“ Mas, bangun. Sekarang sudah jam 7, nanti terlambat kerja.” Tegur istri
Kisman sambil mencari seragam sekolah anaknya. Kisman membuka mata lalu
memeluk guling dengan malas.
“ Ayolah mas, sekali-kali antar si Mira pake mobil kita kenapa sih, mas? Kok malah di simpan di ruko.”
Kisman makin membenamkan kepalanya di balik guling. Karena tak tahan dia segera bangkit menuju kamar mandi.
“ Mobilnya udah laku mas? Kemarin ayah nelpon nanya uangnya.”
Langkah Kisman terhenti. Dia tak tahan lagi. Teringat kejadian semalam saat dia nyaris bunuh diri.
“ Aku ini cuma sopir, Nira. Semua mobil itu milik majikanku. Kita gak
punya mobil apalagi usaha rental.” Lega hati Kisman setelah mengucapkan
kata-kata yang membuat istrinya melotot tak percaya. Dengan cepat
istrinya melepas anaknya ke sekolah lalu balik lagi menatap tajam
suaminya.
“ Jangan bercanda, mas. Kalau gak mau bantu ayah, jangan buat alasan seperti ini.”
“ Aku gak bercanda, Nira. Ini kenyataan. Kita itu udah miskin sejak ayahmu bangkrut.”
Nira terduduk lemas di kursi.
“ Jadi selama ini, mas membohongi aku, kami semua?” Kisman menunduk. Dia
menyesali perbuatannya. Tiba-tiba istrinya beranjak masuk ke kamar
mengemasi pakaiannya.
“ Aku mau pulang ke rumah ayah. Aku minta cerai!” teriaknya membuat luka hati Kisman.
0 komentar:
Posting Komentar