“Ayolah, Win. Percaya sama aku. Rudy itu beneran suka sama kamu..” ucap Hendri sambil mengikuti Wina yang berjalan hilir mudik dari dapur ke meja makan. Wina meletakkan lauk di atas meja. Dia menatap Hendri.
” Sampai kapan sih, kamu terus ngomong seperti itu? Sejak bulan lalu kamu terus mengejarku. Mana Rudy? Dia nggak datang kan? Kamu saja yang seperti iklan trus mempromosikan dia, buktinya? Mana? Apa harus aku yang mencari Rudy?..” Wina berjalan ke dapur lagi.
” Dia suka sama kamu. Tapi kamu nggak ada respon..”
” Respon? Apa dia pernah ngomong soal perasaannya sama aku? Nggak kan? Jadi apa yang harus aku respon?”
” Rudy itu pemalu, Win. Kalau kamu nggak ada sinyal, dia nggak bakalan maju..” Wina tersenyum getir.
” Hendri..hendri… yang aku tahu, orang kalau lagi jatuh cinta, tembok aja di tabrak. Seberapa besar sih malunya dia? Aku jadi curiga, dia sama sekali nggak ada feeling sama aku, tapi kamu mau nyomblangin aku sama dia. Bener kan?”
Wina menatap Hendri dengan tajam. Hendri langsung salah tingkah.
” Kamu gimana, sih? Aku serius kalau Rudy suka sama kamu….”
Hendri tidak melanjutkan kata-katanya karena suara riuh teman-teman terdengar memasuki rumah.
Hendri langsung ke ruang tamu menyambut teman-teman yang baru kembali dari lokasi kegiatan mereka. Suasana rumah yang tadi sunyi sekarang berubah jadi ramai. Masing-masing menceritakan pengalamannya di lokasi. Wina hanya berdiam di dapur. Dia sibuk menyiapkan makan siang.
” Eh, Win..”tegur Risa sambil memegang pundak Wina. Wina melangkah ke meja makan.
” Anak baru itu manis juga lho..”
” Anak baru?” tanya Wina tidak mengerti.
” Lho kamu nggak tahu.? Didin kan keluar dari tim, nah yang gantikan dia si anak baru itu namanya Elya..saking manisnya ada teman kita tuh yang langsung Pedekate..”
Wina terus menyiapkan piring dan mengaturnya di meja makan. Risa ikut membantu mengatur gelas-gelas di atas meja makan sambil terus berbicara.
” Si Rudy langsung pedekate, seharian tadi dia nempel terus kayak prangko. Mana pulangnya dia yang anterin lagi..”
Wina langsung menghentikan kegiatannya. Dengar Risa menyebut nama Rudy rasa ingin tahunya muncul.
” Rudy?” tanya Wina penasaran. Sebenarnya pertanyaan lanjutan tertahan di pikirannya. Dia ingin melanjutkan “katanya pemalu kog bisa deketein cewek?” tapi itu tidak dia ucapkan. Bisa menimbulkan kecurigaan kalau sampai kata-kata itu dia ucapkan.
“Kayaknya sih, kalau aku perhatikan Rudy naksir tuh anak, soalnya Elya itu tipe dia banget. Rudy pernah cerita ke aku, kalau dia suka tipe cewek seperti itu..”
Wina merasa kerongkongannya jadi kering. Dia jadi ingat kata-kata Hendri. Mana diantara dua orang ini yang harus dia percayai. Menurut Hendri, Rudy naksir dia. Tapi apa yang di dengarnya dari Risa tidak seperti itu.
*
Beberapa hari kemudian tanpa sengaja Wina melihat Rudy di kantor bupati. Dia baru berniat mendekat tiba-tiba seorang gadis mendekati Rudy. Gadis manis berpakaian seperti dirinya. Wina langsung memundurkan langkah dan bersembunyi di balik tembok. Wina teringat kata - kata Risa. Apa gadis ini yang namanya Elya? Pikir Wina. Cukup lama Wina berdiri disitu sampai dia melihat Rudy dan gadis itu meninggalkan kantor bupati.
*
Siang itu Wina kebetulan sedang sendiri di rumah. Dia sedang sibuk menyusun laporan yang diserahkan teman-temannya. Karena terlalu serius dia tidak melihat seseorang masuk dan berdiri dibelakangnya.
” Serius banget..” ucap orang itu. Wina kaget dan langsung berbalik.
” Rudy…, sejak kapan kamu disitu?”
” Baru saja. Kamu terlalu serius sampai nggak liat aku masuk..”
Wina merasakan jantungnya berdebar-debar. Dia berusaha menormalkan perasaannya. Berkas-berkas laporan itu langsung dia rapikan selanjutnya dia bawa ke dalam kamarnya. Di dalam kamar Wina mengatur nafas beberapa kali. Dia tidak ingin Rudy melihat sikapnya yang aneh.
” Hendri kemana, Win?” tanya Rudy begitu Wina keluar dari kamar.
” Ke kantor bupati. Ada proposal yang harus di revisi, dari tadi perginya. Bentar lagi balik. Kamu mau ketemu Hendri?” Rudy menggeleng sambil tersenyum.
” Aku sengaja kesini khusus mau ketemu kamu..” jantung Wina langsung berdetak cepat.
” Aku ingin jujur sama kamu, Win.Nggak enak rasanya menyimpan beban ini terus..”
tangan Wina mulai terasa dingin. Berapa kali dia mengubah posisi duduknya untuk meredam rasa gugup yang tiba-tiba datang.
” Ehm.. kamu mau ngomong apa?” Wina merasakan suaranya terdengar lain.
” Aku pengen beritahu kamu yang sebenarnya. Tentang aku, kamu juga hendri.”
Wina menatap Rudi. Dia masih belum mengerti.
” Begini, Win. Hendri sering curhat ke aku kalau dia menyukai kamu, tapi dia bingung bagaimana
caranya menyampaikan ke kamu..”
Darah dalam tubuh Wina rasanya berhenti mengalir. Wina merasa tiba-tiba seluruh tubuhnya terasa dingin.Bahkan dia merasa tulang-tulangnya juga jadi melemah hingga untuk duduk saja Wina merasa tidak sanggup.
“ka..ka.. kamu bilang apa tadi..? Hendri menyukai aku…apa nggak salah? Dia..dia..bilang kamu yang menyukai aku..tapi malu menyampaikan..”
Rudy langsung tertawa. Wina jadi tambah bingung.
” Kamu kenapa tertawa, Rud?”
Rudy menghentikan tawanya. Dia berusaha untuk kembali serius.
” Kamu kenapa jadi bodoh sih, apa kamu nggak punya perasaan sama sekali? Kamu nggak bisa bedakan mana orang yang menyukai kamu sebagai teman dengan yang mengharap kamu jadi kekasihnya?”
Wina menatap Rudy tidak mengerti.
” Coba kamu ingat-ingat lagi. Siapa lelaki yang lebih banyak ada didekatmu selain Hendri? Apa ada? “
Wina terdiam. Dia mencoba memahami kata-kata Rudy.
” Tidak ada kan? Jadi mulai sekarang kamu harus melarangnya membicarakan aku didepanmu. Anak itu harus di paksa mengaku. Kalau tidak di paksa selamanya dia akan memakai namaku. Aku tidak mau membebanimu. Karena kamu harus tahu yang sebenarnya.”
Wina terdiam. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Sampai Rudy pulang dia hanya terdiam diruang tamu. Karena tidak bisa menahan beban perasannya, tanpa sadar Wina meraih tasnya lalu keluar dari rumah dan naik angkot. Dia tidak tahu mau pergi kemana. Dia hanya mengikuti arah angkot itu. Supir angkot itu bingung karena sejak tadi Wina ikut dia berkeliling tanpa ada niat untuk turun.
Akhirnya Wina memilih untuk istrahat di mesjid. Saat duduk di teras mesjid Wina mencoba mengingat kembali apa yang terjadi antara dia dengan Hendri. Selama ini hubungan Wina dan Hendri sangat dekat. Tapi hanya sebatas hubungan kerja. Dia dan Hendri tergabung dalam satu tim. Wina tidak pernah membayangkan apalagi memikirkan kalau Hendri akan punya perasaan khusus terhadapnya. Sikap Hendri memang kadang membuat Wina tersanjung karena sikapnya kadang terasa sebagai sikap seorang kekasih. Tapi Wina tidak pernah mengartikan lain karena Wina tahu Hendri punya kekasih. Kalau mendengar cerita dari Rudy, bahwa sejak setahun yang lalu Hendri telah putus dengan kekasihnya itu berarti sejak awal bergabung dalam tim, Hendri memang sudah berstatus jomblo. Tapi kenapa dia mengaku ada pacar?
Wina duduk di teras mesjid sampai hari beranjak sore. Dia baru saja hendak menuruni tangga mesjid ketika tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Rupanya dari tadi mendung tapi Wina sama sekali tidak menyadari. Wina akhirnya mengurungkan niatnya dan kembali duduk di teras mesjid.
Selesai sholat Magrib, hujan tidak juga reda. Wina memandangi hujan Dia merasa khawatir karena hari sudah mulai gelap. Biasanya menjelang malam, angkot sudah tidak ada. Wina bingung bagaimana caranya pulang ke basecamp. Tiba-tiba Wina tersenyum sendiri. Terlalu larut dalam lamunan sampai dia tidak berpikir jernih. Bagaimana dia bisa lupa kalau dia punya Handphone?
Tiba - tiba handphonenya berbunyi.Pesan SMS. Wina membuka pesannya. Dari Hendri.
Km dimana? Sdh malam blm plg..
Wina merasa seluruh tubuhnya dialiri rasa dingin saat membaca pesan itu. Bukan kalimatnya tapi siapa yang mengirimkan pesan.Hendri. Padahal bukan kali ini saja Hendri memperhatikan dia. Apa karena kata - kata Rudy tadi siang, membuat perasaan Wina jadi berbunga-bunga?
Wina mengirim pesan balasan..
Mau plg tapi hujan. Angkot gak ada…
Send. Pesan terkirim.
Handphone berbunyi lagi. Balasan SMS dari Hendri.
Posisimu dimana? Ntar aku jemput.
Wina membalas SMS.
Mesjid dkt pasar …
Hendri membalas
Tggu aku,jgn kemana-mana
Tidak ada SMS lagi.
Setengah jam kemudian terlihat Hendri mengendarai motor memasuki halaman mesjid. Hujan masih turun dengan derasnya. Setelah memarkir motornya , Hendri bergegas mendekati Wina. Hendri tidak tahu sejak dia muncul memasuki halaman mesjid, jantung Wina sudah berdetak sangat cepat. Apalagi waktu melihat Hendri berlari di bawah guyuran hujan, hati Wina langsung tersentuh. Kalau memang benar yang dikatakan Rudy tentang perasaan Hendri terhadapnya, betapa selama ini dia telah buta dan sama sekali tidak merasakan kalau Hendri menyimpan rasa terhadapnya.
Hendri tiba di depan Wina sambil tersenyum. Dia membuka mantel hujan yang di kenakannya. Merapikan rambutnya yang basah terkena air hujan.
” Hujan masih deras, kamu tidak perlu memaksakan diri. Aku tidak apa -apa disini..” ucap Wina. Dia merasa bersalah terhadap Hendri. Tapi Hendri malah tersenyum. Dia lalu duduk disamping Wina.
” Terkena hujan sedikit gak pa pa. Yang penting aku tidak khawatir lagi sama kamu karena aku ada disini menemani kamu. Daripada tinggal di rumah aku stress memikirkan kamu diluar sendirian. Lebih baik disinikan?”
Wina menatap Hendri. Benarkah kamu menyukaiku? Tanyanya dalam hati. Apakah aku harus percaya kata-kata Rudy? Melihatmu sekarang rasanya aku begitu yakin kamu benar-benar menyukaiku, pikir Wina lagi.
” Win, romantis banget ya..berdua sama kamu, saat hujan begini, apa kita bisa begini terus?”
” romantis, tapi aku gak mau kehujanan terus..aku bisa sakit.”
Hendri melirik Wina dengan tatapan kecewa. Ada pesan dari kata-katanya tapi Wina tidak mengerti. Dia memandangi hujan sambil berusaha menenangkan dirinya. Beberapa menit kemudian Hendri melepaskan jaketnya lalu memasangkan di badan Wina.
” Pakailah, nanti kamu kedinginan.” Tapi Wina langsung melepaskan jaketnya.
” Gak usah.. aku gak apa-apa..kamu pakai lagi jaketmu.. kamu juga kedinginan kan?”
” Pakai saja. Apa susahnya tinggal pakai..liat kamu gemetaran begitu, masih bilang gak apa-apa.”
Wina terdiam. Akhirnya dia memakai jaket Hendri. Apakah kamu tahu aku gemetar karena kamu? Ucap Wina dalam hati.
” Win, kamu gak pernah ketemu Rudy?”
” Kamu mulai lagi deh, orangnya saja gak apa-apa. Aku yang kebingungan sendiri.”
” Kamu betul gak ada minat sama sekali ke Rudy?”
” Hendri, untuk apa aku memikirkan orang yang sama sekali gak peduli sama aku? Please, jangan ngomong soal Rudy lagi, ya.”
” Kalo Rudy ternyata benar-benar suka sama kamu, bagaimana?”
” Hendri, kenapa sih kamu hanya memikirkan Rudy saja? Jangan bicarakan dia lagi. Perasaanku mengatakan, kamu seperti mengejar sesuatu.Kamu kenapa? Kenapa membicarakan perasaan orang lain? Perasaanmu sendiri gimana ke aku? Apa kamu gak ada perasaan sama sekali?”
Duk. Jantung Hendri langsung serasa berhenti berdetak mendengar ucapan Wina. Beberapa detik dia terpaku menatap Wina. Wina juga menatapnya.
” Kalau perasaanku benar, aku merasa kamu suka sama aku.Tapi itu hanya perasaanku. Perasaanku bisa salah..” ucap Wina lagi.
Hendri masih terdiam. Dia hanya menatap Wina.
” Kenapa kamu diam, Hen? Apa yang aku katakan itu salah? Kalau salah, berarti kamu boleh mencomblangin aku dengan Rudy. Aku gak apa-apa..”
Hendri langsung memegang tangan Wina.
” Jangan. Jangan, Win. Kamu tidak boleh dengan siapapun. Aku gak akan memaksa kamu lagi. Ok?. Mulai sekarang aku gak akan sebut-sebut nama Rudy lagi..” Ucap Hendri sambil memegang erat tangan Wina.
Wina tersenyum. Dia ingat Rudy. Dalam hati dia berterima kasih karena Rudy telah memberitahu perasaan Hendri yang sebenarnya kepadanya.
Malam kian larut tapi hujan masih belum juga reda. Wina dan Hendri akhirnya nekad pulang di bawah guyuran hujan. Mereka tidak merasakan hawa yang dingin karena hati mereka berdua begitu hangat dalam rasa cinta.**********
0 komentar:
Posting Komentar