Minggu, 15 April 2012

Dorma, di Mana Dirimu [ Pilkades Rangkat]

0

Ada yang berubah di pos ronda sejak pilkades digulirkan. Dorma terlihat jarang bertugas. Makanan yang biasa di antarkan warga juga terlihat utuh. Asih yang mengantarkan makanan sehabis maghrib, hanya bisa bengong melihat pos ronda yang sunyi senyap.

“ Apa Dorma sakit ya? Kog tidak ada kabar beritanya?” gumam Asih sesekali melihat beberapa rantang dan mangkok yang juga belum terbuka.

“ Makanan segini banyaknya, tapi orang yang ronda tidak ada. Bagaimana ini?” Asih bingung. Tidak mungkin meninggalkan makanan begitu saja di pos ronda. Harus ada seseorang yang menjaganya. Tapi siapa? Sejak tadi tak ada seorangpun yang lewat. Mungkin karena hujan sejak siang mengguyur Desa Rangkat hingga warga terlihat malas untuk melintas.


Tiba-tiba dari kegelapan,muncul bayangan seseorang. Asih menatap tanpa berkedip. Dia berusaha mengenali sosok tersebut.

“ Dorma??? Kamu kenapa? Sakit ya?” Dorma muncul dengan jaket tebal dan handuk yang menutupi kepalanya. Wajahnya pucat. Walau begitu dia tetap berusaha untuk tersenyum. Dia duduk lalu mengibaskan handuk yang basah terkena rintik hujan.

“ Kalo sakit, jangan dulu bertugas..”

“ Resiko kerja, mbak Asih. Apapun yang terjadi saya harus siap untuk bertugas. Apalagi sejak mas Hans sibuk dengan pilkades, saya sendiri yang tugas di pos ronda..” Dorma terlihat sedih. Dia menghapus air matanya dengan handuk yang tadi menutupi kepalanya.

Asih terharu. Dia paham perasaan Dorma. Pasti saat ini Dorma lagi sedih karena ditinggal mas Hans yang sibuk kampanye.

“ Sabar ya Dorma, mbak yakin, mas Hans juga pasti memikirkan Dorma.”

“ Saya sedih lihat makanan ini, mbak. Terus terang nafsu makan saya lagi gak ada, hilang.”

“ Tapi kalo lagi sakit, Dorma harus makan makanan yang bergizi. Atau Dorma mau sesuatu? sebut saja, ntar mbak belikan.”

Wajah Dorma yang semula sendu mendadak cerah.

“ Benar, mbak? Kalo gitu saya minta Silver Queen 10 batang, Cadburry 5, martabak manis, brownies,…ehmm..apalagi ya?” Dorma terus berpikir hingga tak menyadari wajah Asih yang kini berubah mendung.***

0 komentar:

Posting Komentar