Senin, 19 Desember 2011

Ailin Yang Datang Sore Itu

0



Sore itu hujan masih turun. Kupandangi jalan sunyi di depan rumah. Rumahku terletak di gang yang kecil. Hanya bisa di lewati oleh motor. Kalau ada teman yang menggunakan mobil, maka mereka harus memarkir mobilnya di luar, di jalan besar. Seringkali teman memanggilku keluar karena takut meninggalkan mobilnya. Apalagi daerah sekitar tempat tinggalku terkenal rawan dengan pencurian kendaraan. Sekitar rumahku saja beberapa kali kehilangan motor, padahal motor itu sedang terparkir di teras rumah mereka. Kejadian selalu saat siang hari atau malam hari. Waktu yang tidak bisa di tebak.

Tapi itu bukan alasan hingga saat ini aku tidak membeli motor. Aku trauma harus mengendarai motor di tengah kota yang super padat seperti kotaku ini. Lebih aman naik angkot. Walau naik angkot juga banyak kekurangannya, tapi menurutku sampai hari ini kekurangannya masih tertutupi dengan kelebihannya.

Entah apakah aku yang terlalu serius melamun hingga saat seseorang masuk di teras rumahku yang kecil, aku sama sekali tak melihatnya. Aku baru sadar saat orang itu menepuk pundakku. Tubuhku yang bersandar di tiang rumah agak oleng saat aku tersadar.

“Ailin? Kamu kenapa?” tanyaku kaget. Aku terkejut mendapati wajah dan pakaian Ailin yang penuh darah.

” Putri..aku..aku…” suara Ailin bergetar. Dia sangat gugup. Tangannya terlihat gemetar. Aku segera memegang bahunya.

” Kita kerumah sakit! Kamu butuh pertolongan. Kenapa nggak langsung kerumah sakit? Kamu kecelakaan dimana? Kenapa bisa?” tanyaku histeris.

” Aku mau nyebrang, Put.” Jawab Ailin sambil menangis.

” Kenapa kamu nyebrang? Biasanya juga mobil kamu belokkan?” Suaraku terdengar bukan lagi kalimat menyesali tapi lebih ke arah kemarahan. Aku marah karena Ailin kecelakaan. Aku marah karena dia tidak langsung ke rumah sakit.

Dengan panik aku berlari masuk ke dalam rumah. Segera berganti baju. Kuraih tas dan handphone yang ada diatas meja. Tak perlu rapi. Sekarang keadaan sedang gawat. Tak ada orang yang akan melihat penampilan saat keadaan emergency seperti ini. Aku berlari keteras. Tapi tak ada Ailin disana. Aneh? Kemana anak itu? Aku kan menyuruhnya menunggu? Segera kususul ke jalan besar, mungkin Ailin tidak tahan dan segera keluar meninggalkan aku. Aku tak peduli dengan hujan yang turun dan membasahiku. Aku  mencarinya. Tak ada. Aneh. Kemana Ailin? Mengapa dia menghilang?

Karena terus mencari dan tidak juga menemukan, aku kemudian bertanya ke seorang ibu yang punya warung di ujung lorong.

” Nggak tuh, mbak. Dari tadi nggak ada yang masuk ke lorong ini.”

” Coba ingat lagi, bu.Temanku itu habis kecelakaan. Bajunya penuh darah.”

Ibu itu menggeleng.

” Kalau penuh darah, pasti saya ingat mbak. Masak sih ada yang aneh begitu nggak keliatan.”

Aku makin merasa aneh. Kenapa ibu ini tidak melihat Ailin? Padahal sejak tadi sekitar lorong sangat sepi.Aku melihat sepanjang jalan. Tak ada tanda-tanda Ailin. Ataukah Ailin telah lebih dulu berangkat ke rumah sakit? Tebakku berusaha menenangkan hatiku yang cemas luar biasa.

Aku menelpon ke handphone Ailin. Semoga benar dugaanku, kalau dia sudah berangkat sendiri kerumah sakit. Ada suara dari seberang..

” Halo..”

” Ailin? Kamu dimana? Sudah berangkat sendiri kerumah sakit? Kog aku kamu tinggal?’ aku terdiam. Tak ada suara dari seberang, hanya tangisan yang terdengar.

” Putri, ini aku Ratna.”

” Ratna? Kamu kenapa? Kenapa handphone Ailin kamu yang jawab? Ailinnya mana?”

Suara tangisan Ratna makin keras terdengar.

” Ailin kecelakaan, Put! Dia meninggal sejam yang lalu. Dia nggak sadar saat dibawa kerumah sakit. Aku bersamanya saat dia kecelakaan…” Ratna tak melanjutkan kata-katanya. Selebihnya aku hanya mendengar suara tangisan. Tapi aku tidak melepaskan handphone dari telingaku. Badanku seperti kaku. Tanganku juga seolah tak bisa bergerak.Ailin sudah meninggal sejam yang lalu? Jadi Ailin yang datang menemuiku dengan wajah dan baju penuh darah itu siapa? Apakah roh Ailin yang ingin memberitahuku kalau dia kecelakaan? Ataukah itu tanda kalau dia ingin berpamitan? Aku berdiri dipinggir jalan dengan wajah penuh air mata. Tak kuhiraukan pandangan orang-orang yang mungkin merasa aneh melihatku. Tak kuhiraukan hujan yang makin deras menyentuhku. Aku hanya ingin menangis. Menangis untuk sahabatku****

0 komentar:

Posting Komentar