Senin, 19 Desember 2011

Istri bos

0



“ Ingat, ya Ratih. Jangan berikan dokumen itu, siapapun yang minta, tanpa seizinku.”perintah bos sebelum meninggalkan ruangannya pagi itu. Bos berangkat pagi itu juga ke Singapura.

Sebagai pegawai kepercayaan bos, aku tentu akan mematuhi kata-katanya. Menjaga barang-barang yang dia tinggalkan dengan sebaik-baiknya. Untuk sementara aku menempati ruangannya sebelum bos kembali.

Ruangan yang nyaman walau untukku terasa sangat dingin karena AC yang di set terlalu dingin. Aku mencari remote AC bermaksud mengubah settingan AC agar dinginnya tak terlalu menusuk. Aku mencarinya tapi tak ketemu juga. Saat itulah seseorang mengetuk pintu. Aku mengira Vety yang ada diluar.

“ Masuklah, Vet!” panggilku tanpa melihat kepintu. Aku dengar pintu terbuka.

“ Ada yangg perlu ditanda tangani, Vet?” tanyaku tanpa berbalik melihatnya. Aku sibuk mencari remote AC. Karena Vety tidak juga menjawab, aku segera berbalik.

“ Eh, ibu.Ada apa, bu? ” tanyaku kaget ketika melihat yang masuk ke ruangan bos, karena wanita yang berdiri didepanku saat ini adalah istri bos.

“ Gimana kabar kamu, Ratih?” tegurnya ramah sambil tersenyum. Aku yang masih kaget dengan kehadirannya, terpaku beberapa saat.

“ Baik, bu. Ada yang bisa saya bantu, bu?” tanyaku. Posisi kami masih berdiri. Tiba-tiba aku merasa kikuk. Bagaimana aku harus melayani wanita ini? Tidak mungkin aku kembali duduk di kursi bos. Bukankah dia istri bos? Apakah dia tidak akan tersinggung, saat aku duduk di kursi suaminya sementara dia duduk didepanku?

“ Aku kesini mau minta tolong sama kamu.” kata istri bos sambil menyunggingkan senyum.

Akhirnya aku mempersilahkan wanitu itu duduk di kursi yang ada diruangan bos. Dia duduk dengan anggun di depanku.

“ Ibu mau minta tolong apa, bu?”

“ Begini, Ratih. Bos kamu, suamiku pergi selama dua minggu. Dia tentu sudah memberitahu kamu, kan? Karena itu selama bos kamu tidak ada, aku akan menjaga dokumen-dokumennya. Itu permintaan suamiku. Dia menyuruhku menghubungimu” Aku mendengarkan dengan sedikit heran. Kenapa bos tiba-tiba mengubah kata-katanya?

“ Makanya aku datang kemari, karena suamiku ingin, aku yang menjaga surat-surat berharganya. Dia merasa tidak tenang sebelum dokumen-dokumen itu, aku pegang.” Aku menyimak tapi kali ini aku makin heran. Tidak biasanya bos bersikap seperti ini. Sejak empat tahun yang lalu, saat aku jadi asisten kepercayaannya, dia tidak pernah mengubah pesan yang sudah dia katakan padaku.

“ Tapi sebelum bos berangkat, beliau sudah mempercayakan dokumen-dokumen itu untuk saya simpan, bu?”kulihat raut muka wanita itu sedikit berubah. Dia tampak kesal.

“ Kalau kamu tidak percaya, tanya saja sendiri. Masak sih, aku sebagai istrinya harus memohon sama kamu. Ini perintah suamiku, loh.” katanya masih bersikeras dengan permintaannya. Tapi aku juga tidak bergeming. Walau ada rasa ragu, tapi ini hal yang tidak biasa. Kenapa bos tidak menelponku. Bukankah dia punya handphone, bisa menelpon begitu turun dari pesawat. Lagi pula Singapura dekat. Sekarang sudah siang, bos berangkat tadi pagi. Mengapa bos tidak menelpon sekedar memberitahu kalau istrinya yang harus menjaga dokumen-dokumen pentingnya?

“ Tapi bos tidak berpesan seperti itu, bu.” aku masih bertahan.

“ Kamu kog keras banget sih! Aku ini istrinya, kamu siapa? Hanya asisten yang tidak tahu diri! Mana kuncinya biar aku ambil sendiri!” wanita itu berdiri menuju lemari tempat bos meletakkan semua dokumen penting. Aku berlari menyusulnya, menghalanginya mendekati lemari. Wanita itu tampak emosi.

“ Apa-apaan kamu? Apa kamu mau aku telpon suamiku sekarang, minta kamu dipecat karena bersikap kurang ajar begitu?!?” aku menunduk hormat.

“ Maaf bu, bukan saya ingin kurang ajar pada ibu. Tapi bos sudah mempercayakan saya semua dokumen itu sebelum berangkat. Setelah itu tidak ada perintah lain lagi. Jadi saya belum bisa memberikan dokumen-dokumen itu pada ibu.”

“ Kamu benar-benar kurang ajar,ya!” wanita itu mendorongku dengan kasar. Aku tersungkur menabrak meja. Dengan cepat aku berbalik mendekatinya.

“ Maaf, bu. Bolehkah saya bicara dengan bos, sekarang?” matanya menatapku dengan tajam.

“ Kamu ini. Aku ini istrinya, aku berhak! Kamu bukan siapa-siapa!”

“ Tapi saya sudah diperintah bos. Saya tidak akan memberikan ibu dokumen-dokumen itu sebelum ibu bisa memperlihatkan bukti, kalau bos memang berkeinginan seperti itu.” Wajah wanita itu memerah.

“ Baiklah. Dasar perempuan kurang ajar!” dia mengumpat sambil membuka tasnya. Mengeluarkan blackberry dari dalam tasnya.

Kuperhatikan dia mengutak-atik handphonenya.

“ Nih, baca! Itu sms dari suamiku kalau kamu tidak percaya!” dia menyorongkan handphonenya ke hadapanku. Aku mengambil handphone itu. Membaca pesan dari bos. Memang benar disitu terbaca kalau bos meminta istrinya mengambil dokumen – dokumennya di kantor. Lama aku memperhatikan pesan dari bos. Dia mengambil handphonenya dengan paksa sebelum aku mengembalikannya.

“ Kamu percaya sekarang? Kalau begitu cepat serahkan kuncinya.” aku menggeleng.

“ Maaf, bu. Saya tidak bisa memberikan kunci itu pada ibu.” kataku mantap. Kali ini aku benar-benar yakin dengan tindakanku.

“ Kecuali ibu menelpon bos sekarang dan berbicara dengan bos. Saya mau mendengar lewat speakernya, suara bos yang memerintah saya.” Aku lihat wanita itu sudah mendidih. Wajahnya makin merah menahan amarah.

“ Awas kamu ya! Tunggulah, aku akan menghubungi suamiku dan memintanya memecatmu sekarang juga!” ucapnya penuh emosi sebelum meninggalkanku sendiri dalam ruangan. Wanita itu menutup pintu dengan keras hingga suaranya seolah hendak meruntuhkan tembok kantor.

Aku terduduk lemas di kursi bos. Aku masih gugup dengan kejadian yang baru saja aku alami. Benarkah tindakanku tadi? Tapi aku hanya mengikuti kata hati. Bos tidak pernah mengubah perintahnya tanpa memberitahu terlebih dahulu. Dan itu sudah berlangsung selama empat tahun. Apa mungkin bos mengubah kebiasaannya tanpa memberitahu.

“ Ada apa, mbak? Kenapa dengan istri bos?” Vety tiba-tiba membuka pintu dan berjalan mendekatiku.

“ Istri bos datang kemari meminta dokumen-dokumen bos.”

“ Hah? Istri bos? Untuk apa? Jadi dokumen itu mbak kasi?” aku menggeleng pelan.

“ Tidak. Karena itu saya takut, Vet. Saya takut istri bos melaporkan saya. Mungkin saya akan di pecat.”

“ Lalu kenapa mbak nggak kasi saja dokumennya?”

“ Karena bos nggak beri perintah langsung ke saya. Tadi pagi bos pesan, saya harus menjaga dengan baik dokumen-dokumen itu. Tidak boleh memberikan kepada siapapun yang memintanya.”

“ Kalau begitu, mbak tenang saja. Bos pasti tidak akan memecat mbak.”

“ Kamu yakin?”

Vety mengangguk.

“ Yakin, mbak. Istri bos juga kok jadi berubah, yang aku tahu istri bos sangat lembut. Tidak mungkin dia akan membanting pintu seperti tadi.”

“ Lalu kenapa tadi dia begitu marah? Kenapa dia tiba-tiba datang saat bos tidak ada?” aku dan Vety saling pandang.

“ Telpon bos!” sahut kami berbarengan.

Aku langsung menelpon bos. Benar dugaanku. Bos tidak pernah meminta istrinya mengambil dokumen-dokumen penting di kantor. Bos juga terkejut, kenapa istrinya ingin mengambil dokumen-dokumen itu. Apalagi saat ini dia tidak ada di kantor. Bos berjanji akan mencari tahu tujuan istrinya melakukan itu. Ternyata tindakanku benar. Sebenarnya ada yang membuatku yakin dan tidak mempercayai wanita itu. Saat dia menunjukkan sms dari bos, aku tidak percaya kalau pesan itu dari bos. Selama empat tahun jadi asisten bos, tidak pernah sekalipun bos mengirim pesan dengan huruf kecil. Selalu dengan huruf besar. Pesannya juga tidak pernah panjang-panjang karena bos malas mengetik sms. Kalau harus panjang, kenapa tidak telpon saja. Begitu alasan bos saat aku tanyakan hal itu. Jadi saat wanita itu memperlihatkan padaku sms dari bos, aku yakin dan pasti, pesan itu bukan dari bos.***


0 komentar:

Posting Komentar