Selasa, 03 April 2012

Senyumku Untukmu

0

13291440192143348127

Alarm hape berbunyi. Rino terbangun dan menggerakkan tangannya mencari hape yang tertutup dengan bantal. Tangannya meraba-raba lalu memencet hape tersebut, mematikan alarm yang terus saja berbunyi. Sadar hari ini hari minggu, Rino kembali menarik selimut dan akan melanjutkan tidur ketika dia tersentak bangun.

” Astaga, aku ada janji hari ini!” Seru Rino kaget lalu melompat dari tempat tidur. Dia berlari masuk ke dalam kamar mandi setelah menyambar handuk di atas kursi. Rino mandi lumayan lama, maklum hari ini adalah hari istimewa. Dia ingin tampak sempurna. Tak boleh gagal di kencan pertama, pikirnya.

Beberapa hari yang lalu, Rino berkenalan dengan seorang gadis. Namanya Pratiwi. Bukan sifat Rino yang mudah tertarik dengan lawan jenis. Dia tergolong malas menjalin hubungan pertemanan dengan perempuan. Kebanyakan temannya adalah laki-laki. Karena itu tidak heran jika di kantor beredar gosip kalau Rino seorang gay atau homo.

Namun Rino tidak peduli dengan gosip tersebut. Dia bahkan hanya tertawa.

” Hanya Allah yang tahu, aku lelaki tulen atau bukan.” katanya sambil melangkah meninggalkan  wajah-wajah heran teman-teman sekantornya.

” Apa benar, ya?” bisik-bisik terdengar dari obrolan temannya setelah Rino berlalu. Sebagian hanya mengangkat bahu dan merengut.

” Entahlah. Maybe yes, maybe no.” kata mereka lalu pertemuan gosip siang itu kemudian bubar hilang bersama rutinitas kerja yang melelahkan.

Bagaimana dengan Rino? terlalu sering mendengar gosip tentangnya membuat Rino geram namun tak ingin membalas dengan cara yang ekstrim. Misalnya mengadakan rapat mendadak di ruang rapat lalu mengumpulkan seluruh karyawan kantor untuk meluruskan berita tentang dirinya. Bukan juga dengan cara menjelaskan ke setiap orang tentang alasan mengapa hingga kini dirinya  masih jomblo. Rahasia itu biar jadi miliknya saja bukan untuk di ketahui seluruh masyarakat.

Perbincangan  tadi rupanya membekas dan meninggalkan kesan mendalam buat Rino. Saat berlalu dan meninggalkan teman-temannya, Rino masuk ruang kerja dan menghempaskan tubuhnya di  kursi empuk miliknya. Berulangkali dia menghelas nafas, berusaha menenangkan dirinya. Dia marah karena gosip itu tidak juga mereda.

” Apa salahnya kalau aku masih sendiri dan tidak tertarik dengan perempuan? Apa aku harus memaksa diri menyukai seseorang padahal aku tidak menyukainya. Itu munafik namanya.” umpatnya sambil membuka dokumen di depannya.

Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Rino menoleh dan menunggu siapa gerangan yang membuka pintu dan masuk ruangannya tanpa memberi salam. Benar-benar tidak sopan, batinnya kesal. Rino baru saja memalingkan pandangannya ke dokumen namun kembali dia menoleh cepat dan menatap tak berkedip seseorang yang masuk dalam ruangannya.

Seorang gadis muncul dan memberi senyum manis yang sangat memikat. Wajahnya tidak terlalu cantik bahkan tergolong standar. Tubuhnya langsing dengan kulit kuning langsat yang indah. Dia menyapa sambil melangkah mendekati Rino.

Rino terpana bagai patung hingga terlupa untuk membalas salam gadis tersebut.

” Selamat siang, pak.” ulangnya dengan sikap yang sama, ramah dan sangat manis.

Rino tersadar lalu buru-buru tersenyum. Karena gugup dan gemetar, tak sengaja Rino menjatuhkan dokumen ke lantai. Dia menunduk mengambil dokumen lalu kembali tegak berusaha bersikap tenang. Hati Rino bergemuruh. Rasa yang sekian lama hilang dalam hatinya, tiba-tiba hadir kembali. Untuk sesaat Rino hilang konsentrasi. Dia tak bisa menenangkan dirinya hingga akhirnya karena tak tahan, Rino bangkit lalu berjalan menuju water dispenser untuk mengambil air minum.

Beberapa teguk akhirnya bisa mengembalikan ketenangan Rino. Dia tidak menyadari, gadis itu terus menunggu dengan sabar sambil berdiri. Ketika berbalik, Rino sadar telah lupa mempersilahkan perempuan itu untuk duduk.

Tergesa dia kembali ke tempat duduknya.

” Silahkan, silahkan duduk. Maaf, saya agak pusing hari ini. Maaf..” katanya dengan rasa gugup. Setiap kali memandang wajah gadis di depannya, jantung Rino berdetak cepat.

Gadis  itu menarik kursi lalu duduk di depan meja Rino. Tangannya membuka map lalu mengeluarkan selembar kertas.

” Perkenalkan, pak. Nama saya Pratiwi. Ini surat tugas saya. Saat ini saya sedang menyusun skripsi dan kebetulan perusahaan ini yang menjadi obyek penelitian saya.” ucapnya lalu menyorongkan kertas itu ke depan Rino.

Rino mengambil lalu membaca kertas itu. Matanya membaca namun dia tetap sulit untuk memusatkan pikiran. Bayangan wajah gadis itu justru yang terlihat dalam kertas tersebut. Rino meletakkan kertas  karena tak sanggup lagi menahan debar aneh di hatinya.

” Saya sudah melapor ke bagian administrasi dan ditunjukkan ruangan ini.” Ucap Pratiwi dengan mata bening yang sangat memikat. Rino menelan ludah. Ada apa denganku? jeritnya dalam hati.

” Jadi apa yang bisa saya bantu?” tanya Rino. Dia menatap lalu menunduk melihat meja. Tak sanggup menyaksikan wajah manis di depannya.

Pratiwi mengeluarkan beberapa lembar kertas lalu menyerahkan ke Rino.

” Ini, pak. Di situ tertera data-data yang saya perlukan. Kalau bapak tidak keberatan, saya ingin mengambil datanya hari ini.”

Rino berpikir keras. Harus ada pemecahan dari masalahnya. Jika dia memberikan data itu hari ini, maka kemungkinan Pratiwi akan kembali sangat sulit padahal dia masih ingin bertemu dengan Pratiwi. Rino sadar rasa dalam hatinya bukan rasa yang biasa. Dia ingin menuntaskan rasa penasarannya.

” Bagaimana kalau besok saja. Soalnya tidak mudah mengumpulkan data-data itu secara mendadak. Saya harus mengumpulkan dokumen-dokumennya lalu di berikan kepada mbak.” Ucap Rino dengan mantap.

Pratiwi terlihat tenang.

” Oh, kalau begitu saya kembali besok saja ya, pak. Terima kasih atas bantuannya.” Ucapnya lalu berdiri. Rino berdiri dan dengan cepat menerima uluran tangan dari Pratiwi.

” Makasih.” Pratiwi mengulang ucapannya sambil tersenyum lalu melangkah menuju pintu. Dia membuka pintu kemudian keluar. Pratiwi tidak tahu, sepeninggalnya Rino menyandarkan tubuhnya di kursi dan menutup mata. Ujung matanya mengalirkan air mata namun buru-buru di usapnya.

” Aku merindukanmu, Saskia.” gumamnya pedih. Bayang masa lalu hadir dalam pikirannya.

*******

Esoknya, sesuai janji, Pratiwi datang dan menemui Rino. Dokumen yang dia perlukan telah tertata di atas meja di seberang Rino.

” Silahkan di lihat, mbak. Semua data yang mbak perlukan ada di sini.” ucap Rino sambil menarik kursi lalu mempersilahkan Pratiwi untuk duduk.

Pratiwi duduk dan mulai membuka dokumen-dokumen itu. Dia tidak menyadari sepasang mata Rino terus menatapnya. Sosoknya membawa Rino menjauh dari kehidupan kini ke  masa lalu yang melintas dan membuat Rino seolah berada di tempat lain. Tempat yang indah yang hanya ada dia dan Saskia.

” Aku suka dengan senyummu, mas. Sangat manis dan lembut.” ucapan Saskia terngiang kembali.

Akh, Saskia. Masihkah senyumku terlihat menawan? aku ragu bisa tersenyum saat ini. Tidak seperti ketika ada dirimu. Senyum tulus tak sulit hadir di wajahku karena aku memilikimu. Sekarang aku merasa sulit untuk tersenyum riang seperti kala bersamamu.

” Maaf, pak.” suara Pratiwi membuyarkan lamunan Rino. Pratiwi telah berdiri dengan membuka dokumen di depannya.

” Saya sudah melihat semua dokumen dan sepertinya untuk mencatat secara manual akan sangat lama. Karena itu saya bermaksud untuk mengcopy saja. Kalau bapak mengijinkan, saya mau meminjam untuk mengcopy di luar.” Ucap Pratiwi penuh harap.

Rino berpikir sejenak. Dia ingat aturan yang berlaku dalam kantornya. Dokumen penting tidak boleh di pinjam keluar meski hanya sebentar.

” Ehm, begini saja. Mbak tetap di sini, nanti saya menyuruh orang untuk mengcopy. Bagaimana?” Pratiwi mengangguk setuju.

Rino lalu memanggil seseorang untuk mencopy tugas tersebut. Sambil menunggu, mereka berdua larut dalam perbincangan yang seru. Makin lama Rino tak bisa lagi menahan hasrat dalam dirinya untuk mengenal lebih jauh sosok Pratiwi. Gayung bersambut, Pratiwi rupanya juga bersikap sama dengannya. Meski belum sepenuhnya terbuka namun Rino merasa semakin menyukai Pratiwi padahal mereka baru bertemu kemarin.

Hari itu berlalu dengan rasa bahagia dalam hati Rino. Dia dan Pratiwi telah saling bertukar nomor hape. Harapan membuncah dalam dada Rino. Kebahagiaan yang dulu hilang dari hatinya, akhirnya perlahan mulai kembali. Rino terus berdoa agar kali ini mimpinya benar-benar menjadi kenyataan. Ucapan Pratiwi semalam ketika Rino menelponnya, makin menambah kebahagiaan Rino. Gadis itu menerima cintanya.

Pagi ini sebelum bertemu dengan Pratiwi,  Rino datang ke pemakaman. Dengan menggenggam seikat melati dia melangkah menyusuri pemakaman sambil matanya terus mencari. Setelah tiba di salah satu makam, Rino menghentikan langkahnya. Dia bersimpuh lalu dengan perlahan menaruh melati itu di makam yang bertuliskan SASKIA PUTRI.

” Maafkan aku Saskia. Baru kali ini aku berani datang menengokmu. Aku takut karena belum bisa menepati janji padamu. Aku tidak bisa tersenyum dengan tulus seperti permintaanmu. Berulangkali mencoba, aku selalu gagal. Kamu pergi membawa senyumku bersamamu. Bagaimana aku bisa tersenyum dengan bahagia seperti saat kita bersama? Sekarang aku berani datang, karena aku merasa bisa tersenyum lagi. Senyum yang kau pinta sebelum meninggalkanku. Kamu tahu kenapa aku bisa tersenyum seperti dulu lagi? karena aku menemukan dirimu kembali.  Wajah gadis itu sekilas mirip denganmu meski tidak sama. Dia bukan dirimu dan dia berbeda darimu. Namun aku sadar, menemukan orang sepertimu adalah hal yang mustahil. Karena itu aku akan mencoba untuk menerima Pratiwi seperti apa adanya dirinya. Aku tidak akan membandingkan kalian berdua karena kalian sama istimewanya buatku. Kalian hadir mengisi hatiku di waktu yang berbeda. Memberikan rasa bahagia yang sama untukku. Jangan cemburu padanya. Kamu tetap ada di hatiku dan tak akan pernah hilang. Kumohon relakan aku bersama Pratiwi. Aku yakin kamu pasti setuju karena dia bisa menghadirkan senyumku kembali.”

Rino berdoa, lalu berdiri. Dia menatap sekali lagi makam Saskia lalu melangkah meninggalkan makam dengan penuh rasa haru. Hari ini dia telah menepati janjinya pada Saskia. Janji yang sekian lama baru sanggup dia tepati. Angin yang berhembus serta bunga kemboja yang berjatuhan seolah merestui langkah Rino memulai lembaran baru hidupnya bersama gadis bernama Pratiwi.

***********

0 komentar:

Posting Komentar