Selasa, 03 April 2012

Terima Kasih Karena Membuatku Bahagia

0

13302371051413168341

Pemakaman telah sepi. Satu persatu  pelayat beranjak pergi dengan wajah sedih dan mata yang sembab. Aku masih setia berada di sini, duduk di atas tembok makam. Aku tak ingin mendekatimu meski hanya kamu satu-satunya yang masih bertahan dan belum juga beranjak dari makam. Kerudung hitam yang kamu kenakan beberapa kali terjatuh dan kamu mengaturnya kembali untuk menutupi rambutmu yang indah.

Aku tak ingin kamu menangis meski sejak tadi aku juga menangis. Aku sedih melihatmu. Aku bisa merasakan kesedihanmu karena  aku juga pernah kehilangan orang yang sangat aku sayangi. Wajahnya mirip denganmu. Sangat mirip hingga aku sempat terpana saat pertama kali kita bertatapan. Aku senang akhirnya bisa menemukan dirimu yang mirip dengan kekasihku. Kehidupan yang kurasa telah berakhir karena rasa putus asa, akhirnya kembali memberikan semangat untukku.

Sejak perkenalan kita, aku jadi bergairah lagi untuk kuliah. Aku selalu ingin bertemu denganmu meski aku tahu kamu telah memiliki kekasih. Aku tidak peduli. Bagiku asal bisa melihatmu, itu sudah cukup. Aku rela menjadi pengagum setia yang selalu bermimpi tentangmu. Melamunkan dirimu saat aku sendiri. Meski  hanya sesekali menyapa, namun suaramu sanggup menggetarkan hatiku.

Cinta  di hatiku makin lama makin dalam hingga  aku tak bisa mengendalikan diriku. Kadang aku menelponmu dan bertanya hal yang mungkin bagimu tak masuk akal, namun kamu tetap ramah melayaniku. Tak ada kesan bosan atau kesal karena aku terus mengganggumu. Di kampus aku selalu berusaha untuk dekat denganmu hingga beberapa sahabatmu menertawaiku. Sepertinya, hanya kamu seorang yang tidak tertawa. Kamu bahkan mendekatiku lalu duduk disampingku.

Perhatianmu membuatku serasa terbang ke langit ke tujuh. Aku makin terbuai dan tak lagi menganggap dirimu orang lain. Bagiku, kau adalah kekasih dalam hidupku. Kekasih dalam hati dan pikiranku. Meski aku harus terluka setiap kali melihatmu lewat di depanku dengan kekasihmu. Aku hanya bisa menelan kekecewaan dengan menutup mata dan menguatkan hatiku. Sumpah, ingin rasanya aku menarik tanganmu agar tidak bersama kekasihmu!

Hingga suatu hari, tiba-tiba kamu mendatangiku. Aku merasa tersanjung karena kamu hadir dengan dua gelas kopi yang hangat. Kita duduk berdua di cafe kampus yang kebetulan sepi karena hari beranjak sore. Pertama kalinya aku gugup dan gemetar. Aku bingung menyusun kata untuk berbicara denganmu.

” Aku suka sama kamu.”

Tiba-tiba meluncur kalimat yang nyaris membuatku terjungkal dari kursi karena kaget. Aku menatap bibirmu yang bergetar dan  matamu yang berkaca-kaca.

” Aku benar-benar suka sama kamu.” Ulangmu kali ini dengan isak  tertahan. Tanganmu yang gemetar terus memegang gelas minuman. Begitu juga denganku. Sepertinya kita berdua sama-sama gugup.

Seharusnya aku bahagia mendengar ungkapan perasaanmu. Namun aku ingin kepastian. Kata suka bisa juga berarti senang menjadi temanku, senang mengenalku. Tidak selalu mengarah pada perasaan cinta. Aku tidak ingin geer lalu gembira sendiri.

” Aku juga suka  sama kamu.” kataku lalu melanjutkan dalam hati, aku juga cinta mati sama kamu.

Kamu menatapku dengan mata beningmu yang basah. Aku menelan ludah, ingin rasanya aku menyentuh dan mengusap air matamu. Sayang, aku terlalu takut untuk melakukannya.

” Benarkah? kamu juga suka sama aku?”

” Iya.”

” Syukurlah aku tidak bertepuk sebelah tangan. Selama ini aku begitu tersiksa menjadi kekasih Dio. Beberapa kali aku minta putus, namun dia selalu menolak dan mencariku. Memohon hingga aku merasa iba. Padahal aku sudah jenuh menjadi kekasihnya. Aku merasa hanya di peralat bukan di anggap kekasih.”

Aku terperangah mendengar kalimat-kalimat yang meluncur dengan lancar dari bibirmu yang indah. Apa maksud perkataanmu tidak bertepuk sebelah tangan? apakah ini sinyal cinta? Aku makin gugup dan debar jantungku membuatku ingin berdiri untuk menetralisir perasaanku. Namun aku tetap membeku di kursi. Tak berbicara hanya menyimak setiap kata yang kamu ucapkan.

” Aku senang saat kamu menelponku. Kita berbincang lama sampai tengah malam. Aku suka. Sebenarnya sejak lama aku ingin mendekatimu namun aku takut. Dio akan mencarimu dan memukulmu. Aku tidak ingin dia melukaimu. Karena itu aku hanya bisa menatapmu dari jauh. Kadang kalau Dio tidak ada, aku nekad duduk di dekatmu. Seperti sekarang, aku tidak ada kuliah tapi aku tahu kamu selalu ada   di cafe ini setiap sore.”

Ternyata kamu sangat memperhatikanku. Bahkan kegiatan rutin yang selalu aku lakukan setiap sore, kamu juga tahu. Anganku makin melambung. Namun kesadaran tiba-tiba hadir di hatiku.

” Riza, aku senang akhirnya kita saling mengetahui perasaan kita masing-masing. Hanya saja, aku tidak ingin di anggap perusak hubungan orang lain. Aku juga tidak ingin kamu di anggap selingkuh oleh kekasihmu. Karena itu, demi kebaikan kita, sebelum semuanya jelas, kita jangan bertemu, menelpon atau membicarakan sesuatu yang indah. Bagiku sudah cukup aku tahu perasaanmu dan kamu tahu perasaanku. Aku hanya mencintaimu namun statusmu membuat di antara kita ada batas. Aku ingin, selesaikan masalahmu. Setelah itu kamu boleh mencariku, aku selalu setia untuk menunggu.”

Kamu menatapku lalu mengangguk setuju. Sore menjelang malam saat kita meninggalkan cafe. Lampu-lampu kampus sebagian telah menyala untuk menyambut mahasiswa yang kuliah malam hari. Kita berdua melangkah bersama menuju parkiran. Sore yang tak akan pernah bisa aku lupakan. Pertama kalinya aku membonceng dirimu. Kamu duduk manis dengan melingkarkan tangan di pinggangku. Kusentuh jemarimu yang putih, tanganmu hangat. Berarti aku tidak bermimpi!

Aku terus menunggu hingga hari bahagia itu tiba. Menanti dengan sukacita dan mempersiapkan segala hal untuk menyambut kehadiranmu sebagai kekasih di hatiku. Aku membeli kado, pernak-pernik dan hiasan pink meski hari valentine telah lewat. Kamarku sengaja kuhiasi dengan hiasan yang cantik agar saat aku membawamu pertama kali, kamu bisa melihat betapa aku sungguh-sungguh mengharapkanmu menjadi kekasihku.

Hapeku berdering di pagi yang dingin setelah hujan semalam. Rasa kantuk mendadak hilang saat kulihat namamu. Aku duduk dan menenangkan perasaan sebelum menerima telpon darimu.

” Halo, Riza..” suara gugup. Aku cemas mendengar jawaban penantianku selama ini.

” Evan, aku sudah putus dengan Dio dua minggu yang lalu.” kurebahkan tubuhku dengan rasa lega yang luar biasa.

” Maaf, aku baru menghubungimu. Aku ingin menenangkan diri dan memastikan perasaanku. Sekarang aku benar-benar yakin, kalau aku mencintaimu.”

Tak sadar aku bangun dan melompat kegirangan.

” Aku juga mencintai kamu, Riza. Sangat, sangat..sangat mencintai kamu..” teriakku. Kudengar suara tawa riang  dari seberang.

Hati yang di mabuk cinta apalagi obatnya jika bukan bertemu pujaan hati. Pagi ini kita telah janjian di kampus. Aku ingin segera membawamu ke rumah dan memperlihatkan  kamarku yang telah aku siapkan untuk menyambutmu. Kamar yang telah aku desain dengan begitu indah untuk menyambut kekasih hati. Aku tidak sabar untuk melihat ekspresi wajahmu saat melihat persembahanku.

Aku menjalankan motor dengan cepat. Aku tidak sabar untuk segera bertemu denganmu. Lampu merah yang biasanya terasa cepat, entah mengapa kali ini terasa lama. Aku terus memperhatikan lampu yang tak juga kunjung berubah hijau. Dan setelah lampu hijau menyala, motorku melaju menuju kampus.

Aku tersenyum membayangkan dirimu. Tiba-tiba saja aku melihat Naya, kekasihku yang telah tiada berdiri melambaikan tangan padaku. Aku menoleh melihatnya, dia terus memanggilku. Aku yang rindu, akhirnya berlari menghampiri lalu memeluknya. Aku tahu dia telah meninggal namun aku tetap mengira semua  adalah nyata. Aku teramat menyesal karena saat dia tiada aku bahkan tak berada disisinya.

” Evan, aku merindukanmu.” suara lirih Naya menggetarkan hatiku. Pelukannya sangat erat. Aku membalas pelukannya dan turut dalam tangis bersamanya. Naya memegang tanganku seolah tak ingin melepaskan aku.

” Evan jangan tinggalkan aku.” pintanya membuatku urung melangkah. Namun saat berbalik aku heran melihat keramaian orang-orang di tengah jalan. Jalan yang macet dan suara klakson kendaraan yang saling bersahutan membuatku penasaran.

Sambil berpegangan kami mendekati kerumunan orang-orang. Anehnya aku bisa menembus tubuh mereka. Aku gemetar saat melihat tubuhku bersimpah darah dengan kepalaku yang pecah. Tubuhku bergetar karena tangis. Aku menangis menyadari musibah yang menimpa diriku. Naya merangkulku, dia membawaku menjauh meninggalkan tempat itu.

” Evan.” panggil Naya menyadarkanku dari lamunan.

Aku berdiri lalu menerima uluran tangannya.

” Ijinkan aku menyentuhnya. Aku ingin pamit padanya.” pintaku. Naya mengangguk sambil tersenyum.

Perlahan aku mendekatimu yang menangis sambil duduk bersimpuh di depan makamku. Kusentuh rambutmu lalu dengan lembut aku  mencium keningmu. Apakah kamu merasakannya? hatiku terluka melihatmu seperti ini. Namun apa daya aku tak bisa lagi bersamamu. Aku ingin kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu. Aku kini percaya jika kamu benar-benar tulus mencintaiku.

Terima kasih karena telah membuatku bahagia…

****

0 komentar:

Posting Komentar