Minggu, 13 Mei 2012

Impian Dena #4#

0

  by : Asih

 

Insiden di ruang redaksi surat kabar masih menyisakan rasa malu dalam hatiku. Seharusnya aku membicarakan masalah tersebut dengan Siska. Dia tentu lebih berpengalaman mengingat pekerjaannya banyak mengurusi klien perusahaan.

Seperti dugaanku,  dengan wajah yang penuh rasa iba, Siska mendengarkan curahan hatiku yang meluncur deras seperti petasan.

“ Aku bodoh sekali. Kenapa aku nggak telpon kamu dulu, Sis. Memalukan..sangat memalukan. Apalagi setelah aku tahu, kalau gambarku itu berada di belakang pak Walikota. Jelas saja mereka mengincar pak walikota. Bukan aku. Siapa aku? Geer amat ada yang ingin memotret seolah mereka paparazzi. Hari yang buruk...”

Siska tak berkomentar dia menyimak setiap perkataanku.

“ Syukurlah mereka menjelaskan dengan ramah dan tidak ikutan emosi seperti aku. Meski kelihatan sabar, sebenarnya tadi aku tuh marah loh. Kesal karena wajahku yang belepotan lumpur malah ikut masuk di surat kabar mereka. Dalam pikiranku, kenapa tidak ada yang mengedit gambar tersebut. Misalnya menghilangkan aku. Aku kan malu kalau ada keluarga, saudara atau teman-teman yang mengenaliku. Di tempat kerja, malah seorang teman yang menunjukkan gambarku. Itu kan sama saja memalukan aku...”

Siska masih menyimak.

“ Kamu kok diam saja, Sis. Tidak ada perhatian sama sekali dengan musibahku..”

Siska tertawa lalu tersenyum manis. Aku curiga saat melihat matanya seolah ada sesuatu yang dia sembunyikan.

“ Aku suka sikap kamu. Kalau aku mungkin akan mendiamkan masalah tersebut dan membiarkan saja hilang bersama waktu. Tapi kamu langsung mendatangi mereka dan protes.”

Aku bengong. Komentar apa ini?

“ Maksud kamu apa sih? Aku nggak ngerti..”

“ Kantorku juga pernah bermasalah seperti itu. Lebih tepatnya aku. Tapi ini dari surat kabar lain yang mempublikasikan gambarku sedang memegang produk lain yang bukan dari perusahaan kami. Padahal waktu itu perusahaan sedang dalam promosi produk. Bahasa gambar beda dengan kata-kata. Apa yang terlihat itu yang di artikan. Aku hampir mendapat sanksi karena kantor mengira aku melanggar aturan. Setelah aku jelaskan, pihak manajemen mengerti dan tidak jadi memberi sanksi.”

“Lalu surat kabar yang mengambil gambar kamu, gimana?”

“ Aku tidak mendatangi mereka. Itulah mengapa aku mengatakan suka dengan sikap kamu.”

“ Tapi mengapa waktu itu kamu tidak mendatangi kantor mereka?”

“ Aku sibuk dengan urusan pekerjaan. Dan lagi aku menganggap klarifikasi ke kantor lebih baik di banding harus meluangkan waktu untuk protes..”

Aku tercenung mendengar ucapan Siska. Meski dia memujiku, dalam hati aku makin menyadari kekurangannku. Seharusnya aku lebih hati-hati jika ingin memutuskan sesuatu. Jangan lagi bertindak  ceroboh dan tidak memikirkan dengan matang setiap mengambil tindakan.

“ Hei melamunkan apa, sih? Udah makan belum? Yuk aku traktir kamu makan di warung depan. Kebetulan tadi aku dapat bonus dari kantor..”

Aku mengangguk senang dan bergegas mengikuti Siska yang keluar dari rumah. Kami hanya tinggal berdua di rumah ini karena orang tua Siska tinggal di luar propinsi. Ayah Siska seorang perwira polisi yang selalu di pindah tugaskan ke daerah lain. Sementara dua saudara Siska, yang semuanya laki-laki telah lebih dulu menikah. Siska anak bungsu dan belum menikah. Itulah mengapa dia senang aku menemaninya karena tak ada orang lain. Dulu ada pembantu di rumah mereka namun sejak dia bekerja, Siska merasa tak perlu jasa pembantu untuk mengurusnya.

****

Beberapa minggu berlalu, aku kembali dengan rutinitas pekerjaanku. Aku bahkan telah melupakan insiden di kantor surat kabar. Kejadian itu menjadi pelajaran buatku agar lebih hati-hati dalam bersikap. Aku senang karena teman-teman di tempat kerja juga tidak lagi membicarakan hal tersebut.

“ Dena! Ada yang mencarimu!” teriak Farhan membuatku mendongak dari tumpukan barang yang sedang aku catat.

“ Siapa yang mencariku?” aku balas berteriak.

“ Kamu keluar saja. Aku juga tidak tahu siapa yang mencarimu..”

Aku meletakkan catatan lalu bergegas keluar dari gudang.

“ Siapa yang mencariku?” tanyaku pada Feni yang bertugas di toko. Dia menunjuk dengan dagunya ke arah seorang lelaki yang sedang berdiri. Aku tidak mengenalnya namun segera kuhampiri dan tersenyum.

“ Permisi, mas mencari aku?” tanyaku. Lelaki itu balas tersenyum lalu mengulurkan tangannya.

“ Aku Kembara. Masih ingat?”

Aku tercenung mendengar ucapannya sambil mencoba memperhatikan wajah pemuda di depanku. Apakah aku pernah bertemu dengannya? Nama Kembara seperti pernah aku dengar, tapi dimana? Aku masih bingung dan terus bertanya-tanya.

“ Aduh, maaf..aku agak lupa..bisa mas jelaskan di mana kita kenalan?”

Wajah lelaki itu terlihat sedikit kecewa meski coba dia tutupi dengan senyum yang manis.

“ Mungkin aku salah orang. Tapi semoga saja tidak. Begini, apa mbak masih ingat dengan ibu Mutmainnah. Guru bahasa waktu smp. Dia ibu saya..”

Aku terlonjak kaget dan mulai mengingat ibu guru Mutmainnah. Kututup wajahku dengan ke dua tanganku.

“ Ya, Allah aku benar-benar lupa. Maaf, ya mas Kembara. Waktu itu aku kelas dua smp. Gimana kabar ibu mas sekarang?”

Aku tersipu menyadari kelemahanku yang cenderung pelupa. Sesekali mataku melirik Kembara yang sangat berubah di bandingkan dulu saat kami bertemu pertama kali. Dalam hati aku merasa aneh. Mengapa dia masih mengingatku dan mencariku?

“ Tidak apa-apa, aku senang mbak sudah mengingatnya. Tadinya aku khawatir kali ini aku salah orang. Syukurlah jika benar. Nama mbak, Dena kan?”

Aku mengangguk cepat dan membenarkan ucapannya.

“ Mas masih mengingat padahal kita ketemu hanya sekali sewaktu ada acara di rumah mas. Sekali lagi maaf kalau aku sampai lupa..”

“ Wajar jika lupa. Hanya aku saja yang masih mengingat hal-hal di masa lalu. Padahal seharusnya aku mulai menata hidup bukan lagi mengingat masa lalu..”

Aku terdiam mendengar kata-kata Kembara yang terkesan untuk dirinya sendiri. Mengapa dia mengucapkan kalimat seperti itu?apa dia sedang ada masalah dan mencariku?

“ Maaf, mas Kembara. Aku kan sekarang lagi kerja. Gimana kalo mas nitip no hape. Kita janjian ketemu di mana biar bisa enak ngobrolnya.”

“ Oh, iya. Aku lupa. Ini kartu namaku. Kalau kerjaan mbak Dena udah selesai bisa menghubungi aku di nomor ini..”

Aku mengangguk cepat dan mas Kembara seolah mengerti dengan ucapanku. Dia mohon pamit dan meninggalkan toko. Sepeninggal Kembara, aku setengah berlari kembali ke dalam gudang.

“ Siapa yang mencarimu, Dena?” Margaretha tiba-tiba sudah berada di belakangku.

“ Teman lama.”

“ Pacar?” aku menoleh melihat Margaretha.

“ Bukan. Aku kan sudah katakan kalau dia teman..”

Margaretha tak juga beranjak. Dia masih berdiri di sampingku.

“ Kamu tahu. Farhan menyukai kamu..” Aku menoleh cepat. Kaget mendengar ucapan Etha.

Sejurus kemudian tawa kecil hadir wajahku.

“ Kamu jangan bercanda. Aku belum sebulan kerja di sini. Dengan Farhan juga tidak terlalu akrab. Dari mana kamu tahu dia menyukaiku..”

Aku kembali sibuk mencatat sambil memeriksa stok barang.

“ Karena aku mantan pacarnya dan masih mengharap dia untuk kembali...”

Brakkkk!! Barang yang ada dalam genggamanku terjatuh. Dengan cepat aku memungutnya kembali. Kupandangi Etha lekat-lekat mencari kesungguhan dari ucapannya barusan.

“ Kamu ngomong apa? Salah minum obat?”

“ Aku serius. Aku mengatakan ini bukan untuk mencegahmu menjadi pacarnya seandainya kamu juga tertarik pada Farhan. Karena aku meminta hubungan kami balik kembali, dia akhirnya mengakui kalau sedang tertarik dengan seseorang yang baru saja di kenalnya..”

“ Bisa saja kan perempuan itu bukan aku?”

Etha tersenyum dengan mata yang pedih.

“ Aku mengenalnya Dena. Aku tahu jika dia sedang jatuh cinta. Mirip dengan aku dulu. Cara dia bersikap membuatku mengingat semua tingkahnya sewaktu pedekate denganku.”

Aku menghentikan menulis. Kali ini aku tak bisa acuh mendengar ucapan Etha. Seperti ada kepedihan dalam kata-katanya.

“ Etha, dengar ya. Saat ini kita sedang kerja. Membicarakan hal pribadi, aku tidak bisa konsentrasi. Sebaiknya kamu tenang saja. Belum tentu gadis itu aku. Aku juga tidak merasa dia sedang melakukan pendekatan. Sikapnya biasa saja. Tidak nampak seperti orang yang sedang mengejarku.”

Etha terdiam. Aku tidak tahu apakah ucapanku membuatnya mengerti atau dia sedang memikirkan hal lain. Aku berharap Farhan tidak tertarik padaku. Bukan karena aku tidak tertarik padanya. Saat pertama kali kerja di tempat ini dan melihat sosoknya, ada perasaan suka yang hadir di hatiku.

Sikap Farhan sangat dewasa dan tidak membedakan apakah kami karyawan lama atau baru. Sebagai senior dia tidak segan berbagi pengalaman dengan kami yang masih baru dan belum tahu segala hal yang berkaitan dengan pekerjaan kami. Wajar jika ada rasa suka dalam hatiku.

Namun ucapan Etha membuatku merenung. Kata-katanya seolah menyiratkan perasaan tidak rela jika aku tertarik pada Farhan. Untuk apa dia memberitahukan hubungannya dengan Farhan dan perasaan cinta yang masih ada hingga kini jika bukan untuk mencegah seandainya aku benar-benar jatuh cinta dan menerima Farhan menjadi pacarku?

Margaretha, apa maksudmu sebenarnya?

( Bersambung)



Part   5  6   8  9  10  11  12  13  14  15  16  17  18  19  20

21  22  23  24  25  26  27  28 29


0 komentar:

Posting Komentar