Kisman tak tahan lagi. kehidupan yang di
jalaninya semakin hari semakin menyiksanya. Setiap hari dia harus
berbohong pada istrinya. Jika bertemu teman-teman dia bersikap seolah
masih jadi menantu pengusaha kaya. Padahal kehidupannya sekarang berbeda
180 derajat. Istrinya juga tak siap untuk hidup sederhana. Selalu
menganggap dirinya masih memiliki banyak harta yang bisa dia banggakan
pada teman-temannya.
Malam ini, Kisman termenung bermandikan
hujan deras di atas jembatan batu. Dia melihat kendaraan yang lalu
lalang di bawahnya. Haruskah dia melompat agar hidupnya lepas dari
masalah? Kemarin mertuanya meminta bntuan modal karena mengira kehidupan
menantunya sudah sukses. Kisman tak tahu alasan apalagi yang hendak dia
utarakan pada mertuanya.
“Mau melompat,ya?” tegur seorang pemuda yang tampak pucat. Rambutnya acakan-acakan. Kisman menatap heran.
” Ayo, kita sama-sama melompat. Aku juga
sama sepertimu. Masalahmu pasti berat. Tak ada jalan lain selain
melompat turun dan menyambut kematian.”
Pemuda itu terus berbicara. Sementara Kisman mulai terpengaruh. Dia mengikuti gerakan pemuda itu yang bersiap untuk melompat.
” Hei!!! apa yang kamu lakukan?! kamu
bodoh, ya. Bunuh diri itu dosa tau, bisa masuk neraka.” Kisman menoleh
cepat. Nampak pengemis tua memegang tangannya.
” Kemarin ada pemuda bunuh diri. Dia bodoh. Jangan ikuti perbuatannya.”
Kisman teringat pemuda di sebelahnya.
Dia mencarinya. Pemuda itu menghilang. Dia melihat ke bawah, tak ada
yang terjatuh. Lalu pemuda tadi siapa?
0 komentar:
Posting Komentar