Hari yang melelahkan. Aku baru tiba di rumah tepat jam 8 malam. Banyaknya pesanan yang di terima kantor membuat kami dari bagian administrasi harus turun tangan untuk membantu. Kejadian yang seharusnya kami syukuri karena itu berarti pendapatan perusahaan akan bertambah.
Masuk kamar aku segera membuka laptop. Seharian sibuk aku bahkan tidak punya kesempatan untuk melihat FB. Sambil menunggu laptop memunculkan fasilitas facebook, aku bergerak cepat mengganti pakaianku dengan daster lalu duduk manis di depan meja.
Aku masuk ke grup tempat biasa aku menyapa teman-teman. Ada beberapa pesan dan juga permintaan pertemanan. Ku klik bagian pesan satu persatu lalu membalas pesan mereka. Namun mataku terhenti pada satu nama yang tidak asing lagi bagiku. Aku merasa aneh. Tumben gadis pendiam ini mengirim pesan untukku padahal dalam kehidupan nyata kami jarang bertegur sapa.
Ferina Zubair namanya. Umurnya19 tahun. Gadis itu tinggal satu kompleks denganku hanya beda blok. Meski sering bertemu namun hubungan kami tidak terlalu akrab. Hanya sebatas saling senyum jika kami bertemu. Di jejaring sosial facebook, kami juga tidak begitu akrab meski dia juga seperti aku, suka menulis di kompasiana. Tulisannya di kompasiana kebanyakan berupa puisi yang menyedihkan.
Aku mengklik namanya dan membaca pesan singkat darinya.
Diana, tolong aku..
Aku tersentak kaget membaca pesannya. Terkirim jam satu siang tadi. Segera ku balas.
Ferina, kamu kenapa?
Tidak lama ada balasan darinya.
Tolong bebaskan aku dari sini.
Apa yang terjadi, kamu sekarang dimana?
Aku di rumah. Tolong aku, aku ingin lari. Aku di kurung di kamar sudah lima hari.
Siapa yang mengurungmu?
Paman. Tolong cepat Diana. Aku tidak bisa menelpon karena hape di ambil paman.
Baik. Aku segera cari cara biar bisa membebaskan kamu.
Aku log out dari FB lalu mematikan laptop. Terburu-buru ku kenakan jaket lalu keluar dari kamar menemui papa. Setelah menjelaskan masalah yang menimpa Ferina, papa lalu menghubungi pak RW dan beberapa warga. Serombongan kami lalu berjalan kaki menuju rumah Ferina.
Tiba di depan rumah Ferina, suasana rumah sangat gelap. Tak ada satupun lampu yang menyala.
” Apa benar dia ada di dalam?” Pak RW bertanya padaku.
” Pengakuannya begitu.” jawabku.
” Tapi bagaimana caranya masuk ke dalam kalau pemiliknya tidak ada? Apa sebaiknya kita lapor polisi saja, pak?” Usul pak RW pada beberapa warga yang ikut.
” Iya. Lebih baik lapor polisi saja, pak. Kasihan gadis itu kalau di sekap di dalam kamar.”
Setelah sepakat, pak RW lalu menghubungi pihak kepolisian. Setengah jam kemudian aparat kepolisian tiba. Mereka mencoba melacak keberadaan pemilik rumah namun semua nomor yang dihubungi tidak aktif. Polisi lalu membuka paksa pagar dan pintu rumah.
Kami lalu masuk ke dalam rumah. Menyalakan lampu lalu memeriksa satu persatu kamar untuk mencari Ferina. Kami akhirnya menemukan Ferina di lantai dua kamar paling belakang. Saat mengetuk pintu dan memanggil namanya terdengar jeritan Ferina dari dalam kamar.
Saat pintu terbuka, Ferina langsung memelukku. Dia menangis. Aku juga ikut menangis melihat keadaan dirinya. Ferina terlihat shock dan belum bisa berkata-kata. Dia hanya menangis.
Aku kemudian meminta ijin papa agar Ferina bisa istrahat di kamarku. Tubuh Ferina yang lemah membuatnya tidak kuat untuk melangkah. Warga yang kebetulan membawa motor akhirnya mengantarkan kami kembali ke rumah.
Di dalam kamar, mama terus menyuapi Ferina. Tubuhnya sangat lemah karena berhari-hari tidak makan. Bahkan selama di sekap Ferina meminum air dari kran membuat aku dan mama tak kuasa menahan air mata.
Ternyata kisah sedih Ferina yang selalu dia hadirkan dalam puisinya adalah kisah nyata yang dia alami. Ferina yang malang. Sekian tahun menerima siksaan dari pamannya dia tetap bungkam. Hanya menyalurkan rasa sedihnya dalam bentuk tulisan. Sekarang aku jadi maklum mengapa sikapnya sangat pendiam, ternyata dia memendam masalah yang sangat berat. Syukurlah sekarang dia terbebas.
Beberapa hari kemudian, pihak keluarga Ferina menjemputnya dan membawanya ke kampung. Aku tidak lagi mendengar kabar tentangnya. Bahkan pesanku di FB tidak mendapat balasan darinya. Aku berdoa agar nasib Ferina baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
***********
0 komentar:
Posting Komentar