Wajah
sahabatku itu nampak pucat. Kulitnya yang putih dengan tubuh kurus
makin menambah kesan penderitaan yang tengah dia alami. Sungguh kontras
dengan situasi rumahnya yang saat ini tengah ramai. Seluruh keluarga
besarnya berkumpul untuk mempersiapkan acara pernikahannya. Senyum dan
gelak tawa terdengar dari seluruh ruangan kecuali dari dalam kamarnya.
Aku
yang sejak semalam menemaninya tidur, hanya bisa menyimak semua
ucapannya. Menjadi pendengar setia sambil sesekali memberikan dukungan
moril agar dia tetap tabah. Sejak aku datang, dia hanya berbaring.
Tubuhnya makin terlihat lemah karena tidak ada gairah untuk makan.
“
Aku tidak mau makan. Biar saja mati.” Ucapnya dengan sedih lalu
berbalik memeluk bonekanya. Tantenya yang mengantar makanan hanya
mengangkat bahunya lalu menyerahkan makanan itu padaku.
“
Simpan saja. Nanti mamanya marah kalau tahu makanan ini kembali.” Bisik
tantenya seolah takut terdengar orang yang lalu lalang di depan kamar.
Aku mengangguk sambil tersenyum lalu menutup pintu kamar.
Kuletakkan
makanan itu diatas meja lalu duduk di lantai. Tubuhku bersandar disisi
pembaringan.Kupandangi tubuhnya yang membelakangiku. Aku merasa kasihan
melihatnya. Dari hari ke hari tubuhnya makin kurus saja. Padahal pertama
kali kami menjalin persahabatan di awal kuliah, tubuhnya tidak sekurus
itu.
Tiba-tiba dia berbalik. Dia menangis sambil menyodorkan obat padaku. Aku mengambil obat itu lalu membacanya.
“ Kamu tahu macam-macam obat, kok aku minum ini tidak ada reaksi sama sekali.” Ucapnya tenang.
“ Kamu minum ini?” aku kaget saat melihat jenis obat penenang yang dia minum. Dia mengangguk.
“ Aku minum empat.” Aku lebih kaget lagi.
“
Empat? Fira, ini obat keras. Dosisnya tinggi. Kamu minum sepertempat
aja udah cukup. Kenapa kamu minum empat?” Dia tersenyum miris. Airmata
kini berlinang lagi dari pelupuk matanya.
“
Kamu bisa over dosis. Masih lumayan kalo kamu tertidur. Tapi kalo kamu
mati. Kamu kan mau menikah? Hari ini pesta mu diadakan. Seharusnya kamu
jangan minum obat seperti ini.”
Aku dengan panik menjelaskan padanya karena aku tahu akibat dari meminum obat tersebut secara berlebihan.
“ Bagus kalo aku mati. Daripada aku hidup tapi serasa mati. Bagaimana? Kan lebih baik aku mati.”
“
Fira, jangan berpikir seperti itu.Aku tahu kamu tidak menghendaki
pernikahan ini. Tapi ini kan juga pilihanmu. Kamu setuju untuk menikah
walau sekarang kamu berubah pikiran. Tapi semua itu sudah terlambat.
Orang tuamu mempertaruhkan kehormatan mereka. Jangan menambah kemarahan
orang tuamu.”
Aku mencoba mengingatkan Fira tentang masalahnya. Pernikahan ini bukan keinginannya walau awalnya dia menerima. Fira
terpaksa menerima pernikahan ini karena baru saja di putuskan Rahmat,
kekasih yang sangat dia cintai. Dengan rasa sakit hati dia menyetujui
pinangan yang datang pada orang tuanya.
Dua
minggu sebelum pernikahan, kekasihnya mendatanginya lagi. Meminta maaf
dan memohon agar Fira membatalkan pernikahannya. Fira bimbang. Walau
dengan tegas menolak, tapi lama kelamaan dia kasihan juga pada
kekasihnya. Permintaan maaf dari Rahmat telah meluluhkan hatinya.
Dengan
nekad, Fira meminta orang tuanya membatalkan pernikahan. Tapi semua
sudah terlambat. Bukan rasa kasihan yang dia terima, melainkan amarah
yang meledak. Tak ada ampunan lagi jika dia berani membatalkan
pernikahan ini. Ayah dan ibunya memberi ultimatum. Jika Fira berani
melarikan diri, maka ayah dan ibunya akan mati bersama.
Fira
tak berdaya. Hingga hari ini kesedihan terus membayang di wajahnya.
Matanya sembab. Kulit wajahnya menjadi kemerahan karena terus menerus
menangis. Sebagai sahabat aku sangat iba melihatnya. Tapi aku hanya bisa
memegang tangannya. Mengelus rambutnya agar dia tabah menerima
kenyataan.
Ketika
perias datang dan merias wajahnya, beberapa kali dia mengusap air
matanya. Riasan yang cantik tidak bisa menutupi kesedihan dari pancaran
matanya. Tak ada semangat. Fira terlihat seperti robot yang pasrah
diapakan saja. Benar-benar menyedihkan. Aku tak sanggup menahan air mataku yang tiba-tiba saja mengalir.
Apalagi
ketika calon pengantin lelaki datang dan siap-siap mengucapkan ijab
qabul. Fira seperti akan kehilangan nyawanya. Dia terus menggenggam
jemari tanganku seolah meminta kekuatan.
“
Sabarlah, Fira. Kamu ikuti perintah orang tuamu. Insya Allah, kamu akan
melihat hal yang baik karena sudah patuh pada orang tua.” Kataku sesaat sebelum pengantin lelaki memasuki kamar Fira. ***
0 komentar:
Posting Komentar