
Untuk kesekian kali aku mengepalkan kedua tanganku. Geram dengan sikap mereka yang terus menggodaku.
“Nona, jangan sok jual mahal! Kami tahu kamu tinggal di ujung jalan itu kan, yang selalu didatangi om-om genit?”
Plak! Sebuah tamparan akhirnya melayang di wajah pemuda itu. Aku merasakan tanganku panas selepas menamparnya. Wajah pemuda itu memerah. Dia mengelus-elus pipinya yang masih terlihat bekas tamparanku. Sementara teman-temannya nampak terkejut. Tak ada yang bereaksi selain melongo menatapku. Mungkin mereka heran aku bisa melakukan hal yang berani seperti itu.
“Kurang ajar! Berani-beraninya kamu menamparku! Awas kamu!”
Pemuda itu maju mendekatiku. Aku mundur perlahan. Rencana dalam otakku sudah tersusun. Jika keadaan gawat aku akan memilih mengambil langkah seribu.Itu tindakan paling aman yang bisa aku lakukan. Aku perempuan jelas tidak akan sanggup menghadapi keempat pemuda tersebut.
“Mau kemana kau? Kamu pikir bisa lolos setelah menamparku?” ucapnya dengan senyum sinis. Aku terus mundur dan bersiap untuk lari. Saat kurasakan momen yang tepat,sigap aku berbalik dan berlari sekencang-kencangnya. Aku tidak lagi melihat ke belakang, pandanganku lurus mencari jalan untuk meloloskan diri. Syukurlah di pemukiman ini banyak gang yang memudahkanku untuk segera menghilang dari kejaran mereka.
“Kamu kenapa? Kok ngos-ngosan begitu?” Kayla menatap heran saat aku muncul dari balik pintu gerbang. Segera ku kunci pintu lalu menarik tangannya menjauh masuk ke dalam rumah.
“Kamu kenapa sih, Mey? Habis di kejar anjing?”
“Aku habis berantem dengan pemuda-pemuda kurang ajar itu?”
Kayla melotot bahkan matanya nyaris melompat. Dia duduk lalu mengatur nafas.
“Mereka?kok kamu nekad?kamu tahu kan akibatnya jika kita bermasalah dengan mereka?”
Aku ikutan duduk. Kuletakkan buah-buahan yang baru saja aku beli di supermarket. Perasaan takut mulai menghinggapiku. Benar kata Kayla, bagaimana jika mereka membalas dendam? Aku merinding. Membayangkan rumah kami akan jadi sasaran lemparan batu-batu, makin membuatku bergidik.
“Tapi tadi mereka udah keterlaluan, Kay. Mereka menyebut kita itu wanita murahan yang selalu melayani om-om genit. Itu kan tidak benar?!?
“Tapi bukan salah mereka juga. Rumah ini dulu memang tempat mangkal para hidung belang. Mereka tidak tahu kalau penghuninya udah ganti dan pekerjaan kita tidak sama dengan penghuni rumah ini sebelumnya. Masalahnya pekerjaan kita tetap berhubungan dengan banyak orang. Dalam pikiran mereka mobil yang hilir mudik pastilah pelanggan kita.”
“Tapi kita kan udah lapor ke pak RW, pak RT.”
“Iya, tapi hanya pak RW dan Pak RT yang tahu. Sebagian warga mungkin tidak tahu atau bahkan tidak peduli.”
Aku mulai cemas.
“Jadi bagaimana dong, Kay? Aku takut jika mereka nekad mengempung rumah ini dan membuat keonaran.”
“Entahlah, Mey. Aku juga bingung. Seharusnya kamu tidak usah meladeni mereka. Bikin masalah saja.”
Kayla membuka kulkas lalu mengambil sebotol air mineral dingin. Seteguk dua teguk hingga hanya menyisakan setengah botol. Bukan kebiasaan Kayla meminum langsung dari botolnya. Aku hanya menatap pasrah. Sekarang bukan kebiasan Kayla yang jadi masalah kami tapi pemuda-pemuda pengangguran yang terkenal suka membuat ke onaran di pemukiman warga.
“Sebaiknya mulai sekarang kamu jangan keluar dulu. Kalau mau belanja lebih baik naik taksi biar aman.”
“Kalau taksinya di cegat, gimana?”
“Minta supirnya untuk menambah kecepatan, pokoknya kamu selamat tiba di rumah.”
Kayla nampak putus asa menjelaskan padaku. Aku paham kekhawatirannya, dia lebih dulu tinggal di rumah ini sementara aku baru sekitar tiga bulan ikut bergabung dengan bisnis yang dijalankan Kayla. Dia tentu lebih mengenal daerah ini dibanding aku.
Setelah insiden itu batinku tidak tenang. Aku terus mengintip lewat jendela kamarku yang terletak di lantai dua. Sore terlewati, malam menjelang aku makin cemas. Semoga saja mereka tidak membalas dendam, batinku.
Saat lampu-lampu mulai menerangi malam, saat rembulan dan gemintang menghiasi langit, aku masih berdiri mematung di depan jendela. Tanganku dingin memegang kain yang tersingkap. Lampu kamar sengaja kupadamkan agar tidak terlihat dari bawah.
Hingga tengah malam kondisi aman-aman saja. Rasa kantuk yang kutahan sejak tadi mulai tak sanggup lagi kucegah. Aku mengantuk. Dengan langkah gontai aku menuju pembaringan. Kutarik selimut menutupi tubuhku. Selanjutnya aku tak tahu lagi apa yang terjadi. Aku ngantuk berat dan sangat lelah karena sepanjang hari merasa cemas.
Aku tersentak kaget ketika terbangun. Kulirik jam dinding, pukul enam. Ternyata aku pulas tertidur hingga pagi. Bergegas aku mengintip lewat jendela kamar. Di luar aman-aman saja. Kuperhatikan pagar, pintu gerbang dan tanaman, tidak ada yang berubah. Tidak ada kerusakan sedikitpun. Aku bernafas lega, setidaknya untuk tadi malam, pemuda-pemuda itu tidak menimbulkan kekacauan.
Dengan perasaan riang aku mandi lalu berpakaian kemudian turun untuk menikmati sarapan pagi sebelum memulai aktivitas kerja seperti biasa. Rumah ini sekaligus juga menjadi kantor tempatku bekerja. Perasaan cemas yang timbul pasca insiden dengan kelompok pemuda tersebut kini hilang. Aku kembali bersemangat untuk menyelesaikan beberapa tugas yang semalam terabaikan. Aku tidak bisa konsentrasi dan hanya memikirkan keselamatan kami.
“Pagi, Kayla.” Teriakku saat kakiku belum menyentuh lantai satu. Kayla tengah menyeruput teh kesukaannya sambil asyik mengutak-atik hape. Dia melihatku sekilas lalu kembali menatap layar hape.
“Pagi juga. Gimana tidurmu? Nyenyak?”
“Iya.” Jawabku sambil menarik kursi lalu meraih gelas. Kutuang teh yang ada dalam teko kecil. Uap panas menyebarkan aroma segar. Kuhirup sejenak untuk memberi rasa segar dalam diriku.
“Semalam aku tidak bisa tidur. Aku takut kalau rumah kita tiba-tiba terkenal lemparan batu. Membayangkan kaca-kaca pecah membuatku ketakutan. Kenapa kamu bisa tidur dengan nyenyak?”
Kuletakkan gelas yang kupegang. Aku tak jadi menyeruput teh meski tenggorokanku telah menanti dengan harap. Kerongkonganku terasa tercekat. Pertanyaan Kayla membuatku tak nyaman. Ada sindiran halus dibalik pertanyaannya.
“Karena aku lelah dan mengantuk. Semalam aku juga memperhatikan lewat jendela, tapi situasi tetap aman karena itu aku akhirnya memutuskan untuk tidur. Maaf Kayla, aku ngantuk berat.”
Kayla meletakkan hape lalu mentapku lekat-lekat.
“Bagaimana kalau kamu mendatangi mereka dan minta maaf?”
“Aku?!?!" Teriakku kaget. Syukurlah aku tidak menyemburkan teh yang baru saja kuminum.
“Bagaimana kalau mereka berniat jahat padaku. Aku harus minta tolong pada siapa?”
“Kamu jangan cemas. Kalau terjadi sesuatu padamu, kita sudah tahu siapa pelakunya. Pasti mereka juga tidak akan macam-macam.”
“Lalu kapan aku menemui mereka?”
“Sekarang?”
“Hah? Cepat sekali? Aku bahkan belum mempersiapkan mental.”
“Lebih cepat lebih baik. Apa kamu yakin rumah kita bakal selamat sebentar malam?”
Akhirnya aku berdiri. Ucapan Kayla ada benarnya. Masalah ini harus diselesaikan secepatnya. Dan karena aku yang menyebabkan maka seharusnya aku yang meminta maaf.
***
Baru saja pintu gerbang ku buka, aku terperanjat kaget karena didepanku tiba-tiba telah berdiri pemuda yang kemarin kutampar. Penampilannya jauh berbeda dengan kemarin. Sekarang nampak rapi dengan stelan kemeja putih.
“Kamu, kamu, ngapain kemari?!?!" teriakku panik. Aku terlupa dengan pesan Kayla. Aku bahkan ingin menutup pintu kembali tapi tangan pemuda itu menahannya. Senyum manis tersungging diwajahnya lengkap dengan uluran tangan yang berisi rangkaian bunga mawar putih.
“Maafkan kelakuanku kemarin, bunga ini sebagai pertanda perdamaian dan permohonan maaf dariku juga teman-temanku. Kami tidak tahu kalau pemilik rumah ini sudah berganti.” Tuturnya dengan sopan.
Aku mundur dan tak jadi menutup pintu. Kembali dia mengulurkan tangan. Kali ini aku menerimanya karena teringat dengan pesan Kayla yang memintaku untuk meminta maaf. Ternyata bukan aku yang datang pada mereka, tapi pemuda itu yang mendatangiku.
“Perkenalkan, namaku Jo, lengkapnya Jonathan.”
“Aku Mey. Loramey. Makasih atas bunganya.”
Dia tersenyum.Kulirik sekilas. Bukan lagi perasaan takut yang hadir. Aku tersipu malu menyadari wajahnya sangat tampan jika sedang ramah dan tak emosi seperti kemarin. Bunga mawar makin erat kugenggam. Tiba-tiba hadir rasa yang lain dalam hatiku.
Obrolan kami berlanjut ke dalam rumah. Jika semalam aku cemas karena ketakutan, maka sekarang aku cemas karena perasaan aneh yang tiba-tiba menelusuk, masuk ke celah-celah hatiku. Debar yang tiba-tiba hadir tiap kali kupandangi wajah Jo. Aku tersenyum. Sepertinya mimpi indahku dimulai saat ini.***
sumber gambar disini
0 komentar:
Posting Komentar