Selasa, 03 April 2012

Hadiah Dari Nenek ( 8 )

0

13298868521346037163

Aku mengalihkan pandangan pada Ferdy yang tidur lelap di tempat tidurnya. Baru saja berniat untuk membangunkannya, tiba-tiba daun jendela terkuak. Seberkas cahaya masuk dan menjelma menjadi bayangan samar seseorang.

“ Ada yang ingin menarik kekuatan yang di miliki Ferdy melalui pikirannya. Ferdy tidak tahu dan tidak akan pernah menduganya karena ilmunya belum sampai tahap  ini. Tugasmu untuk melindungi pikirannya.”

Bayangan samar itu kemudian menghilang namun jendela tetap terbuka. Aku berjalan mendekati jendela kemudian mengintip ke luar. Tak ada yang mencurigakan. Lalu apa maksud wanita itu kalau aku harus melindungi pikiran Ferdy? Dia juga tidak memberitahu cara untuk melindungi Ferdy.

Baru saja aku berpikir, tiba-tiba tubuhku bergerak sendiri menuju Ferdy. Tanganku menyentuh jemarinya lalu menggenggamnya dengan erat. Aku kini paham. Cara untuk melindunginya dengan masuk ke dalam fikirannya. Memberikan kekuatanku untuk mencegah kekuatan jahat memasukinya.

Beberapa menit berlalu, sebuah sinar hitam terlihat berputar-putar di depan jendela. Aku siap menanti apa gerangan yang akan di lakukan kekuatan jahat itu. Anehnya, sinar hitam itu hanya bertahan di depan jendela. Tidak lama kemudian, sinar hitam itu menghilang.

Aku segera menutup daun jendela dengan pikiranku lalu memastikan kondisi Ferdy baik-baik saja. Setelah yakin aku lalu kembali ke kamarku. Kulihat tubuhku tertidur pulas. Dengan cepat aku menyatu dengan tubuhku lalu terlelap dengan tenang.

“ Aku mimpi buruk semalam.” Ucap Ferdy saat kami bertemu di kampus pagi ini.

“ Mimpi buruk? Mimpi apa?” tanyaku masih penasaran meski aku tahu kejadian semalam.

“ Aku bermimpi, ada yang berusaha menarik tubuhku. Mereka ingin membawaku pergi. Syukurlah aku tetap bertahan hingga akhirnya mereka menghilang.”

“ Kamu melihat mereka?” tanyaku. Ferdy menggeleng.

“ Pagi ini aku juga belum melihat Deta dan Adi. Kita harus waspada dengan mereka.” Kataku lagi.

“ Pulang kuliah nanti, temani aku ya Lita. Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”

“ Apa itu?” Ferdy tersenyum.

“ Gunakan pikiranmu untuk melihatnya. Ok, aku kuliah dulu ya.”

Ferdy kemudian berjalan meninggalkanku. Aku ingin mengikuti sarannya namun saat melihat jam tanganku ternyata kuliah sebentar lagi akan di mulai. Tergesa aku berjalan menuju ruang kuliah.

Saat hendak masuk ruang kuliah, kurasakan hembusan angin di belakangku. Aku menoleh cepat dan sekelebat bayangan hitam nampak melesat lalu menghilang di ujung gedung.

Aku langsung teringat Ferdy. Aku berlari menuju ruangannya sambil mencari hape mencoba untuk menghubunginya.

“ Hallo. Ferdy..hati-hati..”

Ucapanku belum selesai ketika kudengar teriakan dari seberang. Aku makin panik. Kuputuskan sambungan telpon dan terus berlari hingga tiba di depan ruangan. Aku masuk dan nampak kerumunan mahasiswa. Mereka tengah mengelilingi seseorang. Aku makin yakin kalau Ferdy dalam bahaya.

Aku menerobos kerumunan itu dan benar saja. Nampak Ferdy terkulai di lantai. Dari mulutnya mengeluarkan darah hitam. Aku segera bersimpuh di depannya sambil menaruh ke dua tanganku di dada dan dahinya. Aku tidak peduli lagi akan tanggapan mereka yang melihatku. Sekarang aku harus menyelamatkan Ferdy, bagaimanapun caranya.

Ku kerahkan seluruh kemampuan yang aku miliki. Samar-samar aku melihat dua bayangan biru menghampiriku, menyentuhku lalu masuk ke dalam tubuhku. Aku tidak limbung seperti biasa jika ada kekuatan yang ingin menyatu dalam tubuhku. Justru tubuhku terasa makin kuat dan tidak lagi kesulitan untuk memberi kekuatan pada Ferdy.

Makin lama kulihat darah hitam itu berhenti mengalir lalu perlahan-lahan nafas Ferdy mulai teratur. Dia membuka matanya.

“ Lita..” suaranya parau menyebut namaku. Aku terharu karena akhirnya bisa menyelamatkan Ferdy. Ku angkat kepalanya dan menyandarkan di pangkuanku.

“ Kamu bisa bangun? Jangan kuliah dulu. Kita istrahat di mobilku saja.” Kataku.

Ferdy mengangguk lemah. Dia lalu berusaha untuk bangun. Beberapa mahasiswa memapah dan membawanya ke mobilku.

“ Apa yang terjadi denganku? Mengapa aku sama sekali tidak tahu dan tidak bisa melindungi diriku?” tanya Ferdy saat kami hanya berdua saja di dalam mobil. Jendela mobil sengaja kubiarkan terbuka agar udara segar leluasa masuk.

“ Mereka tahu kelemahanmu. Cepat sekali mereka menebaknya. Aku yakin, akulah sasaran mereka namun sulit menembusku karena itu mereka membalas melalui dirimu.”

“ Tapi mengapa aku tidak tahu?” Ferdy masih belum paham ucapanku.

“ Justru karena itu kelemahanmu makanya kamu tidak tahu. Semalam mimpimu itu adalah nyata. Karena semalam gagal, mereka mengulanginya lagi pagi ini. Meski mereka bisa melukaimu namun aku bisa cepat menetralisir kekuatanmu, akhirnya mereka tidak bisa….”

Aku tidak melanjutkan kata-kataku.

“ Tidak bisa apa? Apa yang akan mereka lakukan?”

“ Mereka ingin mengambil seluruh kekuatanmu, ilmu yang kamu miliki melalui pikiranmu.”

Ferdy tersentak kaget lalu menyandarkan tubuhnya di jok mobil.

“ Kamu jangan panik. Aku sedang mencari cara agar bisa melindungi pikiranmu. Selama ini aku tidak tahu caranya karena kekuatan yang aku miliki muncul dengan sendirinya. Begini saja, pegang tanganku..”

Ferdy kemudian memegang tanganku.

Aku lalu konsentrasi mencoba memberikan kekuatan untuk melindungi pikirannya. Beberapa menit kemudian tangan kami bergetar hebat lalu sebuah sinar berpindah dari tanganku masuk ke dalam tangannya.

Aku  bersandar lemas. Ke dua tangan kami terlepas.

“ Hanya itu yang bisa aku lakukan. Setidaknya untuk saat ini kamu aman. Seharusnya kekuatan itu berasal dari dirimu hanya saja aku belum tahu cara untuk menemukan kekuatan yang kamu miliki. Oh, ya mengapa kamu tidak seperti aku? Bukankah kamu memiliki kekuatan ini dari ayahmu? seharusnya seperti aku, ada kekuatan pendahulu yang membantu.”

“ Kamu dan aku berbeda. Sejak awal aku sendiri yang harus mencari tahu tentang ilmu yang aku miliki. Setelah kita bertemu, aku baru bisa berbagi dan membahasnya denganmu.”

“ Tapi pasti ada cara untuk menemukan kekuatan yang kamu miliki. Pasti ada. Sulit jika harus mengambilnya dari luar dirimu. Kita tidak selamanya bersama. Aku tidak mungkin terus-terusan melindungimu.”

“ Kalau begitu selagi kekuatan yang kamu berikan masih sanggup melindungiku, kita harus cari cara untuk menemukan kekuatan dalam diriku.”

Aku menggiyakkan.

“ Aku makin penasaran dengan ruangan yang ada di rumah Deta. Saat aku mencoba menerawang dan memasukinya, aku tidak bisa menembusnya meski mencobanya berkali-kali. Aku bahkan kena teguran karena mencoba kekuatan inti padahal belum waktunya aku gunakan.”

“ Ruangan? Maksudmu ruangan yang ada tanda merahnya?” tebak Ferdy.

“ Iya. Kamu sudah melihatnya? Apa kamu bisa masuk ke dalam ruangan itu?”

Ferdy menggeleng.

“ Tapi aku yakin, ruangan itu bukan ruangan biasa. Ada sesuatu hingga kita sulit untuk menembusnya..”

Aku ingin melanjutkan kata-kataku ketika ada suara yang begitu dekat di telingaku.

“  Datanglah ke rumah Deta sekarang…”

Aku terpaku lalu menatap Ferdy.

“ Kamu mendengar sesuatu?” tanyaku pada Ferdy yang terlihat tenang.

“ Apa?”

“ Ternyata tidak. Sekarang juga kita ke tempat Deta. Petunjuk yang aku dengar mengharuskan kita untuk kerumahnya.”

Kuhidupkan mesin mobil lalu bergerak menuju rumah Deta.

*********

Aku menghentikan mobil agak jauh dari rumah Deta.

“ Masuk dengan normal tentu tidak bisa. Kita harus masuk dengan caraku.” Kataku sambil melihat rumah Deta.

“ Maksudmu?” tanya Ferdy.

Aku tidak menjawab pertanyaannya karena aku sedang melihat situasi rumah melalui pikiranku.

“ Pegang tanganku.” Kataku pada Ferdy. Dia lalu memegang tanganku tanpa bertanya lagi.

Aku lalu konsentrasi dan berpikir berada di depan kamar misterius itu. Seketika tubuh kami berdua telah berada

di dalam rumah Deta dan kami berdua berdiri tepat di depan ruangan misterius itu.

“ Kita bahkan tidak bisa menyentuh pintu ini.” Kataku menatap sekilas pada Ferdy.

“ Apa yang harus kita lalukan? Tidak mungkin kita terus berdiri di sini, kita bisa ketahuan.”

Aku tersenyum.

“ Kamu tenang saja. Aku sudah menggunakan ilmu menghilang hingga tak sembarang orang bisa melihat kita. Aku gunakan yang tertinggi tingkatannya karena di dalam rumah ini ada kekuatan yang belum bisa kita tebak kemampuannya.”

“ Maksudmu?”

“ Jangan buat aku tertawa, Ferdy. Sejak tadi kamu terlihat bingung? Bukankah kamu paham kemampuan yang aku miliki?”

“ Maaf, aku merasa bingung saat ini. Mungkin pengaruh kejadian tadi di kampus.”

“ Lita, kekuatan Ferdy berada di dalam ruangan ini. Mereka mencuri dari ayahnya Ferdy hingga kekuatan Ferdy tidak sempurna. Hanya Ferdy yang bisa memasuki ruangan ini, namun dengan kekuatan terbatas yang di milikinya, jelas dia tidak akan mampu. Karena itu gunakan kekuatanmu dan Ferdy secara bersamaan agar kalian bisa masuk ke dalam ruangan ini.”

Suara terdengar di dekat telingaku.

“ Ferdy, ayo berdiri di depanku.” Ferdy lalu berdiri di depan pintu membelakangiku. Kusentuh pundaknya sementara tangan Ferdy menyentuh pintu. Kami berdua lalu membaca mantra dan konsentrasi untuk menerobos pintu tersebut.

Tidak memerlukan waktu yang lama, kami berdua akhirnya bisa berpindah dan berada dalam ruangan tersebut. Kami terpana dan hanya diam menatap ruangan yang tampak biasa saja.

“ Apa yang harus kita cari dalam ruangan ini? Ruangan yang kosong bahkan satu kursi pun tak ada.” Seru Ferdy kesal.

“ Jangan lihat dengan mata biasa, Ferdy. Lihat dengan  mata batinmu. Di sudut ruangan sana, ada kotak bersusun. Mungkin itu jawabannya.” Kataku lalu melangkah menuju kotak-kotak itu.

Aku menunduk untuk mengambilnya namun seketika tubuhku terlempar. Aku terbangun kaget dan langsung teringat akan pesan suara yang kudengar. Apakah hanya Ferdy yang bisa menyentuhnya? Pikirku.

“ Ferdy, hanya kamu yang bisa menyentuhnya. Aku tidak bisa.” Kataku sambil memijat kakiku yang terasa sakit akibat terdorong oleh kekuatan aneh.

Ferdy maju lalu mengambil kotak tersebut.

“ Bukalah, semoga ada petunjuk yang bisa kita dapat.”

Perlahan Ferdy membukanya namun segera melemparnya karena takut. Wajah Ferdy nampak pucat. Aku bergegas mendekatinya.

“ Ada apa? Apa yang kamu lihat?”

“ Aku..aku…melihat wajah ayahku.” Ucap Ferdy dengan nafas tersengal.

“ Kenapa kamu takut melihat wajah ayahmu?”

“ Aku melihat ayahku dengan leher tergantung. Aku tidak sanggup melihatnya.”

“ Tapi..hanya kamu yang bisa menyentuhnya. Aku tidak bisa. Kamu harus berani, Ferdy. Hanya kamu yang bisa menolong ayahmu dan mengembalikan kekuatan yang mereka curi dari ayahmu. Karena itu kemampuanmu belum sempurna.”

“ Benarkah? Apa seperti itu kejadiannya?” Ferdy terperangah kaget.

“ Benar.”

Tanpa di minta Ferdy segera berlari mengambil kotak itu. Lalu setelah menarik nafas berulang-ulang, dia mengumpulkan kekuatan untuk membuka kotak tersebut. Aku berdiri di belakangnya untuk membantu agar dia bisa melawan kekuatan aneh yang mengurung ayahnya.

Tidak seperti saat membuka pintu pertama, kali ini kami harus berusaha keras. Peluh bercucuran dari keningku dan kurasakan tanganku telah basah namun kami belum juga bisa membebaskan ayah Ferdy.

“ Tenagaku hampir habis, Lita. Aku tidak sanggup lagi..” teriak Ferdy mengagetkanku. Aku akhirnya pasrah. Kupinta delapan cahaya agar membantu kami. Karena kekuatan yang aku miliki baru berasal dari empat  cahaya.

Harapan terakhir akhirnya berhasil. Cahaya meluncur dari dalam kotak dan segera memenuhi ruangan. Kotak itu kemudian menghilang. Belum hilang rasa terkejutnya kami, tiba-tiba muncul bayangan seseorang. Aku tidak mengenalnya.

“ Ayah!” panggil Ferdy. Aku menoleh melihatnya. Matanya berkaca-kaca. Dia nampak berusaha menahan tangis.

“ Anakku, terima kasih karena telah membebaskan ayah. Sekarang kemampuan yang kamu miliki akan menjadi sempurna. Kalian berdua akan menjadi kekuatan yang hebat dan tak tertandingi. Namun hati-hatilah, jangan terjebak seperti ayah di masa yang lalu hingga mereka bisa mencuri ilmu dan mengurung ayah.”

Ferdy terlihat masih ingin berlama-lama berbicara dengan ayahnya, namun cahaya yang memenuhi ruangan perlahan menghilang dan masuk ke dalam tubuh Ferdy. Ferdy terpelanting beberapa meter.

“ Kamu tidak apa-apa?” tanyaku sambil menarik tangannya. Dia nampak meringis.

“ Seperti di tabrak sapi.” Aku tak bisa menahan tawaku.

“ Kamu pernah di tabrak sapi?” Ferdy mengangguk membuat tawaku makin keras.

“ Aku kesakitan kamu malah tertawa..” Wajah Ferdy cemberut.

“ Maaf, habis kata-katamu lucu sih…”

“ Jangan bercanda lagi. Sebaiknya kita segera keluar dari rumah ini.”

Aku dan Ferdy lalu berpegangan tangan. Tidak seperti tadi, kali ini kami bisa menyatukan pikiran dan kembali berada di dalam mobil dengan selamat.

“ Mengapa kamu tidak katakan sejak awal kalau kekuatan penyempurna berada dalam ruangan itu?” Ucap Ferdy saat aku menjalankan mobil. Kami harus meninggalkan rumah Deta secepatnya sebelum mereka menyadari ruangan yang kami masuki telah terbuka.

“ Aku juga baru tahu saat kita berada di depan pintu. Untuk menjelaskan tidak ada kesempatan. Yang penting sekarang, ayahmu telah bebas dan kamu bisa mendapatkan kekuatan penyempurna yang selama ini hilang di curi.”

Ferdy tersenyum senang. Matanya nampak bercahaya. Aku tahu dia tidak akan merasa khawatir lagi. Aku juga demikian.

**************

( Bersambung )

0 komentar:

Posting Komentar