Lanjutan Dari Nyanyian Sendu Masa Lalu
Imam tiba di depan ruangan manager. Dia mengatur nafas sejenak untuk menenangkan diri. Kemudian tangannya memegang gerendel pintu lalu membukanya. Pandangan Imam langsung menyusuri ruangan yang sedang di renovasi. Tampak Heru sedang sibuk mengatur tata letak perabotan di dalam ruangan. Dia langsung tersenyum dan menghentikan kegiatannya begitu melihat Imam.
“ Masuklah, ibu sudah menunggumu dari tadi “ katanya sambil mengantar Imam mendekati pintu ruangan lain yang ada di ruangan manager.
Imam kemudian mengetuk pintu lalu membukanya. Walau terlihat tenang sebenarnya hati Imam bergejolak. Apalagi saat dia melihat Rina yang sekarang adalah atasannya tanpa ekspresi memandangnya. Imam merasa seperti bertemu pertama kali dengan orang yang tidak dikenalnya. Pikirannya makin kacau. Persiapan batin yang dilakukannya tadi seperti tidak ada artinya. Berada di dalam ruangan ini bersama dengan seseorang yang sangat di cintainya membuat hati Imam terluka. Mereka berdua masih terdiam. Hanya suara perabotan yang di atur Heru di luar ruangan yang terdengar.
Imam terus memandangi Rina yang masih sibuk menulis sesuatu. Dia memberanikan diri untuk menatap Rina. Ada rasa tidak percaya yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Bagaimana mungkin seseorang yang pernah saling mencintai selama tujuh tahun bisa bertemu dengan sikap seperti ini?. Tanpa sengaja Rina mengangkat wajah dan menatapnya. Imam tidak siap untuk menghindar atau memang sengaja tidak menghindar. Akhirnya pandangan mereka bertemu. Imam melihat jauh ke dalam mata Rina yang juga menatapnya tanpa berkedip. Rasa terkejut langsung hinggap di benak Imam saat melihat sinar mata Rina seperti sinar mata yang dikenalnya beberapa tahun yang lalu. Mata yang penuh dengan sinar cinta. Mata yang penuh dengan rasa kerinduan. Benarkah ini matamu? Tanya Imam dalam hati.
Selama beberapa detik mereka saling menatap. Imam berusaha mencari harapan yang hilang dari hatinya tapi keadaan itu tidak berlangsung lama. Rina langsung menunduk dan membuka berkas didepannya. Sikapnya kembali dingin seperti saat Imam masuk ke dalam ruangan.
“ Aku sudah melihat hasil laporan kerjamu, menurutku kamu termasuk karyawan yang prestasinya bagus.” ucap Rina sambil memandang Imam tapi pandangan matanya berbeda. Walau ada keramahan tapi Imam dapat melihat dengan jelas perbedaan itu.
“ Dari penilaianku terhadap semua karyawan, sepertinya hanya kamu yang cocok aku jadikan asisten manager. Makanya aku memanggilmu untuk menyampaikan hal ini. Ini hanya formalitas. Surat keputusannya sudah aku tanda tangani. Kamu mulai bekerja besok, ruangan kamu di sebelah ruangan ini..” Rina mengucapkan kata-kata dengan suara tegas. Imam terdiam.
“ Apa tidak ada pilihan lain ?” tanya Imam akhirnya setelah beberapa saat terdiam. Rina menatapnya dengan heran.
“ Kamu justru terpilih di antara begitu banyak karyawan. Apa masih perlu pertimbangan? Aku kira ini baik untukmu. Naik jabatan itu suatu prestasi. Jadi apa yang harus kamu pertimbangkan?”
“ kalau boleh aku tahu, tugasku seperti apa?”
“ Lebih spesifik baru besok bisa kujelaskan, intinya kamu adalah tangan kananku. Tidak semua pekerjaan bisa aku handle, tapi aku juga tidak bisa mempercayakan ke sekretaris karena bidang kerja berbeda. Ibaratnya kita seperti tim. Tapi tetap keputusan akhir ada di tanganku.”
“ Baiklah. Aku setuju karena ini juga sudah Ibu putuskan. Apa ada lagi yang ingin ibu sampaikan?” tanya Imam dengan tatapan lembut menatap Rina.
“ Tidak ada..” jawab Rina tenang.
“ Baiklah. Kalau begitu aku bisa kembali bekerja?” Rina mengangguk sambil tersenyum. Imam kemudian mohon pamit lalu berdiri dan melangkah menuju pintu. Imam tidak melihat perubahan ekspresi dari wajah Rina. Wajahnya langsung berubah sedih. Bibir Rina bergetar seolah menahan kepedihan. Tangannya meremas-remas saputangan yang ada digenggamannya.Tidak lama kemudian Rina menangis. Tangisan dengan suara tertahan.
*
Imam masuk ke dalam ruang kerja dengan lesu. Dia tidak melihat tatapan mata teman-temannya. Dia bahkan langsung duduk tanpa memandang Vino yang melihatnya dengan rasa penasaran. Iman baru sadar setelah dia memegang mouse komputernya. Seolah tersadar dia langsung mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sewaktu pandangan matanya bertemu dengan Vino, Vino langsung tersenyum.
“ Jangan katakan kalau kamu sudah jatuh cinta dengan Manager kita..” ucap Vino lalu mendekati Imam yang kembali mengoperasikan komputernya.
“ Kalau kamu jatuh cinta, kenapa wajahmu begitu lesu? Apa kamu di beri tugas berat? Atau kamu kena teguran? Tapi teguran apa? Ibu Rina kan baru hari ini aktif..”
Imam tetap diam. Dia terus melihat layar komputernya.
“ Besok aku pindah ruangan, aku jadi asistennya Ibu Manager..” Jawab Imam pelan tapi terdengar seperti bom yang meledak di telinga Vino.
“ Benarkah?” tanya Vino dengan pandangan tidak percaya. Dia lalu memegang wajah Imam supaya dia dapat melihatnya dengan jelas.
“ Aura wajahmu tidak sama dengan berita yang kamu sampaikan. Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan? Kenapa berita gembira kamu sampaikan seperti berita kematian?”
Imam tersenyum. Kata-kata Vino sangat puitis.
“ Benarkan? Pasti ada yang kamu sembunyikan. Kalau aku, pasti begitu masuk ruangan, aku sudah berteriak dengan gembira menyampaikan ke teman-teman kabar seperti ini. Tapi kamu? seperti tujuh hari nggak makan. Lesu.”
“ Itu artinya tugasku tambah berat. Apa kamu paham jadi asisten manager seperti apa? Itu sama saja dengan aku menjadi manager.”
“ Tapi kan, jabatanmu jadi lebih tinggi dari sekarang. Bukankah itu lebih baik?
“ Entahlah. Rasanya sama saja.”
Imam tidak mungkin memberitahu vino yang sebenarnya. Bagaimana mungkin dia menceritakan ke Vino kalau dia dan Rina dulu adalah sepasang kekasih. Vino bisa sepanjang waktu menggodanya. Lebih parah lagi kalau Vino memberitahu ke semua teman-teman karyawan, pasti makin heboh.
Malamnya, saat berada di dalam kamarnya, Imam memandangi foto Rina yang di simpan di dompetnya. Foto itu tidak pernah dia lepaskan. Tiap kali dia ingin melepaskan foto itu, selalu ada rasa takut kalau dia akan benar-benar kehilangan. Padahal dalam kenyataan dia sama sekali tidak bisa memiliki Rina. Jadi mengapa dia takut kehilangan?
Sementara di tempat lain, di sebuah apartemen nampak Rina tengah memandangi foto seseorang yang disimpan di dompetnya. Rina menatap foto itu dengan pandangan sedih.
“ Mas, Imam. Maafkan aku…” bisiknya lirih dengan wajah sedih.
Bersambung…...
0 komentar:
Posting Komentar