Nayong terus melesat menembus kegelapan.
Hanya sekejap aku mengerjapkan mata ketika sekeliling berubah menjadi sangat terang. Serasa berada di antara awan-awan putih yang sangat indah. Baru saja aku hendak bertanya ketika tiba-tiba muncul para wanita cantik yang berjubah biru.
” Turunlah,yang Mulia. Ritual perjanjian itu akan di mulai..” suara Nayong menyadarkanku. Aku bergerak turun dan kulihat Ferdy juga turun dari kuda. Dia menatapku dengan ekspresi bingung.
Aku berdiri di depan Nayong sementara salah seorang dari wanita berjubah biru tersebut mendekatiku. Senyumnya sangat lembut.
” Selamat datang, wahai putriku. Ritual perjanjian ini akan mengikatmu. Setelah ini, kemampuan cahaya dalam dirimu akan hilang begitu juga dengan keturunanmu. Penerus lain yang akan menerimanya berasal dari keturunan putraku, Ferdy. “
” Maaf, apa maksudnya?” tanyaku bingung.
” Kamu akan menjadi seperti semula. Siapkah dirimu menerima ritual ini?”
Aku makin bingung hingga menoleh pada Ferdy. Dia nampak pucat.
” Kalau aku menolak?”
” Tidak ada pilihan untuk menyelamatkan ayahmu.”
Aku menghelas nafas sebelum bicara.
” Baiklah, aku menerima. Asalkan papaku selamat.”
Wanita itu kemudian menyentuh tanganku lalu menuntunku mendekati para wanita dengan wajah dan jubah yang sama. Mereka kemudian mengelilingiku. Berputar, makin lama makin cepat. Aku menutup mata tak sanggup melihat gerakan mereka.
Tiba-tiba di depanku terbentang pintu yang sangat lebar.
” Naiklah yang Mulia, jalannya telah terbuka..”seru Nayong membuatku berbalik.
Aku bergegas mendekati Nayong lalu duduk di atasnya.
” Kemana kita akan pergi?”
” Kita akan ke negeri hitam.” Jawab Nayong lalu melesat melewati pintu raksasa itu. Saat aku berbalik, pintu itu telah lenyap.
” Mengapa kekuatan hitam itu tidak bisa di musnahkan?”
” Karena dua rangkai pelengkap belum bisa disatukan oleh kekuatan cahaya.”
” Apa itu?”
” Yang Mulia telah datang berdua, itu adalah rangkai pelengkap. Kekuatan hitam itu akan lenyap manakala dua rangkai pelengkap menyentuh lingkaran kegelapan mereka.”
” Benarkah? semoga saja.”
Aku teringat papa. Jika kehilangan kemampuanku sebagai balasan atas kebebasan papa, aku rela melakukannya. Aku tidak ingin memiliki kekuatan cahaya jika harus kehilangan papa, aku tidak sanggup.
Kami terus melesat melewati lorong gelap. Samar-samar dari kejauhan nampak sinar menyerupai matahari. Sangat terang hingga menyilaukan mata.
” Di belakang sinar itulah tempat kekuatan hitam bersemayam. Kita harus menyentuh lingkaran kegelapan sebelum mereka menyadari kehadiran kita.”
Aku mendengarkan ucapan Nayong dengan berusaha menahan silau dari sinar yang tampak di depan kami. Namun Nayong memintaku untuk tidak memejamkan mata karena itu akan memberikan petunjuk bagi kekuatan hitam, hingga mereka bisa menyadari kedatangan kami.
” Bersiaplah Yang Mulia, segera sentuh lingkar kegelapan itu saat aku memberi tanda.”
Aku mulai tegang. Makin mendekati sinar keemasan itu, aku makin gemetar. Terus berharap agar tak ada yang menyadari kehadiran kami. Makin dekat, Nayong makin cepat melesat.
” Sekarang, Yang Mulia!!! terak Nayong. Aku dengan cepat menyentuh garis hitam yang berbentuk lingkaran besar.
” Akhhhhhhhh!!!!!” jeritku menahan sakit yang luar biasa. Ternyata lingkaran hitam yang terlihat polos itu menyimpan duri yang sangat tajam dan panas.
” Akhhhhhh!!!” Aku terus menjerit. Aku tak tahan lagi. Kupejamkan mata karena benar-benar tak sanggup merasakan sakitnya.
” Lita! kamu tidak apa-apa?” Aku membuka mata. Nampak Ferdy dengan wajah cemasnya. Dia menyentuh pundakku. Aku sadar dan melihat sekitar kami, ternyata kami berdua telah kembali ke kamar papa. Kulihat tanganku, tidak ada luka sedikitpun.
” Kamu baik-baik saja?” Ferdy mengulang pertannyaannya. Aku tidak menjawab karena tiba-tiba saja aku ingat papa. Aku beranjak mendekati papa. Air mataku menetes seketika saat kulihat papa tertidur dengan nafas teratur. Ku sentuh keningnya lalu menciumnya.
” Istrahatlah papa, Lita sayang papa.” Aku mencium kening papa sekali lagi.
” Ayo kita keluar, Ferdy. Papa sudah aman sekarang.”
Aku melangkah keluar dengan tubuh lunglai sementara Ferdy menyusul di belakangku. Dia tak jauh beda denganku, kami berdua sama-sama lelah. Ternyata bukan aku saja yang menyentuh lingkaran hitam itu. Ferdy juga melakukan sesuai perintah Nayang, saudara kembar Nayong.
Aku terus melangkah menuju dapur, aku ingin minum. Tenggorokanku terasa sangat kering, bahkan seluruh tubuhku serasa baru saja melewati padang gersang yang tandus dan panas. Ku buka kulkas dan meraih botol air mineral.
Kami berdua duduk berhadapan di depan meja makan. Kutuang air minum di dua gelas. Gerakanku sangat lamban. Aku benar-benar lemah saat ini. Ferdy meraih gelas lalu meminumnya. Dalam sekali teguk, air berpindah ke tubuhnya. Dia lalu menuang sendiri air ke dalam gelasnya. Meminumnya lagi hingga habis.
” Benarkah kekuatan hitam itu telah lenyap, Lita?” tanya Ferdy. Wajahnya tidak lagi pucat. Gurat-gurat wajahnya mulai terlihat kemerahan.
” Menurut Nayong seperti itu, aku tidak tahu lagi.”
” Lita, sekarang kamu tidak memiliki kemampuan cahaya lagi. Jadi bagaimana dengan ucapan kakek berjanggut itu tentang dirimu yang akan jadi penerus kekuatan cahaya ke 13?”
” Entahlah..” Aku menekuk kedua tanganku di atas meja. Menutup wajahku dengan kedua tanganku. Pikiranku benar-benar kacau saat ini.
” Apa kemampuanmu benar-benar hilang? kamu tidak ingin mengeceknya?”
” Nanti sajalah, Ferdy. Sekarang ini aku tidak punya tenaga sama sekali..”
Ferdy kemudian bangkit dari duduknya. Menyentuh bahuku dengan lembut.
” Kamu istrahat saja, aku balik dulu. Kalau terjadi sesuatu, hubungi aku secepatnya.”
Ferdy kemudian meninggalkanku sendiri. Perlahan air mataku menetes. Ferdy tidak tahu, sejak dia menatapku dengan lembut sore tadi, aku merasakan getar-getar yang aneh di hatiku. Tiba-tiba aku merasa debaran jantungku kian cepat saat bersamanya.
Aku sadar aku telah jatuh cinta padanya. Karena itulah aku merasakan sedih saat ini. Bukan karena kehilangan kemampuan cahayaku. Aku tidak peduli akan hal itu. Semula aku juga tidak memiliki kekuatan gaib dan hidupku baik-baik saja, jika kemudian harus kehilangan, apa bedanya? aku akan kembali menjadi Lita yang dulu, yang polos tanpa pengaruh kekuatan apapun.
Aku makin sedih karena tahu tak akan pernah bisa bersamanya. Ucapan wanita berjubah biru itu menyiratkan demikian. Ferdy kini pewaris tunggal pemilik kekuatan cahaya. Cinta kami tak akan pernah bisa menyatu. Jika kami bersama, maka keturunan kami tidak akan menerima kemampuan cahaya lagi. Itu artinya ilmu cahaya akan hilang. Aku tidak sanggup membayangkan jika ilmu cahaya benar-benar hilang!
*****
Pagi yang cerah. Sinar mentari terasa hangat saat aku melangkahkan kaki di pelataran kampus. Hari ini aku memulai babak baru dalam hidupku. Menjadi Lita yang normal, Lita yang tak lagi memiliki kekuatan cahaya. Kertas pemberian nenek juga telah aku simpan di lemari.
Aku tidak memiliki kekuatan lagi. Aku merasakannya saat semalam mencoba melakukan gerakan ilmu seperti biasa. Namun ternyata tak bisa. Aku hanya bisa termenung mengingat apa yang telah terjadi. Semua tak kan sama lagi. Selamat tinggal kekuatan cahaya, apa yang telah aku alami kini hanya akan jadi kenangan.
Dari jauh kulihat Ferdy tengah berdiri menantiku. Dia terus menatapku hingga aku benar-benar tiba di depannya. Senyumnya terlihat segar dan sangat manis. Ada yang bergemuruh di hatiku saat melihatnya.
” Aku senang melihatmu. Aku berharap keadaanmu baik-baik saja setelah kehilangan kekuatan cahaya.”
” Jangan khawatir. Aku tidak apa-apa.”
” Aku melihat papamu juga masuk kerja hari ini. Apa dia merasakan sesuatu yang aneh?”
” Papa tidak tahu peristiwa yang di alaminya. Kemarin sore papa hanya merasa kurang enak badan jadi secepatnya pulang dari kantor.”
” Adi dan Deta juga sepertinya hilang dari kampus ini. Aku mencoba menerawang mereka semalam, sengaja kubiarkan saja. Percuma mengejar mereka, toh kekuatan hitam telah lenyap. Tak ada yang bisa mereka lakukan lagi.”
” Syukurlah kalau demikian. Sekarang aku tidak bisa menerawang lagi..” kataku getir.
” Kan ada aku. Selama ada aku, kamu akan aman-aman saja..” kami tertawa.
” Ehm, Ferdy. Aku kuliah dulu ya..”
” Ok, kalau udah kelar kita ketemu di sini. Aku tunggu.”
Kami lalu berpisah. Aku tak sanggup berlama-lama berada di dekat Ferdy. Merasakan cinta yang hadir membuat perasaanku tidak nyaman. Aku sadar tidak boleh menghadirkan rasa ini dihatiku. Tak boleh ada cinta di antara kami. Cukup aku yang telah kehilangan kemampuan, aku tidak ingin Ferdy mengalami hal yang sama.
*****
” Ada apa denganmu, Lita? beberapa hari ini aku merasa kamu terus menghindariku? ada apa?”
Ferdy mencegatku saat aku menyelinap masuk ke kampus melalui pelataran samping. Aku lupa jika dia memiliki kekuatan untuk melihatku hingga kemanapun aku sembunyi dia bisa melacaknya. Aku tidak menjawab. Seharusnya memiliki kekuatan gaib seperti ini, Ferdy bisa menebak perasaanku. Apa dia benar-benar tidak tahu?
” Lita, tolong jangan menghindar lagi. Apa masalahmu? mengapa menghindariku?”
” Kamu punya kekuatan untuk menerawang. Seharusnya kamu tahu apa yang aku rasa, tidak perlu aku beritahu.”
Kataku sambil berjalan. Ferdy menarik tanganku. Aku berusaha melepaskan pegangannya namun dia terus membawaku ke pelataran parkir menuju mobilnya. Dia membuka pintu lalu memintaku masuk.
” Masuklah. Masalah tidak akan selesai jika kamu terus menghindar.”
Meski enggan aku akhirnya masuk ke dalam mobil.
” Aku tahu apa yang kamu rasakan, Lita. Tapi..aku juga manusia normal. Aku ingin mendengar darimu secara langsung. Tapi ternyata kamu lebih memilih diam dan menghindariku.”
Aku menunduk saat kurasakan mataku telah basah. Cinta yang tak menemukan jalannya ini, bagaimana aku harus meredamnya?
Ferdy menyentuh tanganku, membuatku melihatnya.
” Aku juga mencintaimu, Lita. Sejak awal saat kita bertemu. Jangan menghidariku lagi.” Ucapan Ferdy malah makin menambah pedih hatiku. Airmataku akhirnya menetes.
” Tapi..tapi kita tak bisa saling mencintai, Ferdy. Kita tak akan bisa bersama…”
Aku menangis.
” Kenapa? apa yang salah? Mengapa kita tidak boleh saling mencintai?”
” Karena kamu adalah pemilik kekuatan cahaya satu-satunya saat ini. Jika bersamaku, kekuatan itu akan lenyap. Tak ada lagi kekuatan cahaya. Apa kamu sadar bahaya yang bakal timbul?”
Ferdy merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Merasakan pelukan hangat darinya membuat airmataku kian deras mengalir.
” Aku tidak peduli jika harus kehilangan kekuatan cahaya demi bersama orang yang aku cintai. Seperti kamu yang merelakan semuanya agar papamu bisa selamat. Begitu juga denganku. Jika harus kehilangan, aku lebih memilih kehilangan kemampuan gaib daripada harus kehilanganmu.”
Ferdy makin erat memelukku. Aku terharu mendengar ucapannya. Perlahan tanganku terangkat, membalas pelukannya. Cinta ini akhirnya menemukan jalannya. Terima kasih Ferdy, aku merasa sangat tersanjung dengan ucapanmu.
****
Namun bahagia yang aku rasakan seketika hilang saat aku tiba di rumah. Aku tiba-tiba terpikir untuk melihat kertas pemberian nenek. Saat membuka lemari, kertas itu telah hilang!
Aku mencari di semua tempat. Mengeluarkan semua pakaian dari dalam lemari namun kertas itu tak juga aku temukan.
” Kertas apa, mbak?” tanya Mirah, pembantu di rumahku.
” Kertas! Kertas yang aku taruh di sini!” kataku putus asa.
” Apa mungkin dia yang mengambilnya?” Ucap Mirah terkesan ragu.
Aku terperanjat mendengar ucapan Mirah.
” Siapa yang mengambilnya?! apa ada orang yang datang kemari?!” Mirah mengangguk. Wajahnya sangat ketakutan. Mungkin karena tekanan suaraku yang tinggi.
” Dia teman, mbak. Biasa kok datang kemari, mbak Deta orangnya.”
Kurasakan aliran darah dalam tubuhku tiba-tiba berhenti. Aku hanya bisa mematung dengan tubuh gemetar.
*****
T A M A T
0 komentar:
Posting Komentar