Jumat, 03 Februari 2012

Ketika Hati Bicara

0


Aku ingat dia. Tatapan matanya saat menatapku terasa begitu menggetarkan ataukah karena rasa dalam hatiku hingga setiap lakunya terasa begitu mempesona. Meski hanya menyambutku dengan senyuman manis namun perhatian itu membuatku serasa terbang ke awan.

” Mau beli apa, mbak?” tegurnya ramah saat aku muncul di kiosnya sore ini sepulang kerja. Seperti biasa aku tak bisa meredam gemuruh dalam dadaku. Untuk sejenak aku hanya tersenyum karena terpesona dengan senyum manisnya.

” Eh, ehm, anu…ehm..itu..apa ya?” aku tiba-tiba lupa barang yang hendak aku beli. Pura-pura ku buka tas ku dan mencari catatan. Kulihat dia masih berdiri menanti. Aku tetap memeriksa tas sambil berpikir keras. Satu hal yang tidak aku suka dari diriku adalah jika gugup, aku bahkan tak bisa mengingat apapun termasuk sesuatu yang hendak aku beli.

” Lupa ya, mbak?” tegurnya lagi. Aku meringis sambil menggeser tubuhku agar dia tidak melihat wajahku yang kikuk.

Syukurlah akhirnya aku ingat.

” Handbody, cleansing foam…..” jawabku sambil menyebutkan merk dari barang yang akan aku beli. Dia berbalik namun tatapan matanya yang jenaka membuatku merasa diriku terlihat lucu di depannya.

” Mbak sudah punya pacar, ya?” tiba-tiba dia bertanya tanpa berbalik melihatku. Aku hampir saja menjatuhkan toples di dekatku andai tanganku tidak menyentuh lemari kaca.

” Udah punya pacar belum?”  kembali dia menanyakan pertanyaan yang sama namun kali ini dia menatapku sambil memasukkan barang pesananku ke dalam kantong plastik. Aku bingung. Namun akhirnya…

” Belum.” jawabku. Entah mengapa aku merasa lega dengan jawabanku. Aku berharap ada maksud di balik pertanyaannya.

” Sama dengan saya.” ucapnya kalem lalu menyerahkan bungkusan itu padaku.

” 20 ribu.” lanjutnya. Segera ku berikan lembaran dua puluh ribuan. Aku hampir saja lupa dengan ucapannya ketika dia mengulangnya lagi saat aku hendak  mengucapkan terima kasih dan akan beranjak pergi.

” Saya juga belum punya pacar, mbak.” ucapnya.

” Oh, iya, sama kalo gitu. Saya pamit dulu. Makasih.” Kataku lalu berjalan pelan meninggalkan kiosnya. Sepanjang jalan aku memikirkan ucapannya. Apa maksud pemuda itu mengatakan jika dia juga masih single?

” Siapa?? Nanda pemilik kios itu?” tanya Dita begitu aku ceritakan kejadian di kios tadi.

” Namanya Nanda? aku baru tahu.”  Dita tertawa lalu duduk di sampingku.

” Dia baru selesai kuliah di Malang karena itu kamu baru melihatnya. Kalau aku sudah lama kenal. Tiap kali dia pulang liburan, aku biasa ketemu di kiosnya. Tapi kok kamu gak pernah melihatnya?”

Aku juga heran kok tidak pernah melihatnya?

” Mungkin tiap ke kios itu, yang melayani bukan dia. Jadi aku gak pernah ketemu.”

” Dia baru dua minggu kembali. Tapi percayalah, semuga gadis-gadis di pondokan ini bakal rebutan untuk memikatnya.”

” Kok?”

” Jadi kamu harus siap-siap bersaing dengan mereka.”

Dita berdiri lalu menghadap cermin.

” Bersaing? itu kata yang tidak aku suka. Kalau harus bersaing lebih baik aku mundur.”

” Apa? kamu mau mundur? gadis bodoh! apa kamu tidak tahu maksud dari kata-katanya kalau dia juga gak punya pacar? kamu gimana sih? makanya sampai sekarang kamu gak punya pacar. Jangan takut dengan persaingan. Semua hal dalam hidup ini membutuhkan persaingan. Jangankan mencari pacar, mencari kerja juga kita harus bersaing dengan ribuan orang.” Dita menatapku kesal. Aku tahu dia tidak suka jika aku pesimis. Dalam hidupnya Dita selalu optimis. Dia tidak akan mundur sebelum mencoba.

” Kamu saja yang mendekatinya.” kataku lalu beranjak ke kamar mandi.

*****

Pembicaraan dengan Dita sore itu beberapa hari kemudian terlupakan. Apalagi setiap aku ke kios Nanda, pemuda itu tidak terlihat. Mungkin dia sudah kerja, pikirku. Aku akhirnya terbiasa dengan ketidak hadirannya. Ternyata debar-debar yang kurasakan bukan jaminan akan rasa yang sebenarnya. Aku tidak merindukan ketika dia tidak ada. Rasa yang aneh.

” Akhirnya kita ketemu lagi, mbak.” aku terlonjak kaget ketika wajah Nanda tiba-tiba muncul dari balik etalase.

” Kamu? bikin kaget saja.” Dia tertawa.

” Saya lupa tempo hari minta nomor hape, mbak.” Aku melihatnya sekilas. Aku tiba-tiba teringat ucapan Dita. Benarkah Nanda menyukaiku?

” Oh, iya. Kamu gak bilang. Mau nomorku sekarang?” tawarku. Dia segera mengambil hape dan memasukkan nomor yang aku sebutkan ke dalam hapenya.

Dita begitu gembira ketika mendengar kisahku.

” Tuh, kan bener dia tertarik sama kamu. Ayo, jangan di tunda lagi. Mulai sekarang kamu harus menarik perhatiannya. Aku yakin dia mulai tertarik padamu.”

Aku menatap tak percaya.

” Benarkah? apa hanya itu tanda seseorang tertarik pada kita?” Dita tertawa.

” Dasar gadis lugu! itu hanya tanda-tanda awal diantara begitu banyak sinyal-sinyal cinta yang akan hadir. Pokoknya kamu ikut saranku saja. Gimana sih, sudah umur segini masih juga belum paham dengan urusan cinta.”

Meski harap-harap cemas namun ada rasa bahagia dalam hatiku. Menyadari seorang pria tengah memperhatikan diriku menghadirkan debar-debar yang menggetarkan seluruh jiwaku. Membuat dingin seluruh tubuh dan sendi-sendi tubuhku. Aku benar-benar bahagia.

******

Seminggu kemudian, tiba-tiba Nanda menelponku. Aku yang tak menduga dia akan menelpon membuat tubuhku panas dingin. Apalagi saat aku sadar, sekarang malam minggu. Apakah itu artinya dia mulai memperlihatkan sinyal-sinyal cinta?

” Malam mbak, Lena..” sapanya dengan suara merdu. Aku menenangkan diri sebelum bersuara.

” Malam…”  balasku.

” Maaf, nih mbak mengganggu malam minggu, mbak.”

” Oh, gak kok. Sekarang saya cuma sendirian di kamar.” Upss.. aku meringis menyadari kata-kataku terlalu merendahkan diriku. Apa yang ada dalam pikiran Nanda sekarang ini setelah mendengar ucapanku.

” Oh, ya kebetulan. Begini, mbak. Saya bermaksud mengajak mbak untuk investasi di kantor saya, kalau mbak setuju, nanti saya datang ke kantor mbak Lena. Mungkin nanti ada  juga teman mbak yang tertarik untuk ikut menanamkan saham.”

Aku terduduk lemas. Jadi ini maksud Nanda mendekatiku? tapi apa hubungannya dengan statusku? mengapa dia menanyakan status jika ingin mengajakku berinvestasi? Aku yang semula semangat akhirnya hanya mendengarkan penjelasannya yang panjang tentang usaha yang baru saja dia rintis.  Aku benar-benar kecewa. Setelah sebelumnya tak menaruh harapan tapi karena desakan Dita, aku akhirnya percaya bahwa Nanda memberikan perhatian lebih untukku. Namun ternyata perhatiannya berbeda. Bukan seperti harapan Dita dan diriku.

Hari-hari berikutnya, aku kembali menjadi diriku yang biasa. Rutinitas pagi dan sore yang sama. Pagi ke kantor, sore pulang dari kantor. Tak ada lagi wajah Nanda yang hadir di kios. Dia telah sibuk dengan kantor barunya. Sayang sekali aku tidak bisa ikut menanamkan modal. Pengalaman buruk di masa silam ketika aku harus menelan rasa kecewa karena tertipu membuatku tak berani lagi untuk berinvestasi di bidang yang sama.

” Masih tertarik untuk mencari kekasih?” tegur Dita sambil berdiri di depan pintu kamarku.

” Aku manusia normal. Jelas saja aku juga ingin punya pacar.” jawabku sambil memeluk guling. Dita melangkah masuk lalu duduk  di sampingku. Sikapnya yang terus tersenyum membuatku heran.

” Kamu kenapa, sih? kok senyum terus?”  Dita malah tertawa.

” Pangeranmu ada di depan. Nanda mencarimu. Kamu tahu, karena gugup dia bahkan tak bisa mengucapkan kalimat lain selain mengajakmu investasi di kantornya..hehehe..”

Aku terlonjak kaget.

” Benarkah?” Dita mengangguk.

” Dia curhat sama aku tapi gak berani ngomong sama kamu. Karena itu aku memaksanya untuk datang ke sini. Kamu cepat keluar keburu pangeranmu gugup dan kabur…”

Aku buru-buru bangun dan melihat diriku di cermin. Senyumku hadir setelah beberapa hari diliputi mendung.

“  Rasa di hatiku  ternyata benar..” ucapku riang sebelum keluar kamar.

******

0 komentar:

Posting Komentar