Senin, 19 Desember 2011

Cinta Dalam Hati Yoan ( 6 )

0



“ Gimana? Udah siap ketemu temanku?” tanya Evan dalam perjalanan menuju sebuah mall. Yoan tersenyum sambil mengangguk. Dia merapikan dandanannya lewat cermin kecil berbentuk kotak.

“ Kamu santai saja. Temanku itu nggak ngotot kok pengen kalian pacaran. Katanya sih kenalan saja dulu. Kalau ternyata kamu dan dia sama-sama suka, ya nggak apa-apa dilanjutkan.” Yoan melipat cermin kecilnya lalu memasukkan ke dalam tasnya.

“ Aku siap kok, mas. Beberapa minggu yang lalu mungkin aku belum siap, tapi sekarang waktu yang tepat.”

“ Waktu yang tepat?”

“ Iya. Sekarang aku sudah memutuskan tidak akan menanti lagi. Menanti hanya akan membuat hatiku sakit.” Evan tersenyum sambil melirik Yoan.

“ Ada seseorang ya yang membuat kamu sakit hati?” Yoan mengangguk.

“ Sakit sekali mas. Bahkan sekarang aku tidak ingin mengingat namanya lagi.”

“ Bertemu dengannya juga tidak mau?”

“ Kalau bertemu di jalan dan aku melihatnya, mungkin aku akan mengambil jalan lain. Biar tidak berpapasan dengannya.”

Evan tersenyum lagi sambil menyetir. Pandangannya lurus menatap jalan didepannya. Tapi dalam senyumannya terlihat seperti menyimpan sesuatu. Sayang sekali Yoan tak menyadari. Dia masih berkutat dengan pikirannya. Dia sudah memutuskan menerima tawaran perkenalan dari teman Evan. Yoan berharap dengan mempunyai kenalan baru akan membuatnya cepat melupakan Yogi. Yoan ingin segera menghapus bayangan Yogi. Lelaki yang tak sadar kalau sikapnya yang telah membuat Yoan menanti.

Sambil memandang keluar lewat kaca mobil, Yoan teringat saat-saat dia berdua dengan Yogi di dalam mobil. Waktu itu Yogi mengantarkan Yoan ke kampus. Pertama kali bertemu, pertama kali ngobrol, pertama kali duduk bareng dalam mobil dan pertama kali Yogi mengirim surat untuk Yoan. Surat warna pink yang membuat Yoan merasa jadi perempuan istimewa. Berhari-hari Yoan menatap surat itu. Berusaha mencari pembenaran akan rasa yang dimilikinya. Tapi rasa itu buyar saat kata-kata Sherly terucap dan membuat bimbang hati yang sedang menanti kepastian. Yoan tersadar dari mimpi sesaatnya. Sherly telah membuka mata hatinya. Tak ada gunanya menanti seorang Yogi. Dia seperti bintang-bintang yang menghiasi malam. Begitu banyak yang menatap bangga padanya. Begitu banyak harapan yang terulur padanya. Tapi dia sendiri entah berada di mana. Bintang-bintang di langit beraneka rupa dan warna. Tak terlihat bayangan seorang bintang bernama Yogi. Hanya dapat melihat sinarnya tapi tak bisa merasakan getaran kehadirannya.

Yoan menghela nafas. Cukup hari ini. Tak akan ada lagi nama Yogi dalam hati dan pikirannya. Rindunya sudah hilang. Berhari-hari merindu membuatnya merasa muak dan ingin melepaskan semua rasa yang telah membuatnya gelisah sepanjang waktu.

“ Yoan?” panggil Evan. Yoan memalingkan wajah kesamping, melihat Evan.

“ Sudah sampai.” Yoan melihat sekeliling. Dia terlalu larut dalam lamunan hingga tak menyadari ketika mobil sudah memasuki pelataran parkir mall.

“ Teman mas Evan nunggu dimana?” tanya Yoan. Beriringan mereka memasuki mall yang lumayan ramai. Hembusan AC segera terasa dan membuat tubuh mereka terasa sejuk.

“ Bukan dia yang tentukan. Aku yang minta kita ketemuan dulu di ATM Centre. Setelah itu baru bisa rembukan,kira-kira enaknya kemana.”

Evan memegang handphonenya. Dia menelpon seseorang. Sementara Yoan asyik memandangi pernak-pernik yang menghiasi ruang dalam mall. Hari ini tanggal 14 Februari, hari valentine. Banyak spanduk dan hiasan yang berwarna pink. Tentu untuk menyambut hari valentine. Yoan termenung menatap pasangan-pasangan kekasih yang asyik menikmati valentine. Mereka terlihat begitu bahagia. Yoan juga ingin seperti mereka, merasakan keindahan cinta. Menikmati kebahagiaan memiliki kekasih. Tapi untuk sekarang dia harus bersabar. Tahun ini sepertinya valentine akan kembali dia jalani seorang diri. Tak ada orang special yang bisa menemaninya menikmati malam valentine. Walaupun ada Evan dan temannya yang siap untuk dikenalkan ke Yoan, tapi menurut Yoan mereka adalah orang-orang terkasih tapi bukan kekasih. Sementara Yoan ingin ada seorang kekasih didekatnya. Tempat dia berbagi suka dan duka. Sekian lama menjomblo, membuatnya ingin segera memiliki kekasih disampingnya.

“ Yoan, aku ke toilet dulu, ya.” Pamit Evan lalu berdiri. Sejak tadi mereka duduk di tembok samping mall dimana berderet ruang ATM. Yoan mengangguk. Dia kembali memandangi orang-orang yang lalu lalang masuk ke dalam mall. Setelah jenuh dan bosan, Yoan kemudian mengutak atik handphonenya. Dia ingin mengecek facebooknya. Dia ingin tahu apakah pertemanannya telah diterima oleh Yogi. Sekian lama memandangi handphonenya, Yoan tak menyadari seseorang sedang melangkah mendekatinya. Orang itu terus berjalan sambil tersenyum. Dadanya berdebar kencang karena ingin memberikan kejutan pada Yoan. Yoan mendesah, Yogi belum menerima permintaan pertemanannya. Benar-benar sudah berakhir, pikir Yoan. Tak ada harapan lagi. Bahkan di saat hari valentine sekarang ini, Yogi tak juga menerima pertemanannya. Yoan jadi membenarkan perkataan Sherly. Dia tak istimewa di mata Yogi. Mungkin ada seseorang yang telah menjadi pilihannya. Amplop warna pink itu mungkin memang dibuat Yogi untuk semua orang-orang yang dikenalnya. Amplop warna pink yang membawa duka. Kenapa harus warna pink? Penerimanya akan berpikiran macam-macam saat menerima amplop dengan warna seperti itu.

“ Yoooan.!” Panggilan itu membuat Yoan terperanjat. Itu adalah panggilan khusus dari Yogi. Yoan tak segera berbalik. Dia tak ingin bermimpi di siang bolong. Mungkin saja itu orang lain yang memanggilnya mirip dengan cara Yogi.

“ Yoooan.” Kali ini orang itu menyentuh bahu Yoan. Yoan  berbalik. Wajahnya sulit dilukiskan. Perpaduan antara kaget, senang dan sedih. Senyum terkembang tapi mata berkaca-kaca dengan raut wajah pucat. Yoan benar-benar tidak menyangka lelaki yang ada didepannya saat ini adalah Yogi. Belum hilang rasa terkejutnya, Yogi memberikan sebuah kado berwarna pink lengkap dengan bunga kecil diatasnya. Bunga yang juga berwarna pink. Dengan gugup Yoan menerima hadiah itu.

“ Maaf, bunganya kecil. Mau beli yang besar tapi malu di lihat orang-orang.” Ucap Yogi dengan suara lembut.

“ Makasih mas. Tapi darimana mas tahu kalau aku ada disini? Dan kapan mas kembali dari Australia? Kenapa permintaan pertemananku belum mas terima?..” Yoan masih ingin melanjutkan pertanyaannya tapi mulutnya ditutup Yogi dengan jemarinya.

“ Pertanyaanmu terlalu banyak. Nanti saja aku jelaskan. Sekarang kita pergi saja dari sini. Aku sudah pesan tempat,  karena itu kita tak boleh terlambat.”

Yogi menarik tangan Yoan yang masih kebingungan dengan hal yang baru saja dia alami. Terlebih saat dia teringat Evan. Yoan merasa heran kemana perginya sepupunya itu? Ijinnya cuma ke toilet tapi kenapa terasa lama bagi Yoan. Sambil jalan Yoan berusaha menghubungi handphone Evan tapi tak diangkat. Hanya balasan sms dari Evan yang membuat Yoan serasa ingin mencubit lengan sepupunya itu..

Yoan sayang,kekasihku cintaku..teman yang ingin aku kenalkan padamu adalah Yogi.wkwkwk.. aku sudah tahu dia naksir kamu, selamat menikmati valentine, aku pulang dulu,mamaku sudah ngamuk coz aku sudah seminggu gak pulang kerumah..

Untung saja Evan tidak berada didekatnya. Andai saat ini Evan ada diantara mereka, pasti Yoan sudah mengejarnya dan ingin memberikan cubitan karena sudah bekerja sama dengan Yogi untuk mengerjainya. Tapi Yoan juga berterima kasih pada Evan. Karena dia sudah membantunya untuk lebih dekat dengan Yogi. Yoan mendongak memandang Yogi yang berjalan disampingnya sambil memegang tangannya dengan erat. Yoan terseyum dalam hati. Sekarang hatinya tak lagi sedih saat melihat orang-orang yang melintas dengan pasangan mereka masing-masing. Yoan tak lagi cemburu. Dia yakin pegangan tangan Yogi sekarang ini bukan yang pertama dan terakhir. Valentine kali ini benar-benar indah. ** TAMAT*

0 komentar:

Posting Komentar