Jumat, 03 Februari 2012

Karena Mengenalmu

0


Kesedihan itu masih kurasakan ketika kapal akhirnya meninggalkan pelabuhan. Masih kulihat Arman berlari-lari mendekati dermaga. Aku melihatnya namun dia tak melihatku. Arman nampak bingung dan berdiri terpaku menatap kapal yang makin lama makin menjauh. Aku terus melihatnya hingga bayangan pelabuhan berganti dengan lukisan pulau yang gelap. Aku terus berdiri dengan mata berkaca-kaca.

” Selamat tinggal cintaku, jangan pernah lagi ada airmata dari perpisahan ini. Aku ingin saat ini menjadi hari terakhir aku menangis karenamu.” Kuseka air mataku dengan tissu.

” Kamu melihatnya?” tegur mbak Lina yang berdiri merangkulku. Aku mengangguk.

” Bukan jodoh. Mbak tahu dia juga sedih, tapi kalian harus realistis. Gadis itu lebih dulu hadir dalam kehidupannya. Rasa tertarik dia padamu mungkin karena kalian baru bertemu. Melihatmu lalu membandingkan dengan gadis itu, tentu saja ada sesuatu yang beda. Waktu yang akan menjawab cinta akan membawa kalian kemana. Kalau berjodoh, maka kamu dan dia pasti bertemu lagi. Jarak ini akan menjadi ujian, apakah dia benar-benar menyukaimu atau tidak.”

Aku mendengarkan ucapan mbak Lina dan membenarkannya dalam hati. Mungkin saat ini aku merasa sedih tapi harapan itu akan selalu ada. Cinta tak akan berhenti karena jarak yang memisahkan kami. Jika Arman memang jodohku, maka bahagia itu akan hadir pada waktunya. Kehadiranku yang sesaat di pulau itu tak bisa dibandingkan dengan perhatian seorang gadis yang lebih dulu hadir dan menemani hari-hari Arman. Meski Arman tertarik, namun ada seseorang di sampingnya yang akan membuatnya melupakanku.

Semoga rasa sedih ini tak berlangsung lama. Aku tidak ingin mengusik kehidupan Arman yang selama ini dia jalani dengan damai. Dia telah punya kesibukan sendiri, begitu juga denganku. Pertemuan kami hanya sesaat tak bisa di jadikan dasar untuk langkah kami berikutnya. Dia tak mungkin ikut denganku begitu juga aku tak bisa hidup di pulau yang selama ini dia tempati. Kami harus realistis jangan karena rasa cinta yang belum tentu akhirnya, kami sudah terjebak akan mimpi yang tak berujung.

” Pasti setelah tiba di kota, kamu akan melupakannya. Mbak yakin akan hal itu.”

Ucapan mbak Lina terngiang kembali. Kulihat dia telah terlelap dalam tidurnya sementara aku masih belum bisa memejamkan mata sejak tadi. Mbak Lina tidak tahu, pertama kali dalam hidupku aku merasakan jatuh cinta pada seseorang dan orang itu adalah Arman. Biarlah ini hanya jadi rahasia hatiku bahkan Arman juga tak boleh tahu. Aku tidak tahu apakah bisa melupakannya. Kehadirannya dalam hidupku meski sekejap mampu membuatku jatuh cinta. Perasaan yang sebelumnya tak pernah hadir. Dia memberikan rasa yang berbeda hingga aku yakin, ini bukan cinta sesaat. Tapi takdir tak memihak kami. Aku telah di takdirkan untuk tinggal di pulau yang jauh letaknya dari tempat Arman. Jarak yang membuatku tak bisa menerima cintanya.

******

” Kamu sudah dengar ada karyawan baru di kantor kita?” Kikan menyambutku pagi ini di depan pintu ruangan. Aku melangkah lalu menaruh tas ku di atas meja.

” Ada karyawan baru kan biasa, Kan. Apanya yang aneh?” Aku tak begitu antusias mendengar berita yang disampaikan Kikan. Menerima karyawan baru atau mutasi, itu adalah kegiatan rutin di kantor kami. Karena itu aku menganggap bukan sesuatu yang istimewa.

Tiba-tiba hapeku berbunyi pesan sms. Aku melihatnya, dari nomor yang tidak aku kenal. Kubaca pesannya..

maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok.. Aku disini sekarang, melihatmu…

Aku membaca pesan itu sekali lagi dengan degup jantung berpacu cepat. Kalimat itu adalah kata-kata yang sering diucapkan Arman. Aku selalu mengingatnya karena memang tak pernah berniat untuk melupakannya.

Pesan sms masuk lagi.

Kamu tidak merindukanku?

Ku balas.

Kamu dimana?

Di sini. Sekarang kita satu kantor.

Aku melihat pesan itu lebih lama. Benarkah ini Arman? apakah dia sedang bercanda atau mungkin ada orang yang iseng untuk mengusik ketenanganku? tapi kalimat itu adalah kata-kata yang selalu diucapkan Arman.

Karena penasaran aku mendekati meja Kikan. Aku tidak ingin pesan itu membuatku gelisah.

” Karyawan baru siapa namanya, Kan?” Kikan berbalik sambil tersenyum.

” Katanya gak peduli. Akhirnya tertarik juga. Namanya Arman Dewantara.”

Aku berlari keluar ruangan tanpa pamit pada Kikan. Aku yakin sekarang jika Arman yang telah mengirimkan pesan itu.

Aku segera menelponnya.

” Kamu dimana?” tanyaku dengan rindu yang sama ketika bertemu dengannya setahun yang lalu.

” Di ruangan personalia. ” Suara Arman membuat getar-getar rindu itu kembali.

” Karena kamu tidak bisa ke tempatku maka aku yang menyusulmu. Kamu masih milikku kan?”

Aku mengganguk meski aku tahu Arman tak melihatku.

” Iya.” jawabku dengan kerinduan yang makin tak tertahankan.

*********

0 komentar:

Posting Komentar