Minggu, 15 April 2012

Dia Yang Terpilih [ Pilkades Rangkat]

0

Tidak mudah menggambarkan perasaan saat ini. Pertama kalinya pilkades berlangsung dalam suasana yang sangat meriah. Seantero desa, gempita pilkades sangat terasa. Kampanye mendukung bakal calon kades, bergantian terdengar mengelilingi desa. Para calon juga nampak sibuk mempromiskan diri mereka. Sepertinya, pilkades benar-benar telah menyatukan warga Rangkat. Ada yang sengaja balik ke desa demi mengikuti pilkades. Keakraban yang kembali membuat batin Asih terharu.


Sambil memandangi embun pagi yang masih menyelimuti desa. Asih terkenang saat pertama kali menginjakkan kaki ke desa ini. Rasa persaudaraan dan cinta kasih yang membuatnya tergerak untuk memilih menetap di Desa Rangkat. Hingga kini meski harus melewati badai prahara karena rumah tangganya yang kehilangan kendali biduk, Asih tetap mampu bertahan. Semua karena cinta yang tulus dari warga, utamanya Mommy sebagai Bu Kades. Dukungan mbak Jingga, anak mommy juga turut berperan. Terus memberikan semangat hingga Asih bisa bertahan.

Adik angkatnya, Acik juga turut andil membuatnya betah. Dia telah menjadi saudara yang penuh kasih sayang. Mereka tinggal berdua di rumah sederhana, yang mereka bangun dari hasil menjual kebun. Mengingat perjuangan mereka dulu, tak pernah terbayangkan bakal merasakan nuansa pilkades yang sedang bergulir.

Asih menghirup udara segar. Dia tersenyum penuh kebahagiaan. Tak ada yang perlu ditangisi dari perjalanan hidupnya. Selama hati masih di Desa Rangkat, banyak cinta yang tercurah untuknya. Cinta yang tulus. Apalagi jika mas Hans benar-benar terpilih jadi kades, Asih yakin Desa Rangkat akan semakin penuh kasih sayang dan cinta kasih.

Asih melihat jam tangannya, sebentar lagi warga akan menentukan pilihannya. Asih hanya tinggal menunggu Acik, untuk bersama-sama menuju balai desa. Meski mungkin Acik memilih calon yang lain, namun yang pasti persaudaraan mereka akan semakin erat.

“ Ayo, mbak kita jalan.” Ajak Acik yang muncul dengan gaun putih motif bunga-bunga. Cantik sekali.

“ Bajumu cocok dengan tema pilkades, penuh bunga-bunga.” Acik tertawa.

“ Tentu saja, mbak. Desa kita harus penuh kedamaian, kasih sayang, dan cinta kasih.”

“ Mbak Asih masih tetap memilih mas Hans?” lanjut Acik.

“ Tentu saja tetap pilih mas Hans. Tidak mungkin berubah. Di hati mbak, dia yang terpilih untuk jadi kades.” Sahut Asih penuh semangat. Acik juga tersenyum bahagia karena dalam hatinya ada seseorang yang menjadi pilihannya.*


0 komentar:

Posting Komentar