Minggu, 15 April 2012

Reuni Keluarga di Pengadilan Agama

0

Pagi yang cerah di Desa Rangkat namun tidak demikian dengan keluarga Bocing dan keluarga Firman. Awan hitam saat ini tengah menaungi kehidupan mereka. Sejak malam, Asih sudah gelisah begitu juga dengan Acik, adiknya. Mereka sama-sama menghadapi masalah yang berat dan harus segera diselesaikan. Perceraian dengan suami masing-masing, membuat dua bersaudara itu tidak dapat tidur.

Selesai sholat subuh, Asih mendapati Acik yang termenung di depan meja makan. Wajahnya kuyu dengan kantung hitam dibawah matanya.

“ Kamu tidak tidur semalam?” Acik mengangguk sambil terkantuk-kantuk. Asih yang juga tampak lelah memilih duduk di sebelah adiknya.

“ Ini cobaan untuk kita, Cik. Kok kita bisa bareng ke pengadilan agama mengurus perceraian? Kalau saya dengan mas Bocing, itu memang bisa ditebak, tapi kamu? Sayang sekali pernikahanmu harus kandas secepat itu. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin sudah takdir kalian harus berpisah secepat ini.” Mata Acik makin sayu. Beberapa kali dia menghela nafas seolah ingin melepas beban berat yang ada dalam hatinya.


Jam delapan tepat, Asih dan Acik meninggalkan rumah mereka menuju kantor pengadilan agama di kecamatan. Sementara di tempat lain Bocing melangkah sendirian meninggalkan rumahnya begitu pula dengan Firman. Wajah kedua orang itu nampak tenang. Seolah telah siap dengan keputusan mereka untuk bercerai dengan istri masing-masing.

Di pintu gerbang, secara tidak sengaja Firman berpapasan dengan Bocing. Mereka saling melempar senyum. Saling mendekat lalu berjabat tangan.

“ Assalamu alaikum, mas. Gimana kabarnya? Kita baru jumpa lagi.” Tegur Firman dengan ramah.

“ Wa Alaikum salam, baik saja. Gimana persiapan batinnya? Udah siap? Kalo aku sudah terbiasa. Udah pengalaman dengan kedua mantan istriku. Nasib, nasib sekarang aku harus bercerai lagi untuk yang ketiga kali. Syukurlah Uleng tidak ikut-ikutan minta cerai. Semoga saja dia tidak terpengaruh.”

Angkot yang akan mereka tumpangi tiba di depan mereka. Bocing dan Firman bergegas naik. Sepanjang perjalanan mereka tidak saling ngobrol. Selain tidak ingin di dengar oleh para penumpang, pikiran mereka juga sedang mengembara ke tempat lain. Pandangan Bocing menerawang keluar jendela, sama dengan Firman yang juga menatap jendela dengan pandangan sayu.

Di kantor pengadilan agama, Asih dan Acik menanti dengan tenang di ruang tunggu. Mereka duduk berdampingan namun tak ada yang bersuara. Sepertinya kedua kakak beradik itu tengah malas untuk berbicara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

Tidak lama kemudian muncul Bocing dan Firman yang datang bersamaan. Kedua pasang suami istri akhirnya bertemu. Walau belum resmi bercerai namun telah terlihat kekakuan diantara mereka. Salah tingkah nampak jelas dari sikap mereka yang mudah dibaca. Mungkin beginilah sikap orang yang ingin bercerai.

Panggilan sidang pertama ini, dihadiri lengkap oleh mereka. Masing-masing pihak tidak ingin menunda atau mempersulit perceraian mereka. Bocing dan Firman berpendapat semua adalah kehendak yang maha kuasa. Tak ada yang bisa mengubah jika yang Maha Kuasa telah menggariskan mereka untuk bercerai.

“ Ijinkan saya untuk berbicara.” Firman membuka pembicaraan.

“ Sebelumnya saya minta maaf untuk mas Erwin. Mungkin terkesan terburu-buru, tapi saya ingin kalian mengetahui hal ini. Maaf mbak Asih karena sebelumnya saya belum menyampaikan ini ke mbak. Saya ingin memberitahu kalian, setelah kita resmi bercerai dengan pasangan kita masing-masing. Saya berniat untuk melamar mbak Asih menjadi istri saya, saya harap mbak Asih tidak keberatan.”

Asih yang masih terlihat tegang menghadapi sidang pertama perceraiaannya nampak terkejut. Dia tidak menyangka Firman akan mengatakan hal seperti itu.

“ Saya mengambil keputusan seperti ini karena tidak ingin mbak Asih sendirian. Mengingat Acik juga akan segera menikah dengan mas Halim selepas perceraian kami. Karena itu ada baiknya di kesempatan ini saya juga mengemukakan apa yang ada dalam hati saya. Setelah masalah kita beres dan kita masing-masing menjalani hidup yang telah kita putuskan, saya harap semuanya kembali normal dan tidak ada masalah lagi.”

Firman menatap Asih yang juga menatapnya bingung.

“ Mungkin pernikahan kita tidak akan ramai mbak Asih, cukup kita ke kantor urusan agama, sederhana namun sah menurut hukum dan agama.”

Asih masih tak bersuara. Pikirannya masih kalut. Persoalan cerai dengan Bocing belum kelar, datang lagi kejutan yang membuatnya makin bingung.

“ Mbak Asih!!!” panggilan yang mengejutkan membuat mereka serempak berbalik. Nampak Uleng tergesa-gesa melangkah mendekati mereka. Bocing yang kaget langsung menghadang langkah istrinya itu.

“ Uleng! Ngapaian kamu kemari? Mas kan udah bilang, tinggal saja dirumah.”

Uleng menatap tajam suaminya. Sikap yang tidak biasa.

“ Mas, Uleng kan sudah katakan mau cerai. Uleng gak bisa menemani mas Bocing lagi. Maaf, Uleng terpaksa melakukan ini. Uleng hanya ingin bahagia. Uleng gak sanggup melihat mas Bocing terus-terusan mengejar mbak Kembang dan Dewa untuk rujuk kembali. Maafkan Uleng.”

Uleng mendekati Asih. Asih menatap haru lalu merangkulnya..

“ Lakukan apa yang menurutmu benar. Selama tidak bertentangan dengan hatimu, lakukan saja.” Ucapnya.

Bocing menghela nafas kecewa. Beberapa kali dia mengepalkan tangannya seolah menyesali apa yang sedang terjadi.

“ Dek, bisa kita bicara sebentar. Mas mau ngomong.” Ucapnya dengan wajah memelas. Bibir Uleng bergetar.

“ Maaf mas, Uleng sudah gak tahan. Cukup sudah. Kalau mas masih sayang sama Uleng, tolong ceraikan Uleng.” Uleng menangis. Suasana menjadi mengharukan. Acik dan Asih sama-sama tak kuasa menahan air mata mereka. Ruang tunggu pengadilan pagi ini menjadi saksi reuni keluarga yang kelabu.

***

Panggilan pertama pengadilan berlangsung penuh kejutan karena kehadiran Uleng yang tiba-tiba. Ternyata Uleng telah mendaftarkan gugatan cerainya ke pengadilan Agama kecamatan. Bocing mengetahui keinginan Uleng namun dia masih berharap Uleng membatalkan gugatannya. Karena itu kehadirannya di kantor pengadilan agama bukan hal yang mendadak. Dia sudah merencanakan semuanya sejak mendengar kabar kalau Bocing sedang berusaha rujuk kembali dengan kedua mantan istrinya, Kembang dan Dewa.

Walau Bocing protes tetap tak bisa membujuk Uleng untuk membatalkan gugatan cerainya. Hingga panggilan ke tiga berlangsung, Uleng tetap kukuh dengan pendiriannya. Dia ingin bercerai dan secepatnya menikah dengan Irsyam, yang juga adalah guru di tempat Uleng mengajar. Walau belum lama kenal, Uleng yakin untuk melabuhkan hatinya pada lelaki itu dan melepaskan diri dari Bocing.

Saat palu hakim dijatuhkan, resmilah mereka bercerai dengan pasangan masing-masing. Bocing dengan kedua istrinya, Asih dan Uleng. Sementara Firman dengan Acik. Setelah bersalaman dan saling meminta maaf, mereka kemudian memisahkan diri. Asih pulang bersama Firman, sementara Bocing pulang sendiri. Uleng lebih memilih ikut dengan Acik dengan Halim. Wajah masing-masing terlihat sendu. Walau ada kelegaan namun tetap saja perpisahan selalu membawa kesedihan.

“ Bagaimana, mbak Asih? Tawaran saya tentang pernikahan kita, apa bisa mbak terima?” tanya Firman saat mereka sedang menunggu angkot di bawah pohon. Asih menatapnya sekilas, lalu memandang ke arah lain. Terlihat dia masih sangat shock karena baru saja bercerai dengan Bocing. Suami yang sangat dicintainya namun terpaksa harus dia ceraikan karena tidak kuat lagi menahan beban batin. Terus memaksa seseorang yang tidak ingin lagi berada di dekat kita, bukankah itu sangat menyiksa dan hanya menipu diri sendiri? Sekarang Asih hanya ingin menikmati hidup dengan damai. Namun tawaran Firman yang mendadak membuatnya tak bisa berpikir.

“ Kalau mbak Asih masih ragu, sebaiknya jangan di jawab dulu. Saya akan menunggu sampai mbak Asih siap menikah dengan saya. Atau kalau memang mbak Asih tidak bersedia, saya juga tidak apa-apa. Saya hanya ingin memberikan kebahagiaan untuk mbak Asih. Mungkin sudah takdir saya untuk hidup sendiri dulu tanpa pendamping.”

Asih diam tak bersuara. Hatinya merasa tak nyaman karena belum bisa menjawab permintaan Firman padanya. Saat ini dia benar-benar belum bisa memutuskan jalan kehidupannya setelah berpisah dengan Bocing. Dia takut keputusannya justru akan membuatnya terluka lagi. Cukup sudah pernikahannya dengan Bocing yang membuatnya banyak meneteskan air mata. Asih tidak ingin kejadian itu terulang lagi.

Firman ternyata paham akan perasaan Asih. Dia tidak ingin memaksakan sesuatu yang belum siap diterima. Mereka kemudian pulang ke Desa Rangkat. Selama di angkot pikiran Asih mengembara. Jauh ke masa lalu saat dia masih menikmati kebahagiaan rumah tangga bersama Bocing. Suka dan duka semua hanya jadi kenangan. Begitu juga dengan nama Bocing yang selama ini melengkapi namanya. Yang tersisa hanya nama dirinya seorang.

Beberapa minggu kemudian setelah pernikahan Acik dan Halim yang berlangsung sederhana, Asih menerima surat dari Uleng yang kini menetap di Makassar. Uleng mengirimkan selembar foto bersama suaminya. Dia terlihat bahagia. Asih hanya bisa mendoakan, semoga Uleng bahagia dengan pernikahannya.

Kini Asih menjalani hidupnya seorang diri, di rumah yang dulu dia tempati berdua, bahkan bertiga dengan Bocing. Kini tak ada Acik dan Bocing yang menemani. Acik ikut dengan suaminya, Halim. Mereka tinggal di rumah yang sejak dulu disiapkan Halim untuk Acik. Karena salah paham, Acik akhirnya menikah dengan Firman, walau usia pernikahan mereka sangat singkat.

Melihat kehidupannya sekarang, seolah mengembalikan Asih ke awal kehidupannya di Rangkat. Seorang diri menempati rumah yang penuh kenangan kadang membuat Asih menangis. Perlahan-lahan dia harus membiasakan diri untuk sendiri. Saat kesepian melanda, Asih hanya bisa berdoa. Setelah itu batinnya tenang. Sebagai wanita dia harus tegar menyongsong masa depan. Semoga esok mentari akan memancarkan sinar yang membahagiakan.**

0 komentar:

Posting Komentar