Senin, 14 Mei 2012

[FFK] Saat Subuh Menyapa #3#

0

Festival Fiksi Kolaborasi
Kolaborasi Asih Suwarsy, Odi Salahuddin, fitri y.Yeye
(No. 31 Trio Bombastis)
Ilustrasi google.com


Sepulang kerja, ketika Bo telah mandi dan mengenakan pakaian kebesarannya: kaos oblong dan sarung. Ia duduk di teras sambil menghisap rokoknya. Mi keluar dengan senyum termanis, membawa kopi pahit dan pisang goreng kesukaan suaminya.

Melihat Mi,Bo langsung melemparkan puntung rokok yang telah terhisap lebih dari separo. Ia sudah berjanji tidak akan merokok di dekat Mi. Merokok di dalam rumah sudah tidak boleh. Ini kesepakatan mereka berdua. Demi Si yang masih berumur sangat muda dan juga demi janin yang tengah dikandung Mi.

Setelah berbasa-basi, menceritakan tentang sikap dan kelakuan Si pada hari itu, barulah Mi mengeluarkan bungkus plastik kecil berwarna hitam dan menyerahkan kepada Bo.

“Apa ini?”

Mi hanya menjawabnya dengan senyum. Bo mengeluarkan isi tas plastik, menggenggam di kedua tangannya. “Apa ini, Mi? Darimana kau dapatkan?” suara Bo dengan nada tinggi.

“Itu yang dibutuhkan Kang Bo saat ini. Saya bersyukur Tuhan telah memberikan kita jalan,”

“Iya, tapi darimana?”

“Dapat bantuan dari Bu Hani,”

“Bantuan?!”

“Bantuan pinjaman. Dia bilang santai saja soal pengembaliannya. Toh nanti kalau Kang Bo sudah bekerja, bisa mengirimkan uang, kita bisa mencicil hutang itu,”

* * *

Bo sudah menyerahkan uang sejumlah 25 juta kepada Pak Min. Ia menyerahkan keesokan paginya. Kini sudah sebulan lebih, tiada kabar apapun dari Pak Min. Ketika Mi menanyakan kepada Bo sepulang ia kerja, ia menyatakan akan segera mengeceknya.

Sampai di rumah Pak Min tidak ada tanda-tanda ada orang di rumah itu. Ia mengetuk berkali-kali, sampai ada orang lewat berhenti.

“Tidak ada orang, Pak. Sudah setengah bulan lebih keluarga itu pergi. Entah kemana. Tiap hari banyak orang berdatangan mencarinya,”

Informasi yang membuat Bo mengigil tiba-tiba. Tubuhnya terasa lemas. Kepalanya berputar-putar. Hatinya gak karuan. Panik rasanya.

Mi merasa susah bernafas. Ia memegangi perutnya. Bo cepat meraihnya sebelum Mi terjatuh. Ia kalut sekali, berlari mencari tetangga. Cepat sekali orang-orang sudah berdatangan.

“Bawa ke rumah sakit,”celetuk seseorang.

Mi melahirkan. Walaupun terasa sakit dan dirinya lemas, ia merasa bersyukur dirinya dan anaknya selamat. Anaknya terlihat sehat sekali.

Mi melahirkan, butuh biaya. Pak Min lenyap, lenyap pula uang 25 juta. Tidak ada tabungan. Tidak ada uang. Bagaimana mengeluarkan Mi dari rumah sakit? Barang berhargapun tidak ada yang bisa dipertukarkan. Keresahan menjalar sangat kuat mempengaruhi Bo. Rasanya ingin mati saja. Ia merasa sangat bersalah. Situasi sama sekali tidak menguntungkan.

Ia teringat cerita Mi. Ah, Bu Hani katanya orang baik. Mudah saja ia memberikan pinjaman kepada orang-orang. Ia katakan rencananya kepada Mi yang menanggapinya dengan anggukan.

“Apa? Enak saja? Memangnya saya Bank pemerintah apa?!” nada Bu Hani sungguh diluar dugaan Bo. Ia merasa tidak percaya akan menghadapi sambutan semacam itu. Ia sudah rela menunggu lama di depan rumah Bu Hani. Ketika ia utarakan niatnya, itulah jawabannya. Apakah Mi berbohong padanya? Ah.

“Maaf, ya, Pak. Hutang Bapak ada 27 juta lima ratus,”

“Loh, bukankah 25 juta saja Bu?”

“Hutangnya memang segitu. Lha, bunganya 10% per bulan?”

“Bu?”

“Apa?! Tidak percaya? Istrimu sudah menandatangani ini. Bulan depan sudah 30 juta bila tidak mengangsur. Bila tiga bulan sama sekali tidak mengangsur, maka kamu harus melepaskan rumah itu. Ini perjanjiannya.. Ini ditandatangani istrimu,”

Semakin terasa badai menghantam tubuh yang sudah lunglai. Bo merasa hanyut dalam badai, menyeret tubuhnya pada sampah-sampah yang telah membusuk. Bersama bangkai-bangkai tikus dan anjing. Ia tidak bisa menghindar. Terendam air berwarna hitam.

Mengatakan pada Mi? Ah tidak. Ia pasti bisa shoc dan bisa membahayakan jiwanya. Tapi mengapa Mi begitu bodoh bisa diperdaya oleh Bu Hani? Ya, mengapa Mi begitu bodoh! Ingin rasanya Bo menjerit lantang pada semesta. Mengeluarkan segala resah. Tapi, ia memang tak berdaya. Sama sekali tak berdaya.

Berjalan lunglai, keluar dari rumah Bu Hani. Ia bingung akan pergi kemana? Beruntung Si sudah dititipkan ke rumah Mpok Ani. Bo berjalan, berjalan tanpa tujuan pasti. Berjalan, terus berjalan. Tanpa menuju jalan pulang.

* * *

Mi mengucapkan terima kasih kepada Haji Maksun. Berkat dirinya ia bisa keluar dari rumah sakit. Bo, entah kemana? Ia menghilang begitu saja. Tidak memberi kabar apapun. Mi menjerit dalam hati. Merasakan kekecewaan yang luar biasa. Bo yang ia kagumi, meninggalkannya saat ia butuh didampingi.

Beruntung ada Haji Maksun. Ialah yang menggalang dana dari warga kampung, sehingga bisa membayar biaya persalinannya. Beruntung ada Mpok Ani yang mau direpotkan menjaga Si. Bo, kemanakah dirimu? Oh, Tuhan….

“Orang tidak bertanggung jawab, tidak perlu kau tunggu Mi,” Wi sahabatnya ketika menjenguk bayinya di rumah.

“Ia bapak dari kedua anakku,”

“Bapak? Bapak tak bertanggung jawab,”

Keluarlah berbagai pikiran dari Wi tentang hubungan yang seimbang antara laki-laki dan perempuan. Lelaki tak bertanggung jawab, lari meninggalkan istinya yang tengah kesusahan, tanpa kabar berita, buat apalah dipikirkan.

Tapi Mi tetap bertahan dalam hatinya. Ia merasa Bo, suaminya tengah mencari sesuatu yang terbaik. Ia selalu berdoa bagi keselamatan Bo, yang ia yakini pasti akan pulang.

Wi kelihatan kecewa ketika berpamitan pulang. Ia merasa tidak mendapatkan reaksi positif dari Mi. Padahal sungguh ia bermaksud untuk membela sesama perempuan.

* * *

Belum genap sebulan di rumah dengan segala kerepotannya mengurus dua anak dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Bu Hani mendatanginya. Sikapnya berubah drastis dari awal perjumpaan dulu.

“Sudah dua bulan tanpa angsuran sama sekali, Rumah ini kami sita

Mi berdiri terpaku. Dia seperti tak percaya dengan ucapan bu Hani.

“Ini sesuai dengan pernyataan yang kamu tandatangani sendiri,” ujarnya menunjukkan lembaran kertas yang sudah berisi tulisan entah apa.

Mi teringat ia disodori kertas kosong untuk ditandatangani. Ia meraih cepat kertas yang disodorkan itu, membaca, wajahnya pucat, nadanya bergetar. Ia langsung merobek kertas-kertas itu.

Bu Hani tertawa-tawa. Terasa sangat menghina dan merendahkan. “Baik, saya beri waktu satu minggu. Bila tidak ada angsuran. Maka kamu harus meninggalkan rumah ini. Hutangmu sudah 30 juta,”

Mi menatap wajah Bu Hani. Ia seperti memandang sebuah monster yang hendak menelannya bulat-bulat. “Bu?!’

“Tidak kau baca bunganya? Enak saja pinjam tidak pakai bunga….”

Bu Hani pergi.

Mi merintih.

Tak mungkin baginya memenuhi tenggat waktu yang diberikan.

Ia pasrah.

Berdoa kepada Tuhan.

Agar dibuka jalan

Satu minggu kemudian, Bu Hani datang dengan di kawal dua pria bertubuh besar. Wajah Mi sudah pucat saat melihat kedatangan orang-orang itu.

“Tolonglah bu, beri kesempatan lagi,” Mi berlutut di depan bu Hani sambil memegang tangan bu Hani. Ia benar-benar memohon dengan linangan air mata. Sementara itu anaknya melihat dengan tatapan tak mengerti. Tapi wajah bu Hani tak berubah. Sejak datang hingga melihat air mata Mi, sikapnya tetap dingin. Tak ada kesan keramahan. Dia bahkan mengibaskan tangan Mi yang akhirnya terduduk di lantai rumah yang mulai terkelupas. Mi seakan tak percaya melihat tindakan bu Hani terhadapnya.

Deraian air mata, tak surut ketika ia mencoba berkemas. Tidak banyak yang bisa dibawa. Bayi dalam gendongan. Si yang menangis. Ia keluar rumah. Meninggalkan rumah peninggalan keluarganya. Oh, Tuhan.. Oh, Kang Bo, dimanakah dirimu?

Senyum kemenangan tersunging di wajah bu Hani mengiringi kepergian Mi dan anak-anaknya. Mi sendiri, tidak ada yang terpikir hendak dituju. Ia melangkah saja, berjalan, dan terlintas tiba-tiba, Haji maksun. Keluarga Haji maksun terkejut dengan kedatangan dan kisah-kisah yang dibawakannya. “Biarlah tinggal bersama kami, di sini,”

Mi merasakan kebahagiaan betapa keluarga Haji Maksun menerimanya dengan baik. Hari-hari berlalu. Mi tidak bisa mengandalkan hidupnya dari keluarga ini. Ia mencoba mencari kerja, apapun. Ia menjual jasanya untuk mencuci, membersihkan rumah, dan segala jenis pekerjaan rumah tangga di beberapa rumah di perumahan Sebrang desa. Ia menyisihkan uangnya sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya ia bisa menyewa rumah petak tidak jauh dari kampung ini.

Suatu malam, ia dikejutkan oleh ketukan pintu. Waktu hampir menjelang tengah malam. Siapa? Apakah ada yang membutuhkan jasanya? Mengapa semalam ini? Dibukanya pintu, sosok yang tak asing.

“Kang Bo?” ia seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ya, Kang Bo. Wajahnya semakin kusam dengan penampilan yang kumal. Bau sesuatu yang menusuk hidung membuat Mi menjadi mual-mual.

Bo langsung masuk, menutup pintu, tak berkata apa-apa, memeluk Mi, menciuminya dengan ganas. Mi merasa muak. Bau yang menusuk. Perlakuan kasar yang tak pernah dialaminya. Kang Bo yang dinantikan. Tapi kini, ah…..

Sejak itulah Bo tinggal bersama Mi lagi. Ia sekarang tidak banyak bicara. Sering keluar malam dan pulang pagi. Aroma menusuk yang kemudian baru dipahami sebagai aroma minuman keras oleh Mi selalu menyertai. Bo cepat naik darah. Tanpa kata, tangan dan kakinya ringan untuk menghantamnya.

“Oh, Tuhan, ujian macam apa yang tengah kau ujikan pada kami?”

Entah sampai kapan Mi akan sanggup bertahan. Suara adzan Subuh sudah berkumandang. Ia pandangi wajah Kang Bo yang lelap di ranjang. Ia segera ke belakang, mengambil air wudhu, dan menghadap pada sang Pencipta.

Pada setiap doanya, Mi selalu meminta kepada Tuhan agar suaminya mendapat hidayah dan segera berubah. Seburuk apapun Bo, Mi masih sangat mencintainya. Mi selalu bermimpi, kebahagiaan yang pernah ia rasakan akan hadir kembali dalam kehidupannya. Kehidupan penuh cinta seperti saat pertama ia dan Bo memulai kehidupan baru mereka. *****

T A M A T

0 komentar:

Posting Komentar