Asih asyik menikmati pemandangan yang ada didepannya. Sawah yang menghijau serta senyum para warga yang ditemui membuatnya nyaman berjalan-jalan pagi ini. Indahnya sinar mentari pagi membuat betah mata untuk melihat sekeliling.
“ Asih!!! Teriak seseorang dari arah belakang. Asih berbalik melihat seorang wanita berjilbab tengah berjalan tergesa-gesa sambil memegang dua orang anak kecil.
“ Mbak Rere!!! Teriak Asih tidak kalah girangnya. Dia berlari mendekati
wanita itu. Mereka berpelukan dalam keharuan. Mata Asih berkaca-kaca
begitu juga dengan wanita itu. Kedua anak kecil yang ikut bersamanya
hanya terpaku melihat mereka.
“ Ini anakmu, mbak Rere?” tanya Asih sambil memegang bahu salah seorang dari mereka.
“ Sudah besar, ya. Terakhir kita ketemu, anakmu yang tertua masih berumur 3 tahun. Sekarang berapa usianya?”
“ 9 tahun.”
“ Ya ampun berarti sudah 6 tahun kita gak ketemu, mbak. Senangnya melihat mereka sudah besar-besar.”
Asih dan wanita
yang bernama Rere itu larut dalam perbincangan yang hangat. Sepanjang
jalan menuju rumah Asih banyak cerita kerinduan yang mengalir. Ternyata
wanita itu adalah sepupu Asih yang selama ini tinggal di propinsi lain.
Kunjungannya yang mendadak menimbulkan rasa curiga dalam benak Asih.
Apalagi saat melihat Rere membawa 2 tas besar berisi pakaian. Makin tampak ada kejanggalan dari kunjungannya kali ini.
“
Mbak Rere ada masalah?” Asih bertanya dengan hati-hati saat mereka
selesai makan malam dan tengah duduk diteras. Kedua anak Rere sudah
lelap sejak tadi karena kelelahan.
Rere
terdiam. Bibirnya bergetar. Sesaat kemudian air matanya mengalir. Dia
menangis pilu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Asih yang tak sanggup
melihat seseorang menangis, jadi ikut meneteskan air mata.
“
Aku berpisah dengan mas Rudi. Aku nggak sanggup terus-terusan seperti
ini. “ ucap Rere terbata-b ata berusaha menahan air matanya.
“
Sejak awal kami menikah, kami hanya menyandarkan hidup pada orang
tuanya. Mas Rudi tidak mau berusaha, selalu kekayaan orang tuanya yang
jadi andalan kalau aku menyuruh dia mencari pekerjaan. Dua tahun lalu,
ayah mertuaku meninggal. Ibu mertua menyusul setahun kemudian. Harta
warisan belum dibagi, baru ketahuan kalau ayah mertua ada pinjaman di
bank yang harus dilunasi. Saudara semuanya panik. Tak ada lagi harta
yang bisa di bagi karena semuanya telah habis untuk menutupi pinjaman
ayah. Aku masih berharap mas Rudi mau berusaha. Tapi kejadian yang
menimpa keluarga kami tidak juga membuatnya sadar. Sekarang malah aku
nggak tahu dia kemana. Tidak peduli lagi dengan kami.
Jangankan aku, anak-anaknya saja tidak dia pedulikan. Kamu bisa
bayangkan, Sih, gimana aku nggak stress. Aku nggak sanggup tinggal
serumah dengan saudara ipar yang tiap hari kerjanya hanya marah-marah
saja. Aku nggak kuat menerima teror seperti itu setiap hari. Karena itu
aku putuskan untuk menyusulmu ke sini. Aku berharap, ijazah pendidikan
yang aku miliki, bisa membantuku untuk ikut mengajar di Desa ini, meski
mungkin hanya jadi guru honor. Tidak mengapa asal aku bisa menghidupi
kedua anakku.”
Asih tak bisa berkata-kata karena terharu dan kaget. Ternyata kehidupan Rere jauh dari yang dia bayangkan. Pertama kali
mereka bertemu setelah Rere menikah, kehidupannya sangat mewah. Mas
Rudi, suami Rere tidak pernah memakai mobil yang sama. Setiap singgah di
rumah Asih di Makassar, pasti mengendarai mobil baru. Tidak pernah
melintas dalam pikiran kalau mereka akan terperosok ke dalam
penderitaan. Hidup memang seperti roda yang berputar. Bergantian suka
dan duka tidak ada yang bisa menebak.
Demi membantu Rere, Asih akhirnya mendatangi salah seorang guru di Desa Rangkat. Pagi itu mbak Yuli, kebetulan baru masuk di gerbang sekolah. Dia menyapa dengan sangat ramah.
“ Mbak Asih? Tumben main-main ke sekolah? Ada apa?”
“ Mbak Yuli ada waktu? Saya mau bicara sebentar.”
“ Oh, boleh. Silahkan, apa yang bisa saya bantu?”
Cerita
kemudian mengalir. Dari dramatis menjadi cerita yang penuh harapan
setelah mbak Yuli menyampaikan kalau sekolah mereka sedang membutuhkan
tenaga guru. Asih senang dan mengucap syukur. Langkahnya riang membawa
kabar itu pulang kerumah,menemui Rere. Tapi sosok Rere tidak dia temui.
Kedua anaknya juga tidak tampak.
“
Mereka kemana ya? Kok pergi tidak memberitahu?” Asih bengong di teras
melihat ke jalan. Dia mencari sosok Rere yang entah ada dimana.
Sementara
itu ditempat lain. Sepasang mata nampak terpesona melihat wanita
berjilbab tengah bercanda dengan anaknya di tengah rimbun padi yang
menghijau. Tawa wanita itu sangat renyah. Dia terlihat sangat bahagia.
Teriakan penuh canda bersama kedua anaknya membuat si pemilik mata itu
tersenyum. Dia terpesona. Ada desir halus yang membuatnya tak segera
beranjak untuk meninggalkan tempat tersebut.
“ Mas Firman sedang apa?” tegur kang Inin.
Mas Firman menaruh telunjuk di bibirnya agar kang Inin diam. Pandangan
mata kang Inin mengikuti arah mata mas Firman yang terhipnotis oleh
pesona wanita tersebut.***
ECR4
0 komentar:
Posting Komentar