Senin, 16 April 2012

Sabarlah Sahabatku

0

1316839883403133684

Wajah sahabatku itu nampak pucat. Kulitnya yang putih dengan tubuh kurus makin menambah kesan penderitaan yang tengah dia alami. Sungguh kontras dengan situasi rumahnya yang saat ini tengah ramai. Seluruh keluarga besarnya berkumpul untuk mempersiapkan acara pernikahannya. Senyum dan gelak tawa terdengar dari seluruh ruangan kecuali dari dalam kamarnya.

Aku yang sejak semalam menemaninya tidur, hanya bisa menyimak semua ucapannya. Menjadi pendengar setia sambil sesekali memberikan dukungan moril agar dia tetap tabah. Sejak aku datang, dia hanya berbaring. Tubuhnya makin terlihat lemah karena tidak ada gairah untuk makan.


“ Aku tidak mau makan. Biar saja mati.” Ucapnya dengan sedih lalu berbalik memeluk bonekanya. Tantenya yang mengantar makanan hanya mengangkat bahunya lalu menyerahkan makanan itu padaku.

“ Simpan saja. Nanti mamanya marah kalau tahu makanan ini kembali.” Bisik tantenya seolah takut terdengar orang yang lalu lalang di depan kamar. Aku mengangguk sambil tersenyum lalu menutup pintu kamar.

Kuletakkan makanan itu diatas meja lalu duduk di lantai. Tubuhku bersandar disisi pembaringan.Kupandangi tubuhnya yang membelakangiku. Aku merasa kasihan melihatnya. Dari hari ke hari tubuhnya makin kurus saja. Padahal pertama kali kami menjalin persahabatan di awal kuliah, tubuhnya tidak sekurus itu.

Tiba-tiba dia berbalik. Dia menangis sambil menyodorkan obat padaku. Aku mengambil obat itu lalu membacanya.

“ Kamu tahu macam-macam obat, kok aku minum ini tidak ada reaksi sama sekali.” Ucapnya tenang.

“ Kamu minum ini?” aku kaget saat melihat jenis obat penenang yang dia minum. Dia mengangguk.

“ Aku minum empat.” Aku lebih kaget lagi.

“ Empat? Fira, ini obat keras. Dosisnya tinggi. Kamu minum sepertempat aja udah cukup. Kenapa kamu minum empat?” Dia tersenyum miris. Airmata kini berlinang lagi dari pelupuk matanya.

“ Kamu bisa over dosis. Masih lumayan kalo kamu tertidur. Tapi kalo kamu mati. Kamu kan mau menikah? Hari ini pesta mu diadakan. Seharusnya kamu jangan minum obat seperti ini.”

Aku dengan panik menjelaskan padanya karena aku tahu akibat dari meminum obat tersebut secara berlebihan.

“ Bagus kalo aku mati. Daripada aku hidup tapi serasa mati. Bagaimana? Kan lebih baik aku mati.”

“ Fira, jangan berpikir seperti itu.Aku tahu kamu tidak menghendaki pernikahan ini. Tapi ini kan juga pilihanmu. Kamu setuju untuk menikah walau sekarang kamu berubah pikiran. Tapi semua itu sudah terlambat. Orang tuamu mempertaruhkan kehormatan mereka. Jangan menambah kemarahan orang tuamu.”

Aku mencoba mengingatkan Fira tentang masalahnya. Pernikahan ini bukan keinginannya walau awalnya dia menerima. Fira terpaksa menerima pernikahan ini karena baru saja di putuskan Rahmat, kekasih yang sangat dia cintai. Dengan rasa sakit hati dia menyetujui pinangan yang datang pada orang tuanya.

Dua minggu sebelum pernikahan, kekasihnya mendatanginya lagi. Meminta maaf dan memohon agar Fira membatalkan pernikahannya. Fira bimbang. Walau dengan tegas menolak, tapi lama kelamaan dia kasihan juga pada kekasihnya. Permintaan maaf dari Rahmat telah meluluhkan hatinya.

Dengan nekad, Fira meminta orang tuanya membatalkan pernikahan. Tapi semua sudah terlambat. Bukan rasa kasihan yang dia terima, melainkan amarah yang meledak. Tak ada ampunan lagi jika dia berani membatalkan pernikahan ini. Ayah dan ibunya memberi ultimatum. Jika Fira berani melarikan diri, maka ayah dan ibunya akan mati bersama.

Fira tak berdaya. Hingga hari ini kesedihan terus membayang di wajahnya. Matanya sembab. Kulit wajahnya menjadi kemerahan karena terus menerus menangis. Sebagai sahabat aku sangat iba melihatnya. Tapi aku hanya bisa memegang tangannya. Mengelus rambutnya agar dia tabah menerima kenyataan.

Ketika perias datang dan merias wajahnya, beberapa kali dia mengusap air matanya. Riasan yang cantik tidak bisa menutupi kesedihan dari pancaran matanya. Tak ada semangat. Fira terlihat seperti robot yang pasrah diapakan saja. Benar-benar menyedihkan. Aku tak sanggup menahan air mataku yang tiba-tiba saja mengalir.

Apalagi ketika calon pengantin lelaki datang dan siap-siap mengucapkan ijab qabul. Fira seperti akan kehilangan nyawanya. Dia terus menggenggam jemari tanganku seolah meminta kekuatan.

“ Sabarlah, Fira. Kamu ikuti perintah orang tuamu. Insya Allah, kamu akan melihat hal yang baik karena sudah patuh pada orang tua.” Kataku sesaat sebelum pengantin lelaki memasuki kamar Fira. ***

0 komentar:

Posting Komentar