Festival Fiksi Kolaborasi
(No. 31 Trio Bombastis)
Mi
tidak bisa melepaskan dirinya larut dalam tidur. Walau matanya
terpejam, pikirannya terus berlari-lari. Seakan menembus semak belukar,
memasuki hutan perawan, menghempaskan berbagai tanaman membuka jalan,
suasana gelap. Ia terus berlari, mencari suara gemercik air, mencari
cahaya terang. Tapi ia merasa terus berputar pada jalan tak beraturan.
Bahkan kembali ke titik semula.
Membuka mata, terlihat Bo sudah terlelap. Kedua anaknya, juga tampak lelap tidur berpelukan di dipan yang terpisah.
“Ah,
Kang Bo, pasti ada jalan, pasti ada jalan. Oh, Tuhan, bukalah pintumu,
biar aku memasuki
rumahmu,danberilahpeneranghatidanpenerangjalan,”pinta Mi dalam hati.
***
Suatu
sore, tanpa sengaja Mi berbelanja ke warung pinggir jalan. Di sana ia
berpapasan dengan Bu Hani yang sudah berada di atas motor butut dengan
mesin yang sudah menyala. Tampak sebuah tas yang terkalung di lehernya
menempel di dadanya. Ini seakan menjadi ciri khasnya.
Ia
orang kampung sebelah, namun seringkali mengunjungi orang-orang
kampung ini. Mi sendiri tidak begitu tahu apa pekerjaan Bu Hani, dan
tidak pernah menanyakan langsung ataupun menanyakan kepada para
tetangganya yang tampaknya sudah sangat akrab dan sering dikunjungi
rumahnyaoleh Bu Hani.
“Ke warung,”sapa Bu Hani ramah.
Mi Mengangguk lalumeneruskan langkahnya.
Bu Hani mematikan mesin motornya. “Mi, suamimu bekerja dimana?”
Pertanyaan
yang terasa aneh di telinga Mi, sehingga ia menghentikan langkahnya,
menoleh ke arah Bu Hani yang juga sudah turun dari motor dan mendekati
dirinya. “Suamimu kerja di mana?” ulangan pertanyaan.
“Ya,cuma buruh pabrik, bu. Dipinggiran kota sana.Ada apa toh, Bu?”
“Tidak, aku dengar katanya mau kerja ke luar negeri ya?”
Mi memandang wajah Bu Hani yang tampak ramah. Mi mengangguk.
“Kapan berangkat, Mi?”
“Entahlah, bu. Sebenarnya sudah mengurus surat-suratnya. Sudah lengkap dokumen-dokumennya semua.Tapi…..”
“Belum ada kepastian berangkat, Mi?”
“Kata
Kang Bo sih kemungkinan bulan depan sudah bisa berangkat. Itu yang
diceritakan kepada saya tentang apa yangdikatakan oleh Kang Min
kepadanya. Suami saya kan minta bantuan dia untuk bisa menyalurkan
dirinya agar bisa bekerja di luar negeri itu, Bu.”
“Oh. Lantas, kenapa? Ada masalah?”
“Hm…..”
“Ya,siapa tahu ibu bisa bantu. Sesama tetangga kitakan harus saling membantu,”
***
“Begini
loh, Mi,” Bu Hani yang terus memburu hingga sampai di rumah Mi.
“Sayang loh, kalau sudah keluar uang, tapi tidak jadi berangkat. Saya
bantu, pasti saya bantu. Apalagi dirimu sudah hamil begini,”
“Tapi,Bu…”
“Ah,
tenang saja. Tidak akan ada yang tahu. Saya tidak pernah akan cerita
ke siapa-siapa. Kalau ada yang tahu juga jangan dianggap. Tidak perlu
malu. Hampir semua orang yang ada di kampung ini pernah saya bantu. Pak
Kri waktu menikahkan anak perempuannya secara besar-besaran itu sampai
nanggap wayang segala, itu saya bantu loh. Tadi Mbak Na, warung yang
kau datangi tadi, juga baru saya bantu. Ini saya mau ke Pak Somad,
katanya anaknya butuh biaya. Jadi, jangan sungkan,” Bu Hani semangat
sekali membujuk Mi.
Mi
tercenung. Tak disangka ada jalan yang terbuka. Tapi ada keraguan
mengapa Bu Hani semangat sekali ingin membantunya. Darimana ia tahu Bo
berencana bekerja di luar negeri? Mengapa ia tak tahu bahwa Bu Hani
sangat giat membantu orang-orang di kampungnya? Ah… Pikiran Mi
melayang-layang. Tas plastik belanjaan masih berada di pangkuannya. Ia
berdiri. “Maaf sebentar Bu Hani, saya masukkan dulu belanjaan. Hm, mau
minum apa, Bu?”
“Tidak usah repot-repot Mi. Santai saja. Seperti dengan siapa saja. Ya, sudah belanjaannya dibawa masuk dulu.”
Mi
masuk meletakkan belanjaan di dapur. Pikirannya masih saja
melayang-layang. Ah, Kang Bo, impianmu bisa terwujud, untuk meraih
mimpi-mimpi kita bersama. Ada kesempatan di depan mata.Tapi mengapa?
“Jadi, bagaimana, Mi? Kebutuhannya berapa sih?”
“Besar sekali,Bu.Dua puluhl ima juta,”nada ragu tampak dari suara Mi.
“Oh, gampang, itu gampang, Mi.Ehm, tapi kamu punya sertifikat tanah rumah ini, kan?,”
Mi
tercekat. Rumah peninggalan orangtua merupakan kekayaan satu-satunya
yang ia miliki sekarang. Tidak.. Tidak akan aku lepas. Tidak akan aku
jual. Lama ia terdiam sampai beberapa kali Bu Hani menegurnya.
“Jangan
berpikir buruk dulu, Mi. Bukan Ibu hendak membeli. Tapi sebagai
jaminan. Ya, untuk jaga-jaga. Pinjam di Bank, sudah pakai jaminan,
birokrasinya berbelit-belit, belum tentu juga diberi,” ucap bu Hani
dengan nada penuh tekanan.
“Terima
kasih banyak, Bu. Terima kasih. Sungguh saya bahagia Ibu akan
membantu. Biar saya pikir-pikir dulu, ya Bu.Nanti malam akan saya
bicara kan dengan Kang Bo,”
“Iya, santai saja. Biar Ibu besok ke sini lagi,”
“Terimakasih, Bu.Terimakasih banyak.” Mi dalam rasa bahagia dan kebingungan serta prasangka yang berbaur.
Pandangan
mata Mi mengikuti Bu Hani yang melarikan motornya dengan santai hingga
hilang dalam pandangan setelah berbelok jalan.
Mi
merencanakan akan membuat kejutan. Ia tidak akan menceritakan hal ini
kepada Bo,suaminya.Biarlah ia terkejut ketika ada uang yang diserahkan
besok.
* * *
Keesokan
hari, di pagi hari sekitar pukul 10.00, Bu Hani datang. Penampilan
yang sama dengan kemarin dan seperti biasanya. Ia menggunakan sepeda
motor bututnya, dengan tali tas dikalungkan di leher. Tasnya sendiri
menggantung dan bersandar pada dadanya.
Mi
menyambut Bu Hani dengan gembira. Betapa baiknya orang ini. Ia yang
butuh,tetapi Bu Hanilah yang mendatanginya sendiri. Sungguh tetangga
yang melebihi saudara, demikian pikir Mi.
“Sertifikat rumah ini mana, Mi?”
“Ya, bu.Sudah saya siapkan,” Mi menyerahkan sertifikat tanah peninggalan keluarganya.
“Nah, sekarang, tandatangan di sini, ya..” Ibu Hani menunjuk satu tempat dari selembar kertas putih yang kosong.
“Loh….”
“Sudah tenang saja, Mi. Masak tidak percaya dengan ibu,”
Walau
dengan ragu, Mi kemudian menandatangani kertas kosong tersebut. Bu
Hani dengan wajah berseri-seri menyambut uluran kertas itu. Selanjutnya
iamemasukkan ke dalam map, mengeluarkan uang dari tasnya.
“Ini,Mi. Dihitung saja dulu, siapa tahu kurang,”
“Ah, percaya deh dengan Bu Hani,”
* * *
0 komentar:
Posting Komentar