Sayang, angin terlalu kencang
Teringat kata-katamu
Jangan berdiri di depan jendela
Itu pesanmu
Nanti kamu bisa sakit, nikmatilah senja tapi jangan di depan jendela
Kalimat yang selalu berulang terucap dari bibirmu
Masih ingin berdiri dekat jendela?
Pertanyaanmu membuatku mengangguk
Kemarilah berdiri didekatku
Tanganmu menarik bahuku bersandar di tubuhmu
Kalau ingin melihat senja, panggil aku
Pesanmu lagi
Angin dingin tidak akan menyentuhmu,ada aku yang menahan…
Aku memeluk pinggangmu, terasa hangat
Peluklah sebelum aku benar-benar pergi
Katamu penuh kasih
Berjanjilah tak akan berdiri di depan jendela saat senja
Aku tersenyum manja, perhatian yang aku suka
Senja yang indah
Katamu membalas pelukanku.
Senja yang benar-benar indah…pelukan semakin erat..erat….
” Sayang, kenapa masih berdiri disitu? Ingat kesehatanmu belum pulih.” Tegur mama yang tiba-tiba muncul di kamarku. Kututup buku harian yang tengah aku baca. Mama menutup jendela lalu menuntunku ke tempat tidur.
” Jangan berdiri terlalu lama. Ingat kata dokter, kamu masih lemah harus berbaring” kata mama sambil menarik selimut menutupi tubuhku. Kulihat mama menatap buku yang ada disisi tempat tidur. Mama menatapku sekilas lalu mendesah pelan sambil mengusap rambutku.
” Sayang, untuk apa buku itu kamu pegang terus? Mengenang Faris? Biarkan dia tenang di sana, sayang. Kalau dia masih hidup, pasti dia akan melarangmu mengingatnya kalau hanya membuatmu sakit”
Aku menutup mata. Sudut mataku telah basah dengan airmata. Mama tidak tahu penyakitku yang sebenarnya. Mas Faris sudah dua bulan meninggal karena kecelakaan. Bagaimana aku memberitahu mama kalau aku menderita penyakit yang parah dan kemungkinan aku akan menyusul mas Faris. Kerinduanku akan terobati. Tapi keluargaku utamanya mama, bagaimana menyampaikan berita yang hanya papa yang tahu? ***
0 komentar:
Posting Komentar