Senin, 19 Desember 2011

Senja Yang Dingin

0



Sayang, angin terlalu kencang

Teringat kata-katamu

Jangan berdiri di depan jendela

Itu pesanmu

Nanti kamu bisa sakit, nikmatilah senja tapi jangan di depan jendela

Kalimat yang selalu berulang terucap dari bibirmu

Masih ingin berdiri dekat jendela?

Pertanyaanmu membuatku mengangguk

Kemarilah berdiri didekatku

Tanganmu menarik bahuku bersandar di tubuhmu

Kalau ingin melihat senja, panggil aku

Pesanmu lagi

Angin dingin tidak akan menyentuhmu,ada aku yang menahan…

Aku memeluk pinggangmu, terasa hangat

Peluklah sebelum aku benar-benar pergi

Katamu penuh kasih

Berjanjilah tak akan berdiri di depan jendela saat senja

Aku tersenyum manja, perhatian yang aku suka

Senja yang indah

Katamu membalas pelukanku.

Senja yang benar-benar indah…pelukan semakin erat..erat….

” Sayang, kenapa masih berdiri disitu? Ingat kesehatanmu belum pulih.” Tegur mama yang tiba-tiba muncul di kamarku. Kututup buku harian yang tengah aku baca. Mama menutup jendela lalu  menuntunku ke tempat tidur.

” Jangan berdiri terlalu lama. Ingat kata dokter, kamu masih lemah harus berbaring” kata mama sambil menarik selimut menutupi tubuhku. Kulihat mama menatap buku yang ada disisi tempat tidur. Mama menatapku sekilas lalu mendesah pelan sambil mengusap rambutku.

” Sayang, untuk apa buku itu kamu pegang terus? Mengenang Faris? Biarkan dia tenang di sana, sayang. Kalau dia masih hidup, pasti dia akan melarangmu mengingatnya kalau hanya membuatmu sakit”

Aku menutup mata. Sudut mataku telah basah dengan airmata. Mama tidak tahu penyakitku yang sebenarnya. Mas Faris sudah dua bulan meninggal karena kecelakaan. Bagaimana aku memberitahu mama kalau  aku menderita penyakit yang parah dan kemungkinan aku akan menyusul mas Faris. Kerinduanku akan terobati. Tapi keluargaku utamanya mama, bagaimana menyampaikan berita yang hanya papa yang tahu? ***


0 komentar:

Posting Komentar