Kisah ini kilas balik kejadian beberapa tahun yang lalu. Setelah Bocing resmi bercerai dengan kedua istrinya, Kembang dan Dewa. Hatinya hancur karena ditinggalkan dua wanita yang sangat dicintainya. Tak ada harapan lagi menjalani hidup. Pandangan matanya sayu. Menatap dunia yang tampak hanya kegelapan.
Dengan langkah gontai Bocing melangkah menuju air terjun di bukit Naras. Setelah termenung beberapa menit, tiba-tiba saja dia melompat. Tubuhnya melayang bebas menuju pusaran air. Bocing menutup mata, dia sudah siap menjemput ajalnya. Pikirannya saat itu adalah mengakhiri hidup yang penuh penderitaan.
Byaarrrrrrr. Tubuhnya menyentuh air. Bocing tenggelam masuk dalam pusaran air. Dengan mata terpejam, Bocing tersenyum pedih. Selamat tinggal dunia, ijinkan aku pergi untuk menjemput impian di akhirat, pesannya dalam hati.
****
Bocing terbangun kaget. Tiba-tiba saja dia sudah berada di dalam gua. Perlahan-lahan dia berusaha mengingat setiap kejadian. Bocing melihat pakaiannya yang kering. Seharusnya saat ini dia basah kuyup karena baru saja tenggelam di pusaran air terjun.
Pandangannya melihat sekeliling gua yang remang-remang. Hanya ada lampu teplok yang nyaris redup. Apakah ini akhirat? Kok mirip dengan gua di dunia? Pikirnya bingung sambil melangkah mengelilingi ruangan dalam gua.
“ Hai, anak muda? Siapa namamu?” suara menggelegar membuat Bocing terperanjat. Dia terjatuh dan tubuhnya bersandar pada dinding gua. Suara siapa tuh? Apa itu malaikat? Bocing makin bingung.
“ Kamu tuli ya? Siapa namamu?” suara menakutkan itu kembali terdengar. Karena ketakutan Bocing terduduk. Matanya mencari arah suara itu, namun tidak jelas dari mana asalnya.
“ Namaku Erwin tapi biasa di panggil Bocing.” Jawabnya dengan gugup. Badan Bocing bergetar karena ketakutan.
“ Kamu manusia bodoh! Kenapa kamu terjun? Kamu mau bunuh diri ya?”
“ Kok bapak bisa tau?”
“ Enak saja panggil aku bapak. Aku bukan bapak-bapak. Aku penunggu gua ini.”
“ Maaf.” Jawab Bocing dengan wajah pucat.
“ Kamu belum mati karena aku menyelamatkanmu. Sekarang jawab, mengapa kamu ingin bunuh diri?”
Bocing menangis. Dia teringat ke dua mantan istrinya.
“ Aku baru bercerai dengan kedua istriku.”
“ Bercerai dengan ke dua istrimu?” Bocing mengangguk dengan air mata berlinang.
“ Mereka minta cerai dan meninggalkan aku sendirian..uhuk..uhuk..uhuk...”
“ Aku akan menolongmu. Sebutkan permintaanmu, satu saja tidak boleh lebih. Aku akan mengabulkan permintaanmu itu.”
“ Permintaan?” Bocing menatap heran.
“ Iya. Sebutkan satu keinginanmu. Pikirkan baik-baik karena hanya dibatasi satu permintaan. Oh, ya sambil menunggu kamu berpikir, aku akan beristrahat dulu. Panggil aku jika kamu sudah mempunyai permintaan untuk di sampaikan padaku. Mengerti?!?!
Suara itu kemudian menghilang. Suasana dalam gua kembali sunyi. Bocing yang semula takut, kini mulai tenang. Dia menimbang-nimbang keinginan yang akan dia sampaikan pada penunggu gua. Tak lama kemudian dia tersenyum. Dia sudah menemukan permintaan yang akan membuat batinnya tenang.
“ Pak penunggu guaaaa...aku sudah punya permintaan!” Panggil Bocing. Terdengar suara gedubrak entah dari mana.
“ Pelan-pelan kalo manggil. Aku sampai terjatuh dari tempat tidur.” Bocing tertawa.
“ Sekarang sebutkan permintaanmu.” Lanjut penunggu gua.
“ Aku minta diberikan istri yang soleha, setia, patuh sama suami, cantik, kaya, pintar..”
“ Eitssss....banyak amat permintaanmu. Aku kan sudah bilang, satu saja. Apa kamu lupa?”
“ Lho, itu kan cuma satu?”
“ Satu apanya? Permintaanmu itu ada enam. Coba kamu hitung sendiri. Satu, kamu mau diberi istri yang soleha. Dua, setia. Tiga, patuh sama suami. Empat, cantik. Ke lima, kaya. Dan yang ke enam, pintar. Banyak amat!. Pilih salah satu."
“ Pilih yang mana?”
“ Terserah kamu.”
Bocing berpikir lagi.
“ Aku minta istri yang setia.”
“ Loh bukannya soleha, seperti permintaan orang-orang.”
“ Dulu udah pernah minta yang soleha. Sekarang aku pengen yang setia, karena mantan istriku berpaling pada laki-laki lain.”
“ Apa kamu lelaki yang setia hingga menginginkan wanita yang setia juga?” Bocing tergagap. Penunggu gua ini ada-ada saja, umpatnya dalam hati.
“ Kok tidak di jawab? Apa kamu setia hingga meminta aku mengabulkan keinginanmu memberikan wanita yang setia?” Bocing terdiam.
“ Ayo jawab. Mau dikabulkan apa tidak?”
“ Iya, saya setia.”
Jawab Bocing ragu. Dia tidak pernah menyangka ucapannya itu akan membuatnya menyesal.
Bocing akhirnya kembali ke desa Rangkat. Pakaiannya yang compang-camping membuat panik warga yang melihatnya. Malam itu pos ronda dibuat geger oleh kehadiran Bocing.
Singkat cerita, Bocing terpana pada pandangan pertama saat melihat Asih. Malam setelah pertemuan pertama dia bermimpi bertemu dengan penjaga gua.
“ Aku sudah mengabulkan permintaanmu. Kamu sudah bertemu dengan wanita yang setia, dia adalah Asih. Ingat perkataanmu, kamu lelaki yang setia. Jika kamu melanggar janji, maka kamu akan termakan oleh perkataanmu sendiri. Ingat itu.” Bocing terbangun dari tidurnya. Dia menangis melihat dirinya yang hanya duduk bersandar pada pohon asam.
Cerita berlanjut. Mereka lalu menikah dan mengarungi bahtera kehidupan yang aman damai. Bocing bahagia mendapatkan isteri yang setia, begitu juga sebaliknya. Asih merasakah kebahagiaan padahal sebelumnya dia ragu mengingat tabiat Bocing yang terkenal mudah jatuh cinta pada wanita.
Namun itu hanya berlangsung beberapa bulan. Hari-hari yang Bocing lalui membuatnya bosan. Di desa Rangkat begitu banyak gadis-gadis cantik yang hilir mudik. Jika di bandingkan dengan istrinya, Asih, sangat jauh berbeda.
“ Aku butuh istri yang cantik, percuma setia kalau gak menarik untuk dilihat.”
Bocing teringat kedua mantan istrinya. Kembang dan Dewa merupakan wanita-wanita yang cantik dan menarik. Dalam hati Bocing menyesal. Mengapa dulu memilih Asih padahal begitu banyak gadis cantik yang bisa dipilihnya. Apalagi akhir-akhir ini, istrinya itu lebih banyak tugas keluar daerah. Dia terlupa dengan janji yang dulu dia ucapkan pada penunggu gua.
Karena itu Bocing akhirnya memilih menikah lagi dengan Uleng. Ternyata walau telah menikah dengan Uleng, Bocing tetap merindukan kehidupan masa lalunya. Sekarang untuk mengusir kesepiannya ditinggal Asih, Bocing lebih memilih tinggal di rumah istrinya yang lain, Uleng. Kepergian Asih membuatnya bisa bernafas lega. Setiap hari menatap wajah Asih membuatnya gerah, lain jika menatap wajah Uleng, batinnya jadi tenang.
Bocing tidak menyadari kalau Asih juga merasakan hal yang sama. Dia terluka karena Bocing mengabaikan dan tidak peduli lagi padanya. Karena itu untuk menghilangkan rasa sedihnya, Asih memilih ikut bisnis dengan Firman, adik iparnya. Asih merasa damai berada dekat dengan Firman. Dialah yang telah membantu Asih melewati masa-masa suram dalam hidupnya saat Bocing menikah dengan Uleng.
Firman juga senang saat Asih ingin menemaninya. Mengetahui kedekatan istrinya, Acik dan Halim, membuatnya terluka. Sepasang hati yang terluka telah bertemu. Apalagi Firman telah menyimpan rasa pada kakak iparnya itu. Rasa bahagia membuat Firman bisa melupakan masalahnya dengan Acik.
Teringat beberapa hari yang lalu, Acik menelpon dan meminta mereka segera bercerai. Permintaan yang tak pernah Firman bayangkan. Padahal saat menikah dulu, mereka telah berjanji untuk saling menjaga hingga tua nanti. Sayang sekali, impian itu hanya seumur jagung. Cinta Acik pada Halim ternyata tak pernah hilang. Begitu juga cinta Firman pada Asih. Sepertinya waktu yang akan menjawab kemana cinta itu akan berlabuh. ****
____________________________________________


0 komentar:
Posting Komentar