Hujan turun dengan derasnya malam itu. Rumah kontrakan yang terdiri dari beberapa petak itu sejak tadi sepi. Tiba-tiba sebuah bayangan lelaki muncul. Berlari dibawah guyuran hujan sambil mengetuk pintu salah satu kamar. Pintu terbuka. Nampak seorang wanita tua menyambut lelaki muda itu dengan wajah cemas.
“ Bagaimana?” tanyanya sambil menatap cemas lelaki muda yang tengah mengibaskan air dibadannya.
“ Tenanglah, bu. Haji Tohir tidak marah. Dia malah menganggap hutang kita lunas.” jawab lelaki muda itu. Wajah wanita tua itu terlihat bingung.
“ Lunas? Bagaimana bisa? Baru kemarin dia datang marah-marah dan mengancam kita. Kenapa sekarang dia bisa menganggap lunas?” lelaki muda itu berjalan ke belakang. Menuang air di gelas lalu meminumnya hingga air digelas habis. Dia mendekati ibunya lalu memegang tangan ibunya.
“ Saya memohon padanya,bu. Sambil menangis. Saya katakan bagaimana kami bisa melunasi hutang kalau kios kami di pasar, terbakar? Tak ada uang yang kami punya. Mungkin karena itu dia tersentuh.” ucap lelaki muda itu sambil menatap ibunya. Wajah si ibu terlihat tenang. Tak lagi cemas seperti tadi saat kedatangan anaknya itu.
~
Malam merambat. Si ibu terlihat lelap dalam tidurnya. Sementara anaknya, lelaki muda itu masih terjaga. Dia tidak bisa memejamkan matanya. Setiap kali hendak memejamkan mata, bayangan wajah Haji Tohir yang meregang nyawa terlihat jelas di pelupuk matanya. Andai Haji itu tak memaksanya mungkin belati itu tak akan bermandikan darah.**
0 komentar:
Posting Komentar