Asih
berdiri di tepi pantai. Matanya menyiratkan kekaguman akan lukisan
keindahan yang tampak di depan matanya. Warna keemasan dari sunset senja
hari yang begitu menawan membuatnya tertegun. Tak sadar dalam hitungan
menit dia berdiri. Memasang kamera handphone dan siap mengabadikan
keindahan sang pencipta.
Dia terus memotret menggunakan hape sederhana.
Kakinya yang menapak di tumpukan batu yang tak beraturan di pinggir
pantai sesekali terlihat oleng. Entah apa nama pantai ini. Asih hanya
tahu sekarang dia berada di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Sudah
beberapa hari ini dia menikmati panorama alam tersebut, namun tak juga
dia merasa bosan. Setiap kali senja datang, Asih selalu berlari menuju
pantai. Dia ingin menikmati setiap momen keindahan yang dia temui dalam
perjalanannya. Perjalanan menentramkan batin, begitu Asih menyebutnya.
Sudah
dua minggu dia meninggalkan Desa Rangkat. Meninggalkan suami tercinta,
Bocing yang telah menikah lagi dengan Uleng. Asih tak sanggup berada
didekat mereka. Hatinya belum siap karena kejadian itu tak pernah dia
bayangkan. Dalam pikirannya yang polos, suaminya akan setia padanya.
Melupakan kejadian masa lalu seperti janji mereka saat akan menempuh
hidup baru. Namun janji tinggal janji. Ada takdir yang tak bisa mereka
tolak. Suaminya telah ditakdirkan untuk menikah lagi. Kata takdir yang
membuat Asih tak berkutik untuk menolak pernikahan tersebut.
Asih
terluka. Membawa lukanya menjauh dari Rangkat. Meninggalkan hingar
bingar Desa Rangkat yang semakin hari semakin ramai dengan warga baru.
Walau tak rela, Asih memaksakan diri untuk pergi. Pergi membawa luka
atau tinggal bersama luka. Tak ada bedanya. Dia tetap berada dalam
kubangan duka. Asih memilih berlalu dari kehidupan suaminya. Dia
berharap hatinya akan terobati dengan melihat berbagai hal yang
ditemuinya dalam perjalanan.
Siang
hari dia mungkin masih bisa tersenyum dan tertawa. Namun kala malam
menjelang, tangis tak lagi dapat dia bendung. Dia merindukan belaian
lembut suaminya. Kata-kata penuh sayang yang selalu diucapkan kala
mereka bersama. Sekarang suara itu tak terdengar lagi. Dia hanya pergi
membawa foto Bocing yang kebetulan masih tersimpan di hapenya. Itupun
nyaris terhapus saat dia tak sengaja memencet tombol di hape. Mata Asih
berkaca-kaca saat menyadari foto suaminya masih bisa terselamatkan.
Asih
memotret dengan hati terluka dan mata yang basah. Laut membuatnya
teringat akan Bocing. Selama ini suaminya berhubungan dengan laut karena
usaha ekspor ikan yang digelutinya. Susah payah Asih menghindar, dia
tetap juga akhirnya bertemu dengan pantai. Pantai yang selalu
mengingatkan dia akan sosok Bocing. Kenangan di pantai saat bersama di
Buli makin menambah pedih deretan kenangan yang ingin dia hapus.
Karena
terus memotret dan melamun dalam kesedihan, Asih tak menyadari
langkah-langkah kakinya. Dia terus melangkah tanpa melihat batu-batu
karang yang jadi pijakannya. Dalam hitungan detik tubuhnya oleng saat
pijakan kakinya meleset. Asih tak bisa mengendalikan diri.Tubuhnya melayang
dengan bayangan sunset dibelakangnya. Dia sudah pasrah akan terbaring
di pasir pantai. Dengan menutup mata, Asih bersiap untuk terjatuh.
Tapi
mendadak matanya membelalak kaget. Tubuhnya tak menyentuh pasir
dipantai. Dia bahkan tengah berada dalam dekapan seseorang. Seorang
pemuda yang tak dikenalnya. Pemuda itu mendekapnya dengan erat seolah
takut dia terlepas. Asih terpana. Untuk sesaat dia terdiam. Tak mengira
akan mengalami kejadian seperti ini. Tapi kemudian kesadarannya pulih.
Dia melepaskan dekapan pemuda tersebut, lalu menjauh beberapa langkah.
“
Terima kasih sudah menolong saya. Maaf sudah merepotkan.” Ucap Asih
dengan gugup. Baru kali ini dia didekap lelaki lain selain suaminya.
Perasaan aneh yang membuatnya merinding. Pemuda itu tersenyum manis.
Wajahnya yang tenang dihiasi jenggot tipis dan dalam balutan baju gamis mengingatkan Asih akan sosok Bocing.
“
Tidak apa-apa, mbak. Kebetulan saja saya berada tidak jauh dari mbak
jadi saya refleks berlari saat mbak hampir terjatuh.” Jawab pemuda itu
dengan santun.
“ Makasih ya..” ucap Asih lagi.
“ Sama-sama. Saya permisi dulu, mbak. Mau ke mesjid. Oh, ya mbak tinggal dimana? Sepertinya mbak bukan warga sini.”
“ Iya. Saya baru tiga hari tinggal di desa ini. Saya menginap dirumah pak Desa. Ada kerjaan sedikit.”
“
O, begitu. Kalau saya tinggal di mesjid. Tadi berkunjung ke rumah
warga. Saya permisi dulu. Lain kali hati-hati ya mbak. Jangan berdiri
diatas batu-batu karang itu lagi.”
Pemuda
itu melangkah meninggalkan Asih yang masih menatapnya dengan sorot mata
yang lain. Sorot mata yang berisi bayangan Bocing. Mengapa dia harus
mengalami kejadian ini? Saat dia ingin melepaskan diri dari
bayang-bayang Bocing, dia justru makin didekatkan pada sosok suaminya
itu.
*****
Hari-hari
selanjutnya tak lagi sama. Sosok seorang pemuda yang hadir menolongnya
sore itu memberi setitik embun dalam hati Asih yang terluka. Pulang ke
rumah dia terus teringat akan pemuda tersebut. Senyumnya yang terlihat
lembut serta tutur bahasanya yang santun, telah meninggalkan pesona
tersendiri dalam hati Asih. Dia terlupa akan statusnya yang masih jadi istri Bocing.
Saat terdengar Adzan maghrib, Asih tiba-tiba tergetar. Suara Adzan begitu merdu terdengar.
“
Ayo ke mesjid mbak Asih. Sesekali sholat di mesjid.” Ajak ibu kepala
desa yang telah mengenakan mukena. Pak Desa keluar dari kamar dan segera
menuju mesjid.
“ Tunggu ya, bu. Saya ambil mukena dulu.” Ucap Asih lalu bergegas mengambil mukena.
Sebenarnya
sejak tiba di desa tersebut, Asih ingin setiap maghrib bisa
melaksanakan sholat di mesjid. Namun karena halangan bulanan yang tiap
bulan menimpa wanita, maka baru hari ini dia bisa berkesempatan untuk
menjejakkan kakinya di mesjid tersebut.
Jarak
mesjid dengan rumah kepala desa tidak terlalu jauh. Hanya melangkah
beberapa meter, mereka telah tiba di pelataran mesjid. Nampak beberapa
jamaah bergegas untuk melaksanakan sholat maghrib. Setelah mengucapkan
salam, Asih melangkah masuk memasuki bangunan mesjid yang sederhana.
Selesai
sholat maghrib tak lupa Asih berdoa. Dengan khusyuk dia memanjatkan
doa. Ada tetesan air mata yang ikut mengiringi doanya. Banyak
pengharapan yang dia pinta. Ketenangan batin dan kebahagiaan keluarganya
yang utama.
“
Mbak Asih, sudah selesai doanya?” tegur ibu kepala desa. Asih
mengangguk. Mereka lalu berdiri dan beriringan keluar dari mesjid
bersama jamaah yang lain.
“
Assalamu Alaikum, bu kades..” ucapan salam dari seseorang membuat
mereka berbalik. Nampak pemuda yang tadi sore menolong Asih yang hampir
terjatuh. Ibu kepala desa dan Asih tersenyum saat melihat pemuda yang
menyapa mereka.
“ Wa alaikum salam,mas Firman.” Balas bu kades. “ Ada apa, mas Firman?” lanjut bu kades.
“ Maaf, bu. Saya menemui ibu disini. Saya hanya ingin memastikan, rencana ibu untuk membuat TPA, apakah itu benar?”
“ Benar mas Firman. Siapa yang memberitahu mas Firman?”
“
Salah seorang warga. Saya senang mendengarnya, bu. Kami memang berniat
membicarakan dengan bapak kepala desa. Kalau ibu memerlukan bantuan
saya, ibu bisa menghubungi saya.”
“ Iya, makasih ya, mas Firman.”
“ Kalau begitu saya permisi dulu, bu. Assalamu Alaikum.”
“ Wa alaikum salam.” Jawab Asih dan ibu kepala desa bersamaan.
“
Mas Firman memang orang yang baik. Dia belum sebulan berada di desa
kami.” Bu kades membuka pembicaraan dalam perjalanan pulang.
“
Selain baik, saleh dan ganteng, dia juga masih bujangan. Dia pernah
ngomong ke ibu, semoga bisa menemukan jodoh di desa ini. Dia berharap
bisa menetap selamanya di desa ini.” Asih menyimak perkataan ibu kades.
“ Mbak Asih sudah menikah?” Asih mengangguk.
“ Iya, bu. Suami saya ada di Desa Rangkat.”
“ Sayang sekali. Padahal ibu lihat kalian sangat cocok. Pas sebagai pasangan.”
Asih tersenyum geli. Dia tak mengira ibu kades akan mengucapkan kalimat seperti itu.
“ Hehehe..ibu bisa saja. Masih banyak gadis yang bisa dijadikan istri. Saya sudah menikah,bu.”
Pembicaraan
mereka terhenti ketika tiba di depan rumah. Pembicaraan yang terkesan
tak berarti. Ibu kades tidak tahu kalau ucapannya membuat Asih akhirnya
memikirkan masa depan rumah tangganya bersama Bocing. Asih duduk
merenung di pembaringan. Pikirannya berkecamuk. Menghadirkan masa lalu
dalam lamunannya. Sosok Firman tak disadarinya telah membuat hatinya
goyah. Walau berusaha bertahan dengan kesetiaan, sekelebat bayangan
Firman melintas saat mendekapnya di tepi pantai. Asih terhenyak. Dia
sadar telah melakukan dosa. Bagaimanapun dia masih menjadi istri Bocing,
haram memikirkan lelaki lain selain suaminya. Asih bangkit lalu
bergegas keluar kamar. Dia menuju dapur untuk membantu ibu kades
menyiapkan makan malam. ****
ECR-3#97
0 komentar:
Posting Komentar