Pertemuan dengannya hari ini benar-benar tak terduga. Aku sedang berkunjung ke rumah salah seorang kerabat ketika tiba-tiba Kak Rian muncul. Karena malu, aku berlari masuk ke dalam rumah lalu mengintip keluar lewat gorden pintu.
Apa ini kebetulan ataukah sudah direncanakan? mengapa kami bisa bertemu di hari dan jam yang sama? aneh?
Aku terus mengintip hingga tak menyadari kehadiran tante yang ternyata sejak tadi memperhatikanku.
” Tidak baik mengintip, nanti mata kamu bisulan..” Aku refleks menutup gorden.
” Eh..itu..tante..” tante tertawa.
” Tante tahu, pasti karena dek Rian hingga kamu seperti ini. Kenapa harus malu bertemu dengannya? dulu dia memang pacar kamu tapi kan semua sudah jadi masa lalu, kamu sudah menikah..”
Aku terenyuh mendengar ucapan tante Wuri. Apa yang diucapkan tante benar. Mengapa aku harus malu bertemu dengan kak Rian, bukankah semua kisah kami hanya jadi bagian masa lalu?
Aku teringat dua tahun yang lalu saat aku meminta kepastian tentang hubungan kami.
” Kakak belum bisa melamar kamu saat ini, uang kakak belum mencukupi. Kakak juga masih banyak tanggungan adik-adik yang masih sekolah. Jangan sekarang dulu, umurmu juga baru 25 tahun. Nantilah…”
Aku terdiam kecewa. Umurku baru 25 tahun katanya? baru? apa kak Rian tidak merasakan kecemasanku? kecemasan orang tuaku? kami pacaran sudah 5 tahun dan tidak pernah sekalipun ada ketegasan dari kak Rian mengenai hubungan kami. Selama ini kak Rian hanya sibuk dengan pekerjaannya tanpa pernah membicarakan keseriusannya di depan orang tuaku.
Aku cemas namun kak Rian tenang-tenang saja. Masih cintakah dia atau ini hanya cara agar aku yang mengundurkan diri? aku tidak lagi bisa berpikir. Hubungan yang tanggung menurutku. Jika aku bertahan, mungkin saja hati kak Rian akan tergerak untuk segera melamarku. Namun bagaimana jika bertahun-tahun kemudian, niat itu tak juga hadir di hatinya? apakah sekarang atau nanti saja aku memilih untuk meninggalkannya?
” Kak Rian, ada yang melamarku..”
Aku akhirnya berbicara setelah lama terdiam.
” Siapa? kamu jangan bercanda. Aku tahu kadang orang tua gadis mengatakan hal seperti ini untuk memancing agar anaknya segera di lamar. Itukan maksud orang tuamu?”
Pandangan kak Rian serta ucapannya yang meragukanku membuatku sedih. Aku makin kecewa.
” Bagaimana jika itu benar.” Aku masih berusaha bertahan dan tidak nampak sedih di depannya.
” Terima saja. Tidak baik menolak lamaran orang.”
Aku pulang dengan tangis yang tak sanggup lagi aku tahan. Sekarang aku tak punya harapan lagi. Kak Rian sama sekali tidak ingin mempertahankan aku. Percuma selama ini aku menanti. Bertahun-tahun hanya mendengar kata sabar. Sabar sampai kapan? Yang aku ingin hanya kepastian bukan kata sabar. Apa lima tahun tidak cukup untuk mengukur betapa sabarnya aku menunggu?
Salahkah jika aku kemudian mengenal seseorang dan membuka hati untuknya?
” Aku serius. Aku ingin dengar jawabanmu sekarang, bukan sebentar, besok, minggu depan atau bulan depan. Kita memang baru kenalan seminggu tapi aku sudah yakin untuk melamarmu. Aku tidak peduli apakah kamu punya pacar atau sudah putus. Kalau kamu bersedia, maka aku akan mengurus pernikahan kita mulai sekarang.”
Tatapan dan ucapan yang tegas dari kak Imran memberi keyakinan padaku jika dia benar-benar serius. Aku akhirnya menerima lamarannya. Sikapnya membuatku terharu. Ketika kukatakan setuju, dia lalu mengeluarkan cincin dari saku bajunya dan memasangnya di jemariku. Sejak malam itu kami resmi menjadi kekasih dan sebulan kemudian kami menikah.
Tak ada lagi nama kak Rian di hatiku. Aku hanya ingin mencintai satu lelaki yang juga tulus mencintaiku. Dia adalah suamiku sekarang, kak Imran. Tak ada lelaki lain yang pantas untuk menerima kasih sayangku. Menjadi istrinya selama dua tahun ini membuatku bahagia. Aku bersyukur mengenal dan memilihnya menjadi suamiku. Terlebih karena kak Rian hingga kini belum juga menikah.
<><><><>
0 komentar:
Posting Komentar