Suara alarm handphone menghentikan mimpi Yoan. Tangannya bergerak mencari handphonenya yang terus bernyanyi. Yoan menekan tombol yang sudah dia hapal diluar kepala. Dalam keadaan gelappun dia sudah tahu, tombol mana yang harus dia tekan untuk menghentikan suara alarm. Dengan malas Yoan menarik kembali selimutnya. Cuaca dingin membuatnya enggan untuk segera bangkit dari pembaringan.
Sayup-sayup Yoan mendengar suara diluar kamarnya. Suara-suara yang tidak biasa. Terdengar seperti beberapa orang sedang bercakap. Bahkan ada yang menyebut namanya. Yoan tersadar, itu bukan suara orang dirumahnya. Bukan suara papa, mama apalagi kakaknya. Ini seperti suara yang pernah didengarnya tapi siapa?
Yoan membuka selimutnya. Dia segera bangun dari pembaringan. Merapikan rambutnya lalu berjalan mendekati pintu. Yoan membuka pintu sedikit dan mengintip keluar. Aneh, Rumahnya sangat terang. Tidak seperti hari-hari biasa. Dalam rasa kantuk Yoan masih melihat di ruang tengah berderet koper-koper dan tas. Barang-barang itu milik siapa? Tanya Yoan.
Dengan rasa kantuk yang masih tersisa Yoan segera keluar dari kamar. Dia penasaran dengan keributan yang terjadi dirumahnya.
” Yoan!” teriak seseorang yang mengangetkan Yoan. Belum sempat berbalik, seseorang itu sudah memeluknya dari belakang.
” Evan.” Tebak Yoan dengan perasaan risih. Sepupunya itu tanpa segan-segan langsung memeluknya. Padahal Yoan sudah bukan lagi gadis kecil yang selalu dia peluk. Dia juga baru bangun. Tentu masih ada aroma-aroma tak sedap sehabis tidur sepanjang malam.
Evan tersenyum lebar. Dia memegang kedua bahu Yoan.
” Apa kabar kekasihku? Ternyata wajahmu lebih cantik saat bangun pagi.”
” Apa-apaan sih.” Yoan melepaskan pegangan di bahunya.
” Ternyata kamu nggak kangen aku sama sekali. Apakah kamu tidak merindukan kekasihmu ini?” Evan masih terus menggoda Yoan yang wajahnya sengaja dibuat cemberut. Tapi kemudian Yoan tersenyum.
” Aku kangen, bodoh. Tapi sekarang aku mau kekamar mandi dulu. Mau sholat dulu. Ntar aja kita cerita.” Yoan berlari masuk kembali ke dalam kamarnya. Dia terus menuju kamar mandi. Tapi didalam kamar mandi dia hanya bersandar di pintu. Tak berbuat apa-apa selain hanya tersenyum senang.
” Mas Evan datang!” jeritnya dengan suara tertahan. Ada kegembiraan yang tepancar dari wajah Yoan. Dia membasuh wajahnya dengan rasa bahagia. Berwudhu kemudian keluar dari kamar mandi untuk sholat subuh.
*
” Gimana kuliahmu?” tanya Evan sambil mengunyah sarapan paginya. Mereka hanya sarapan berdua karena papa dan mama Yoan sudah berangkat tadi pagi. Keluarga papanya tiba-tiba jatuh sakit dan sedang ada dirumah sakit. Papa dan mama Yoan segera berangkat begitu mendengar kabar tersebut. Sementara kakaknya masih tidur. Yoan maklum semalaman kakaknya sibuk mengetik tugas. Biasanya sehabis sholat subuh, kakaknya akan tidur kembali.
” Baik. Aku sudah semester dua.”
” Wah hebat dong. Aku kira kamu sudah semester enam.” Ucap Evan sambil tertawa.
” Mas Evan!” sungut Yoan kesal.
” Ya.ya. aku Cuma bercanda kok. Eh, iya. Aku lupa, nih ada oleh-oleh untuk kamu.” Evan menyerahkan kotak kecil.
” Terima kasih.” Yoan tersenyum senang. Dia segera membuka kotak itu.
” Kamu sudah punya pacar, Yo?” Yoan langsung tersedak. Dia terbatuk. Kotak yang ada di tangannya diletakkan diatas meja. Dia meraih gelas lalu meminumnya.
” Mas Evan kok nanya yang begituan?”
” Lho emang kenapa? Kalau kamu nggak punya pacar, aku mau kenalkan temanku sama kamu. Kalau ternyata sudah, ya nggak apa-apa. Aku nggak akan kenalin.”
” Aku nggak punya pacar. Kalau mas Evan mau kenalin juga nggak apa-apa. Aku mau kok kenalan dengan semua orang, kan belum tentu pacaran. Cuma kenalan saja.” Evan manggut-manggut.
” Tapi bener nih nggak ada pacar?” Yoan menngangguk cepat.
” Dibilangin..ehm..kalo suka sama seseorang sih ada..”
” Tuh,kan. Itu artinya ada.”
” Belum. Mungkin hanya aku saja yang suka sama dia.” Ucap Yoan dengan wajah sendu. Dia lalu meminum susu digelasnya hingga tersisa setengah.
” Tapi temanku mungkin belum bisa datang hari ini atau minggu ini. Dia kemungkinan akan datang minggu depan. Itu sih menurut dia. Tapi beneran kan kamu nggak punya pacar? Aku nggak enak sama teman kalau ternyata kamu punya pacar.”
” Aku nggak punya pacar. Titik!”
Yoan mengunyah rotinya dengan pelan sambil memandangi hadiah yang di berikan Evan untuknya. Sebuah kalung berbentuk hati. Ada nama Yoan terukir disana. Benar-benar kalung yang indah. Evan selalu memberikan hadiah tiap kali pulang dari luar negeri. Hadiah-hadiah menarik yang membuat Yoan gembira.
” Internetan masih bisa kan. Yo?”
Tanya Evan kemudian setelah beberapa menit dia terdiam karena sibuk mengutak-atik handphonenya.
” Masih.” Yoan langsung teringat dengan Yogi. Dia segera menghentikan sarapannya dan melangkah menuju kamarnya.
” Yoan, aku mau internetan..” teriak Evan sambil berlari menyusul Yoan.
Mereka kemudian duduk berdampingan di depan komputer.Yoan penasaran dengan permintaan pertemanannya dengan Yogi. Dia segera membuka facebooknya. Sementara Evan memperhatikan dari samping. Mata Yoan terus menatap layar komputer. Tapi pandangan matanya yang bersemangat kemudian berubah menjadi sendu. Yogi belum menerima pertemanannya. Berarti Yogi tidak mengakses facebook.
” Kamu kenapa?” Evan merasa heran dengan perubahan wajah Yoan. Yoan menggeser duduknya berganti dengan Evan. Evan kemudian asyik berinternet ria. Disampingnya Yoan memandang sendu profil yang dibuka Evan. Matanya menatap layar komputer tapi pikirannya terbang jauh ketempat Yogi. Bayangan wajah Yogi dan perkataan Sherly bergantian hadir dihatinya. Ini sudah hari ketujuh tapi Yogi belum juga menerima pertemanannya. Apakah benar dia terlalu sibuk hingga membuka facebook pun dia tak sempat.
Evan tertawa sendiri saat membuka facebooknya dan membaca komentar-komentar yang ada. Yoan makin resah. Dia berdiri meninggalkan Evan. Dia terus menuju teras. Duduk disana sambil memperhatikan handphonenya. Benar-benar hari minggu yang kelabu. Seminggu yang lalu hatinya masih penuh dengan harapan. Tapi perlahan-lahan harapan itu memudar ketika kata-kata Sherly kembali terngiang. Yoan jadi pesimis. Mungkin benar yang dikatakan Sherly. Surat itu hanya surat biasa. Yogi hanya menganggapnya teman tak lebih.
Padahal selama seminggu perasaan Yoan campur aduk. Rasa rindu yang mendera membuatnya tak bergairah untuk melakukan aktivitas. Dia selalu menanti konfirmasi pertemanan dari Yogi. Setiap saat bahkan saat matanya sudah mengantuk dia tetap menanti. Rasa penasaran membuatnya bertahan meski Yogi tak juga menyapanya di dunia maya. Dimanakah pemilik senyum itu? Benarkah dia benar-benar tak peduli lagi? Yoan mendesah. Dia tak menyadari Evan sedang berdiri di pintu memperhatikannya. Evan tersenyum lalu berbalik. Dia kembali ke kamar melanjutkan internetannya. Di facebook dia membuka profil seseorang lalu mengirim pesan..
” Sukses..kamu berhasil membuatnya resah..selamat bergabung dalam keluargaku, sobat..” ****
Bersambung …..
0 komentar:
Posting Komentar