Lanjutan Cinta Itu Masih Ada
Imam baru saja selesai sholat subuh ketika handphonenya berbunyi nada panggil. Dia mengambil dengan malas Handphonenya yang ada di atas tempat tidur. Melihat nama yang memanggil, Pak Darman. Imam langsung tersentak. Dia kemudian berdiri.
“ Assalamu Alaikum, ada apa, Pak ? “ Tanya Imam.
Imam kelihatan serius ketika berbicara via handphone dengan Pak Darman. Setelah selesai dia langsung bergegas masuk ke kamar mandi.Tidak lama kemudian terlihat Imam meninggalkan rumah kostnya dengan tergesa-gesa.
Hari memang masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantor tapi tujuan Imam bukan ke kantor melainkan ke Rumah Sakit Sehat Sejati. Pak Darman tadi menelponnya dari rumah sakit. Istri Pak Darman tiba-tiba terkena serangan jantung dan harus di rawat di rumah sakit. Pak Darman memanggil Imam karena ada dokumen yang harus di ambil. Dokumen itu sangat penting dan saat ini manager sedang memerlukannya.
Tiba di rumah sakit, Imam melihat Pak Darman sudah berdiri di pintu masuk rumah sakit sambil membawa dokumen berwarna hijau. Pak Darman langsung mendekati Imam yang masih berada di atas motornya dengan mesin motor masih menyala.
“ Ibu Rina sangat membutuhkan dokumen ini, kamu langsung ke apartemennya saja. Tadi rencananya saya yang mau mengantarkan tapi ibu tiba-tiba sakit, jadi saya tidak bisa. Oh, ya kamu tau kan alamat apartemennya Ibu Rina?”
Imam menggeleng.
Pak Darman kemudian mengirimkan alamat Rina ke handphone Imam. Setelah itu Imam menjalankan motornya menuju ke apartemen Rina sesuai dengan alamat yang diberikan Pak Darman. Sepanjang perjalanan Imam terus memikirkan Rina. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi pagi ini. Seharusnya dalam keadaaan normal pagi ini dia menuju kantor, bukan ke apartemen Rina. Jantungnya juga mulai berdetak cepat setiap kali dia memikirkan Rina.
“Apa yang terjadi dengan hatiku? Seharusnya aku menghentikan perasaan ini, bukan malah memeliharanya.” keluh Imam.
Imam tiba di depan pintu apartemen Rina dan kebetulan Rina juga sedang bersiap-siap membukanya. Akhirnya mereka bertemu di depan pintu.
“ Pagi,bu. Ini dokumen yang ibu pesan dari Pak Darman..”
Imam menyerahkan dokumen itu. Rina menerima dokumen itu lalu membukanya. Imam tetap berdiri di depan Rina. Ketika Imam melihat Rina menutup dokumen itu, dia langsung berencana pamit.
“ Kamu masuk dulu, ada laporan yang akan aku perlihatkan. Nanti berangkat ke kantor, kita sama-sama saja..”
Imam tidak jadi meminta pamit padahal kata-kata itu sudah hampir dia ucapkan. Entah mengapa ada perasaan bahagia saat Rina memintanya untuk masuk dan menunggu di apartemennya. Padahal tujuan Rina memintanya tinggal karena ada sesuatu yang mau di perlihatkan. Imam melangkah masuk ke dalam apartemen Rina. Pandangan matanya langsung menjelajah, melihat setiap sudut yang ada di ruang tamu. Ketika dia duduk di sofa dan merasakan betapa lembutnya sofa dan harumnya ruangan ini, dia lalu teringat dengan kamar kostnya yang sederhana. Yang ada dikamarnya hanya tempat tidur, lemari dan sepasang meja belajar. Sungguh sangat berbeda dengan keadaan yang ada di ruangan ini.
Pandangan mata Imam kembali mengitari ruangan. Matanya berhenti pada pajangan foto yang ada di samping lemari buku. Imam kemudian berdiri dan melangkah mendekati foto tersebut. Ekspresi wajah Imam langsung berubah begitu melihat foto yang di pajang tersebut. Itu adalah fotonya berdua dengan Rina. Ada tiga foto yang di pajang dan semuanya foto mereka berdua. Imam langsung merasa tubuhnya lemas. Dia lalu memilih kembali duduk di sofa.
Imam masih merenung ketika Rina keluar membawa Laptop dan beberapa dokumen. Dia kemudian membantu meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja sementara Rina menghidupkan laptopnya.Mereka kemudian duduk berdampingan di sofa menghadapi laptop. Mereka tidak menyadari jarak mereka sangat dekat. Rina kelihatan serius saat memperlihatkan laporan-laporan yang ada di dokumen dan di laptop. Imam juga sepertinya lupa dengan hubungan masa lalunya dengan Rina. Dia serius berdiskusi dengan Rina.Sampai waktu di mana keduanya terdiam dan hanya terdengar suara gemericik air dari aquarium yang ada diruang tamu.
Imam tersadar tapi saat itu tangannya tidak sengaja memegang tangan Rina karena dia ingin menyentuh mouse sementara Rina tidak segera mengangkat tangannya. Rina juga ternyata mulai menyadari. Dia menatap Imam sementara saat itu Imam juga tengah memandangnya.Seperti slow motion beberapa detik, mereka seperti disinari cahaya pelangi dengan bintang-bintang mengelilingi mereka. Rina bermaksud menarik tangannya tapi Imam memegangnya dengan erat. Rina langsung menatap tajam ke arah Imam seolah protes dengan apa yang dilakukannya. Tapi rupanya Imam sudah tidak peduli lagi dengan siapa dia berhadapan. Dia tidak peduli lagi dengan status Rina sebagai manager. Perasaannya semakin tertekan dan itu membuatnya ingin meledakkan apa saja sekiranya ada bahan peledak di tangannya.
“Kenapa kamu datang? Kenapa memilih perusahaan ini? Kenapa?” tanya Iman dengan suara nyaris putus asa.
Rina sangat terkejut dengan pertanyaan Imam. Dia mengalihkan pandangan dan berusaha menarik tangannya yang berada dalam genggaman Imam, tapi Imam menggenggamnya dengan erat.
“ Aku tidak mengerti apa maksudmu?”
“ Jujur saja. Apa kamu pikir aku tidak mengenalmu? Aku tahu tujuanmu datang bukan semata-mata karena menggantikan Pak Sutedjo. Apa maksudmu sebenarnya?”
Rina terdiam. Dia langsung menarik tangannya dan kali ini Imam sama sekali tidak menahannya.
“ Aku tidak punya maksud apa-apa, aku hanya ingin bekerja..”
“ Kamu masih harus banyak belajar untuk bisa bersandiwara. Kamu pikir datang ke perusahaan ini menjadi manager lalu menjadikan aku asistenmu, itu semua serba kebetulan? Apa kamu pikir hatiku tidak terluka? Sekian lama kita bersama lalu tiba-tiba kamu menghilang. Setelah bertahun-tahun aku mencoba melupakanmu, kamu tiba-tiba datang dengan wajah tidak berdosa seolah tidak pernah mengenalku. Apa menurutmu aku ini pria yang mudah dipermainkan? Kamu datang dan pergi dalam kehidupanku sesuai dengan keinginanmu. Apa maksudmu menarikku lagi ke dalam kehidupanmu? Bersikap akrab terhadapku. Apa kamu ingin menyakitiku lagi? Menganggapku seperti permainan yoyo yang bisa kamu tarik ulur semaumu?!?”suara Imam meninggi. Terlihat jelas dia berusaha menahan emosi dan beban batin yang ada dalam hatinya.
Rina menatapnya dengan tatapan sedih. Bibir Rina bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak mampu dia katakan.
“ Aku tidak ingin merasa bersalah, makanya aku mencarimu..” kata Rina dengan mata berkaca-kaca. Rina tidak tahu kalau kata-katanya justru membuat Imam makin emosi.
“ Merasa bersalah? Kenapa kamu harus merasa bersalah? Kamu bisa merasa bersalah kalau kamu menemukanku dalam keadaan kurus kering, terbaring tidak berdaya karena menanggung rasa sakit hati. Tapi keadaanku tidak seperti itu, aku baik-baik saja. Aku kerja dengan tenang sampai kamu datang lagi. Apa kamu sadar yang kamu lakukan?”
Iman menatap tajam ke arah Rina yang tertunduk berusaha menahan tangis.
“ Jangan menyalahkanku! Apa kamu pikir hanya kamu yang terluka? Bertahun-tahun aku mencarimu. Aku mencari di rumahmu yang dulu, tapi kamu sudah pindah. Sampai aku menemukanmu di sini. Aku sangat gembira bisa menemukanmu. Tapi kemudian aku merasa takut kalau nanti kamu tidak menerimaku seperti yang aku harapkan. Makanya aku hanya bisa bersikap biasa seolah-olah semua tidak pernah terjadi..”
Tangis Rina pecah. Tangis yang sudah tertahan sejak lama. Tangis yang berusaha di tahannya dengan sikap tegar padahal dalam hati dia begitu rapuh. Imam seolah sadar dengan apa yang dikatakan Rina. Dia tiba-tiba merasa bersalah karena sudah mengatakan hal-hal yang mungkin membuat Rina sakit hati.
Imam kemudian menggerakkan tangannya untuk menghapus air mata yang menetes di pipi Rina.
“ Apakah kamu Rina yang aku kenal?” tanya Imam dengan suara lembut sambil tetap menatap Rina. Rina mengangguk sambil meneteskan air mata. Imam lalu menggenggam tangan Rina yang ternyata begitu dingin.
“ Aku sudah hampir jatuh, mas. Aku nggak kuat lagi bertahan….”Ucap Rina sambil menangis.
Imam makin mempererat genggaman tangannya. Imam tidak percaya kalau wanita yang didepannya adalah Rina yang jadi Managernya yang tampil begitu penuh percaya diri. Yang dia lihat sekarang adalah sikap Rina sewaktu menjadi kekasihnya. Begitu lemah dan butuh dilindungi.
“ Apa mas Imam masih mencintai aku?” tanya Rina masih dengan berlinang air mata. Mata Imam juga berkaca-kaca . Dia langsung memeluk Rina.
“ Hanya Tuhan yang tahu betapa aku sangat merindukanmu..” ucap Imam sambil mempererat pelukannya…
Mereka berdua menangis bersama. Namun kali ini mereka menangis dalam rasa tenang karena mereka sudah saling terbuka dengan perasaan masing-masing. Hari beranjak pagi dengan sinar mentari yang mulai terik tapi Rina dan Imam sama sekali tidak bergerak untuk menuju kantor. Bertahun-tahun mereka saling merindukan, lepas sehari dari rutinitas kantor sepertinya tidak masalah.******TAMAT****
0 komentar:
Posting Komentar