Tiba di rumah kulihat mama duduk dengan koper didekatnya. Pandangan mama sangat berbeda. Kulihat sinar yang mengelilinginya warna coklat. Mama sedang bersedih? lalu koper itu untuk apa?
” Ma, ada apa? Mama mau kemana?” tanyaku. Mama menyambut tanganku yang merangkulnya. Menarik nafas dalam-dalam.
” Nenekmu sakit.”
” Nenek sakit? sakit apa, ma. Waktu kemari nenek baik-baik saja.” kataku cemas.
” Mama juga bingung. Nenekmu tidak pernah menceritakan tentang penyakitnya tiba-tiba saja dia harus masuk rumah sakit untuk istrahat. Mama jadi bingung karena tantemu, tante Yati baru saja melahirkan. Kasihan dia pasti sangat panik.” Desahan nafas mama terdengar lagi.
” Jadi mama mau ke rumah nenek sekarang?”
” Iya. Rencana mama seperti itu.”
” Aku antar ya, ma.”
” Tidak usah. Mama pergi sendiri saja naik taksi.”
” Mama yakin tidak mau aku temani?” Mama mengangguk lalu berdiri. Mengecup keningku lalu menarik kopernya.
” Aku saja, ma.” Kataku sambil menarik koper mama. Kami lalu beriringan keluar menuju taksi yang baru saja tiba.
Setengah jam setelah kepergian mama, aku duduk di depan meja. Aku baru saja selesai mandi dan masih mengenakan handuk di kepalaku.
Aku membaca kertas pemberian nenek. Mencoba lebih memahami maksud dari kalimat-kalimat yang tertulis.
” Nenek, sayang sekali kamu sakit. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.” gumamku bingung.
” Nenekmu bukan sakit. Itu alami. Jika ilmu telah pindah maka batas hidupnya tidak akan lama lagi.”
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dekat sekali di telingaku. Aku menoleh dan tepat disampingku telah berdiri seorang wanita yang berbaju biru. Aku terkejut dan berdiri menghadapnya. Aku mengira wanita ini yang telah menghantam tubuhnya padaku, ternyata bukan. Wajahnya berbeda.
” Siapa kamu? apa kamu juga akan menghantam tubuhmu padaku lalu menghilang?” tanyaku gugup. Dia tersenyum.
” Aku nenekmu juga dari garis keturunan yang sangat jauh. Tentu saja aku akan menyatu dalam tubuhmu karena itu adalah jalan tercepat untuk menambah kemampuanmu.Tapi sebelum menghilang, aku ingin memberitahukan beberapa hal padamu.” Suaranya sangat lembut.
” Lalu apa maksud perkataanmu tadi, kalau nenek tidak sakit?”
” Itu proses yang alami. Kami juga mengalaminya. Sakit hanyalah sebuah cara untuk memudahkan proses perpindahan dari alam kalian ke alam kami. Namun setelah meninggal, kami akan masuk ke dalam tubuh-tubuh penerima kekuatan cahaya. Masuk ke tubuhmu.”
” Aku masih penasaran. Maksudmu, nenekku tidak lama lagi akan meninggal?”
Wanita itu mengangguk membuatku terpana dan duduk di kursi. Kurasakan seluruh tubuhku tak bertenaga. Aku menangis.
” Jangan menangis. Ini bukan hal untuk di tangisi. Kelak kamu juga akan mengalaminya. Jika waktunya tiba, tak ada yang bisa menolaknya.”
Tangisku makin deras.
” Kalau begitu, aku tidak ingin menerima ilmu ini kalau harus mengorbankan nenekku. Aku ingin nenekku tetap hidup. Aku tidak ingin dia mati.” Kutatap wanita itu dengan air mata berlinang.
” Kamu pikir nenekmu akan senang mendengar ucapanmu? apa kamu tidak tahu betapa gelisahnya nenekmu sebelum kamu lahir? jiwanya tidak akan tenang sebelum hadir pengganti. Lalu sekarang kamu mengatakan akan menolak? Dia akan tersiksa. Apa kamu paham yang kamu katakan? Apa kamu tega menyiksa nenekmu sendiri? cucu seperti apa kamu?”
Aku terdiam mendengar ucapannya. Sebagian pikiranku mengatakan jika ucapannya benar dan masuk akal.
” Sebagai orang terpilih, kamu seperti juga penerus sebelumnya. Tidak punya pilihan selain menerima. Karena ini tugas mulia bukan sembarang orang yang ditunjuk untuk menerimanya. Aku bukan orang lain bagimu karena itu aku hanya ingin menasehatimu agar berhati-hati. Tanpa kamu sadari kamu akan lebih tangguh dari hari ke hari. Seiring dengan kemampuanmu yang bertambah, musuh-musuhmu juga akan mulai kelihatan. Jaga baik-baik kertas itu. Itu lebih berharga dari apapun yang kamu miliki. Kertas itulah yang sebenarnya sedang mereka incar.”
” Untuk apa mereka mengincar kertas itu?”
” Bukan aku yang akan menjelaskan tentang kertas itu. Akan datang penerus sebelumnya yang akan menjelaskan padamu. Sekarang pandang aku. Sudah tiba waktunya aku untuk masuk ke dalam tubuhmu.”
Tidak seperti ketika pertama kali bertemu wanita berbaju biru yang menghantam tubuhku, waktu itu aku ketakutan, namun kali ini aku tidak merasa takut lagi. Aku siap menerimanya menyatu dengan tubuhku. Meski masih sedih karena teringat nenek, namun ucapan wanita itu membuatku mengerti. Aku tidak ingin membuat nenekku lebih menderita dengan menolak pemberian ilmu ini.
Sinar terang memancar dan mengelilingi wanita itu. Perlahan dia mendekatiku hingga akhirnya menyentuh dan masuk ke dalam tubuhku. Tubuhku bergerak dan nyaris jatuh namun dengan cepat aku memegang kursi untuk menyanggah tubuhku. Nafasku sesak. Aku berlari membuka jendela lalu menarik nafas lega. Dalam kegelapan ku lihat sebuah cahaya melesat meninggalkan rumahku. Jauh menembus langit. Aku heran dan terus menatap langit tempat cahaya itu menghilang.
Lama kupandangi langit. Anehnya saat aku berniat menutup jendela, tiba-tiba saja jendela menutup dengan sendirinya. Belum hilang rasa heranku, aku tiba-tiba saja sudah berada dalam kamar mandi. Aku makin takjub karena sebelumnya aku berniat untuk masuk ke dalam kamar mandi. Karena dua kejadian itu, aku makin penasaran.
Pikiranku tertuju ke sabun mandi, dan benar saja, sabun sudah ada ditanganku tanpa aku mengambilnya. Benar-benar fantastis. Ternyata kemampuan cahaya makin lama makin membuatku kagum. Akhirnya pikiranku makin aneh. Aku tiba-tiba berpikir untuk bisa mandi dalam sekejap. Ternyata benar. Tubuhku bersih dalam sekejap. Aku terlonjak kegirangan. Jika ada yang melihat tingkahku sekarang ini, pasti akan mengira aku gila. Aku tertawa sendiri di dalam kamar mandi.
Malam kian larut namun aku terus mempraktekkan ilmu yang telah aku dapat. Termasuk dengan gerakan-gerakan bela diri yang mudah untuk aku lakukan. Benar-benar perubahan drastis. Aku bisa melompat dan melakukan gerakan-gerakan sulit padahal sebelumnya sangat mustahil untuk aku lakukan.Setelah lelah aku duduk di tempat tidur. Merenung memikirkan kondisiku.
Aku masih tidak percaya kehidupanku berubah sangat drastis. Aku teringat Adi dan Deta. Jika benar hasil terawang Ferdy yang mengatakan, Adi juga memiliki kemampuan yang mirip denganku, berarti pertanyaanku akan sinar hitam yang mengelilingi Adi mulai terjawab. Sinar itu berhubungan dengan kekuatan yang di miliki Adi. Apakah kemampuan yang dimiliki Adi adalah aliran hitam yang berlawanan dengan kemampuan cahaya yang aku miliki? Itukah sebabnya warna sinar yang yang ada padanya adalah hitam?
Aku penasaran hingga muncul keinginan untuk menerawangi Adi. Aku duduk tegak dan mulai konsentrasi. Belum beberapa detik muncul layar di besar di depanku. Aku seolah berada di rumah Deta. Aku yakin saat ini Adi berada di rumah Deta karena yang kupinta adalah tempat di mana Adi sekarang ini berada. Aku terus menyusuri rumah mereka.
Aku berhenti di depan sebuah kamar. Aku ingin masuk namun seperti ada kekuatan yang menahanku. Beberapa kali mencoba tetap saja tidak bisa. Aku mulai cemas. Bingung bagaimana harus bertindak. Aku teringat dengan kertas pemberian nenek. Aku berniat dan kertas itu tiba-tiba saja berada di tangaku. Kupegang kertas itu dengan harapan bisa kupakai untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
Aku tersentak kaget karena layar di depanku menghilang. Belum hilang rasa terkejutku di depanku telah muncul bayangan seorang wanita. Hanya samar-samar.
” Jangan mencoba sesuatu di luar kemampuanmu. Belum saatnya menggunakan kertas itu. Jika kamu melanggar, kamu sendiri yang akan merasakan akibatnya. Akan tiba waktunya kamu menggunakan kertas itu sebagai senjata. Bukan sekarang. Ingat, jangan lagi menggunakan kertas itu sebelum ada perintah menggunakannya.”
Suara dan bayangan wanita itu kemudian menghilang. Aku terkejut mendengar pesan yang disampaikan wanita itu. Lama aku terpaku sebelum akhirnya memilih untuk menarik selimut dan tidur. Rasa kantuk membuatku tak lagi bisa bertahan. Aku tertidur. Belum lama tertidur aku membuka mata. Aku merasa asing karena berada di dalam ruangan yang bukan kamarku. Aneh. Kamar siapa ini? aku bangun dan melihat sekeliling. Siapa pemilik kamar ini? mengapa aku bisa berada di sini?
Mataku menatap sebuah potret yang terpajang di dinding kamar. Kamar Ferdy? mengapa aku bisa berada di kamar Ferdy? apakah aku saat ini sedang bermimpi? bukankah tadi aku tertidur lalu mengapa tiba-tiba saja aku malah pindah ke kamar Ferdy? keanehan apa lagi ini?
************
( Bersambung)
0 komentar:
Posting Komentar