Tidak
mudah menggambarkan perasaan saat ini. Pertama kalinya pilkades
berlangsung dalam suasana yang sangat meriah. Seantero desa, gempita
pilkades sangat terasa. Kampanye mendukung bakal calon kades, bergantian
terdengar mengelilingi desa. Para calon juga nampak sibuk mempromiskan
diri mereka. Sepertinya, pilkades benar-benar telah menyatukan warga
Rangkat. Ada yang sengaja balik ke desa demi mengikuti pilkades.
Keakraban yang kembali membuat batin Asih terharu.
Sambil
memandangi embun pagi yang masih menyelimuti desa. Asih terkenang saat
pertama kali menginjakkan kaki ke desa ini. Rasa persaudaraan dan cinta
kasih yang membuatnya tergerak untuk memilih menetap di Desa Rangkat.
Hingga kini meski harus melewati badai prahara karena rumah tangganya
yang kehilangan kendali biduk, Asih tetap mampu bertahan. Semua karena
cinta yang tulus dari warga, utamanya Mommy sebagai Bu Kades. Dukungan
mbak Jingga, anak mommy juga turut berperan. Terus memberikan semangat
hingga Asih bisa bertahan.
Adik
angkatnya, Acik juga turut andil membuatnya betah. Dia telah menjadi
saudara yang penuh kasih sayang. Mereka tinggal berdua di rumah
sederhana, yang mereka bangun dari hasil menjual kebun. Mengingat
perjuangan mereka dulu, tak pernah terbayangkan bakal merasakan nuansa
pilkades yang sedang bergulir.
Asih
menghirup udara segar. Dia tersenyum penuh kebahagiaan. Tak ada yang
perlu ditangisi dari perjalanan hidupnya. Selama hati masih di Desa
Rangkat, banyak cinta yang tercurah untuknya. Cinta yang tulus. Apalagi
jika mas Hans benar-benar terpilih jadi kades, Asih yakin Desa Rangkat
akan semakin penuh kasih sayang dan cinta kasih.
Asih melihat jam tangannya, sebentar lagi warga akan menentukan pilihannya. Asih hanya tinggal menunggu Acik, untuk
bersama-sama menuju balai desa. Meski mungkin Acik memilih calon yang
lain, namun yang pasti persaudaraan mereka akan semakin erat.
“ Ayo, mbak kita jalan.” Ajak Acik yang muncul dengan gaun putih motif bunga-bunga. Cantik sekali.
“ Bajumu cocok dengan tema pilkades, penuh bunga-bunga.” Acik tertawa.
“ Tentu saja, mbak. Desa kita harus penuh kedamaian, kasih sayang, dan cinta kasih.”
“ Mbak Asih masih tetap memilih mas Hans?” lanjut Acik.
“ Tentu saja tetap pilih mas Hans.
Tidak mungkin berubah. Di hati mbak, dia yang terpilih untuk jadi
kades.” Sahut Asih penuh semangat. Acik juga tersenyum bahagia karena
dalam hatinya ada seseorang yang menjadi pilihannya.*
0 komentar:
Posting Komentar