Jumat, 21 September 2012

Serpihan Luka

0

 

Kembali ke kampung halaman, mengingatkan aku akan dirimu. Cinta masa lalu yang hingga kini masih mengisi ruang dalam hatiku. Aku yang lugu, merasakan cinta dalam kesederhanaanku. Cinta yang menurutku indah namun sayang tak menemukan muara tempat bersandar. Aku tak mengira kisah cintaku akan seperti ini. Ingatanku di awal pertemuan semuanya di mulai dengan biasa saja, sangat sederhana. Tak ada ungkapan mesra apalagi kata cinta, semua mengalir tanpa kita sadari.

Bermula  suatu hari ketika jemarimu menyentuh lembut jilbabku, merapikan dengan hati-hati jilbabku yang tak beraturan.

“Perempuan itu harus rapi biar sedap di pandang.”

Tuturmu dengan wajah yang sangat dekat. Desah nafasmu mengantarkan debar-debar aneh dalam hatiku. Sejenak aku merasa bahagia bahkan impianku melambung jauh. Terbayang selepas itu kau memelukku setelah mengucapkan kata-kata cinta. Akh, lamunanku ini bisa membunuhku.

Langkahmu kemudian menjauh tanpa berpaling, meninggalkan aku yang masih tak percaya menerima perlakuan manis darimu.

Kak Aksan, apakah aku mencintaimu?, batinku bergolak sambil menatap punggungmu yang menjauh.

“Mila, cepatlah! Apa kamu mau jadi patung di situ sampai sore?”

Suaramu mengagetkanku. Aku tersadar dan buru-buru berlari mengikuti jejakmu. Aku tak ingin beriringan langkah denganmu. Kubiarkan tapak-tapak kakimu menjadi pijakan kakiku. Aku tak pernah merencanakan, hanya tiba-tiba saja kakiku menyentuh bekas tapak kakimu. Tiap kali kakiku menapak, debar di dadaku kian kencang bertalu.

Akh, mungkinkah aku jatuh cinta? Batinku mengulang ragu yang sama.

Aku dengan langkahku tetap mengikutimu yang nampak serius. Aku menunggu ucapan-ucapan apa lagi yang akan hadir dalam perjalanan kita. Namun tak sepatah katapun meluncur sejak teguranmu yang terakhir. Kau diam membisu.

“Mila, besok temanku ulang tahun. Apa kamu mau menemaniku?”

Kata-katamu seperti oase di tengah padang. Aku terhenyak, tak tahu hendak menjawab apa.

“Hei gadis kecil! Ditanya kok diam? Mau temani kakak ke acara ulang tahun teman atau tidak?”

Aku terkekeh sambil tersipu malu. Wajahmu cemberut.

“Apa kakak tidak malu membawa gadis kecil seperti aku? Kakak udah mahasiswa loh?”

“Kakak hanya tidak ingin mereka menanyakan macam-macam. Datang sendiri berarti tidak ada pacar. Hadir denganmu tidak akan menimbulkan masalah. Kan adik sendiri..hehehe.”

Aku nelangsa walau bibir tersenyum miris.

Adik sendiri? Sejak kapan? Protesku dalam hati.

“Bagaimana? Mau ya?” wajahmu penuh harap membuatku tak tega untuk menolak. Kau tersenyum senang saat aku mengangguk setuju. Ada desiran lembut yang mengalir dalam rongga hatiku saat melihatmu bahagia.

Sejak hari itu aku mulai merajut harapan-harapan indah tentangmu. Tentang masa depan kita. Dalam pandanganku semua hal tentangmu adalah keindahan. Rupanya anganku tak bertepuk sebelah tangan. Batinku tak salah menebak rasamu.

“Mila, jangan pernah ada lelaki lain yang menyentuh apalagi merapikan jilbabmu ya?” ucapmu ketika merapikan jilbabku. Meski merasa aneh karena tak ada yang salah dengan posisi jilbabku. Sedetik kemudian aku mulai paham dan tersenyum sendiri. Itu pernyataan cinta darimu. Dalam benak gadis belia sepertiku, ucapanmu nyaris membuatku melambung hingga menembus langit-langit rumah.

Hari-hari menjadi lebih berwarna dalam pandanganku. Setiap hari saat berangkat ke sekolah, aku melihat lukisan pelangi mengiringi langkahku. Burung-burung berkicau dengan merdu sementara angin menerpa tubuhku dengan kelembutannya.Tak kuhiraukan lagi Arman yang selalu menggodaku, Karim yang selalu mengirim surat cinta. Bagiku mereka bukan siapa-siapa. Tak sebanding dengan dirimu yang dewasa dalam pemikiranku.

Aku tidak butuh remaja seperti mereka. Kelak setamat sekolah aku ingin segera menikah. Harapanku tentu pada dirimu. Selepas kuliah, kau akan bekerja dan bagiku pernikahan adalah pilihan terbaik. Aku tidak ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Bukan karena tak ingin. Aku tahu, ayah takkan mampu membiayai diriku. Membiayai kuliahku.

Beban ayah sudah terlalu banyak. Ada tiga sepupuku yang menjadi tanggungan ayah. Mereka bergantung sepenuhnya sejak ditinggal pergi oleh pamanku untuk selamanya. Berat hati ayah untuk melepaskan tanggung jawab yang terlanjur terlontar saat paman sekarat di rumah sakit. Hanya ucapan ayah yang bisa menenangkan paman hingga bisa pergi dengan wajah yang tersenyum. Pamanku yang malang. Usianya masih terlalu muda untuk dipanggil yang Maha Kuasa.

Keinginanku rupanya tak sejalan dengan dirimu.

“Mengapa tidak ingin kuliah? Kamu pintar, selalu rangking satu di sekolah, sudah sepantasnya kamu mengejar cita-citamu.”

Aku tersenyum mendengar ucapanmu dan melihat jelas keheranan dari wajahmu.

“Kak, ayah takkan mampu membiayai kuliahku. Rencana ayah jika lepas Sofyan, maka Ridwan dan Mahmud juga akan dikuliahkan. Karena mereka laki-laki yang kelak memiliki tanggung jawab besar pada keluarga, ayah ingin mereka menjadi orang yang sukses. Kalau tidak bisa jadi PNS setidaknya dengan bekal ilmu yang mereka miliki, mereka bisa berwiraswasta atau membuka usaha yang bisa menopang hidup mereka.”

“Omonganmu seperti dosenku saja. Apa menurutmu perempuan tidak bisa menjadi tulang punggung keluarga. Pikirkan jika kelak kamu menikah dan tiba-tiba saja suamimu meninggal. Apa yang akan kamu lakukan tanpa memiliki pekerjaan?”

Aku termangu.

“Lihatlah pamanmu, jika tak ada ayahmu, bagaimana nasib keluarga mereka? Tantemu hanya bisa menatap pasrah, menangis tanpa bisa berbuat apa-apa untuk anak-anaknya. Hidupnya bahkan bergantung sepenuhnya pada ayahmu. Syukurlah ayahmu bukan pengangguran, kalau ayahmu kehidupannya pas-pasan? Apa yang akan terjadi pada mereka. Menangis darahpun, aku yakin ayahmu hanya akan menatap tanpa bisa membantu.”

“Tapi kematian itu urusan Allah begitu juga dengan rejeki. Mungkin saja rejeki paman sekeluarga ada pada keluarga kami. Aku tidak ingin cemburu, takut Allah marah. Rezeki yang dilimpahkan pada keluarga kami, pastilah karena ayah tulus membantu keluarga paman.”

“Kali ini ucapanmu seperti guru mengajiku saja. Aku ingin tanya terakhir kali, benar kamu tidak ingin kuliah?”

Aku mengangguk.

“Meski ada bantuan Dana Bea Siswa? Apa kamu tetap tidak berminat?”

“Aku tidak ingin kuliah, Kak. Aku ingin menikah..ups...” dua tanganku menutup rapat mulutku yang terlanjur mengucapkan alasan yang selama ini kurahasiakan.

“Menikah? Dengan siapa? Apa sudah ada yang melamarmu?” pertanyaan beruntun darimu menimbulkan tanya dalam benakku. Dirimu terlihat gembira mendengar ucapanku.

“Belum ada, kak. Aku hanya ingin selepas sma segera menikah..”

“Dengan siapa? Pasti ada seseorang yang kau suka dan sudah berjanji untuk melamarmu. Benarkan?”

Aku makin bingung. Terpaksa ku iyakan saja pertanyaanmu. Tidak mungkin aku mengatakan ingin menikah denganmu sedang dirimu sama sekali tak menanggapi selain rasa gembira mendengar keinginanku.

Malam ini aku pulang dari rumahmu dengan rasa gundah yang perih. Ingin kutanyakan langsung tentang perasaanmu, tapi bukan seperti itu yang aku impikan. Dalam pikiranku, seorang lelaki yang lebih dulu menyatakan perasaan pada perempuan. Jika sikapmu yang selama ini sangat baik dan lembut padaku menjadi dasarku, maka hubungan kita saat ini bukan sekedar teman atau hubungan kekerabatan.

Tapi mengapa aku ragu dan masih mengharapkan dirimu mengucapkan sepatah kata tentang perasaanmu?

**

Waktu berlalu dengan kisah-kisah baru namun kita tetap sama seperti sedia kala. Sikap dan perhatianmu tetap baik. Hanya saja tak ada ucapan cinta yang aku rindukan atau kalimat penegasan akan statusku di dalam hatimu. Aku masih berharap dan terus berdoa, semoga apa yang aku pikirkan bukanlah yang sebenarnya. Semoga dalam hatimu ada cinta untukku seorang bukan hanya aku yang bertepuk sebelah tangan.

Sore ini seperti hari-hari yang lalu, aku datang untuk bimbingan belajar padamu. Kegiatan yang menjadi alasanku untuk mengunjungimu. Padahal tanpa dirimu aku bisa mengerjakan soal-soal yang menjadi tugas dari sekolah.

Aku hanya ingin memiliki waktu berdua denganmu. Duduk berdekatan dan merasakan alunan nada cinta bergema dalam hatiku.

“Benar kalian akan menikah?” suara ibumu menghentikan langkahku di ruang tengah. Kalian sedang berbincang di ruang makan. Aku bernafas lega karena tak sempat memunculkan diriku. Pembicaraan ini membuatku penasaran.

“Iya, bu. Rencananya setelah wisuda kami akan menikah.”

Aku merinding mendengar suaramu. Aku kah yang sedang kalian bicarakan?

“Lalu bagaimana dengan pekerjaan? Lebih baik setelah mendapat kerja baru kalian menikah.”

“Justru itu, bu. Kami menikah lalu sama-sama bekerja di perusahaan ayahnya.”

Aku tersentak kaget. Perusahaan? Ayahku hanya punya usaha kecil-kecilan bukan perusahaan? Bekerja? Sejak kapan kami membicarakan tentang pekerjaan?

Siapa gadis yang sebenarnya akan kamu nikahi kak Aksan? Akukah?

“Oh, jadi seperti itu. Baguslah, kapan kamu ingin ayah dan ibu melamar gadis itu?”

“Kalau bisa secepatnya, bu. Tidak perlu rame, cukup ayah dan ibu saja yang datang sebagai tanda keseriusan dari pihak keluarga kita.”

“Aksan..Aksan selalu saja memberi kejutan untuk ayah dan ibu. Gadis itu belum pernah kemari dan berkenalan dengan keluarga kita, tiba-tiba kamu ingin menikahinya.”

Brukk. Tubuhku nyaris terjatuh andai tak ada tembok penahan. Airmataku menetes. Aku tak tahan lagi dan berlari keluar dari rumahmu. Kini jelas sudah bukan aku yang kalian bicarakan.

Kak Aksan, sikapmu selama ini, benarkah karena menganggapku adik?

Aku terus berlari hingga tak menyadari jalan setapak yang biasa kita lewati berdua. Jalan setapak ini tak lagi membuatku betah berlama-lama. Aku ingin secepatnya tiba di rumah dan menumpahkan semua kesedihanku. Airmataku tak henti mengalir dan berkali-kali harus aku seka dengan ujung jilbabku.

Tapi airmataku dan kesedihanku benar-benar hanya milikku seorang. Tak ada ucapan yang sangat aku harapkan terucap dari dirimu. Jika benar menganggapku sebagai adik, mengapa sikapmu teramat mesra? Ataukah itu hanya perasaanku saja karena sedang dilanda cinta?

Dalam rasa sakit, setamat sekolah, aku meninggalkan kampung. Meninggalkan ayah dengan alasan ingin mencari kerja. Padahal dalam hatiku telah tertanam tekad untuk mencari kerja dan kuliah. Aku ingin menjadi seperti harapanmu meski tak lagi ada kesempatan bagiku mengisi ruang dalam hatimu.

Bertahun waktu yang telah aku lewati, tetap saja airmataku menetes tiap kali harus kembali. Akh, dimana dirimu kini kak Aksan? Anakmu sudah berapa? Ada kerinduan dalam hatiku untuk melihatmu. Masihkah dirimu seperti yang dulu? Aku benar-benar merindukanmu. Cinta pertamaku yang kini jadi serpihan luka.

^^^^^^^  

sumber gambar disini


0 komentar:

Posting Komentar