Sabtu, 26 November 2011

Janjiku Untukmu

0


13163202351500192501

Aku tunggu sekarang dirumah

Pesan singkat dari Fery mampu membuat Pipit terbangun dari tidurnya yang lelap. Buru-buru dia bangun lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi. Ritual mandi pagi ini sangat cepat karena bayangan ketakutan akan wajah Fery yang marah. Fery adalah kekasih Pipit. Dia terkenal tak sabaran dan mudah naik darah. Sifat mereka sangat bertolak belakang. Jika emosi Ferry tidak stabil, lain dengan Pipit yang kalem dan sangat sabar. Beruntung Fery memiliki kekasih seperti Pipit yang tak pernah protes. Disuruh apa saja dia akan mengerjakan tanpa bertanya.

“ Kamu terlambat!” suara Fery menyambutnya saat membuka pintu. Pipit langsung masuk ke dalam rumah kontrakan Fery.

“ Jalanan macet, mas. Aku tadi sudah cepat-cepat.” Jawabnya dengan lembut.

“ Ya, sudah. Sekarang karena kamu udah terlanjur ada disini, kamu segera ke kantorku saja. Bilang sama sekretarisku, ada dokumen yang akan kamu antarkan. Aku tidak percaya orang lain yang membawanya. Aku lebih percaya sama kamu.”

Pipit masih berdiri mematung.

“ Kita bareng kekantor, mas?” tanya Pipit ragu.

“ Aku nggak bisa. Pagi ini aku ada meeting di dekat sini. Kalau aku kekantor trus balik lagi, itu kan namanya buang waktu. Karena itu aku memanggilmu.”

“ Kok nggak sms saja tadi, mas. Jarak dari rumahku kesini, sama dengan jarak dari rumahku kekantor mas.” Fery menghela nafas.

“ Aku sudah kirim sms. Nggak masuk ya?”

Pipit memeriksa handphonenya, tak ada pesan susulan dari Fery. Tapi wajah Fery sangat yakin kalau dia sudah mengirim sms.

“ Sekarang lebih baik kamu segera kekantor ya, sayang. Lebih cepat lebih baik.”

Fery menyentuh bahunya dan dengan gerakan halus mendorongnya keluar dari rumah.

“ Aku sudah pesan taksi, tuh taksinya sudah datang.”

Pipit melangkah cepat menuju taksi yang parkir didepan rumah. Dalam pikirannya hadir rasa kecewa. Seharusnya dia tidak bersikap seperti ini. Dia tampak seperti asisten Fery,bukan seorang kekasih. Fery memperlakukannya sejak awal mereka pacaran setahun yang lalu seperti itu. Kadang dia ingin protes tapi suaranya hanya tertahan di tenggorokan. Dia hanya menuruti semua kata-kata Fery karena dia sangat mencintai kekasihnya itu.

Pesan sms masuk di handphonenya.

Kalau udah selesai, kamu balik kerumah, ya. Jangan lupa mampir dulu di swalayan, kulkasku kehabisan stok.

Pipit membaca pesan itu lalu menaruh handphonenya dalam tas. Pandangannya menerawang melihat keluar. Walau pandangannya melihat sepanjang jalan yang dilalui, namun bukan deretan ruko-ruko itu yang dilihatnya. Ada galau dalam hatinya setelah membaca pesan dari Fery. Sebenarnya mereka sepasang kekasih atau bukan? Makin lama dia merasa kalau posisinya sekedar membantu Fery, bukan sebagai kekasih yang juga butuh perhatian dan kasih sayang. Fery hanya menghubunginya saat membutuhkan bantuan. Sikapnya tak romantis. Ucapan sayang hanya di ucapkan dengan kaku. Benar-benar seperti hubungan atasan dan bawahan. Haruskah hubungan mereka yang seperti ini terus berlanjut?

***

“ Kekasihmu mana, Fer?” tanya Ihsan, saat melihat Fery tengah sendiri di rumahnya.

“ Di dirumahnya. Dia kan punya kesibukan sendiri. Memang kenapa nanya seperti itu?”

“ Nggak. Cuma aku heran. Ini kan hari libur. Tiap kali aku kemari, aku tidak pernah bertemu pipit.” Fery tertawa lalu meraih remote tivi. Dia mengganti channel tivi.

“ Dia datang kalau aku minta. Kalau kamu mau sekarang aku bisa memanggilnya. Dia pasti akan datang. Bagaimana? Mau taruhan? Kekasihku itu sangat patuh. Karena itu aku bisa bertahan dengannya selama setahun ini. Kalau tidak, pasti dia sudah aku pecat jadi kekasih.”

“ Omonganmu kok seperti itu. Kasihan bener si Pipit. Dia seperti taksi saja yang tiap dipanggil akan muncul.”

Ferry tertawa.

“ Punya kekasih itu harus bisa dimanfaatkan. Kan lumayan, daripada aku harus menyewa asisten kan lebih baik kekasih sendiri yang dimanfaatkan. Kamu kan tahu sendiri, usaha yang aku rintis masih membutuhkan banyak modal. Karyawanku juga hanya sedikit. Kalau aku bisa menghemat gaji karyawan, aku yakin tidak lama lagi kantorku akan terus berkembang. Punya kekasih seperti Pipit sangat menguntungkan. Dia sangat baik. Memberikan apapun yang aku minta. Modal usaha juga dia nombok sedikit. Benar-benar kekasih teladan.”

“ Berarti kamu nggak cinta sama dia, Cuma mau manfaatin dia saja.”

“ Cinta bisa diatur. Asal aku suka sama dia, itu saja sudah cukup.”

Fery terus berbicara tanpa menyadari Pipit mendengarkan setiap detil kata-katanya dari balik pintu ruang tengah. Pipit menangis. Dengan langkah pelan dia berjalan keluar dari rumah Fery. Kantong belanjaan berisi buah-buahan yang baru saja dibelinya, diletakkan begitu saja di kursi teras.

Dia menahan taksi kemudian berlalu dari rumah Fery. Tangisnya membuat supir taksi merasa heran namun tak bertanya. Dia hanya sesekali memandang lewat kaca spion. Sepanjang jalan airmatanya terus mengalir. Pipit merasa sedih karena ternyata selama ini hanya dimanfaatkan oleh Ferry. Tidak ada cinta yang hadir dalam hati Ferry untuknya. Wajar kalau sikap Ferry kadang membuat Pipit kecewa. Sikapnya jauh dari sikap seseorang kekasih yang penuh perhatian dan kasih sayang. Bagaimana rasa itu bisa hadir dari seseorang yang tidak memiliki cinta untuknya? Jangan bertanya tentang sikap romantis jika cinta saja tak ada.

Bunyi sms menghentikan lamunan Pipit. Dia membaca pesan yang ternyata dari Ferry.

Kerumah sekarang. Temanku datang, nggak ada yang bantu masak nih. Cepat ya…

Pipit mematikan handphonenya dengan gemetar. Dia merasa gugup dengan keputusan yang tiba-tiba hadir dalam pikirannya. Semua harus dihentikan. Tidak mungkin dia menjalani hubungan yang membuatnya terluka. Tapi ketakutan akan sikap Ferry yang kasar membuat Pipit bimbang. Bagaimana jika nanti Ferry mencarinya? Haruskah dia menghilang ke luar kota atau pindah ke kota lain untuk sementara?

Pipit tiba dirumahnya lalu mengemasi pakaian. Tekadnya sudah bulat untuk mengungsi sementara waktu ke rumah tantenya. Jika dia berada di sana, maka Ferry akan sulit melacak karena Pipit tidak pernah memberitahu Ferry alamat rumah tantenya itu.

Semangat Pipit untuk pergi dari kehidupan Ferry begitu membara. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia harus pergi sekarang juga sebelum hatinya benar-benar terluka. Dengan taksi yang sama, dia meninggalkan rumah menuju rumah tantenya. Dalam perjalanan, Pipit penasaran dengan handphonenya. Dia meng-on kan hapenya lagi.

Bunyi pesan terus menerus terdengar. Ada tiga pesan yang masuk secara beruntun.

Pit, kamu dimana, Ferry kecelakaan ( Ishan )

Pipit membacanya tanpa rasa kaget. Dia ragu apakah pesan itu serius atau hanya bercanda. Dia lalu membaca pesan kedua.

Pit, kamu segera kerumah sakit Bhakti. Ferry kecelakaan. Ini aku Ihsan.

Pipit mulai ragu. Dia cepat-cepat membaca pesan berikutnya.

Cepat Pit. Tadi kami benar-benar kecelakaan. Kami keluar beli makanan trus kecelakaan, aku terluka tapi tidak parah. Ferry yang parah Pit.

Pipit mulai dihinggapi rasa cemas. Dia yakin dengan bunyi pesan ini. Ihsan tidak pernah mengirim sms padanya. Ihsan tidak mungkin mengirim pesan jika tidak benar-benar penting. Pipit makin galau sementara taksi terus melaju. Saat hampir tiba di depan rumah tantenya, Pipit akhirnya bersuara.

“Kita sekarang kerumah sakit Bhakti.” Ucap Pipit. Dia putuskan untuk melihat keadaan Ferry.Jauh dilubuk hatinya, dia merasa cemas. Dia ingin membuktikan pesan yang diterimanya. Jika pesan itu bohong, maka itu bisa jadi alasan dia untuk segera meninggalkan Ferry. Namun jika benar, Pipit tidak bisa menutupi rasa cinta yang ada dihatinya. Dia khawatir akan keadaan Ferry. Meninggalkan Ferry dalam keadaan terluka membuatnya tak tega.

Saat taksi memasuki halaman rumah sakit, Pipit segera membuka pintu dan berlari menuju ruang UGD. Dia yakin Ferry masih ada di sana. Dalam pikirannya terbayang tubuh Ferry yang penuh dengan darah dan luka. Dia terus berlari dan saat tiba di depan ruangan dia segera membuka pintu. Petugas medis yang melihatnya sontak kaget dan menegurnya.

“ Maaf, mbak. Tidak boleh masuk kalau tidak di panggil.” Petugas itu mendorong tubuh Pipit lalu bersiap-siap menutup pintu kembali.

“ Ta..ta..pi pacar saya ada didalam mas. Dia baru saja kecelakaan.” Ucapnya dengan gugup.

“ Siapa namanya?”

“ Namanya Ferry, Dimas Ferryanto.”

“ Tunggu disini, saya cek dulu.”

Pipit menunggu dengan jantung berdebar cepat. Tidak lama petugas rumah sakit memanggilnya.

“ Nggak ada mbak. Nama Dimas Ferryanto tidak ada.”

Pipit makin gelisah. Wajahnya seakan tak percaya dengan catatan yang telah dibaca oleh petugas rumah sakit itu.

“ Bener nggak ada ya, Pak? Tapi katanya disini.”

Dia lalu mengambil hape dan menghubungi Ishan.

“ Kami di rumah sakit yang di jalan Bakti, pit. Kamu cepat kemari.” Suara Ihsan yang putus asa makin membuat Pipit panik. Taksi yang ditumpanginya melaju kencang menuju rumah sakit tempat Ferry di rawat. Pipit tak lagi menunggu taksi itu berhenti. Dia segera turun dan berlari masuk kedalam ruang UGD. Benar saja, disudut ruangan nampak Ihsan tengah berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok.

“ Gimana mas Ferry?gimana keadaannya?” tanyanya panik tanpa memberi jeda untuk dirinya menenangkan diri. Ihsan memegang bahunya.

“ Kamu tenang saja,Pit. Dari tadi Ferry masih ditangani dokter. Mudah-mudahan gak separah yang aku perkirakan.” Pipit menatap Ihsan yang tertunduk.

“ Maksud mas Ihsan? Apa yang mas lihat? Separah apa mas Ferry?”

Ihsan tertunduk.

“ Kemungkinan Ferry nggak bisa jalan dulu untuk sementara waktu. Aku lihat kakinya yang paling parah. Waktu kecelakaan sepertinya kakinya ketabrak mobil dari belakang.”

Ihsan menangis membuat Pipit gemetaran. Pipit tak kuasa menahan air matanya. Dia berdiri lalu berjalan mendekati ruang UGD. Rencana untuk pergi dari kehidupan Ferry tak lagi ada dalam pikirannya. Sekarang Pipit makin merasa takut kehilangan Ferry. Cinta dihatinya adalah milik Ferry. Tak ada nama lain.

****

Pagi masih menyisakan bening air sehabis hujan ketika Ferry membuka matanya. Ditatapnya taman yang terlihat jelas dari jendela kamarnya yang terbuka. Dia melihat sekeliling kamar yang berwarna putih, tak ada siapapun. Tapi kemudian tangannya merasakan gerakan kepala seseorang di sampingnya. Nampak Pipit mengangkat kepalanya. Pipit tersenyum walau terlihat masih mengantuk.

“ Udah bangun mas? Kenapa nggak bangunin aku?” tanya Pipit dengan lembut. Ferry tersenyum lemah. Pelan dia meraih tangan Pipit lalu menciumnya.

“ Maafkan aku. Aku terlalu banyak melakukan kesalahan padamu. Aku tahu kamu pasti terluka. Maafkan aku ya. Mas janji, saat mas bisa berjalan lagi, kita segera menikah. Mas nggak mau mengecewakanmu lagi.”

Pipit terharu lalu memeluk Ferry. Mata Ferry berkaca-kaca saat membalas pelukan kekasihnya itu. Sekarang dia menyadari, tak ada wanita yang sangat mencintainya selain Pipit. Dia sungguh beruntung memiliki kekasih yang begitu setia padanya. Dalam hati Ferry berjanji, tidak akan meninggalkan Pipit walau apapun yang terjadi.*****

0 komentar:

Posting Komentar