Jumat, 03 Februari 2012

Tak Bisa Melupakanmu

0


Kupandangi langit-langit kamar yang baru saja aku tempati. Kamar yang menurutku tidak terlalu luas namun aku tidak punya pilihan lain. Dari beberapa rumah yang aku kunjungi, hanya kamar ini yang lumayan baik kondisinya. Aku akhirnya memilih untuk kost di tempat ini. Sengaja ku tolak tawaran dari kepala desa karena tak ingin ada beban di kemudian hari.
Sambil tiduran aku teringat pembicaraan dengan adikku sebelum ke pulau ini.
“ Kamu yakin mau ke sana?” adikku menatap tak percaya. Tawaran kerja darinya yang biasa aku tolak namun kini ku terima justru membuatnya bingung.
“ Aku sudah biasa berada di pulau seperti itu.” Kataku sambil merapikan pakaian ke dalam koper.


“ Tapi ini lain. Kamu akan menetap di sana. Kamu tahu kondisi di sana seperti apa? Tidak ada signal, listrik hanya 3 jam, belum lagi daerahnya yang sangat terpencil. Mau ke pulau itu saja butuh waktu 6 jam. Kamu siap menghadapi kondisi seperti itu?”
Aku akhirnya menatap adikku karena tak tahan mendengar ucapannya.
“ Kalau kamu tidak yakin, kenapa menawarkan pekerjaan itu padaku? Aku sudah muak terus-terusan di desak tentang pekerjaan, jodoh dan lain-lain. Aku ingin tenang. Sekarang jangan lagi ada yang coba mengusikku. Keputusanku sudah bulat.”
“ Jadi itu alasanmu menerima pekerjaan yang aku tawarkan? Kamu ingin lari dan bersembunyi di pulau itu?”
“ Bukan lari. Aku hanya ingin ketenangan. Apa salah kalau aku ingin hidup tenang?”
Adikku hanya geleng-geleng kepala lalu keluar sambil menggendong anaknya yang bungsu. Setelah dia keluar aku melihat lagi tumpukan pakaian yang belum semuanya ku masukkan dalam koper.
“ Masalahku ini, bagaimana menjelaskan semuanya dari awal. Kamu tidak akan mengerti.” Batinku sedih.
Aku sudah coba untuk bertahan menerima semua cobaan, namun sekarang aku tidak sanggup lagi. Terus berpura-pura menikmati hidup dengan bahagia justru jadi bumerang untuk diriku sendiri. Sekarang aku ingin jujur dengan hatiku. Aku ingin menikmati hidup meski mungkin kehidupan yang aku pilih tidak masuk akal.
“ Kalau kamu tidak betah, kembali saja. Aku yakin kamu tidak akan betah. Terbiasa hidup di kota besar, bagaimana mungkin kamu bisa beradaptasi di pulau itu.” Pesan adikku sebelum aku keluar dari rumah.
Aku tahu dia mengkhawatirkan aku. Dia iseng memberitahukan lowongan pekerjaan yang di tawarkan temannya, ternyata diluar dugaan aku malah menerima pekerjaan itu. Walau berusaha membujukku aku tetap kukuh dengan keputusan yang sudah aku buat. Aku menerima pekerjaan itu.
Sepanjang perjalanan, lamunanku mengembara kemana-mana. Ada yang sedih dan membuat mataku berkaca-kaca. Ada juga yang membuatku tersenyum. Namun dari semua hal, sepertinya rasa sedih yang lebih menguasai hati dan pikiranku. Keluargaku hanya melihat sikapku dari luar. Mereka tak tahu kesedihan yang membuatku sering menangis sendiri dalam kamarku.
Aku pernah mencoba untuk membuka sedikit saja dari masalahku, namun respon yang aku terima justru di luar dugaanku. Mungkin cara pandang yang berbeda hingga masalahku jadi terlihat berbeda di mata mereka. Aku akhirnya hanya bisa menyimpan semuanya rapat-rapat. Percuma menceritakan sesuatu yang tak ada jalan keluarnya. Lebih baik aku mengatasi sendiri masalahku.
“ Kamu pergi karena tak bisa melupakannya, kan?” tiba-tiba suara hatiku berbisik.
“ Bukan! Bukan karena dia! Aku sudah melupakannya.” Balasku karena tak senang di usik dengan kenangan tentang seseorang yang dulu hadir dalam kehidupanku dan membuatku terluka.
“ Kamu bohong! Jika sudah melupakannya, mengapa kamu masih menyimpan nomor hape dia.”
Aku bangun dari pembaringan dan membuka hapeku.
“ Apa salahnya menyimpan nomor hape? Aku kan tidak menghubunginya?”
“ Itu artinya kamu masih mengingatnya. Hapus saja kalau kamu memang sudah melupakannya.”
“ Baiklah, aku akan menghapusnya.” Jawabku kesal. Aku segera menghapus nomor itu dan meletakkan hape di sampingku.
“  Itu saja tidak cukup. Kalau kamu sudah melupakannya, mengapa gambar-gambar dia masih ada di laptopmu.”
“ Kenapa kamu harus memaksaku menghapusnya? Aku tidak akan menghilangkan foto-foto itu!” teriakku kesal. Suara hatiku itu seolah makhluk lain yang ingin tahu semua hal tentangku.
“ Berarti kamu tidak jujur. Apa kamu sadar yang membuatmu lari ke tempat ini? Itu karena dia, bukan sebab lain. Benarkan? Kalau tidak benar, hapus saja gambarnya.”
Dengan kesal ku buka laptopku dan menghapus semua gambar lelaki yang dulu menaburkan cinta namun meninggalkan racun di hatiku.
“ Sekarang kamu puas?”
“ Belum.”
“ Apalagi?!?” jeritku karena tak tahan lagi.
“ Bukankah kamu masih memiliki sesuatu yang selalu menemanimu tidur? Benda itu bukankah miliknya?”
Aku tersadar. Mengapa suara itu seolah tahu semua tentangku? Aku teringat kenang-kenangan terakhir yang di berikan lelaki itu. Segera ku buka tas dan mengeluarkan kaos lengan panjang yang selalu kupakai jika hendak tidur.
“ Benarkan? Kamu bahkan menyimpannya di dalam tas. Sepanjang perjalanan kamu terus menciumnya. Kamu merindukannya kan? Jangan bohong, meski mulutmu membantah namun sikapmu membuat semuanya mudah terbaca.”
Kupandangi baju itu dengan linangan air mata. Aku mengangguk.
“ Apa yang kau inginkan kali ini? Kau ingin aku membuangnya?” tebakku dengan penuh rasa khawatir. Suara itu tertawa.
“ Benar! Tebakanmu benar. Aku ingin kamu membuangnya untuk membuktikan bahwa kamu benar-benar telah melupakannya.”
Tanganku gemetar memegang baju itu. Haruskah aku membuangnya? Apakah aku bisa membuang baju yang menjadi kenangan terakhir darinya?
“ Buanglah, untuk membuktikan bahwa kamu benar-benar telah melupakannya.”
Aku menangis sambil mendekap baju itu. Bayangan wajah seseorang yang aku sayangi kembali membayang. Meski dia membuatku menangis sepanjang waktu namun aku tak bisa membuang baju ini.
“ Aku tidak bisa. Tidak bisa…..”
“ Kalau begitu, pulanglah. Tempatmu bukan di sini. Kamu juga tahu itu. Kemanapun kau pergi, hatimu tidak akan merasa tenang. Hal yang membuatmu melarikan diri justru ada dalam hatimu, bagaimana kamu bisa menghindar?”
Suara itu berubah lembut dan seolah menyadarkanku. Semalaman aku tidak bisa tidur dan terus menangis. Kebahagiaan ada dalam hati. Jika tak bahagia, kemanapun kau pergi hatimu tetap  tidak akan merasa bahagia.
Sinar mentari pagi menyambutku ketika kuletakkan barang-barang di atas perahu. Kutinggalkan pulau dengan tatapan sedih dan penuh haru dari pemilik rumah. Kepulanganku yang mendadak membuat mereka kaget dan tak percaya. Namun aku sudah mengambil keputusan. Aku harus kembali.
Akhirnya aku sekarang berada di atas perahu kecil yang kemarin mengantarku ke pulau ini. Langit yang cerah menghiasi perjalananku melintasi laut. Ombak yang tenang seolah memberikan kemudahan untukku agar aku segera tiba di tujuan dengan selamat.
Sikapku yang diam rupanya mengundang tanya si pemilik perahu.
“ Adik terlihat murung? Kenapa?”
“ Ah, tidak apa-apa pak. Hanya senang melihat pemandangan.”
“ Diam itu meski sama, namun tetap bisa terlihat diam yang memendam masalah dengan diam yang tak mempunyai beban apa-apa. Masalah adik semoga cepat selesai ya.”
Tebakan bapak itu nyaris saja membuat air mataku jatuh. Ku raih sapu tangan dari dalam tas ku. Aku tidak ingin menangis. Jangan menangis lagi. Jika berat melupakan lelaki itu, biarlah semuanya berjalan seperti ini. Aku tidak ingin memaksakan diri lagi untuk melupakannya. Percuma jika membuatku tersiksa. Maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok. Semoga hari esok lebih baik dan membuatku bahagia meski tanpa kehadirannya di sisiku.
****

0 komentar:

Posting Komentar