Festival Fiksi Kolaborasi
(No. 31 Trio Bombastis)
Sepulang
kerja, ketika Bo telah mandi dan mengenakan pakaian kebesarannya: kaos
oblong dan sarung. Ia duduk di teras sambil menghisap rokoknya. Mi
keluar dengan senyum termanis, membawa kopi pahit dan pisang goreng
kesukaan suaminya.
Melihat
Mi,Bo langsung melemparkan puntung rokok yang telah terhisap lebih
dari separo. Ia sudah berjanji tidak akan merokok di dekat Mi. Merokok
di dalam rumah sudah tidak boleh. Ini kesepakatan mereka berdua. Demi
Si yang masih berumur sangat muda dan juga demi janin yang tengah
dikandung Mi.
Setelah
berbasa-basi, menceritakan tentang sikap dan kelakuan Si pada hari
itu, barulah Mi mengeluarkan bungkus plastik kecil berwarna hitam dan
menyerahkan kepada Bo.
“Apa ini?”
Mi
hanya menjawabnya dengan senyum. Bo mengeluarkan isi tas plastik,
menggenggam di kedua tangannya. “Apa ini, Mi? Darimana kau dapatkan?”
suara Bo dengan nada tinggi.
“Itu yang dibutuhkan Kang Bo saat ini. Saya bersyukur Tuhan telah memberikan kita jalan,”
“Iya, tapi darimana?”
“Dapat bantuan dari Bu Hani,”
“Bantuan?!”
“Bantuan
pinjaman. Dia bilang santai saja soal pengembaliannya. Toh nanti kalau
Kang Bo sudah bekerja, bisa mengirimkan uang, kita bisa mencicil
hutang itu,”
* * *
Bo
sudah menyerahkan uang sejumlah 25 juta kepada Pak Min. Ia menyerahkan
keesokan paginya. Kini sudah sebulan lebih, tiada kabar apapun dari Pak
Min. Ketika Mi menanyakan kepada Bo sepulang ia kerja, ia menyatakan
akan segera mengeceknya.
Sampai
di rumah Pak Min tidak ada tanda-tanda ada orang di rumah itu. Ia
mengetuk berkali-kali, sampai ada orang lewat berhenti.
“Tidak
ada orang, Pak. Sudah setengah bulan lebih keluarga itu pergi. Entah
kemana. Tiap hari banyak orang berdatangan mencarinya,”
Informasi
yang membuat Bo mengigil tiba-tiba. Tubuhnya terasa lemas. Kepalanya
berputar-putar. Hatinya gak karuan. Panik rasanya.
Mi
merasa susah bernafas. Ia memegangi perutnya. Bo cepat meraihnya
sebelum Mi terjatuh. Ia kalut sekali, berlari mencari tetangga. Cepat
sekali orang-orang sudah berdatangan.
“Bawa ke rumah sakit,”celetuk seseorang.
Mi
melahirkan. Walaupun terasa sakit dan dirinya lemas, ia merasa
bersyukur dirinya dan anaknya selamat. Anaknya terlihat sehat sekali.
Mi
melahirkan, butuh biaya. Pak Min lenyap, lenyap pula uang 25 juta.
Tidak ada tabungan. Tidak ada uang. Bagaimana mengeluarkan Mi dari
rumah sakit? Barang berhargapun tidak ada yang bisa dipertukarkan.
Keresahan menjalar sangat kuat mempengaruhi Bo. Rasanya ingin mati
saja. Ia merasa sangat bersalah. Situasi sama sekali tidak
menguntungkan.
Ia
teringat cerita Mi. Ah, Bu Hani katanya orang baik. Mudah saja ia
memberikan pinjaman kepada orang-orang. Ia katakan rencananya kepada Mi
yang menanggapinya dengan anggukan.
“Apa?
Enak saja? Memangnya saya Bank pemerintah apa?!” nada Bu Hani sungguh
diluar dugaan Bo. Ia merasa tidak percaya akan menghadapi sambutan
semacam itu. Ia sudah rela menunggu lama di depan rumah Bu Hani. Ketika
ia utarakan niatnya, itulah jawabannya. Apakah Mi berbohong padanya?
Ah.
“Maaf, ya, Pak. Hutang Bapak ada 27 juta lima ratus,”
“Loh, bukankah 25 juta saja Bu?”
“Hutangnya memang segitu. Lha, bunganya 10% per bulan?”
“Bu?”
“Apa?!
Tidak percaya? Istrimu sudah menandatangani ini. Bulan depan sudah 30
juta bila tidak mengangsur. Bila tiga bulan sama sekali tidak
mengangsur, maka kamu harus melepaskan rumah itu. Ini perjanjiannya..
Ini ditandatangani istrimu,”
Semakin
terasa badai menghantam tubuh yang sudah lunglai. Bo merasa hanyut
dalam badai, menyeret tubuhnya pada sampah-sampah yang telah membusuk.
Bersama bangkai-bangkai tikus dan anjing. Ia tidak bisa menghindar.
Terendam air berwarna hitam.
Mengatakan
pada Mi? Ah tidak. Ia pasti bisa shoc dan bisa membahayakan jiwanya.
Tapi mengapa Mi begitu bodoh bisa diperdaya oleh Bu Hani? Ya, mengapa
Mi begitu bodoh! Ingin rasanya Bo menjerit lantang pada semesta.
Mengeluarkan segala resah. Tapi, ia memang tak berdaya. Sama sekali tak
berdaya.
Berjalan
lunglai, keluar dari rumah Bu Hani. Ia bingung akan pergi kemana?
Beruntung Si sudah dititipkan ke rumah Mpok Ani. Bo berjalan, berjalan
tanpa tujuan pasti. Berjalan, terus berjalan. Tanpa menuju jalan
pulang.
* * *
Mi
mengucapkan terima kasih kepada Haji Maksun. Berkat dirinya ia bisa
keluar dari rumah sakit. Bo, entah kemana? Ia menghilang begitu saja.
Tidak memberi kabar apapun. Mi menjerit dalam hati. Merasakan
kekecewaan yang luar biasa. Bo yang ia kagumi, meninggalkannya saat ia
butuh didampingi.
Beruntung
ada Haji Maksun. Ialah yang menggalang dana dari warga kampung,
sehingga bisa membayar biaya persalinannya. Beruntung ada Mpok Ani yang
mau direpotkan menjaga Si. Bo, kemanakah dirimu? Oh, Tuhan….
“Orang tidak bertanggung jawab, tidak perlu kau tunggu Mi,” Wi sahabatnya ketika menjenguk bayinya di rumah.
“Ia bapak dari kedua anakku,”
“Bapak? Bapak tak bertanggung jawab,”
Keluarlah
berbagai pikiran dari Wi tentang hubungan yang seimbang antara
laki-laki dan perempuan. Lelaki tak bertanggung jawab, lari
meninggalkan istinya yang tengah kesusahan, tanpa kabar berita, buat
apalah dipikirkan.
Tapi
Mi tetap bertahan dalam hatinya. Ia merasa Bo, suaminya tengah mencari
sesuatu yang terbaik. Ia selalu berdoa bagi keselamatan Bo, yang ia
yakini pasti akan pulang.
Wi
kelihatan kecewa ketika berpamitan pulang. Ia merasa tidak mendapatkan
reaksi positif dari Mi. Padahal sungguh ia bermaksud untuk membela
sesama perempuan.
* * *
Belum
genap sebulan di rumah dengan segala kerepotannya mengurus dua anak
dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Bu Hani mendatanginya. Sikapnya
berubah drastis dari awal perjumpaan dulu.
“Sudah dua bulan tanpa angsuran sama sekali, Rumah ini kami sita
Mi berdiri terpaku. Dia seperti tak percaya dengan ucapan bu Hani.
“Ini
sesuai dengan pernyataan yang kamu tandatangani sendiri,” ujarnya
menunjukkan lembaran kertas yang sudah berisi tulisan entah apa.
Mi
teringat ia disodori kertas kosong untuk ditandatangani. Ia meraih
cepat kertas yang disodorkan itu, membaca, wajahnya pucat, nadanya
bergetar. Ia langsung merobek kertas-kertas itu.
Bu
Hani tertawa-tawa. Terasa sangat menghina dan merendahkan. “Baik, saya
beri waktu satu minggu. Bila tidak ada angsuran. Maka kamu harus
meninggalkan rumah ini. Hutangmu sudah 30 juta,”
Mi menatap wajah Bu Hani. Ia seperti memandang sebuah monster yang hendak menelannya bulat-bulat. “Bu?!’
“Tidak kau baca bunganya? Enak saja pinjam tidak pakai bunga….”
Bu Hani pergi.
Mi merintih.
Tak mungkin baginya memenuhi tenggat waktu yang diberikan.
Ia pasrah.
Berdoa kepada Tuhan.
Agar dibuka jalan
Satu
minggu kemudian, Bu Hani datang dengan di kawal dua pria bertubuh
besar. Wajah Mi sudah pucat saat melihat kedatangan orang-orang itu.
“Tolonglah
bu, beri kesempatan lagi,” Mi berlutut di depan bu Hani sambil
memegang tangan bu Hani. Ia benar-benar memohon dengan linangan air
mata. Sementara itu anaknya melihat dengan tatapan tak mengerti. Tapi
wajah bu Hani tak berubah. Sejak datang hingga melihat air mata Mi,
sikapnya tetap dingin. Tak ada kesan keramahan. Dia bahkan mengibaskan
tangan Mi yang akhirnya terduduk di lantai rumah yang mulai terkelupas.
Mi seakan tak percaya melihat tindakan bu Hani terhadapnya.
Deraian
air mata, tak surut ketika ia mencoba berkemas. Tidak banyak yang
bisa dibawa. Bayi dalam gendongan. Si yang menangis. Ia keluar rumah.
Meninggalkan rumah peninggalan keluarganya. Oh, Tuhan.. Oh, Kang Bo,
dimanakah dirimu?
Senyum
kemenangan tersunging di wajah bu Hani mengiringi kepergian Mi dan
anak-anaknya. Mi sendiri, tidak ada yang terpikir hendak dituju. Ia
melangkah saja, berjalan, dan terlintas tiba-tiba, Haji maksun.
Keluarga Haji maksun terkejut dengan kedatangan dan kisah-kisah yang
dibawakannya. “Biarlah tinggal bersama kami, di sini,”
Mi
merasakan kebahagiaan betapa keluarga Haji Maksun menerimanya dengan
baik. Hari-hari berlalu. Mi tidak bisa mengandalkan hidupnya dari
keluarga ini. Ia mencoba mencari kerja, apapun. Ia menjual jasanya
untuk mencuci, membersihkan rumah, dan segala jenis pekerjaan rumah
tangga di beberapa rumah di perumahan Sebrang desa. Ia menyisihkan
uangnya sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya ia bisa menyewa rumah
petak tidak jauh dari kampung ini.
Suatu
malam, ia dikejutkan oleh ketukan pintu. Waktu hampir menjelang tengah
malam. Siapa? Apakah ada yang membutuhkan jasanya? Mengapa semalam ini?
Dibukanya pintu, sosok yang tak asing.
“Kang
Bo?” ia seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ya, Kang Bo.
Wajahnya semakin kusam dengan penampilan yang kumal. Bau sesuatu yang
menusuk hidung membuat Mi menjadi mual-mual.
Bo
langsung masuk, menutup pintu, tak berkata apa-apa, memeluk Mi,
menciuminya dengan ganas. Mi merasa muak. Bau yang menusuk. Perlakuan
kasar yang tak pernah dialaminya. Kang Bo yang dinantikan. Tapi kini,
ah…..
Sejak
itulah Bo tinggal bersama Mi lagi. Ia sekarang tidak banyak bicara.
Sering keluar malam dan pulang pagi. Aroma menusuk yang kemudian baru
dipahami sebagai aroma minuman keras oleh Mi selalu menyertai. Bo cepat
naik darah. Tanpa kata, tangan dan kakinya ringan untuk menghantamnya.
“Oh, Tuhan, ujian macam apa yang tengah kau ujikan pada kami?”
Entah
sampai kapan Mi akan sanggup bertahan. Suara adzan Subuh sudah
berkumandang. Ia pandangi wajah Kang Bo yang lelap di ranjang. Ia
segera ke belakang, mengambil air wudhu, dan menghadap pada sang
Pencipta.
Pada
setiap doanya, Mi selalu meminta kepada Tuhan agar suaminya mendapat
hidayah dan segera berubah. Seburuk apapun Bo, Mi masih sangat
mencintainya. Mi selalu bermimpi, kebahagiaan yang pernah ia rasakan
akan hadir kembali dalam kehidupannya. Kehidupan penuh cinta seperti
saat pertama ia dan Bo memulai kehidupan baru mereka. *****
T A M A T
0 komentar:
Posting Komentar