Selasa, 03 April 2012

Hadiah Dari Nenek ( 6 )

0

13290547622022076047

Di perjalanan tiba-tiba kepalaku terasa pening. Sinar mentari terasa begitu menyengat. Aku menghentikan kendaraan dan menepi di bawah pohon. Lamat-lamat terlihat seperti sebuah lukisan yang terpajang di depanku. Lukisan yang kemudian hidup berupa  layar besar. Aku tak terkejut lagi karena sudah pernah mengalaminya. Hanya kali ini berbeda. Jika sebelumnya nampak samar namun kali ini sangat jelas. Gambar yang tampak di depanku seperti nyata dan benar-benar terjadi di depanku.

Aku melihat seorang wanita mendekatiku  melayang dengan sepasang sayap di belakangnya. Gaun biru muda yang di pakainya melambai tertiup angin. Dia menghampiriku sambil tersenyum.  Awalnya aku menanti dengan tenang, namun semakin lama aku merasa heran. Tubuh wanita itu semakin dekat, dekat dan membuatku takut. Wanita itu seolah tak berniat untuk berhenti.

Aku mundur namun terlambat, tubuhnya tiba-tiba menghantam tubuhku dan hilang. Seketika aku limbung dan nyaris jatuh dari motor. Kurasakan sebuah tubuh menahanku dan ketika tersadar kulihat Ferdy menatap bingung. Aku menoleh cepat melihat lagi gambar di depanku, namun layar itu telah hilang. Aku diam sejenak sambil mereka-reka apa yang baru saja aku alami.

” Kamu baik-baik saja?” teguran Ferdy membuatku menatapnya.

” Iya. Cuma agak pening. Kepalaku tiba-tiba saja terasa sakit.” Kataku lalu turun dari motor kemudian duduk di trotoar pinggir jalan.

” Kalau tidak sanggup kita batalkan mengunjungi Deta. Bagaimana?” usulan Ferdy membuatku menggeleng cepat.

” Jangan. Aku hanya ingin tahu…”

Aku menghentikan ucapanku karena tiba-tiba saja melintas bayangan Deta. Dia tengah di bonceng seseorang. Entah lelaki atau wanita yang memboncengnya, masih tak jelas bagiku. Tapi sesuatu membuat aku menutup  mata dan berusaha menghilangkan bayangan itu dari pikiranku.

Aku mengenal jaket yang dikenakan seseorang yang membonceng Deta. Jaket itu milik Adi. Aku yakin itu. Akhirnya petunjuk untuk diriku hadir setelah sebelumnya Ferdy yang melihat lebih dulu. Entah mengapa aku makin yakin dan percaya sesuatu telah terjalin di antara mereka. Aku makin penasaran untuk segera mencari tahu dan memastikan hal tersebut.

” Kamu kenapa?” Ferdy menyentuh lenganku. Aku terkesiap dan menenangkan pikiranku.

” Kamu yakin tidak ingin menunda dulu. Aku cemas melihatmu.” Ucap Ferdy lembut dengan penuh kekhawatiran.

Setelah menetralkan perasaan, aku beranjak berdiri.

” Kita berangkat, aku tidak ingin menunda sesuatu yang makin lama akan buruk bagiku.” Kataku lalu naik ke atas motor. Mengendarai motorku dengan pelan dan pasti. Aku tahu tempat yang akan aku tuju bukan sesuatu yang indah untuk di masukkan di dalam hati. Aku telah siap untuk menerima hal yang menyakitkan.

Beberapa waktu kemudian, kami berdua tiba di depan sebuah rumah yang besar. Ini rumah Deta. Aku belum pernah berkunjung ke tempat ini meski aku tahu alamatnya. Bukan karena aku yang malas mengunjungi sahabat, namun karena Deta selalu memberi alasan jika aku ingin berkunjung ke rumahnya. Deta sering menghindar dengan alasan lain yang bisa kuterima. Misalnya dia menginginkan kami bertemu di mall, di kampus atau dia yang berkunjung ke rumahku.

Aku tidak menaruh curiga dan menganggap bukan masalah yang besar. Namun setelah Ferdy melihat dalam terawangnya, aku akhirnya kembali memikirkan semua sikap Deta yang telah lalu. Apakah karena berbuat curang hingga Deta selalu beralasan jika aku ingin mengunjungi rumahnya? Mungkinkah ketika itu telah terjalin hubungan yang istimewa antara Adi dan dia. Aku bergidik membayangkan  jika  bukan aku yang lebih dulu menjadi kekasih Adi melainkan Deta.

Ku pencet bel. Tidak lama pintu pagar terbuka. Nampak seorang lelaki muda membuka pintu lalu tersenyum ramah.

” Mbak Deta ada?” tanyaku.

” Mbak Deta? dia ada. Silahkan masuk.” Ucapnya lalu membuka pintu agak lebar.

” Motornya di parkir di dalam saja, mbak. Pintunya mau saya tutup lagi.”

Aku dan Ferdy bergegas menarik motor ke dekat garasi. Lelaki muda itu lalu menutup pintu pagar yang sangat tinggi. Aku takjub melihat rumah Deta. Sering melewati rumah ini, aku hanya melihatnya dari luar. Ternyata setelah melihat lebih dekat, rumah ini benar-benar indah dan mewah. Aneh, mengapa Deta selalu naik angkot ke kampus? jika melihat mobil yang terparkir di garasi, seharusnya sesekali Deta mengendarai sendiri mobilnya.

” Lewat sini.” ajak lelaki itu.

Kami mengikutinya masuk lewat pintu samping, memasuki ruangan yang terlihat seperti ruang tamu mini.

” Silahkan duduk. Saya panggilkan mbak Deta dulu.”

Lelaki muda itu menaiki tangga. Kini hanya aku dan Ferdy yang saling menatap bingung.

” Apa kamu sudah melihat sesuatu tentang rumah ini?” tanyaku. Ferdy menggeleng.

” Belum.”

” Aku sudah melihatnya.” Jawabku. Tadi sambil berjalan, aku melihat  rumah ini dengan beberapa orang yang tampak sibuk mengerjakan sesuatu. Di sana, ada Adi yang terlihat seperti majikan. Aku merasa aneh dengan penglihatanku. Makin lama hubungan Adi dan Deta makin misterius.

” Apa yang kamu lihat?” bisik Adi.

” Nanti aku cerita. Yang pasti, Adi benar tinggal di rumah ini. Sungguh terlalu, aku kekasihnya bahkan tidak tahu. Di depanku, dua orang itu terlihat mahir bersandiwara.” Kataku geram.

Aku dan Ferdy menanti Deta dengan harap-harap cemas. Agak lama kami menanti dalam diam. Ku lirik Ferdy, sepertinya dia bukan diam terpaku. Aku melihat sorot matanya seolah menelusuri rumah Deta dengan terawangnya. Aku tak ingin mengganggunya, biarlah dia konsentrasi untuk mencari tahu apa gerangan yang terjadi di rumah ini.

” Gawat Lita. Sebaiknya kita jangan berlama-lama di rumah ini.” Ucapan Ferdy mengagetkanku.

” Ada apa? apa kamu melihat sesuatu?”

” Kedatangan kita telah diketahui. Ada seseorang yang tengah menerawangi kita.”

” Maksudmu apa?”

” Di rumah ini ternyata ada yang mempunyai kemampuan mirip kita, namun alirannnya berbeda.”

” Benarkah? apa kamu melihat orangnya?”

” Justru itu. Dia tahu, karena itu dia menutupi dirinya hingga aku tak bisa melihatnya. Tapi kurasa, orang itu bukan orang yang sembarangan karena bisa menyembunyikan jati dirinya.”

Aku mulai cemas. Namun niatku untuk melihat lebih jauh hasil terawang Ferdy melalui pikiranku tertunda ketika dari arah tangga terdengar suara detak sepatu. Terdengar seperti langkah beberapa orang. Aku dan Ferdy menatap kompak ke satu arah.

Dan akhirnya Deta muncul. Jantungku berdetak cepat dan mataku menatap tak percaya. Aku merasakan emosi yang hampir meledak di kepalaku ketika melihat lelaki yang berjalan bersama Deta. Nampak Adi begitu tenang dan mesra menggandeng Deta.

Saat melihatku, mereka berdua sama kagetnya. Deta bahkan buru-buru melepaskan pegangannya pada Adi sementara Adi terlihat kikuk dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Deta. Namun semuanya sudah terlambat, aku terlanjur melihat kemesraan itu.

” Lita!?!” seru Deta dan Adi nyaris bersamaan. Mereka berdua tergesa mendatangiku. Aku yang sebelumnya curiga dan kini telah tahu hanya menatap mereka bergantian. Aku yakin, begitu aku membuka mulut maka sulit bagiku untuk menghentikan kalimat sakit hati yang kuyakin bakal meluncur deras.

” Lita, kamu jangan marah. Semua tidak seperti perkiraanmu, aku akan jelaskan..” Ucap Deta gugup dengan wajah paniknya. Seperti Deta, sikap Adi juga demikian. Dia bahkan menatap penuh amarah ke Ferdy.

” Ini pasti karena ulahmu. Kamu seperti sengaja memancing di air keruh. Aku tahu niatmu untuk mengambil Lita dariku. Iya, kan? Kalau tidak kamu tidak akan berbuat seperti ini.”

” Jangan menyalahkan Ferdy!” Potongku kesal.

” Sudah jelas kamu yang melakukan kesalahan, masih saja menyalahkan orang lain. Kalian berdua ternyata sama liciknya. Musang berbulu domba. Aku tidak tahu apa niat kalian, hanya aku heran. Mengapa ada manusia seperti kalian yang hidup tenang padahal sedang menyakiti orang lain. Kalian benar-benar membuatku kecewa. Kalian bukan kekasih dan sahabatku lagi!”

Aku berjalan cepat keluar.

” Lita!” suara Adi memanggilku. Aku tidak peduli. Aku terus berjalan hingga ke pintu pagar. Kubuka pintu pagar lalu mendekati motorku. Ferdy menyusulku naik ke motornya. Sementara Adi dan Deta terus mengejarku. Ku kibaskan tangan Adi yang berusaha menahanku.

” Lita, tunggu dulu!” teriaknya.

Namun aku tidak peduli. kuhidupkan mesin lalu dengan cepat meninggalkan  mereka. Aku tak sadar saat menjalankan motor. Saat ini yang aku inginkan segera  lari dan menjauh dari rumah Deta. Aku ingin melupakan sikap mereka yang sangat mesra saat turun dari tangga. Aku benar-benar terpukul dan sangat terluka. Menyakitkan melihat kekasih dan sahabat kompak untuk menyakiti. Keterlaluan, pekikku tak sadar.

Setelah sekian lama memacu kendaraan tanpa sadar, akhirnya sesuatu seperti menghentikanku. Aku merasa ada kekuatan lain yang mendorongku untuk menepi. Hingga akhirnya aku  turun dari motor dan duduk di sebuah perhentian bus, aku tetap tak bisa mengendalikan kekuatan itu.

” Lita?” Ferdy menatapku cemas. Aku menangis melihatnya. Kugenggam tangannya dengan erat. Ferdy lalu duduk di sampingku. Dia diam tak berbicara hanya terus memegang tanganku sementara aku  menangis.

” Ada hal yang ingin aku sampaikan tapi nanti saja setelah kamu tenang.” Ucap Ferdy kemudian.

” Apa itu?” tanyaku sambil terisak.

” Nanti saja. Sesuatu ini masih terkait dengan Adi. Namun pastinya kamu akan lebih terguncang jika tahu.”

” Apa itu? tolong beritahu aku. Tadi aku tidak bisa konsentrasi. Pikiranku kalut.”

” Baiklah kalau kamu ingin tahu. Adi tidak sepolos perkiraanmu. Dia bukan manusia biasa. Aku yakin dia juga seperti kita.”

Aku terbelalak.

” Benarkah?”

” Hanya aku heran. Mengapa tadi dia sangat terkejut ketika melihat kita. Di perjalanan aku mulai menyadari satu hal.”

” Apa?”

” Kamu memiliki ilmu yang lebih tinggi hingga tak bisa dia tembus. Karena itu dia tidak bisa melihat  jika kita yang sedang menunggunya. Dia terlihat santai dan tenang ketika akan menemui kita.”

” Dari mana kamu tahu?”

Ferdy menatapku lekat.

” Karena tadi kamu membawa motor seperti terbang. Aku berusaha melihat siapa yang membawamu, namun tak bisa. Karena itu aku yakin tanpa kamu sadari ternyata ilmu yang kamu miliki sangat jauh melampaui kami.”

Aku terkesima mendengar penuturan Ferdy. Benarkah demikian? pikirku. Apakah wanita yang kulihat menghantam tubuhnya padaku, dialah yang memberi kemampuan itu? Aku jadi teringat pesan nenek, jika satu persatu pemilik kekuatan cahaya di masa lalu akan mendatangiku. Inikah maksud perkataan nenek? Mereka bukan menemui untuk mengajarkan sesuatu namun langsung menyatu dalam diriku. Aku tiba-tiba merindukan nenek.

*********

( Bersambung )

0 komentar:

Posting Komentar