Pagi yang cerah di Desa Rangkat namun tidak demikian dengan keluarga Bocing dan keluarga Firman. Awan hitam saat ini tengah menaungi kehidupan mereka. Sejak malam, Asih sudah gelisah begitu juga dengan Acik,
adiknya. Mereka sama-sama menghadapi masalah yang berat dan harus
segera diselesaikan. Perceraian dengan suami masing-masing, membuat dua
bersaudara itu tidak dapat tidur.
Selesai
sholat subuh, Asih mendapati Acik yang termenung di depan meja makan.
Wajahnya kuyu dengan kantung hitam dibawah matanya.
“
Kamu tidak tidur semalam?” Acik mengangguk sambil terkantuk-kantuk.
Asih yang juga tampak lelah memilih duduk di sebelah adiknya.
“
Ini cobaan untuk kita, Cik. Kok kita bisa bareng ke pengadilan agama
mengurus perceraian? Kalau saya dengan mas Bocing, itu memang bisa
ditebak, tapi kamu? Sayang sekali pernikahanmu harus kandas secepat itu.
Tapi mau bagaimana lagi, mungkin sudah takdir kalian harus berpisah
secepat ini.” Mata Acik makin sayu. Beberapa kali dia menghela nafas
seolah ingin melepas beban berat yang ada dalam hatinya.
Jam
delapan tepat, Asih dan Acik meninggalkan rumah mereka menuju kantor
pengadilan agama di kecamatan. Sementara di tempat lain Bocing melangkah
sendirian meninggalkan rumahnya begitu pula dengan Firman. Wajah kedua
orang itu nampak tenang. Seolah telah siap dengan keputusan mereka untuk
bercerai dengan istri masing-masing.
Di
pintu gerbang, secara tidak sengaja Firman berpapasan dengan Bocing.
Mereka saling melempar senyum. Saling mendekat lalu berjabat tangan.
“ Assalamu alaikum, mas. Gimana kabarnya? Kita baru jumpa lagi.” Tegur Firman dengan ramah.
“
Wa Alaikum salam, baik saja. Gimana persiapan batinnya? Udah siap? Kalo
aku sudah terbiasa. Udah pengalaman dengan kedua mantan istriku. Nasib,
nasib sekarang aku harus bercerai lagi untuk yang ketiga kali.
Syukurlah Uleng tidak ikut-ikutan minta cerai. Semoga saja dia tidak terpengaruh.”
Angkot
yang akan mereka tumpangi tiba di depan mereka. Bocing dan Firman
bergegas naik. Sepanjang perjalanan mereka tidak saling ngobrol. Selain
tidak ingin di dengar oleh para penumpang, pikiran mereka juga sedang
mengembara ke tempat lain. Pandangan Bocing menerawang keluar jendela,
sama dengan Firman yang juga menatap jendela dengan pandangan sayu.
Di
kantor pengadilan agama, Asih dan Acik menanti dengan tenang di ruang
tunggu. Mereka duduk berdampingan namun tak ada yang bersuara.
Sepertinya kedua kakak beradik itu tengah malas untuk berbicara. Mereka
sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tidak
lama kemudian muncul Bocing dan Firman yang datang bersamaan. Kedua
pasang suami istri akhirnya bertemu. Walau belum resmi bercerai namun
telah terlihat kekakuan diantara mereka. Salah tingkah nampak jelas dari
sikap mereka yang mudah dibaca. Mungkin beginilah sikap orang yang
ingin bercerai.
Panggilan
sidang pertama ini, dihadiri lengkap oleh mereka. Masing-masing pihak
tidak ingin menunda atau mempersulit perceraian mereka. Bocing dan
Firman berpendapat semua adalah kehendak yang maha kuasa. Tak ada yang
bisa mengubah jika yang Maha Kuasa telah menggariskan mereka untuk
bercerai.
“ Ijinkan saya untuk berbicara.” Firman membuka pembicaraan.
“
Sebelumnya saya minta maaf untuk mas Erwin. Mungkin terkesan
terburu-buru, tapi saya ingin kalian mengetahui hal ini. Maaf mbak Asih
karena sebelumnya saya belum menyampaikan ini ke mbak. Saya ingin
memberitahu kalian, setelah kita resmi bercerai dengan pasangan kita
masing-masing. Saya berniat untuk melamar mbak Asih menjadi istri saya,
saya harap mbak Asih tidak keberatan.”
Asih
yang masih terlihat tegang menghadapi sidang pertama perceraiaannya
nampak terkejut. Dia tidak menyangka Firman akan mengatakan hal seperti
itu.
“
Saya mengambil keputusan seperti ini karena tidak ingin mbak Asih
sendirian. Mengingat Acik juga akan segera menikah dengan mas Halim
selepas perceraian kami. Karena itu ada baiknya di kesempatan ini saya
juga mengemukakan apa yang ada dalam hati saya. Setelah masalah kita
beres dan kita masing-masing menjalani hidup yang telah kita putuskan,
saya harap semuanya kembali normal dan tidak ada masalah lagi.”
Firman menatap Asih yang juga menatapnya bingung.
“
Mungkin pernikahan kita tidak akan ramai mbak Asih, cukup kita ke
kantor urusan agama, sederhana namun sah menurut hukum dan agama.”
Asih
masih tak bersuara. Pikirannya masih kalut. Persoalan cerai dengan
Bocing belum kelar, datang lagi kejutan yang membuatnya makin bingung.
“
Mbak Asih!!!” panggilan yang mengejutkan membuat mereka serempak
berbalik. Nampak Uleng tergesa-gesa melangkah mendekati mereka. Bocing
yang kaget langsung menghadang langkah istrinya itu.
“ Uleng! Ngapaian kamu kemari? Mas kan udah bilang, tinggal saja dirumah.”
Uleng menatap tajam suaminya. Sikap yang tidak biasa.
“
Mas, Uleng kan sudah katakan mau cerai. Uleng gak bisa menemani mas
Bocing lagi. Maaf, Uleng terpaksa melakukan ini. Uleng hanya ingin
bahagia. Uleng gak sanggup melihat mas Bocing terus-terusan mengejar
mbak Kembang dan Dewa untuk rujuk kembali. Maafkan Uleng.”
Uleng mendekati Asih. Asih menatap haru lalu merangkulnya..
“ Lakukan apa yang menurutmu benar. Selama tidak bertentangan dengan hatimu, lakukan saja.” Ucapnya.
Bocing menghela nafas kecewa. Beberapa kali dia mengepalkan tangannya seolah menyesali apa yang sedang terjadi.
“ Dek, bisa kita bicara sebentar. Mas mau ngomong.” Ucapnya dengan wajah memelas. Bibir Uleng bergetar.
“
Maaf mas, Uleng sudah gak tahan. Cukup sudah. Kalau mas masih sayang
sama Uleng, tolong ceraikan Uleng.” Uleng menangis. Suasana menjadi
mengharukan. Acik dan Asih sama-sama tak kuasa menahan air mata mereka.
Ruang tunggu pengadilan pagi ini menjadi saksi reuni keluarga yang kelabu.
***
Panggilan
pertama pengadilan berlangsung penuh kejutan karena kehadiran Uleng
yang tiba-tiba. Ternyata Uleng telah mendaftarkan gugatan cerainya ke
pengadilan Agama kecamatan. Bocing mengetahui keinginan Uleng namun dia
masih berharap Uleng membatalkan gugatannya. Karena itu kehadirannya di
kantor pengadilan agama bukan hal yang mendadak. Dia sudah merencanakan
semuanya sejak mendengar kabar kalau Bocing sedang berusaha rujuk
kembali dengan kedua mantan istrinya, Kembang dan Dewa.
Walau
Bocing protes tetap tak bisa membujuk Uleng untuk membatalkan gugatan
cerainya. Hingga panggilan ke tiga berlangsung, Uleng tetap kukuh dengan
pendiriannya. Dia ingin bercerai dan secepatnya menikah dengan Irsyam, yang
juga adalah guru di tempat Uleng mengajar. Walau belum lama kenal,
Uleng yakin untuk melabuhkan hatinya pada lelaki itu dan melepaskan diri
dari Bocing.
Saat
palu hakim dijatuhkan, resmilah mereka bercerai dengan pasangan
masing-masing. Bocing dengan kedua istrinya, Asih dan Uleng. Sementara
Firman dengan Acik. Setelah bersalaman dan saling meminta maaf, mereka
kemudian memisahkan diri. Asih pulang bersama Firman, sementara Bocing
pulang sendiri. Uleng lebih memilih ikut dengan Acik dengan Halim. Wajah masing-masing terlihat sendu. Walau ada kelegaan namun tetap saja perpisahan selalu membawa kesedihan.
“
Bagaimana, mbak Asih? Tawaran saya tentang pernikahan kita, apa bisa
mbak terima?” tanya Firman saat mereka sedang menunggu angkot di bawah
pohon. Asih menatapnya sekilas, lalu memandang ke arah lain. Terlihat
dia masih sangat shock karena baru saja bercerai dengan Bocing. Suami
yang sangat dicintainya namun terpaksa harus dia ceraikan karena tidak
kuat lagi menahan beban batin. Terus memaksa seseorang yang tidak ingin
lagi berada di dekat kita, bukankah itu sangat menyiksa dan hanya menipu
diri sendiri? Sekarang Asih hanya ingin menikmati hidup dengan damai.
Namun tawaran Firman yang mendadak membuatnya tak bisa berpikir.
“
Kalau mbak Asih masih ragu, sebaiknya jangan di jawab dulu. Saya akan
menunggu sampai mbak Asih siap menikah dengan saya. Atau kalau memang
mbak Asih tidak bersedia, saya juga tidak apa-apa. Saya hanya ingin
memberikan kebahagiaan untuk mbak Asih. Mungkin sudah takdir saya untuk
hidup sendiri dulu tanpa pendamping.”
Asih
diam tak bersuara. Hatinya merasa tak nyaman karena belum bisa menjawab
permintaan Firman padanya. Saat ini dia benar-benar belum bisa
memutuskan jalan kehidupannya setelah berpisah dengan Bocing. Dia takut
keputusannya justru akan membuatnya terluka lagi. Cukup sudah
pernikahannya dengan Bocing yang membuatnya banyak meneteskan air mata.
Asih tidak ingin kejadian itu terulang lagi.
Firman
ternyata paham akan perasaan Asih. Dia tidak ingin memaksakan sesuatu
yang belum siap diterima. Mereka kemudian pulang ke Desa Rangkat. Selama
di angkot pikiran Asih mengembara. Jauh ke masa lalu saat dia masih
menikmati kebahagiaan rumah tangga bersama Bocing. Suka dan duka semua
hanya jadi kenangan. Begitu juga dengan nama Bocing yang selama ini
melengkapi namanya. Yang tersisa hanya nama dirinya seorang.
Beberapa
minggu kemudian setelah pernikahan Acik dan Halim yang berlangsung
sederhana, Asih menerima surat dari Uleng yang kini menetap di Makassar.
Uleng mengirimkan selembar foto bersama suaminya. Dia terlihat bahagia.
Asih hanya bisa mendoakan, semoga Uleng bahagia dengan pernikahannya.
Kini
Asih menjalani hidupnya seorang diri, di rumah yang dulu dia tempati
berdua, bahkan bertiga dengan Bocing. Kini tak ada Acik dan Bocing yang
menemani. Acik ikut dengan suaminya, Halim. Mereka tinggal di rumah yang
sejak dulu disiapkan Halim untuk Acik. Karena salah paham, Acik akhirnya menikah dengan Firman, walau usia pernikahan mereka sangat singkat.
Melihat
kehidupannya sekarang, seolah mengembalikan Asih ke awal kehidupannya
di Rangkat. Seorang diri menempati rumah yang penuh kenangan kadang
membuat Asih menangis. Perlahan-lahan dia harus membiasakan diri untuk
sendiri. Saat kesepian melanda, Asih hanya bisa berdoa. Setelah itu
batinnya tenang. Sebagai wanita dia harus tegar menyongsong masa depan.
Semoga esok mentari akan memancarkan sinar yang membahagiakan.**
0 komentar:
Posting Komentar