Selasa, 03 April 2012

[Cinta Pertama] Karena Kau Sayang Padaku

0

132903694442802874

Lembar kisah tentangmu masih ku ingat, meski telah terhempas dan terlepas dari genggaman. Aku tak mungkin lupa tiap kata dan kalimat yang tersusun menjadi paragraf indah yang mewakili rasa kita berdua. Meski di awal, dirimu yang mulai menyanyikan senandung pemikat namun aku pasrah mendengarnya dan membiarkan diriku terlena. Aku suka mendengarnya.

Nyanyian-nyanyian cinta saling bersahutan di antara kita. Kita serupa burung yang lepas dan bebas menikmati indahnya cinta. Pesonamu jelas terlihat, namun diriku? hingga kini aku masih memendam tanya. Kala itu benarkah rasa mu untukku? Meski aku yakin akan hatimu, namun sering dalam kesendirianku, aku meragukannya. Entahlah. Ada bagian diriku yang selalu menolak kala kuanggap dirimu tulus.

Aku terus bertahan dengan pikiranku. Bagiku kau sangat menyayangiku. Bukan karena kau yang pertama menghadirkan cinta dalam kehidupanku. Bukan karena perhatianmu yang luar biasa untukku. Namun keberanianmu untuk datang dan meminta diriku menjadi pendamping hidupmu membuatku terharu. Belum lama, hanya seumur jagung dari perkenalan kita namun niat sucimu membawaku terbang. Bahagia merasa di cinta.

Meski kemudian langit berubah mendung dan menghadirkan hujan yang  deras, dirimu dan diriku tetap bertahan.  Aliran air yang semakin deras membentuk sungai dan memisahkan kita. Di sini aku berdiri menatap pilu. Di seberang dirimu terus bertahan. Berharap ada mujizat yang bisa menyatukan kita. Meski ingin terbang, sayap kita telah hilang, lenyap bersama wajah-wajah penuh amarah. Tak ada ruang untuk kita mengucap janji suci. Cintaku yang malang.

Cinta pertamaku hilang bersama sayap kebahagiaanku. Aku sendiri terus menatap bayangmu yang sayup-sayup menghilang. Suaraku mungkin tak terdengar, hilang bersama gemuruh hujan yang makin deras. Jeritanku larut bersama air sungai. Aku tak ingin memejamkan mata agar tak kehilangan bayangmu  namun dirimu terus melangkah. Kian jauh hingga tak lagi terjangkau mata dan hatiku. Kau melupakanku.

“Ijinkan aku pergi dan melepasmu. Karena pintu suci itu tak akan pernah terbuka untuk kita. Tak ada pemilik belahan hati yang merelakan buah cintanya menjadi yang ke dua. Aku menyayangimu, karena itu aku melepasmu. Membiarkan dirimu terbang dengan harapan indah dari si pemilik hakmu. Jika kelak yang Kuasa memberi jalan, semua akan mudah untuk kita. Percayalah, aku  menyayangimu.”

Itu kalimat darimu. Membuatku terluka dan membencimu. Namun kian lama nalarku bisa menerima. Aku percaya akan ketulusan hatimu. Dirimu tentu mengharap kebahagiaanku meski tanpa kehadiranmu di sampingku. Aku terus berharap, semoga rasaku benar dan tak bertepuk sebelah tangan. Karena setelah sekian lama, kurasa kini, dirimu seolah menghujam belati di hatiku. Ini rasaku ataukah  wujud tanda sayang darimu untukku? mengapa aku diliputi keraguan? Jika benar menyayangiku membuatmu menghujam belati di hatiku, jujur aku tidak ingin menerima kasih sayangmu….

********

0 komentar:

Posting Komentar