Minggu, 15 April 2012

Kang Inin Mau Melamar

0

1318681627301330059

Pagi berselimut embun. Kang Inin mengendap-endap memasuki halaman rumah Asih. Suasana pagi di rumah Asih masih terlihat lengang walau pintu rumah telah terbuka.

“ Assalamu Alaikum.” Sapa kang Inin dengan suara pelan seolah takut terdengar orang lain. Tidak ada balasan dari penghuni rumah. Kang Inin mengucapkan salam lagi. Kali ini suaranya lebih keras. Tetap tidak ada balasan dari dalam rumah.

Kang Inin ingin masuk tapi takut di sangka maling. Daripada di kejar warga karena di anggap maling lebih baik dia duduk di depan pintu. Selonjoran di lantai sambil menyandarkan tubuhnya.

Beberapa menit menunggu membuat kang Inin nyaris kehilangan kesabaran. Dia baru saja hendak berdiri ketika suara dari dalam rumah mengagetkannya.


“ Kang Inin? Kenapa duduk di depan pintu seperti pengemis? Aduh, bikin kaget saja. Ayo masuk kesini, kenapa tidak langsung duduk di ruang tamu?”

Asih terus berkata-kata membuat kang Inin cengengesan. Kang Inin tidak segera duduk. Dia hanya berdiri membuat Asih bengong melihatnya.

“ Ada apa? Kang Inin ada masalah?” tanya Asih dengan mimik heran.

“ Anu..eng..itu mbak Asih..anu.”

“ Anu..anu..apa? kalo ada perlu bilang saja, kang. Mungkin saya bisa bantu.”

“ Ehm..begini. Saya mau minta tolong. Mbak Asih bisa membantu saya melamarkan seseorang?” Asih terlonjak kaget. Matahari belum bersinar tapi dia seperti melihat sinarnya dari mata kang Inin yang terlihat begitu bersemangat.

“ Melamar? Melamar siapa? Apa kang Inin sudah ada calon?”

Kang Inin mengangguk cepat bahkan sebelum Asih selesai berbicara.

“ Siapa kang?” tanya Asih penasaran. Kang Inin mendekat lalu membisikkan ditelinganya. Mata Asih membulat dan senyumnya mengembang.

“ Astaga! Jadi dia yang kamu suka? Kenapa tidak melamar dari dulu?”

Kang Inin duduk di kursi dengan lesu.

“ Semangatku bukan 45 lagi tapi sudah 100. Sayang saya tidak punya keberanian mbak.”

“ Tapi kenapa kamu meminta saya yang melamar? Apa lebih baik Mommy saja yang melamar?”

“ Mommy lagi sibuk, mbak. Dan melihat perkawinan Acik kemarin. Saya jadi percaya, mbak Asih bisa jadi mak comblang yang baik. Buktinya, Acik langsung nikah. Tidak ada kabar angin, hujan, apalagi tsunami. Langsung gelar acara. Itukan hebat!. Kalian bersaudara udah nikah semua. Lha aku? Masih bujang terus sampai sekarang.”

Asih tertawa mendengar ucapan kang Inin.

“ Ya, sudah. Nanti saya bantu.”

Kang Inin langsung berdiri dengan gembira. Dia meraih tangan Asih, menjabatnya sambil mengucapkan terima kasih.

“ Makasih, mbak. Sekarang saya pamit pulang dulu.”

Asih mengangguk tersenyum. Dia merasa geli melihat tingkah kang Inin. Tapi senyumnya segera hilang saat kang Inin berlari masuk kembali ke dalam rumah.

“ Ada apa lagi?” tanyanya kaget.

Wajah kang Inin sangat pucat. Dia bersembunyi di belakang pintu. Tangannya menunjuk keluar. Asih segera melihat ke luar. Memandang ke jalan yang sepi.

“ Tidak ada siapa-siapa, kang Inin?”

“ Coba lihat di seberang, di atas pohon mangga, mbak.”

Asih mengikuti kata-kata kang Inin. Senyumnya segera mengembang. Dia jadi mengerti mengapa kang Inin ketakutan. Calon mertuanya tengah ada di atas pohon mangga.

“ Dia sudah turun, mbak?”

“ Belum. Udah diam saja di situ. Nanti kalo sudah pergi, saya beritahu kang Inin.” ***


ECR3

0 komentar:

Posting Komentar