. Tapi aku hanya bisa meredamnya dengan air mata.
Masa lalu tentu tak akan pernah kembali seperti harapku. Tapi setidaknya kami
bisa merajut kehidupan seperti dulu meski mungkin tak sesempurna masa lalu.
Papa melepaskan pelukannya. Mengelus
rambutku.
“ Mamamu kalau udah tidur, walau bunyi
petir, tetap aja nggak bangun.”
Kami berdua tertawa pelan karena tak
ingin membangunkan mama. Kebiasaan mama memang tidak berubah. Jika tidur tak
ada yang bisa membangunkannya kecuali menutup hidungnya. Hal yang kurang ajar
menurutku tapi tak ada cara lain karena mama tetap saja akan marah jika
mengetahui tak ada yang membangunkannya. Jadi sama saja kan?
Aku dan papa saling pandang lalu
terkikik. Pikiran kami sama.
“ Aku atau papa yang membangunkan
mama?” tanyaku menggoda papa yang langsung menggeleng.
“Bangunkan mamamu, pasti dia senang
melihatmu.”
Aku bergeser, beringsut mendekati
mama. Dengkuran halus pertanda tidurnya sangat nyenyak. Kuulurkan tangan
perlahan mendekati hidungnya. Aku menoleh lagi melihat papa yang tersenyum.
Papa memberi isyarat agar aku segera memegang hidung mama. Aku pun melaksanakan
tugas sambil menahan nafas.
Mama bergerak, terbangun dengan nafas
tersengal-sengal kemudian terbatuk-batuk. Aku menggeser tubuhku agak menjauh.
Rasanya kerinduanku benar-benar terobati melihat kejadian saat ini.
“Siapa sih yang iseng bangunin mama?
Papa ya?” mama menggerutu sambil mengucek-ucek matanya. Mama belum melihatku.
Aku dan papa hanya menanti sambil sesekali saling pandang. Tubuh mama perlahan
berubah tegak dan pandangannya tertuju ke papa lalu beralih padaku. Tak ada
reaksi. Lalu seolah sadar dari mimpi panjangnya, tiba-tiba mata mama membulat
kaget melihatku.
“Dena!!!” Jerit mama lalu menghambur
memelukku. Aku memeluk mama dengan kerinduan yang teramat sangat. Pelukan mama
juga sangat erat hingga kurasakan tubuhku menipis dalam dekapannya. Kami berdua
berpelukan sambil berurai air mata.
“Jangan pergi lagi ya, sayang. Mama
tidak bahagia jika Dena pergi lagi..”
Aku mengangguk.
“Iya, ma. Dena janji tidak akan pergi
lagi.” Kataku. Kuusap air mataku.
Mama melepaskan pelukannya, lalu
memegang wajahku. Persis seperti yang dilakukan papa tadi. Mama menatapku lekat
seperti mencari sesuatu.
“Kamu terlihat kurus, sayang. Kurang
tidur, ya?”
“Nggak kok, ma. Perasaan badan Dena
begini aja deh.”
“Mata mama itu masih jelas melihat,
Dena.” Mama memeluk lagi.
“Anaknya balik udah nggak pedulikan
papa..” ujar papa dengan wajah cemberut.
Aku dan mama tertawa melihat tingkah
papa.
“Duh, ada yang cemburu sama kamu
sayang hehehehehe.....” mama menyentuh betis papa mencoba merayu papa yang
pura-pura merajuk.
“Hahahahahaha Dena pergi aja deh,
soalnya papa dan mama jadi berantem...” selorohku.
Kami bertiga lalu tertawa bersama.
Dalam derai tawa kami, terbersit rasa syukur karena aku masih bisa menikmati
kebersamaan dengan kedua orang tuaku. Papa dan mama yang masih lengkap
kumiliki. Segala permasalahan yang dulu hadir dan membuat perasaan kami tak
nyaman seolah sirna. Semoga kebahagiaan ini akan selamanya menyelimuti kami.
“Kamu udah makan, sayang?” tanya mama
kemudian saat kami larut dalam rasa bahagia.
“Belum, ma. Lapernya hilang
hehehehe...”
Mama menepuk pundakku lalu beranjak
berdiri.
“Kebiasaanmu nggak berubah juga.”
“Mau kemana, ma?” tanyaku saat kulihat
mama berjalan ke arah pintu.
“Mengambil makanan untuk kamu...”
Aku berlari menghadang langkah mama di
depan pintu.
“Nggak usah, ma. Biar aku saja.”
“Biar mama yang ke bawah. Mama yakin
kamu masih merasa sungkan. Tunggu aja di sini bersama papa. Mama sekalian mau
ambil makanan untuk kita bertiga. Kamu tenang aja, mama akan minta bantuan
Ratna untuk membawanya ke kamar.”
“Ratna? Siapa, ma?”
“Pembantu di rumah ini.”
“Oww jadi yang tadi mengantarku,
namanya Ratna ya...” gumamku. Mama kemudian keluar kamar sementara aku
mendekati papa, menyandarkan tubuhku di sandaran sofa sambil menyaksikan siaran
tivi.
“Viola mau menikah, ya pa?” aku
bertanya sambil menoleh melihat papa.
“Bener..” jawab papa sambil
mengangguk.
“Dengan siapa?”
“Papa juga belum jelas, cuma masmu
bilang, dia rekanan kerja masmu.”
“Viola kan masih sekolah, pa? Kok udah
mau dikawinin?”
“Viola juga mau kok, dia nggak di
paksa.”
Aku terdiam. Entah mengapa aku
meragukan ucapan papa. Benarkah Viola rela untuk menikah? Jangan-jangan nasibnya
sama denganku dulu. Usia Viola baru enam belas tahun. Apa mungkin anak seusia
dia memikirkan pernikahan?
“Trus sekolah Viola gimana, pa?”
“Mas mu bilang, ntar si Viola sekolah
lagi untuk ujian persamaan, agar dapat ijazah SMA. Jadi dia bisa kuliah
seandainya dia mau.”
Kesannya seperti memaksa sekali.
Mengapa pihak lelaki tidak sabar saja menunggu Viola tamat dulu. Kok malah
menikahinya saat anak itu masih tanggung dengan sekolahnya?
“Sepertinya, masmu juga akan
mengenalkanmu dengan seseorang..”
Aku menoleh kaget.
“Apa, pa? Mas Damar mau ngenalin aku
dengan seseorang?”
Papa mengangguk.
“Beberapa hari yang lalu mas mu
cerita. Ada rekanan kerjanya yang melihat fotomu di ruang kerja masmu. Dia
bertanya tentang kamu dan mas mu cerita. Eh, sepertinya dia tertarik dan
meminta tolong mas mu agar bisa berkenalan. Tapi kamu jangan keburu marah dulu.
Namanya juga baru kenalan belum pasti apakah dia akan melamar atau nggak. Kamu
juga nggak akan di paksa untuk menerima. Kenalan aja dulu.”
Papa seolah paham perasaanku yang
sensitif jika mendengar kalimat perjodohan. Dan memang perasaanku saat ini
tiba-tiba tidak nyaman setelah mendengar ucapan papa. Aku hanya heran kok mas
Damar tidak bercerita padaku. Apakah dia takut jika aku tahu bakal di kenalkan
dengan seseorang, aku tidak akan balik ke rumahnya?
“Papa harap mulai sekarang, apapun
yang Dena dengar baik yang disampaikan mas mu atau mbakmu, jangan dulu di
tanggapi negatif. Semua hal bisa dibicarakan baik-baik. Kita ini satu keluarga,
siapa lagi yang bisa saling menolong kalau bukan kita. Walau kita berdebat,
tetaplah itu dalam lingkup keluarga kita. Tak ada orang lain yang akan peduli
jika bukan kita sendiri yang menyelesaikan dalam keluarga kita.”
Aku menyimak perkataan papa. Pikiranku
mulai menerawang, memikirkan Farhan. Apa yang akan hadir dalam benak pemuda itu
sekiranya dia tahu ada orang lain yang akan dikenalkan padaku?
Suara derit pintu membuatku berbalik.
Ku lihat Ratna, pembantu mas Damar masuk membawa nampan berisi makanan. Mama
menyusul di belakangnya sambil membawa air minum. Aku beranjak mendekati mama
lalu mengambil botol air minum yang sedang di pegang mama.
“Letakkan saja di meja, nak.” Ucap
mama. Ratna lalu meletakkan nampan itu di atas meja. Setelah itu dia keluar
lalu menutup pintu kembali. Aku berdiri menatap hidangan yang sangat menggugah
selera makanku. Bukan makanan mewah tapi ini adalah makanan favoritku. Nasi
hangat, sayur nangka, ikan kering, sambel, tempe goreng dan ikan teri saus
kecap bumbu pedas.
“Apa setiap hari mama dan papa makan
di kamar ini?” tanyaku lalu mengambil piring. Satu persatu hidangan yang ada di
nampan berpindah ke piringku. Mama mengambil makanan lalu menyerahkan piring
yang sudah berisi hidangan lengkap pada papa.
“Papamu iya, tapi mama nggak selalu.
Kadang mama makan bareng di bawah. Kasihan papamu kalau setiap waktu makan
harus turun ke bawah karena itu terkadang mama atau Ratna yang mengambil
makanan untuk papamu.” Mama menyendokkan nasi ke piringnya.
Aku mulai mengunyah makanan, menikmati
sensasi rasa yang sangat nikmat. Sayur nangka ini benar-benar enak. Belum lagi
ikan kering yang gurih serta sambel yang lumayan pedas. Rasanya lupa sama
masalahku hehehehe..
“Oya sayang, mas mu udah cerita mau
kenalin seseorang ke kamu?” tanya mama tiba-tiba membuatku tersedak. Aku meraih
gelas minuman sementara papa terkekeh sambil mengunyah makanan. Mama melirik
sekilas ke papa.
“Papa udah cerita ke Dena ya?” tebak
mama.
“Udah, ma. Dena udah tahu kok. Dena
harap kali ini jangan lagi ada paksaan seperti waktu itu. Dena bersedia ketemu,
kenalan. Seandainya di antara kami tidak ada saling ketertarikan, jangan ada
paksaan.”
Mama manggut-manggut.
“Iya, mas mu juga pikirannya sama
seperti kamu. Si Viola kan tidak di paksa juga. Semua terserah dia. Mas mu tidak seperti dulu lagi. Mungkin dia udah sadar tidak ada gunanya memaksakan
kehendaknya pada kalian.”
Kami bertiga makan dengan lahap hingga
hidangan dalam nampan ludes tak bersisa. Sehabis makan rasa kantuk menyerangku
dan tak lagi bisa ku tahan. Aku tergeletak di atas pembaringan papa dan mama.
Tak lagi sadar posisi tidurku bagaimana bentuknya. Aku baru menyadari
ketika terbangun keesokan subuh. Kulihat
papa dan mama sholat berjamaah. Hatiku makin sejuk melihat mereka berdoa. Tak
terasa air mataku berderai lagi. Aku berdoa, memohon pada yang kuasa, semoga
suamiku kelak seperti papa, beriman dan menjadi imam dalam keluarga.
( Bersambung )


0 komentar:
Posting Komentar