Senin, 16 April 2012

Laut dan Cinta

0



1314856317352607799

Perahu itu perlahan-lahan meninggalkan pelabuhan kecil sederhana yang hanya terdiri dari susunan batu-batu karang dari laut.

“ Jangan bergerak ya, mbak. Perahu ini bisa oleng kalau terlalu banyak bergerak. Tetap jaga keseimbangan.” Pak tua itu mengingatkan Fita. Fita mengangguk dengan wajah diliputi rasa takut. Pertama kalinya dia naik perahu sekecil ini. Dia terpaksa harus memberanikan diri karena tak ada transportasi lain yang bisa digunakan menuju pulau-pulau itu selain menggunakan perahu.

“ Berapa lama baru tiba di pulau itu, pak?” tanya Fita saat mesin dinyalakan. Perahu mulai bergerak cepat.

“ Kira-kira satu jam, mbak. Semoga ombak tidak kencang. Kalau ombak tinggi, perjalanan kita akan jadi lambat karena harus melawan ombak.”


Fita mulai membungkus tubuhnya dengan tenda plastik yang diberikan bapak itu. Dia melebarkan tenda menutupi tubuh dan sedikit wajahnya agar air laut tak membasahinya. Sesekali ombak keras menyentuh perahu dan membuat semburan air laut naik ke perahu.

“ Tutup kepala saja mbak, sepertinya ombak akan tinggi.” Bapak tua itu mengingatkan. Fita segera menyembunyikan kepalanya di balik tenda plastik itu. Dia tertunduk sambil memperhatikan jam tangannya. Satu jam lagi dia akan tiba di pulau seberang. Sepertinya membosankan kalau hanya memandangi jam tangannya. Fita mengeluarkan headset lalu memutar lagu dari handphonenya. Tindakannya itu lumayan mengurangi rasa jenuh yang mulai hadir dalam dirinya. Dia lalu asyik mendengarkan lagu-lagu.

Tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya. Fita berbalik.

“ Kenapa kamu tidak bilang mau kepulau ini? Aku bisa menjemputmu.” Fita tak bersuara. Dia masih kaget karena kehadiran Heru, mantan kekasihnya.

“ Mas Heru? Kenapa bisa ada disini? Kapan naiknya?” tanya Fita penasaran.

Heru tertawa.

“ Kamu ketiduran hingga tidak tahu tadi aku naik perahu ini.” Jawabnya dengan senyum menggoda.

Fita belum sempat berpikir saat Heru memegang tangannya.

“ Mau ikut denganku?” ajaknya.

“ Kemana? Kita kan masih di tengah laut?”

“ Kelihatannya saja laut, tapi sebenarnya kita bisa melangkah.”

“ Kok bisa begitu? Mas Heru bercanda ya?” Fita melihat sekeliling. Anehnya dia tidak melihat pak tua yang tadi bersamanya.

“ Berdirilah. Lihat aku berjalan lalu kamu ikut. Kamu harus percaya kalau aku bisa membawamu berjalan diatas laut.” Fita melepaskan tangannya dari genggaman Heru. Dia merasa takut dengan ajakan Heru tersebut.

Heru berdiri lalu keluar dari perahu. Fita terperangah saat melihat Heru benar-benar berdiri dan berjalan diatas air layaknya berjalan di atas tanah. Dia tak terlihat takut sedikitpun.

“ Ayolah ikut denganku. Kamu juga bisa seperti aku.” Suara Heru terdengar mantap. Dia mengulurkan tangannya. Walau ada rasa takut, namun Fita tak kuasa menolak. Dia berdiri lalu bersiap-siap melangkah keluar dari perahu.

“ Mbak! Mau kemana? Jangan berdiri atau bergerak! Mbak bisa jatuh!” teriakan seseorang membuat Fita berbalik. Dia melihat wajah pak tua itu sangat pucat dan cemas. Dia berbalik mencari Heru namun Heru telah menghilang entah kemana.

“ Duduk lagi mbak. Jangan berdiri. Mbak bisa jatuh ke laut.” Dengan gemetar Fita duduk kembali di perahu. Dia membaca doa berulang-ulang. Dalam pikirannya bayangan penunggu laut melintas.

“ Apa itu penunggu laut yang menegurku karena tak mengucapkan salam saat akan melintas di laut ini?” pikir Fita. Dia tidak berani memberitahukan kejadian yang baru saja dia alami pada pak tua itu. Jika tadi Fita merasa ngantuk, kini rasa kantuknya hilang dan berganti dengan rasa takut. Dia tak lagi menutup wajahnya dengan tenda. Rasa takut membuatnya rela menerima semburan air laut. Fita tidak ingin melamun lagi. Dia takut penunggu laut itu kembali mendatanginya.

Malamnya saat akan malam di rumah kepala desa, Fita menceritakan kejadian yang menimpanya. Pak Desa nampak kaget mendengar ceritanya.

“ Dia ternyata mengenalmu. Itu nak Fikri, dia tewas tenggelam saat akan ke kota. Kekasihnya memang sangat mirip dengan nak Fita. Bapak saja tadi terkejut saat pertama kali melihatmu. Ternyata ada orang yang benar-benar mirip ya.”

Kejadian yang dialami Fita ternyata pertama kali terjadi. Sejak meninggal lima tahun yang lalu, tak seorangpun yang pernah bertemu dengan Fikri. Andai tidak mengalami sendiri, mungkin Fita tidak akan percaya. Tapi kejadian ini membuatnya yakin kalau yang bertemu dengannya benar-benar Fikri. ****

____________________________________________

0 komentar:

Posting Komentar