Senin, 27 Februari 2012

Nyanyian Sendu Masa Lalu

0



Jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi tapi suasana kantor Citra Cakrawala Persada sudah terlihat banyak karyawan yang melakukan aktivitas. Mereka sibuk mempersiapkan acara penyambutan untuk manager mereka yang baru. Manager baru akan mengisi posisi Pak Sutedjo yang sudah dua minggu kosong. Selama ini Pak Darman yang jabatannya sebagai wakil manager menggantikan tugas-tugas Manager untuk sementara. Rencananya hari ini manager baru itu akan datang dan mulai memperkenalkan diri sekaligus penyesuaian diri dengan kantor baru.

“ Kenapa baru datang? “ tegur pak Darman begitu Imam muncul di pintu masuk. Imam menunduk sambil tersenyum tipis.

“ Maaf,pak. Motor saya kehabisan bensin, jadi saya beli bensin dulu..” jawab Imam dengan terbata. Dia jujur dengan jawabannya. Tapi dalam suasana sekarang, jawaban apapun itu terkesan seperti mencari alasan atas keterlambatan.

“ Ya, sudah. Cepat bantu yang lain, mereka sejak jam enam pagi sudah ada di sini..”

“ Saya permisi dulu, pak” Ucap Imam kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan.

“ Kenapa terlambat?” tanya Vino dengan suara pelan begitu Imam berada disampingnya

“ Motorku mogok. Aku sial banget hari ini. Udah motor mogok, aku kena tilang, sampai di sini kena tegur Pak Darman. Memang nasibku lagi apes..” ucap Imam sambil menaruh tasnya di meja kerjanya.

“ Sejak tadi Pak Darman sudah berkicau di luar. Semua harus sempurna..”

“ Seperti apa sih, Manager kita dari Jakarta? Kenapa Pak Darman begitu tegang?”

“ Namanya akan datang pimpinan baru, jelas saja pak Darman ingin semuanya terlihat sempurna. Kantor kita juga harus di buat nyaman untuk manager baru itu”

“ Maksudmu?”

“ Yang aku dengar, yang akan menjadi manager kita seorang wanita.”

“ Kamu dapat info dari mana?” tanya Imam penasaran.

“ Aku dengar begitu..”

“Ayo, semua, kumpul di ruang meeting..!” teriakan dari luar menghentikan pembicaraan Imam dan Vino. Mereka berdua bergegas ke ruangan meeting. Di ruangan meeting karyawan lain sudah berkumpul. Karena kursi di ruangan tidak mencukupi, ada sebagian karyawan yang duduk ada juga yang berdiri. Semuanya masih diliputi rasa penasaran.

Pak Darman duduk di depan dengan wajah penuh ketegangan.

“ Assalamu Alaikum Wr. Wb, selamat pagi semuanya..” sapa Pak Darman memulai sambutannya.

“ Kalian tentu sudah tahu alasan kenapa hari ini semua harus ada di kantor pukul enam pagi. Hari ini tepatnya pukul delapan sebentar, manager yang baru akan datang. Selayaknya menyambut pimpinan baru kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Jangan sampai ada hal-hal yang mengecewakan beliau. Saya pribadi belum pernah bertemu dengan beliau jadi saya juga belum tahu sosok beliau seperti apa. Nanti kalau beliau datang, saya harap kalian tunjukkan bahwa kalian karyawan yang baik, berdedikasi tinggi dan layak untuk bekerja di sini…” lanjut pak Darman.

“ Sekarang kalian tetap di sini, karena beliau sebentar lagi tiba..ok itu saja penyampaian saya, saya akan keluar untuk menyambut beliau.. Wassalamu Alaikum Wr.Wb, Selamat pagi.”

Selesai mengucapkan salam pak Darman bergegas keluar. Tadi satpam kantor sempat masuk dan membisikkan sesuatu ke pak Darman. Entah apa yang dibisikkan tapi sepertinya sesuatu yang penting karena pak Darman langsung menutup meeting.

Lima menit kemudian terdengar suara tawa Pak Darman dan suara orang lain dari luar. Semua mata terarah ke pintu. Pak Darman muncul pertama kali di susul pria tinggi besar berwajah sangat berwibawa, kemudian seorang wanita cantik berpostur tinggi ramping melangkah anggun di belakang pria besar itu, lalu ada dua orang lagi pria yang mengikuti. Mereka kemudian duduk di kursi yang sudah di sediakan. Semua mata karyawan terarah ke mereka namun ada mata seseorang yang tidak berkedip menatap wanita cantik yang baru saja masuk. Pemilik mata itu adalah Imam. Imam menatap tajam ke arah wanita itu sejak muncul di dalam ruangan. Bibir Imam bergetar sementara jantungnya berdetak sangat cepat.

****

Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari tapi Imam belum juga bisa memejamkan matanya. Dari tadi dia mencoba untuk tidur tapi tetap tidak bisa. Pikirannya hanya di penuhi kejadian tadi pagi.

“ Rina, kenapa kamu kembali?” tanyanya dengan perasaan sedih seolah ada orang lain di ruangan itu. Padahal tidak ada siapapun selain Imam sendiri di dalam kamarnya yang temaram. Imam menutup wajahnya dengan bantal. Memaksa diri untuk tidur. Tapi yang tampak dimatanya hanya bayangan Rina, kekasih yang dulu meninggalkannya.

****

“ Manager baru kita, Ibu Rina betul-betul wanita yang sempurna..” ucap Vino sambil membuka berkas – berkas laporan di atas mejanya. Pagi itu suasana kantor masih sepi, hanya Vino dengan Imam di dalam ruangan. Imam yang mendengar ucapannya hanya meliriknya sekilas sambil tersenyum.

“ Rasanya suasana kantor jadi kembali bergairah, setiap hari mataku sepet melihat Wulan dan Tri bolak – balik di depan ruangan… lama kelamaan aku bisa jatuh cinta sama mereka..”

“ Jatuh cinta saja, Wulan sama Tri masih single kok..”

“ Susah, Mam. Apa kamu tidak merasa atau memang sudah mati rasa? Mereka itu hilir mudik di depan ruangan kita, karena pengen liat kamu? menarik perhatian kamu?”

Imam tertawa.

“ Kamu bisa saja..”

Vino lalu berdiri mendekati meja Imam.

“ Bagaimana? Kita berdua deketin mereka saja? Kamu dengan Wulan, aku dengan Tri. Setuju?” bujuk Vino dengan ekspresi wajah serius  saat meminta persetujuan Imam.

“ Aku tidak punya kesempatan, kerjaanku banyak. Sebentar lagi akhir tahun. Kamu tidak liat laporan bertumpuk begini?”

Wajah Vino langsung lesu. Akhirnya dia kembali ke mejanya.

“ Sampai kapan sih, kamu bersikap seperti itu? Menutup diri lama-lama tidak bagus, Mam. Aku hanya ingin kamu keluar dari cangkang masa lalu. Apa kamu pikir gadis pujaanmu akan datang? Dia pasti sudah menikah sekarang..”

Imam langsung berhenti menulis. Pandangan matanya berubah sendu. Apa kamu tidak tahu Vino? Gadis itu sekarang sudah ada di sini, ucap Imam dalam hati.

Satu persatu karyawan lain mulai berdatangan. Vino dan Imam terlihat serius mengerjakan tugas mereka.

“ Imam!” panggil Heru. Kepalanya muncul dari balik pintu. Imam berbalik melihatnya.

“ Di panggil Manager..” lanjut Heru.

Begitu mendengar kata manager mata Vino langsung membulat. Senyumnya melebar. Dia langsung menatap Imam. Sementara Imam hanya terdiam. Terlihat jelas dia berusaha menenangkan dirinya. Akhirnya Imam berdiri.

“ Aku harap kamu tidak jatuh cinta begitu keluar dari ruangan manager..he..he” seru Vino sebelum Imam menghilang dari balik pintu.

Saat melangkahkan kakinya menuju ruangan Manager, Imam seperti melihat perjalanan masa lalunya. Saat semua kebahagiaan perlahan-lahan menjauh dari kehidupan cintanya. Pertemuannya dengan Rina, kisah cintanya hingga saat dia harus mengalami yang namanya patah hati. Bertahun – tahun dia mencoba bertahan dan berusaha melupakan semua rasa yang ada di hatinya. Tapi sekarang saat dia hampir meninggalkan semuanya, cinta masa lalunya datang kembali. Rina kembali dengan sosok yang berbeda. Seorang gadis yang dulu pemalu dan lugu sekarang menjelma menjadi wanita eksekutif yang penuh percaya diri.

Imam tidak ingin menumbuhkan kembali harapannya akan masa lalu cintanya. Melihat sosok Rina sekarang, dia ragu apakah Rina masih mengenalnya. Kalaupun Rina masih mengenalnya, hubungan mereka sekarang sudah tidak sama. Rina sekarang adalah pimpinannya. Dia adalah bawahan yang harus patuh pada perintah atasan. Hubungan yang tetap rumit seperti masa lalu. Cuma yang berbeda, sekarang tidak akan ada cinta….

Bersambung……..Cinta itu masih ada

0 komentar:

Posting Komentar